RSS

Simbahku, jan nguanyeli..

21 Jan

Simbahku, jan nguanyeli..

Simbah, (satu satunya simbah/nenek kami yang masih hidup, wanita yang melahirkan dan membesarkan ayah kami), beliau sudah hampir dua bulan ini tinggal dirumah bersama kami sekeluarga, setelah sebelumnya selalu berpindah pindah dan selalu tidak betah tinggal lama bersama anak anaknya yang lain.

Beliau sudah sangat sepuh, semenjak jompo, beliau mulai pikun dan berkelakuan seperti anak kecil lagi. Wajar sih, kata bapakku usianya sekarang sudah melewati angka 100, walaupun tak yakin pasti yang ke seratus berapa.
Beliau nampak sudah tak ingat lagi dengan siapa dan apa yang ada disekitarnya, termasuk anak-anaknya sendiri.
Ia hanya hidup dengan sifat, watak, dan kebiasaannya sewaktu muda dulu.
Sedikit tamak, banyak “dahar”, dan aluamah. Hehe, kedengaran negatif memang, tapi memang begitu kenyataanya. Kata ibuku itu semua mencerminkan seluruh sifatnya sewaktu “hidup” dulu. Sekarang otak yang memerintahkan apa yang dilakukan simbah bukanlah otak sadar, melainkan otak bawah sadar yang tertanam oleh kebiasaan seseorang yang dilakukannya sedari kecil. Kurang lebih begitu penjelasan ilmiahnya. (padahal ngarang!)

Simbah memang sudah tidak bisa melakukan apa apa. Sudah bobrok! Hanya terbaring meringkuk di dipan kayu beralaskan perlak cokelat dan memakai popok dewasa. Paling banter hanya bisa duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk ketika belium minum atau dahar. Tapi herannya, kalo “dahar” itu seperti orang sehat saja. Lahap, dan dengan porsi luar biasa. Lebih dari porsi makan saya mungkin. Hehe..
Setelah itu beliau “sare”, atau kadang berbicara sendiri selayaknya orang yang sedang bercakap-cakap, entah dengan siapa.
Kadang saya takut sendiri, ini simbah ada temen ngobrol beneran atau gimana yaa.. hehe.

Kadang simbah ini juga rewel, minta ini itu, berteriak-teriak dan berbicara sendiri sepanjang malam, yang membuat kami tidak bisa tidur dengan tenang semalaman.
Ya seperti malam ini contohnya, beliau berteriak teriak memanggil mbah kakung yg telah lebih dulu pergi, bahkan jauh sebelum saya lahir.
“Pa’e.. pa’e.. aku rainjoh tangi..”.
“Njuk ngombe wedang legi..”.
“Kowe kumu wes matengan?”
Ah, jika simbah sudah mulai bicara aneh2 seperti ini, maka saya yg tidur dikamar sebelahnya terpaksa mengungsi tidur di depan TV. Hehe.

Dari lantai di ruang depan itulah saya menulis tulisan iseng ini. Mencoba mengambil sedikit ibroh dari sepenggal cerita gakpenting yang saya tuturkan diatas tadi.

Saya kepikiran bahwa suatu saat nanti kita pun pasti akan menua, seperti simbah sekarang ini, yang tinggal menunggu kapan izrail datang menghampiri.
Bahkan kita yang sekarang masih muda pun, belum tentu mengalami masa tua, jika ternyata memang sudah tiba gilirannya. Tak ada yang tahu pasti, Tuhan dengan rahasiaNya yang lebih tau.

Dan jika kita diberikan umur panjang, ternyata kebiasaan kebiasaan (perbuatan) kita sewaktu muda akan terbawa ketika kita sudah tak ingat lagi apa apa. Entah kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Seperti simbah ini.
Toh, jika maut menjemput, yang boleh kita bawa juga amalan amalan kita saja bukan?
Maka itu artinya sedari saya harus membiasakan diri melakukan hal hal yang baik. Sedikit demi sedikit mengurangi atau bahkan meninggalkan kebiasaan yang tak baik. Catatan: Itu, jika saya ingin menjadi orang baik.🙂

Ibroh yang ketiga adalah bagaimana ibu & bapak saya dengan penuh bakti bersabar menghadapi kelakuan simbah yang aneh-aneh ini. Merawat dan menjaga dengan penuh kasih sayang, persis seperti merawat seorang bayi. Memandikan, menyuapi makan, mengganti kain jarit dan popok yang penuh dengan kotoran.. Ya, maka tak salah jika kanjeng Nabi mengajarkan kita agar berbuat baik dan mendoakan kedua orang tua kita, menyayangi mereka, sebagaimana mereka merawat & menyayangi kita sewaktu kecil dulu. Terutama kepada ibu, yang tiga kali disebut berulang oleh kanjeng Nabi sebagai orang pertama yang harus dimuliakan dalam hidup.

Ke empat, ibrohnya belakangan ini saya jadi sering terbangun di tengah malam ketika simbah tiba-tiba teriak teriak bicara sendiri. >> kalo nggak males, kan, bisa sholat malam. Kalo males? bisa nonton bola..!! haha.

Ibroh yang kelima? ya akhirnya kan tulisan gakjelas ini bisa nambah nambahi postingan di blog yang setelah beberapa lama tak sempat terjamah. Huehue..

Saya akhiri tulisan ini dengan doa, mari mengaminkan untuk kedua orangtua kita semuanya..
“Robbi ighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiira”.
(tiba tiba barusan mendengar suara gagak yang tak biasa dari arah sana, sumpah, hii merinding saya. *buruburu tarikselimut)

*Sabtu, 21 Januari 2012. Ditulis di Susukan, sebuah kecamatan perbatasan antara Kab.Boyolali dengan Kab.Semarang.

==========
Keterangan:
(dahar=makan, bahasa jawa) ; (sare=tidur) ; (ibroh=hikmah,pelajaran,teladan)

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

2 responses to “Simbahku, jan nguanyeli..

  1. Ichilz

    January 21, 2012 at 12:12 pm

    hukz, jadi kangen sama nenek T.T
    blog n tulisan na bagus bgt mas..

     
  2. nadia_sari

    January 21, 2012 at 4:38 pm

    hahaha awas kualat loh

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s