RSS

Saat bapak & anak “bacok-bacokan”

02 Dec

“Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati”
        
-gita gutawa ft. adaband-

Mendengar sebait lagu diatas secara tak sengaja mengantarkan lamunan saya pada kenangan masa kecil dulu. Hehe, saya jadi teringat bagaimana dulu pernah menentang kerasnya keinginan bapak yang berkeinginan menyekolahkan saya di madrasah aliyah. Saya juga seketika itu terbayang bagaimana dulu derai air mata ibu saya membela mimpi dan keinginan anak bungsunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, meretas mimpi kuliah di salah satu universitas ternama di negeri ini, bukan pendidikan keagamaan mengikuti jejak kedua kakaknya yang berada di Kairo, Mesir.

Ya, lebih dari enam tahun yang lalu. Pada saat itu bahkan saya masih bocah kelas tiga madrasah tsanawiyah (sekolah menengah setingkat SMP), seorang bocah yang baru mulai berani bermimpi, mulai berani menatap dan sekedar membayangkan masa depan. Impiannya adalah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti UI, UNDIP, UGM, atau setidaknya perguruan tinggi kedinasan semisal STAN atau IPDN (dulu masih bernama STPDN). Entah kenapa pula dulu saya bersikeras menolak jika  masuk sekolah keagamaan, bahkan di luar negeri sekalipun. Saya pun tak tahu, hehe. Dasar bocah. Pada usia-usia dimana jiwa memberontaknya selalu lebih besar. Merasa apa yang diyakini paling benar. Lebih mengedepankan ego dan menganggap arahan orang tua sebagai sebuah pengekangan.

Pada dasarnya saya adalah anak yang penurut, tapi entah kenapa pada titik tersebut sifat yang saya warisi dari bapak sendiri bagaikan senjata makan tuan bagi si bapak yang mewariskan gen keras kepala itu kepada anaknya. Seperti besi bertemu dengan besi. Bapak dan anak ini sama-sama kolot, sama-sama merasa paling benar, sama-sama “bengal”. Dan sama-sama bersikeras mempertahankan apa yang diyakini sebagai sebuah “pilihan yang terbaik” bagi masa depan sang anak.

“Kowe nek ora manut bapak yoh karepmu, bapak ora arep ngragati..!! orasah sekolah sisan”
(Lha sing meh sekolah ki aku opo bapak toh? hehe)

Besi beradu dengan besi akan memantik percikan api. Seperti dua bilah pedang saling berbenturan, berdenting. Hingga salah satu patah, menyerah. Hebatnya, tak ada satupun diantara keduanya yang merasa kalah.

Gerimis tipis membasahi bapak dan anak itu. Disaat suasana dan keadaan tengah memanas. Titik titik bening embun diujung selembar daun menetes perlahan. Jatuh, mencoba memadamkan percikan api diantara bilah bilah pedang yang masih saling berbenturan. Air mata sang ibu lah yang akhirnya menjadi penengah perseteruan itu. Ya, kesabaran, kelembutan dan kasih sayang beliau sebagai seorang wanita yang luar biasa mampu meluluhkan kekolotan mereka, suami dan anak yang begitu dicintainya.

Akhirnya, bocah lulusan tsanawiyah itupun masuk SMA. Diterima di salah satu SMA favorit yang ada di kota kecil itu. Dan tahukah kamu? Sang bapak yang dulunya menentang, sekarang berubah 180 derajat mendukung dengan penuh semangat. Diantarkannya sang anak mengikuti pendaftaran, didampingi dan dicukupinya persyaratan administrasi dan segala keperluannya. Bahkan beliau ikut berjejal berdesakan dengan ratusan orang tua lainnya yang berebut ingin melihat nama anaknya berada dalam daftar siswa yang diterima di papan pengumuman. Ah bapak, sering saya merasa jengkel, kadang saya bangga, kadang saya begitu terharu melihatmu.

Ing ngatase gur wong ndeso, beliau selalu menempatkan pendidikan putra-putrinya sebagai satu prioritas utama. Membiayai dan menyekolahkan ke-enam anaknya setidaknya hingga tingkat SLTA, tiga diantaranya menyelesaikan sarjana, bahkan ada yang S2, dan anak terakhirnya, yang kini diantarkannya masuk SMA, seperti menjadi tanggung jawab terakhirnya membekali “titipan Illahi” itu dengan ilmu yang bermanfaat, dengan bekal yang tak hanya berguna bagi masa depan anak-anaknya kelak, tapi juga akan menjadi cahaya dan amalan yang tak pernah putus pahalanya bagi mereka, bapak-ibu, hingga akhir masa nanti. Mereka yang memilih hidup dalam kesederhanaan dan kesahajaan. Tinggal di sebuah rumah yang masih sama bentuk dan rupanya sejak saya masih balita hingga kini sudah beranjak remaja. Kadang saya tersenyum sendiri mendapati pernak pernik rumah ini, tak ada yang berubah, tak ada yang berganti, sebuah bupet tua dari kayu jati di ruang utama, meja makan bundar dan kursi serta dipan tua yang juga dari jati asli purwodadi, masih sama seperti dulu, yang menjadi background foto-foto masa kecilku.🙂

Tantangan dan Perjudian.

Saya bersyukur, dan akan selalu bersyukur telah dibukakan jalan untuk meniti masa depan. Walaupun sebenarnya hal ini tak ubahnya sebuah perjudian, ketimbang sebagai sebuah tantangan. Bagaimana tidak, sejatinya bapak merestui saya melanjutkan ke SMA (bukan madrasah aliyah seperti pilihannya) dengan sebuah klausul persyaratan atau perjanjian yang “aneh”.  Bunyi kesepakatan itu sebagai berikut:

“Bapak mengijinkan saya masuk SMA dengan catatan setelah lulus nanti bisa diterima di perguruan tinggi kedinasan, minimal STIS atau STAN.
Bila saya gagal diterima, maka nanti saya tidak berhak memilih kuliah di mana, bapak yang menentukan”

Ngoooook…!! percaya atau tidak memang kenyataanya demikian. Wali kelas saya, bu Ning, pun turut menjadi saksi bagaimana kolot dan kerasnya si bapak ini. Ternyata besi tetaplah besi..!!  Begitulah bapak, ia akan tetap merasa menang dan membiarkan saya sejenak menikmati kemenangan semu. Itu artinya saya hanya punya kesempatan mewujudkan salah satu mimpi diantara sekian mimpi yang sudah tersusun “tharik-tharik” sewaktu lulus tsanawiyah dulu. Lho iya to, lha wong itu artinya saya hanya bisa melanjutkan di STAN (atau perguruan tinggi kedinasan) dan menutup kemungkinan kuliah di UI, UNDIP, atau UGM. Ya, karena di klausul kedua si bapak sudah menggeser bidak caturnya, menempatkan steer di titik yang memojokkan langkah sang saya, dan selangkah lagi skak matt..!!

Saya menganggap ini tak ubahnya sebuah perjudian. Tak seperti permainan catur yang mengandalkan strategi dan kecermatan. Tapi ini seperti permainan roulette, usaha kita hanyalah memutar tuas, menunggu, dan melihat berada dimana keberuntungan menempatkan anda. Ya, tapi saya mencoba memutar tuas itu keras-keras, berharap “Invicible hand” datang memberikan pertolongan. Let’s see apa yang selanjutnya terjadi.

                                                       ****
Tiga tahun berlalu. Tahun pertama saya lalui dengan bersusah payah beradaptasi dengan kehidupan kota, mencoba menyesuaikan diri hidup mandiri, jauh dari orang tua, memenej uang kiriman uang bulanan yang tergolong cukup pas-pasan. Tapi tantangan yang terbesar adalah tanggung jawab dan kepercayaan yang terlalu besar kurasakan. Seperti halnya seekor burung yang bertahun tahun dikurung dalam sangkar dan baru pertama kali dilepaskan, terlalu menikmati kebebasan, hingga pada akhirnya mungkin salah pergaulan, sering nongkrong dan jalan dengan teman-teman dengan gaya hidup yang benar-benar berbeda. Sering membolos dan berhura-hura, jarang belajar dan pergi kemana mana, ah nampaknya si anak ini lupa bagaimana ia mengawali perjuangan dan merangkai mimpi mimpi di kota ini.

Tahun kedua, tamparan keras dari yang Maha Kuasa. Karena terlalu sering meninggalkan kelas maka dipanggilah orang tua ke sekolah, berbagai macam kasus juga dilaporkan kepada mereka. Aih malunya, tertutama kepada kedua kakak saya. Bapak sejauh ini tak pernah tahu tentang kenakalanku disana. Hanya ibu dan kakak-kakakku yang tahu dan menyimpan ini rapat rapat dari bapak. Seandainya bapak tahu, saya tak bisa membayangkan betapa murkanya ia..
Dan tahukah kamu? Saya ini bahkan sempat mau dikeluarkan dari SMA!!. Beruntung bapak ibu guru yang mengenal saya sebagai seseorang yang pada dasarnya “baik” berkenan membantu dan memperjuangkan agar saya tak dikeluarkan. Sebut saja Pak Syeff, Ibu Yeniva, Ibu Endah, dan guru-guru lain yang dengan tulus memberi kesempatan bagi untuk berubah. Tak semua guru demikian, ada pula beberapa yang mendukung saya untuk dikeluarkan, hahaha.
Dan lagi-lagi, air mata ibu saya-lah yang akhirnya menampar hati saya keras-keras, melemparkan diri saya dan mengembalikan kejalan yang benar. Tahun kedua saya lalui dengan prestasi yang cukup memuaskan, setidaknya bisa bersaing dengan si peraih peringkat pertama di kelas. Alhamdulillah… :’)

Tahun ketiga,
Hmmmm.. di tahun ketiga ini sang anak nampaknya mulai beranjak remaja. Ia mulai terserang dan terjangkiti virus merah jambu. Seorang gadis asal banyubiru berhasil membuatnya cemburu. Singkat cerita, mereka akhirnya jalan dan jadian (ciyeeeee…) *belakangan akan diketahui bahwa kekasihnya itu bernama Endah.🙂

Pada akhirnya sang anak pun lulus SMA. Nilai Ebtanas (waktu itu disebut dengan UAN) tidak sedahsyat semangat sebagaimana dulu ia bersikeras masuk ke sekolah itu. Bahkan ia tak masuk sepuluh besar terbaik di kelasnya sekalipun. Tertinggal jauh dari Pandu, Arum, dan siswa-siswa terbaik dari jurusan IPS yang dipilihnya sewaktu kenaikan. Tapi setidaknya ia cukup lega, berbekal rata-rata tujuh koma ia masih berkesempatan bisa mendaftar di STAN. Mengadu peruntungan..!!

                                                  ****

Hey, tunggu dulu..!!!
lalu bagaimana dengan tantangan dari bapakmu waktu itu?
kau sudah lulus bukan?
kau harus masuk STAN atau perguruan tinggi kedinasan, bukan?
atau, akhirnya kamu akan menyerah dan pasrah dimana kamu akan kuliah?

Ya, kesepakatan itu masih tetap berlaku. Maka tak heran disaat menjelang kelulusan, disaat teman-teman yang lain sibuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi yang di inginkan, baik itu melalui jalur PMDK, SPMB, Ujian Masuk dan ujian-ujian saringan sejenisnya, saya masih adem-ayem saja. Menunggu komando sang bapak bila saya pada akhirnya kalah bertaruh. Mungkin jika bukan karena “paksaan” kedua sahabat dekat saya, Amrih Setyowati dan Endah Tri Nuraeni yang mengisikan formulir dan melengkapi persyaratan PMDK dari salah satu universitas di Jogja, mungkin saya sama sekali tidak mendaftar kuliah. Hehe..

STAN atau STAIN, hanya itu pilihannya. (sang bapak nampaknya masih terobsesi dengan sekolah keagamaan). Ah dasar bapak, sifat keras kepala dan mempertahan pendirianmu itu terlanjur menurun dalam diri darah dagingmu. Sang anak pun dalam hati bersikeras enggan melanjutkan ke sekolah keagamaan. Tidak sportif? Mungkin..!! hahaha..

                                                   ***

Dengan berbekal bismillah kami berangkat ke semarang, untuk mendaftar USM STAN. 
Kali ini sang bapak tak mengantar anaknya seperti dahulu. Ia pergi sendiri bersama Endah, pacarnya waktu itu. Sampai dengan ujian saringan masuk pun dua sejoli ini berjuang bersama, mengeratkan genggaman tangan, dan mulai merangkai mimpi mimpi masa depan (uhuk-uhuk).

