RSS

Kumbolo…

27 May

Kumbolo..

Dulu, naik pesawat adalah sesuatu yang wah. Sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu. At least golongan kelas menengah. Dulu, naik haji juga merupakan sebuah pencapaian yang tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Seorang peziarah haji harus menempuh perjalanan panjang dengan menumpang kapal selama berbulan-bulan. Dengan bekal serta ongkos yang hanya memungkinkan dilakukan oleh para bangsawan dan orang-orang yang cukup mapan. Maka itulah asalmuasalnya di Indonesia seseorang yang pulang dari tanah suci mendapatkan “gelar” HAJI, gelar kehormatan yang hanya ada di negara kita Indonesia ini.

Sebuah prestise, sebuah kehormatan, atas sebuah pencapaian, menjadi sesuatu yang istimewa bilamana tak banyak orang bisa melakukannya, atau memilikinya. Seperti halnya naik pesawat, sekarang menjadi hal yang cukup lumrah bahkan bagi kelas merakyat. Naik haji, kini bahkan sekarang harus mengantri hingga bertahun-tahun (konon sekarang antrian hingga belasan tahun) untuk mendapatkan satu slot label “Pak Haji”. Yang artinya, sekarang itu semua bukan menjadi sebuah hal yang eksklusif lagi.

Hmmm.. kebanggaan atas suatu pencapaian.

Dahulu, ketika masih sedikit orang (orang-orang dari kalangan tertentu saja) yang berkeinginan dan mampu mencumbui, Semeru adalah sebuah simbol kebanggan. Kebanggaan memiliki sebuah “surga” tersembunyi di tanah tumpahnya darah ibu pertiwi yang melahirkan generasi demi generasi. Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa ini dulunya adalah kebanggan bagi para pendaki. Udara yang bersih, hutan yang asri, jalur setapak yang masih dihiasi rimbun semak-semak di kanan kiri.

Namun itu cerita lalu. Ranu kumbolo kini tak lagi sunyi. Kalimati tak lagi hening dan sepi. Pasir-pasir halusnya terkoyak oleh ribuan kaki-kaki pendaki yang tiap minggunya dengan congkak ingin berdiri di atas titik tertinggi. Miris, ketika menyaksikan sendiri bagaimana tumpah ruahnya ribuan orang dengan ratusan tenda memadati pelataran danau yang dulunya begitung tenang, begitu lengang, dan tempat yang begitu nyaman untuk merenungi. Sekarang, keributan malam dengan embel-embel “keakraban” benar-benar menjadikan ranu kumbolo tak ubahnya pasar malam.

Menyendiri dari bisingnya pagi (foto dok. azhyzmaghfur)

Belum lagi apa yang kami lihat ketika kami ber-camp di kelik, hanya beberapa meter menjelang batas vegetasi. Kami terbengong-bengong ketika keluar tenda pukul 3 dinihari, kami melihat keatas, ke punggung mahameru yang menjulang gagah tepat dibelakang kami, sepanjang jalur menuju puncak nampak berderet cahaya lampu senter para pendaki yang berburu pagi.  Mengantri. Padat merayap. Bahkan beberapa rombongan memutuskan turun dengan alasan “antriane nggilani mas, 15 menit baru bisa maju 5 langkah”. Persis, seperti kemacetan di simpang gadog menuju Jalan raya Puncak, dari arah jakarta ketika akhir pekan tiba. Aih..

Sebenarnya bukan itu yang kami sesali. Namun perilaku sebagian “pendaki” yang memaksa tensi darah meninggi. Mereka yang dengan tanpa rasa menjaga dan tanpa rasa memiliki. Mereka yang datang kemari hanya karena sebuah pengaruh film produksi. Mereka yang datang kemari tanpa etika dan kesadaran untuk menjaga agar tetap lestari. Lihat saja, air telaga tak lagi segar menghilangkan dahaga, air telaga telah tercemar minyak-minyak bekas penggorengan yang dicuci disana begitusaja. Air telaga telah tercemar sabun-sabun muka dari mereka yang tetap bersolek ria seperti halnya dirumahnya saja. Sampah-sampah tak terurus berserakan disekitaran tenda seolah disana ada petugas kebersihan yang mengangkutnya setiap pagi. Ah, padhakke gununge mbahmu wae.. C*k!!

Semeru, kini bukan lagi menjadi sebuah kebanggaan, sebagaimana beberapa tahun yang lalu, yang memberikan sebuah pengalaman bathin bagi siapa saja yang mengunjungi, dengan hati.. Semeru kini……

Bandingkan dengan ranu kumbolo yang seperti ini, beberapa tahun silam (dok.pribadi)

ranu kumbolo

atau yang seperti ini…

Aahh, sudahlah. Toh saya juga bukan seorang pecinta alam sejati, yang mendedikasikan hidup dan pengabdiannya untuk pelestarian bumi. Yang melakukan sesuatu yang nyata bagi harmoni umat manusia, alam beserta isinya. Kami, masih sebatas penikmat alam yang mencoba mencintai dan belajar menikmati keindahannya dengan cara yang benar. Tapi, keprihatinan kami, semoga menggugah bagi siapa saja yang masih memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab, serta memiliki jiwa dan hati..

Karena konon, dengan mentadabburi alam, kita melepaskan jiwa binatang kita pada habitatnya, dan menemukan diri kita sebagai manusia, sebagai makhluk, yang mendekat pada Yang mencipta.

Balikpapan, 27 Mei 2013

*Sebuah catatan keprihatinan pasca pendakian semeru, beberapa minggu yang lalu.
Semeru, ninggal janji. Sebuah keinginan untuk menemani seorang gadis kecil bertanduk kancil. Suatu saat, saya akan memasukkan ia kedalam ransel, dan membawa serta kesana. Lalu membiarkan ia berlari-larian ditepian telaga.

 
2 Comments

Posted by on May 27, 2013 in Catatan Harian

 

Tags: ,

2 responses to “Kumbolo…

  1. db-tip

    July 16, 2014 at 9:20 am

    keren bro.

     
  2. korep

    August 7, 2014 at 2:25 pm

    asek,..

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: