RSS

Setibanya di puncak, Janganlah mendongak. Menunduklah, lihatlah kebawah.

14 Aug

Setibanya di puncak, Janganlah mendongak. Menunduklah, lihatlah kebawah.

“Belajar tentang kehidupan, jadi teringat sekumpulan keluarga, jauh di kaki bukit sana, mengandalkan listrik dari turbin yg digerakkan oleh aliran air. Dan jika air surut, malam harinya mereka menyalakan lampu minyak & petromaks. Dan seperti sekarang ini, ketika aliran air dikosan saya mati, maka saya tak perlu mandi.” –Status geje 13 Agustus 2012-

Desa itu tak “jauh” dari kawasan Puncak, kawasan wisata yang cukup terkenal di seantero Jakarta. Kawasan dingin yang dibelah oleh hiruk pikuk kemacetan arus lalu lintas warga kota yang ingin menghabiskan akhir pekannya. Berlibur sejenak, menikmati hawa dingin, suasana sejuk nan asri, memandang  gundukan-gundukan pegunungan yang membentang, menatap perkebunan-perkebunan teh dan villa villa mewah yang menjadi salah satu andalan utama daerah ini. Bisnis, perputaran uang, perputaran kemaksiatan (?).

Namun siapa yang menyangka, beberapa kilometer agak kesana. Membelah perkebunan-perkebunan teh itu sendiri, sedikit mengitari bebukitan, melalui jalanan besar yang hanya ditata bebatuan, kita akan menjumpai sekumpulan keluarga yang hidup jauh dari hiruk pikuknya kota. Belasan kepala keluarga yang hidup terasing di kaki gunung kencana. Tanpa sambungan instalasi listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Bertahan hidup dengan penuh kesederhanaan, apa adanya, ala kadarnya. Mereka tak mengenal kemacetan, mereka tak mengenal pusat-pusat perbelanjaan, bahkan siaran televisi pun tak dapat mereka nikmati. Bukan karena sambungan relay tak merambah daerah ini, tapi memang karena tak satupun dari mereka yang mempunyai pesawat televisi. Aihh.. jaman sudah semaju ini.

Pernah pada suatu ketika. Saya beserta seorang kawan ingin bercamping ceria di puncak Gunung Kencana (1.817 Mdpl). Sengaja kami berjalan malam, selepas seharian penat urusan pekerjaan, berjalan menuju kaki gunung kencana. Saya tak begitu hafal jalannya, maka hanya mengandalkan sisa sisa ingatan menuju kesana. Hampir dua jam berjalan berputar putar, kami dibuat deg-degan oleh suara cekikikan anak-anak dalam kegelapan malam. Hampir tak ada tanda-tanda kehidupan, disana. Gelap, mati, terisolasi. Kami baru sadar bahwa kami telah sampai di kampong Rawa Gede –  perkampungan yang pak unang, dan belasan keluarga disekitarnya tinggal. Perkampungan terakhir di kaki gunung kencana. Benar-benar gelap. Ditambah pekat oleh kabut yang sejak ba’da maghrib menyelimuti kawasan ini. Tak ada penerangan di sepanjang jalan. Bahkan rumah-rumah pun gelap gulita. Dengan senter headlamp kami berusaha mengenali deretan rumah-rumah sederhana. Deretan rumah-rumah kayu dan anyaman bambu, dengan sebuah warung kecil didepannya. Ya itulah rumah pak Unang, gelap remang-remang. Hampir tak ada penerangan. “Sudah tidur pak unang?” ketok kami dari depan pintu. Pintu perlahan dibuka, dan sinar lampu petromaks perlahan menerpa wajah kami. “Eeeeh silahkan masuk, Jang”. Kami pun masuk, duduk lesehan, memesan semangkuk indomie dan menyeruput segelas kopi.

“Lagi kemarau Jang, airnya kering, jadi ya listriknya nggak kuat”.
Kampung yang dihuni belasan keluarga ini mengandalkan listrik swasembada. Mereka memasang kincir dan turbin kecil di sebuah aliran sungai. Maka tak heran, ketika kemarau berkepanjangan, sungai mengering, kincir tak berputar, tak ada listrik yang dihantar. Ahhh.. Nampaknya sudah setengah abad lebih Negara ini merdeka, namun kok yaaa masih ada (baca: masih banyak) desa yang tak tersentuh seperti ini. Tanah mereka diperas untuk menghasilkan teh-teh dengan kualitas terbaik, tenaga mereka diperah setiap harinya untuk menjaga dan memetik pucuk pucuk daun yang nantinya dikirim kekota. Tanpa imbal kesejahteraan, tanpa kelayakan, tapi… nampaknya mereka tetap menikmati kehidupan.. karena keadaan memaksa demikian.

“Maka benar adanya, setibanya dipuncak, janganlah mendongak, jangan biarkan hatimu menjadi congkak. Menunduklah, lihatlah kebawah, resapilah arti kehidupan, belajarlah tentang kehidupan, belajarlah memaknai kehidupan. Sekali lagi, lihatlah kebawah, belajarlah tentang syukur, dan jangan jadikan dirimu bagian dari mereka yang kufur.”  bisik lembut di suatu pagi yang buta, puncak kencana.

Ramadhan ke 27,
Gadog, Ciawi – Bogor.

 
1 Comment

Posted by on August 14, 2012 in Catatan Harian, Catatan Perjalanan

 

One response to “Setibanya di puncak, Janganlah mendongak. Menunduklah, lihatlah kebawah.

  1. audiahmad

    September 16, 2014 at 11:40 pm

    salam lestari , bro saya ke hilangan kontaknya pak unang jiga ada tolongyaa di share

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s