RSS

Referensi Pendakian: GUNUNG CIREMAI (3.078 mdpl)

04 Jan

Referensi Pendakian: GUNUNG CIREMAI (3.078 mdpl)

Gunung Ciremai merupakan gunung berapi yang masih aktif dan bertipe Strato. Memiliki dua kawah utama, Kawah Barat dan Kawah Timur, serta kawah letusan kecil Gua Walet. Gunung ini memiliki keistimewaan tersendiri bila dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya di pulau Jawa, seperti juga Gunung Slamet, gunung ini juga terpisah dari gunung-gunung tinggi lainnya, tetapi gunung Ciremai ini lebih dekat dengan Laut Jawa. Kegiatannya yang terakhir tercatat pada tahun 1973, berupa gempa tektonik yang cukup kuat.

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, dapat didaki dari arah timur melalui Linggarjati (580 mdpl), dari arah selatan melalui Palutungan (1.227 mdpl), dan dari arah barat melalui Maja (lewat Apui dan lewat Argalingga). Jalur Linggarjati dan Palutungan adalah jalur yang paling banyak dilalui, dan merupakan jalur yang dianjurkan oleh pihak PERHUTANI pengelola kawasan hutan di sekitar Gunung Ciremai.

Desa Linggarjati merupakan gerbang utama pendakian ke Gunung Ciremai. Untuk mencapainya, dari terminal Cirebon atau dari Jakarta, kita naik bus jurusan Kuningan dan turun di terminal Cilimus atau turun di pertigaan menuju pusat Desa Linggarjati, dan meneruskan perjalanan ke Desa Linggarjati dengn minibus.

Di Desa Linggarjati ini terdapat penginapan yang bertarif relative mahal (Rp 45.000 – Rp 150.000) Hotel Linggarjati (telp. 0232-63185), Pesanggrahan di kawasan Taman Wisata Linggarjati Indah (telp. 0232-63188) dan Siliwangi Park Resort (telp. 0232-63006). Walau begitu kita bisa bermalam di Balai Desa atau di rumah-rumah penduduk dengan biaya sukarela.

Fasilitas telepon kartu dapat kita jumpai di Taman Wisata Linggarjati Indah, dan Wartel hanya tersedia di Cilimus, dimana kita bisa mengirim dan menerima faksimili (telp/faks 0232-63112).

Desa Linggarjati merupkan desa yang bersejarah dimana kita bisa mengunjungi Gedung Linggarjati, yang dijadikan museum untuk mengenang perjanjian Linggarjati yang dilaksanakan tahun 1946. Setelah pendakian kita bisa menikmati pemandian air panas yang terletak di Desa Sangkan Hurip, 4 km ke arah timur Linggarjati, yang mengandung yodium, berbeda dengan kebanyakan pemandian air panas alami yang mengandung belerang.

Jalur Linggarjati

Jalur pendakian Linggarjati ini sangat jelas, karenanya menjadi pilihan utama para pendaki. Dibandingkan dengan jalur Palutungan, jalur Linggarjati ini lebih curam dan sulit, dengan kemiringan sampai 70 derajat. Di jalur ini, air hanya terdapat di Cibunar.

Dari Desa Linggarjati berjalan lurus, kurang lebih ½ jam, mengikuti jalan desa menuju hutan pinus, kita akan sampai di Cibunar (750 mdpl). Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke arah kiri menuju sumber mata air dan lurus menuju arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di Cibunar. Persediaan air sebaiknya disiapkan disini, karena setelah ini tidak ada mata air lagi.

Dari Cibunar, kita akan mulai mendaki melewati ladang dan hutan pinus, dan kita akan melewati Leuweung Datar (1.285 mdpl), Condong Amis (1.350 mdpl), dan Blok Kuburan Kuda (1.580 mdpl), disini kita dapat mendirikan tenda. Dari Cibunar ke Blok Kuburan Kuda diperlukan waktu kira-kira 3 jam.

Jalur akan semakin curam dan kita akan melewati Pengalap (1.790 mdpl) dan Tanjakan Binbin (1.920 mdpl) dimana kita bisa temui pohon-pohon palem merah. Selanjutnya kit akan melewati Tanjakan Seruni (2.080 mdpl) dan Bapa Tere (2.200 mdpl), kemudian kita sampai di Batu Lingga (2.400 mdpl), dimana terdapat sebuah batu cukup besar di tengah jalur. Menurut cerita rakyat, dasar kawah gunung Ciremai sama tingginya dengan Batu Lingga ini. Perjalanan dari Kuburan Kuda sampai Batu Lingga memakan waktu antara 4-5 jam. Di beberapa pos, kita dapat menjumpai nama tempat tersebut, walaupun kadang kurang jelas karena dirusak.

Dari Batu Lingga kita akan melewti Sangga Buana Bawah (2.545 mdpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 mdpl), mulai di jalur ini kita bisa memandang ke arah pantai Cirebon. Burung-burung juga akan mudah dijumpai di daerah ini, dan selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan (2.860 mdpl), yang membutuhkan waktu 1,5 jam dari Batu Lingga. Disekitar Pengasinan banyak dijumpai Edelweis Jawa (Bunga Salju) yang langka itu, namun dari waktu ke waktu semakin berkurang jumlahnya akibat sering dipetik. Dari Pengasinan menuju puncak Sunan Telaga/Sunan Cirebon (3.078 mdpl) maih dibutuhkan waktu sekitar ½ jam lagi dengan melewati jalur yang berbatu-batu.

