RSS

Referensi Pendakian: GUNUNG SLAMET (3.432 mdpl)

04 Jan

Referensi Pendakian: GUNUNG SLAMET (3.432 mdpl)

Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa setelah Gunung Semeru di jawa Timur, berbentuk kerucut/strato serta memiliki kawah yang masih aktif dan luas. Letusan besar terakhir terjadi tanggal 13 Juli 1988, yang menimbulkan lidah api dan semburan lava setinggi 300 meter.

Pada awal bulan September 1995, hutan di Gunung Slamet ini mengalami kebakaran hebat, diperkirakan karena kesalahan manusia, yang mengakibatkan lenyapnya berbagai tumbuhan dan fauna khas yang masih tersisa di gunung ini, termasuk tanaman langka Edelweis Jawa yang merupakan tanaman khas Gunung Slamet. Edelweis Jawa di sini, bunganya putih kekuningan dan tangkai bunganya serupa dengan daun kering yang panjang, berbeda dengan Edelweis di Gunung Gede-Pangrango yang bunganya keputih-putihan dan tangkai bunganya berbulu-bulu.

Hutan di kawasan Gunung Slamet, sebagian terdiri dari hutan alam, hutan alam produksi, dan hutan produksi yang dikelola oleh PERHUTANI KPH Pekalongan Barat dan KPH Banyumas Timur.

Pendakian ke Gunung Slamet cukup berbahaya, karena hutannya masih lebat, dan jarang didaki, selama tahun 1975-1974 tercatat 17 orang meninggal di gunung ini, 10 orang diantaranya meninggal karena hujan salju pada bulan Februari 1992. Suhu di puncak Gunung Slamet seringkali mencapai 0 C, karenanya kita harus menyiapkan fisik, logistik, dan perlengkapan untuk mendaki gunung ini.

Untuk mencapai puncak Gunung Slamet, kita bisa melalui beberapa jalur; dari Utara via Gambuhan-Jurangmangu, dari Selatan via Baturaden-Gunung malang, dan dari Timur via Bobotsari-Bambangan. Jalur yang paling dekat dan aman, adalah dari Bambangan dan Jurangamangu, yang merupakan jalur yang dianjurkan, sedangkan jalur Baturaden sebaiknya dihindari karena banyak ditumbuhi rumput-rumput liar dan medannya terjal serta berbahaya.

Jalur Bambangan

Untuk menuju Bambangan (1.470 mdpl), dari Purwokerto kita naik bis jurusan Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Di Bobotsari sebaiknya kita melengkapi perbeklan yang masih diperlukan, dan disini tersedia fasilitas Telepon Interlokal (Wartel). Dari terminal Bobotsari naik Primkodes (minibus) menuju Pasar Priatin di Desa Kutabawa Kecamatan Karangrejo. Dari Priatin kita berjalan sejauh 2,5 km menuju dusun Bambangan, karena hanya sesekali saja ada truk pengangkut yag melewati jalan tanah yang lembek dan berbatu ini. Kita juga bisa turun di Dukuh Penjagan (Serang), 2 km sebelum Priatin dan berjalan ke arah Bambangan sejauh 2,5 km melewati perladangan.Bila kita dari arah Pemalang, kita naik bis jurusan Purwokerto, turun di Karangrejo, pertigaan ke Goa Lawa, dan naik minibus sejauh 7 km ke Priatin.

Dusun Bambangan merupakan hunian terakhir menuju Gunung Slamet, disini kita harus mengisi persediaan air, karena sepanjang pendakian sulit ditemui mata air, terutama dimusim kemarau. Dusun Bambangan dihuni kira-kira 900 penduduk yang mengandalkan kehidupannya dengan bercocok tanam sayuran.

Di batas Dusun bambangan, kita akan menjumpai Pondok Pemuda, sebuah gedung yang besar dan cukup megah yang dibangun Pemda Purbalingga untuk para pendaki. Setelah melapor ke Pak Mucheri, pendakian dimulai dari Pondok Pemuda, dimana jalur agak bercabang, yang ke kanan merupakan jalur lama, kita bisa mengambil jalan yang lurus, karena rute yang baru ini lebih pendek.

Setelah perladangan kita akan memasuki kawasan Hutan PERHUTANI, dimana akan kita jumpai sebuah tempat berlindung (shelter). Dari sini kita mendaki selama 1/2 km dan akan melewati tempat yang disebut Pondok Gembirung (2.250 mdpl), yang merupakan hutan alam yang banyak ditumbuhi Pohon Gembirung. Dari sini sejauh 1/5 km akan dijumpai Pondok Walang (2.500 mdpl), berjalan lagi sejauh ½ km kita akan menemui Pondok Cemara yang disekitarnya banyak ditumbuhi pohon cemara.

Dari Pondok Cemara kita terus mendaki sejauh 1,5 km menuju Pondok Samanrantu (2.900 mdpl) disini ada pondok peristirahatan sederhana. Diperlukan waktu 4-5 jam untuk mencapai Samanrantu dari Bambangan, dan 2 jam lagi untuk mencapai Puncak.

Dari Samanrantu perjalanan diteruskan sejauh 0,3 km menuju Samyang Rangkah yang dimusim hujan ada mata air, berjalan sejauh 0,6 km lagi melewati Samyang Kendit dan Samyang Jampang (2.950 mdpl) kita akan sampai di Samyang Ketebon (3.000 mdpl). Di Samyang Jampang banyak ditumbuhi bunga Edelweis yang sekarang nyaris punah, dan kita bisa menyaksikan matahari terbit dari tempat ini. Kita terus naik ke Plawangan (3.250 mdpl) yang merupakan perbatasan hutan dan daerah berbatu. Menuju puncak gunung Slamet dibutuhkan waktu 1 jam lagi, melewati batu-batu lahar yang amat sukar, berupa batu lepas dan tajam, kita harus lebih waspada di tempat ini.

Setelah tiba di puncak akan terlihat hamparan padang lahar yang luas dan menakjubkan. Kita juga dapat menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ke arah kawah-kawah yang masih aktif, yang dinamakan Segoro Warian dan Segoro Wedi.

Di puncak Gunung Slamet kita juga dapat menyaksikan panorama yang indah kearah puncak-puncak gunung Sindoro, Sumbing, dan Ciremai, juga kearah kota Tegal, Purwokerto, Brebes, dan kaki langit membentang Samudra Hindia dan Laut Jawa. Untuk memantau kondisi vulkanisnya, Puncak Gunung Slamet dilengkapi pemantau gempa yang datanya ditransmisikan lewat pemancar radio dengan menara antena setinggi 18 meter.

Pendakian dari Bambangan menuju puncak Gunung Slamet membutuhkan waktu sekitar 8 jam, sedangkan untuk turun dibutuhkan waktu sekitar 4 jam.

Setelah pendakian kita bisa pergi ke Baturaden yang merupakan kawasan wisata, dimana tersedia banyak hotel dan penginapan dan fasilitas wisata lainnya. Di Baturaden kita dapat menikmati panorama lereng gunung Slamet dengan amat indah, mandi air panas, dan berenang dengan biaya murah.

Jalur Utara via Gambuhan

Jalur utara ini kurang populer dibandingkan jalur Bambangan tetapi jalur ini sering digunakan oleh petugas Vulkanologi untuk menuju kawah Gunung Slamet.

Desa Gambuhan (1.000 mdpl) lebih mudah dicapai dari arah Tegal. Dari Tegal kita naik bis jurusan Moga (540 mdpl) sejauh 64 km lewat Pemalang. dari Moga kita naik minibus ke desa Gambuhan. Gambuhan bisa juga dicapai lewat Toewel. dari Tegal dengan naik minibus kita menuju Toewel (850 mdpl) lewat Bojong. dari Toewel kita ganti minibus lagi ke Gambuhan. Sebaiknya logistik telah dipersiapkan di Toewel atau di Moga. Fasilitas telepon interlokal tersedia di Moga dan di Toewel.

Dari Gambuhan kita berjalan atau naik ojek ke pos Vulkanologi yang jaraknya 700 m, untuk mencatatkan diri dan meminta informasi tentang kondisi Gunung Slamet dan jalur pendakiannya. Disini kita bisa menemui kepala Vulkanologi yang dapat membantu kita pemanduan dan penginapan. Dari Pos Vulkanologi kita meneruskan perjalanan ke Dusun Karang Sari, desa Jurang Mangu melintasi jalan desa selama ½ jam atau dengan ojek selama 10 menit saja. Mobil hanya bisa mencapai pos Vulkanologi saja, dan sementara kita mendaki, mobil dapat diparkir di sini.

Pendakian kita mulai dari Dusun Karang Sari (1.050 mdpl) ini, melewati hutan pinus menuju Pondok Buncis selama ½ jam, disini kita bisa beristirahat dan mengambil air.

Dari Pondok Buncis perjalanan memasuki hutan alam dan cemara, melewati Pondok Gribig (1.750 mdpl), selama 1 jam perjalanan. Selanjutnya perjalanan diteruskan 1,5 jam ke Pondok Pakis (2.200 mdpl). Jalan semakin menanjak, dan kita akan sampai di Penatus (2.350 mdpl), setelah perjalanan selama 1 jam dan diperlukan 1,5 jam lagi untuk mencapai Pondok Gua (3.000 mdpl).

Perjalanan 1 jam dari Pondok Gua kita sampai di batas pasir sisa letusan yang dinamakan Samyang Wenang (3.200 mdpl), melalui rerumputan dan vegetasi Edelweis Jawa. Perjalanan akan melintasi medan yang semakin curam, berpasir dan berbatu lepas, yang mengharuskan kita berhati-hati. Setelah perjalanan 1,5 jam kita sampai di Gigir Kawah (3.400 mdpl). Diperlukan ½ jam lagi untuk menuju Puncak Gunung Slamet yang terletak diakhir jalur Bambangan, sedangkan total perjalanan ke Puncak 7-8 jam. Untuk kembali ke Gambuhan diperlukan waktu 4-5 jam.

* Sumber: Tulisan berdasarkan arsip database gunung-gunung Jawa di komputer posko STAPALA.

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2012 in Referensi Pendakian, Wisata

 

Tags: , , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s