RSS

Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna

09 Feb

Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna.

Dalam tulisan kali ini, sejujurnya saya sendiri tak tau harus dari mana mengawali. Karena semuanya terjadi secara tiba-tiba. Semua tak memerlukan waktu yang lama. Cukup singkat, namun terasa dekat. Mungkin sebaiknya aku bercerita tentang sebuah kisah lama, yang mungkin kalian pun mulai bosan membacanya. Kisah yang menceritakan tentang sosok “aku”, sosok yang tergambar sebagai seorang pemuda desa yang suka berkelana, berpetualang, dan berjalan membunuh waktu, untuk sekedar mencari suatu ketenangan dan kedamaian yang slalu ia dambakan.

Pada suatu ketika, dalam pengembaraannya, ia berjalan dalam kegelapan. Ia selalu melangkah dalam keheningan. Tak jarang ia terseok, terperosok, dan berulang kali jatuh tersungkur. Pun berulangkali ia kembali bangkit dan mencoba tuk tetap berjalan, mencari sesuatu yang ingin ia dapati, menanti sesuatu yang ingin ia jumpai, sesuatu yang ingin ia temui.

Ranukumbolo

Hingga pada akhirnya pemuda itu sejenak berhenti. Matanya melihat pada satu sudut yang tersembunyi. Ia melihat sebuah batu yang bercahaya, menyembul tersembunyi dibalik rerumputan, diantara bebatuan, yang menutupi dan melindunginya dari tangan-tangan keserakahan. Sebuah batu permata yang kecil, mungil, dan dengan kilauan cahaya yang berpendar sempurna, indah. Dan dalam ketidaksempurnaannya ia nampak menjadi lebih sempurna.

Ingin sekali sang “aku” mendekat, melihat dan menatapnya lebih lekat. Tapi aku terlalu takut, aku takut menjadi salah satu dari tangan keserakahan itu, yang akan berkeinginan menyentuh dan menggenggamnya pulang. Hingga aku hanya berani mendekat, aku hanya mengagumi dari jarak yang tak terlihat. Setidaknya, tanganku ini tak cukup dekat untuk menjangkau, apalagi mengusik ketenangan batu kecil berkilau itu.

“Ahhh.. apa yang kamu fikirkan? Tersenyum dan melamun hanya menjadikanmu seorang pemimpi. Bangun! dan lanjutkan perjalananmu. Ahh.. tapi sebentar. Aku masih ingin menikmati lamunan itu. Sebentaaar saja, lima menit saja. Bagaimana? Ah, terserah kaulah!!”.

Sesaat kemudian pemuda itu kembali duduk tersandar, menikmati senyuman dan larut dalam lamunan panjang. Berkelana di dalam imaji dan melayang dalam bayang-bayang. Mencoba kembali mengagumi batu permata yang baru saja dijumpainya. Dan tiba-tiba, “Blarrrr…!!!” sebuah letupan kecil membuatnya terperanjat, jatuh dan terjengkang, melemparkan dan mengembalikannya kedalam alam sadar.

Angin berhembus perlahan. Menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Membawa serta ranting-ranting patah yang berceceran disepanjang jalan. Angin itu menggulung, berputar, membentuk satu pusaran dan perlahan bergerak mendekati pemuda itu. Bukan, bukan, pusaran itu ternyata mendekati batu kecil itu. Sang batu pun ikut melayang, mengawang, dan bersinar lebih terang. Cahaya apa itu? begitu teduh, begitu menenteramkan. Persis seperti yang selama ini ia dambakan.

Belum reda dari keterkejutannya, lagi-lagi dan secara tiba-tiba, “simsalabim!!”, dengan ajaib batu permata itu berubah menjadi sesosok gadis kecil. Seorang gadis kecil mungil bertanduk kancil. Lucu, manis, menggemaskan.

“Hei, kamu siapa? Tenanglah, tenang,, aku tidak ingin mengganggumu. Benarkah kamu batu permata itu? Emm.. aku hanya mengagumimu, aku tau aku tak boleh membawamu, tapi sekali lagi aku hanya ingin mengagumimu, bolehkah?” pemuda itu mencoba ramah dan tersenyum.

“Apakah kamu manusia?” gadis kecil itu membalas manis tersenyum. “Aku hanya sebuah batu permata kecil yang sejak lama bersembunyi dibalik batu itu” sambil menunjuk sebuah besar yang melindunginya selama ini. “Jangan takut, aku tak akan mengganggumu, aku tak ingin menyakitimu, aku hanya seorang pengelana yang tersesat, dan dalam gelapku aku melihat cahayamu. Maukah kau menemaniku bicara dan bertukar cerita?” kata pemuda desa itu.

***

menyisir oro-oro ombo

“Jadi, kamu suka mendaki? Suka berpetualang dan berkelana ke tempat-tempat indah yang tersembunyi? Kalau begitu ajak aku berkelana bersamamu, aku ingin melihat dunia di belahan sana yang katanya begitu indah mempesona. Hei, pokoknya ajak aku kesana! Selama ini aku hanya bisa mendengarnya dari tutur kisah sang angin yang menceritakannya.”

