RSS

Menanti bisikan dari Pak Menteri

02 Jan

Cahaya lampu neon berpendar, menerobos kabut tipis yang perlahan menyelimuti jalan jalan desa itu. Hari ini, 1 januari 2011, telepon bergetar, samar terputus putus suara yang tak asing berbicara diujung sana, “Piye le kabare pengumuman internete?”, tanya suara serak bapak berusia separuh baya, mencoba menanyakan kabar dari anak bungsunya yang telah dinanti nantikannya hampir tiga bulan belakangan ini. Menantikan kejelasan pengumuman penempatan kerja di sebuah instansi pemerintahan dimana selama tiga tahun ini sang anak menimba ilmu di perguruan tinggi kedinasan dibawahnya. “belum Pak, masih harus bersabar menunggu..”. Nada kecewa nampak terpancar dari lirih bicaranya sejenak kemudian.

Entah bagaimana lagi kami harus berusaha menenteramkan dan mendamaikan hati kedua orang tua kami, padahal kami sendiri, bersama lebih dari 2000 mahasiswa yang diwisuda Oktober silam pun sama halnya dengan mereka, tak tahu, tak menentu, menanti sesuatu yang tak kunjung pasti, dengan segudang emosi. (emosi? emosi dengan siapa bung? hehe).🙂

Ah.. bagaimana tidak, nasib dan ketidakjelasan lulusan 2011 yang hampir tiga bulan terkatung katung dengan sebuah alasan yang konon katanya sedang dilakukan reformasi birokrasi, malah membuat birokrasi menjadi sedemikian njelimet, sedemikian ruwet. Isu demi isu terus bergantian mewarnai perjalanan kami, mulai dari pola recruitmen CPNS yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, isu psikotes dan tebusan biaya pendidikan Rp 30 juta bila gagal memenuhi kriteria, pemberlakuan undang undang dan peraturan yang berlaku surut, hingga isu-isu lain yang bahkan kami sendiri tak bisa membedakan mana yang sekedar kabar burung pelengkap bumbu bumbu cerita dan mana yang merupakan kabar sesungguhnya. Puncaknya, pengumuman instansi yang terus mundur dan diundur-undur membuat sebagian besar dari kami tak ayal diliputi kegalauan. Meski sebagian yang lain nampaknya tenang tenang saja dan menunggu kabar demi kabar serta menjalani semua prosedur yang ada. Tapi saya yakin, tak ada satupun yang senang dengan kondisi seperti ini.

Terlepas dari semua itu, sesungguhnya orang tua lah yang merasakan kecemasan yang jauh lebih besar. Prihatin dengan kondisi anaknya, risih dengan cibiran tetangga, “Eh, katanya anaknya bu ini kuliah di S**N, lulus langsung dapet kerja, lha ini udah tiga bulan nganggur dirumah nggak ngapa-ngapa”. Dan mereka pun tak bisa berbuat apa apa, kecuali hanya bisa mengutuk janji pak menteri sewaktu kami diwisuda. Ah, ini bukan salah pak Menteri bu’.. ini hanyalah bagian dari birokrasi.. memang kita orang kecil, dan orang kecil seperti kita inilah yang kerap menjadi korban ruwetnya birokrasi di negeri yang kita cintai ini.

Kita bersabar saja, bukankah Allah menjanjikan bahwa Dia beserta orang-orang yang sabar? (mencoba mendamaikan diri sendiri).

Lampu-lampu perlahan mulai meredup, satu dua mulai padam, hanya remang-remang di sudut-sudut rumah yang nampak masih menyala temaram. Ah, sudahlah, tak usah ditunggu-tunggu pengumuman itu. Tidur sajalah, kau…
Siapa tahu, esok, atau lusa, atau mungkin pertengahan atau akhir bulan, berita gembira itu akan datang dengan sendirinya.. Kami tunggu kabar baik darimu, pak Menteri..

 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s