Dari puncak, akan kita saksikan pemandangan kawah-kawah Gunung Ciremai yang menawan. Bila cuaca cerah kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, Gunung Slamet, dan gunung-gunung di Jawa Barat. Pemandangan lebih menarik akan kita jumpai pada waktu matahari terbit dari arah laut Jawa. Suhu di puncak bisa mencapai 8-13 C. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang yang ditempuh dalam ½ jam perjalanan. Untuk mengitari puncak dan kawah-kawahnya diperlukan waktu 2,5 jam.

Dari puncak ke arah kiri 15-20 menit perjalanan, kita akan jumpai 3 buah cerukan yang dapat kita gunakan untuk bermalam dan membuka tenda, tempatnya cukup nyaman karena posisinya lebih rendah dari puncak dinding kawah.

Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata-rata membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun. Dengan demikian kita harus mendirikan tenda di perjalanan, karena itu perlengkapan tidur dan perlengkapan masak adalah suatu keharusan.

Pendakian pada musim kemarau culup menyenangkan karena cuaca lebih bersahabat, dan kondisi medan tidak terlalu licin serta pemandangan lebih cerah.

Jalur Palutungan

Jalur Palutungan tidak terlalu curam seperti jalur Linggarjati, tetapi kita harus menambah waktu tempuh 2-3 jam. Dari Terminal Kuningan kita bisa langsung menuju Desa Palutungan yang jaraknya 9 km dengan Angkutan Pedesaan. Fasilitas telepon interlokal terakhir tersedia di Kuningan. Di Palutungan hanya ada toko-toko kecil, maka sebaiknya keperluan logistik untuk bekal pendakian dipenuhi di Kuningan. Di desa palutungan terdapat areal perkemahan yang bernama Bumi Perkemahan Erpah, perjalanan hanya membutuhkan waktu 10 menit, dan setiap hari libur banyak peengunjung berwisata di tempat ini. Persediaan air untuk pendakian sebaiknya dipersiapkan di desa ini.

Dari Palutungan pendakian kita teruskan melalui Cigowong Girang (1.450 mdpl), selama 3 jam perjalanan, dimana terdapat sebuah sungai kecil yang lebarnya 1-1,5 m. Disini kita bisa menambah persedian air dan mendirikan tenda di tempat ini, walaupun tempatnya kurang memadai dan suhu sudah cukup dingin. Selanjutnya kita akan memasuki hutan dan melalui Blok Kuta (1.690 mdpl) dan Blok Pangguyungan Badak (1.790 mdpl).

Perjalanan kita teruskan dengan melewati Blok Arban (2.030 mdpl), kemudian Tanjakan Assoy (2.108 mdpl). Di tempat ini kita bisa beristirahat sebelum melewati tanjakan yang cukup curam. Dari Cigowong Girang menuju tempat ini diperlukan waktu 4-5 jam perjalanan. Selanjutnya kita akan melewati Blok Pesanggarhan (2.450 mdpl) dan Blok Sanghyang Ropoh (2.590 mdpl), kemudian kita akan sampai ke pertigaan (2.700 mdpl) yang menuju ke Apui dan ke Kawah Gua Walet. Kira-kira 2 jam waktu tempuh dari Tanjakan Assoy ke pertigaan ini. Dari pertigaan kita menuju Kawah Gua Walet (2.925 mdpl) dan ke Puncak Sunan Cirebon, yang diperlukan waktu 1,5 jam perjalanan.

Jalur Maja (via Apui, Cipanas)

Untuk mencapai kampung Apui, Cipanas, dari arah kota Cirebon naik bus menuju Majalengka, lalu dilanjutkan dengan naik minibus menuju Maja (556 mdpl). Setelah sampai di Maja kita turun dan naik lagi Angkutan Pedesaan menuju Desa Cipanas. Di Desa Cipanas kita akan menemui lahan bekas perkebunan teh Argalingga yang sangat luas tapi sekarang telah berubah jadi ladang sayur-sayuran. Di sini saat matahari tenggelam di ufuk barat pemandangannya sangat indah.

Dari Desa Cipanas, perjalanan kita teruskan ke Kampung Apui (1.100 mdpl) dengan angkutan pedesaan. Setiba di Kampung Apui kita mempersiapkan kebutuhan air, karena sepanjang jalur pendakian tidak terdapat mata air.

Kampung Apui, mayoritas penduduknya Sunda dan bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran. Jalan masuk ke kampung ini banyak terdapat tanjakan dengan kemiringan hampir 70 derajat.

Awal pendakian dimulai melewati perladangan dan hutan produksi selama 3-4 jam kita akan sampai di Berod. Di sini kita akan menemui pertigaan, kita ambil yang ke arah puncak.Setiba di Berod perjalanan kita teruskan menuju ke Simpang Lima (Perempatan Alur), perjalanan memakan waktu sekitar ½ jam dari berod, lalu diteruskan menuju Tegal Mersawah. Di Tegal Mersawah perjalanan langsung kita teruskan menuju Pangguyangan Badak. Disini kita bisa beristirahat. Perjalanan kita teruskan 2 jam lagi maka akan sampai di Tegal Jumuju (2.520 mdpl). Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju Sanghyang Rangkah, selama 2 jam perjalanan.

Di Sanghyang Rangkah menuju tempat pemujaan yang sering digunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju Gua Walet (2.925 mdpl), selama 4 jam perjalanan. Gua Walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam.

Esok harinya kita bisa langsung menuju ke Tepi Kawah (3.056 mdpl) dan langsung menuju puncak, selama 3 jam perjalanan.

————–

* Sumber: Tulisan berdasarkan arsip database gunung-gunung Jawa di komputer posko STAPALA

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2012 in Referensi Pendakian, Wisata

 

Tags: , , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s