“Kamu ingin ikut aku berkelana? Tapi berjalan jauh itu tak mudah, permata.. berkelana itu capek.. Atau kau ingin masuk kedalam ranselku? Berejejalan bersama alat-alat dan perbekalanku lainnya?”

“Nggak, nggak mau! aku mau masuk di kantongmu saja, hihihihi”

“Ah, dasar kamu permata kecil yang nakal..!!”🙂
“Yasudah, tapi kamu jangan gerak-gerak ya..!! ampun polah-polah..! tetep diem dan anteng didalam kantongku.”
“Ingat, tetap diam dalam kontongku. Aku harus menjagamu sepanjang perjalanan dan memastikanmu baik-baik saja. Aku tidak ingin kamu terjatuh apalagi hilang ditengah jalan. Nanti, disana, akan kutunjukkan kepadamu sebuah tempat yang seperti surga, nanti akan kuperlihatkan padamu sebuah telaga yang berwarna biru, dengan kemilau airnya memantulkan pendaran cahaya, sama sepertimu. Kamu bisa membasuh mukamu dengan airnya yang jernih dan menyegarkan, dan aku yakin, kilauan permatamu akan semakin sempurna”.

“Bener yaaa.. pokoknya ajak aku kesana! Ajak aku juga ke hamparan savana dan padang rumput luas yang katanya dikelilingi dengan bukit-bukit indahnya itu.”

***

Tanjakan Cinta – Gn.Semeru

Hahaha, tahukah kamu, permata kecil? Kadang aku masih sering tertawa mengingat obrolan-obrolan konyol kita itu. Tak jarang pula penggalan-penggalan adegan itu hadir dalam imaji liarku. Aku membuatkanmu segelas susu cokelat panas dan kamu bilang nggak mau joinan susu itu dengan si “semeru”, kamu bilang kasihan dia sedang sakit dan terbatuk-batuk, cepet sembuh ya semeru.. hhe.🙂 Kamu tau? kadang aku juga membayangkan bagaimana jika nanti kamu beneran ngambek, nangis, dan nggak mau berjalan menaiki tanjakan. Sebenarnya aku tidak ingin membayangkan aku menggendongmu, tapi, tetap saja hal-hal konyol seperti itu melintas dalam imajiku. Hahaha.. Ranukumbolo, tanjakan cinta, oro-oro ombo. Dan pada akhirnya aku akan tersenyum puas ketika kamu berhasil sampai di oro-oro ombo, dan kemudian tubuh mungilmu tenggelam diantara rerumputan tinggi yang ada di tengah padang savana itu. :p

Hmmmm… mudah-mudahan yang Diatas memeluk mimpi-mimpi kita itu yaa. Semoga waktu dan kesempatan memepertemukan kita. Seperti halnya garis-garis yang ada di telapak tangan kita, tentang nasib, tentang jodoh, tentang hidup, tentang masadepan, setidaknya kita sendiri telah menggenggam erat garis-garis itu, meskipun selalu ada bagian garis yang berada diluar genggaman, tapi biarkan itu menjadi bagian Tuhan. (meminjam sebuah ungkapan).

Nah kan, aku jadi bingung juga bagaimana mengakhiri tulisan ini. Ahhh.. biarkan saja tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang tak pernah usai. Mari kita isi dan kita lanjutkan dengan cerita-cerita konyol yang terjadi dikemudian hari. Hhe, buat de’ anind, terimakasih telah menjadi inspirasi, dan terimakasih juga untuk puisinya😉

Salatiga, 9 Februari 2012.
Diselesaikan pada pukul 02.17 AM

 ___________

*seperti yang kubilang, tulisan ini tak pernah usai, dan diakhir cerita ini yok nyanyi lagunya om Duta biar lebih semangat..!!
Jreng jreng jreng… (cek sound, hhe) “Datanglah sayang, dan biarkanku berbaring, dipelukanmu walaupun tuk sejenak. Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua. Bila ku lelah tetaplah disini, jangan tinggalkan aku sendiri. Bila ku marah biarkanku bersandar, jangan kau pergi untuk menghindar..
Rasakan resahku dan buat aku tersenyum, dengan canda tawamu, walaupun tuk sekejap. Karena engkaulah yang sanggup redakan aku. Karena engkaulah satu-satunya untukku, dan pastikan kita slalu bersama. Karena dirimulah yang sanggup mengerti aku, dalam susah ataupun senang..
Dapatkah engkau selalu menjagaku, dan mampukah engkau mempertahankanku..”

“Lanjut??”
“Gausah dilanjut, ayo bilang “aminnn”. Hha :))

Menanti Matahari Terbit – Ranukumbolo
 
4 Comments

Posted by on February 9, 2012 in Catatan Harian, Spirit & Motivation

 

4 responses to “Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna

  1. Anonymous

    February 9, 2012 at 7:19 pm

    tak kiro sampeyan nemu batu mira delima pas munggah gunung,mbah jez….

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      February 20, 2012 at 2:51 am

      Wah batu permata ini jauh lbh berharga dr batu mira delima mas.e

       
  2. anak posko

    February 10, 2012 at 2:25 pm

    ciyeeeee ahirnya sang pengelana menemukan tambatan hatinya. Kapan mbintaro plok? Nunggu makan2 iki cah

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s