Sebulan berselang, tibalah waktu dimana tuas roulette itu diputar.
Hari itu, 1 Oktober 2008, hari dimana akan diumumkan daftar mahasiswa yang diterima program Diploma 3. Dan lagi-lagi, dua sejoli itu dengan perasaan dan hati masing-masing bersama-sama mengakses pengumuman dengan penuh harapan, dengan berdebar, dengan perasaan ketakutan, dengan perasaan dimana antara pesimis dan optimis seperti sudah tidak ada bedanya lagi. Dalam pikiran kami mulai terbayang berbagai kemungkinan. Bagaimana bila aku diterima sedangkan ia tidak, bagaimana bila dia diterima sedangkan aku tidak, bagaimana bila kedua duanya tidak diterima dan bagaimana dengan sang bapak. Ahhhh… menunggu pukul sebelas seperti halnya menunggu seorang saudara yang sedang dioperasi. Penuh harap, penuh cemas.

Teng….!!
Tepat pukul sebelas. Situs www.stan.ac.id overload..!! tak bisa diakses..!! arrrgghhh sh*t..!!
macam mana pula ini. Seperti orang kebelet mau ke kamar mandi dan masih harus mengantri. Dengan mencoba mensabarkan hati dan menata perasaan, beberapa menit setelahnya akhirnya pengumuman dapat dibuka. Langsung kami mendownload lampiran pengumuman yang khusus untuk wilayah semarang. File berbentuk PDF itu menampilkan daftar nomor ujian, nama dan spesialisasi jurusan. 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11, dan pada urutan belasan itu kalau tidak salah tercantumlah nama Sang anak dengan nomor BPU sekian sekian, masuk jurusan administrasi perpajakan. Dengan masih menyimpan segala bentuk ekspresi, kedua pasang mata itu meneruskan meneliti baris demi baris, menscroll halaman demi halaman, berharap menemukan nama kedua muncul juga dalam seratus empatpuluhan mahasiswa asal semarang.

Seiring berakhirnya halaman itu, perlahan bening mengalir dari kedua pelupuk mata. Saya masih tak tak tahu bagaimana perasaan saya. Antara syukur yang mendalam dan perasaan sedih yang tak kalah mendalam melebur menjadi satu. Bersyukur karena pada akhirnya dengan kepala tegak bisa menjawab tantangan sang ayah. Bersyukur karena membayangkan sang ibu yang kali ini menitihkan air mata bukan karena ulah dan kenakalanku. Tapi bagaimana saya bisa bergembira? Sedang duduk tepat disamping saya, seseorang yang terkasih tertunduk, lalu menatapku dengan tatapan sendu. Matanya yang berkaca-kaca entah apa yang ada didalam pikirannya, mungkin sama denganku, sama-sama tak tau bagaimana perasaan pada detik detik itu. Ia tersenyum, menyeka air mata, lalu berkata “Selamat kak.. kamu berhasil mendapatkan mimpi-mimpimu.. selamat berjuang di Jakarta, doaku bersamamu”.

Tak banyak lagi yang bisa ku katakan, tak banyak juga yang dia ucapkan. Tuhan memang berkehendak lain, kenyataan memaksa kami tuk meniti jalan masing-masing. Mungkin, jalan yang kita tempuh berbeda, tapi percayalah, mungkin di suatu persimpangan nanti kita akan bertemu kembali. (Tulisku pada waktu itu).

Hidup memang harus terus berlanjut. Aku akhirnya pergi ke jakarta, menjalani fase cerita yang berbeda. Mencoba meretas mimpi yang enam tahun lalu membuat aku dan bapakku berseteru. Aku pergi untuk membuktikan pada ayah kami. Anakmu bisa, pak…
Anakmu bisa menjadi seperti yang engkau mau meski tak sejalan dengan inginmu. 
Lihatlah aku ibu.. doa-doamu disetiap sepertiga malam mengantarkan anak-anakmu menjadi seperti yang kau mau.. doa doamu yang menguatkan kami berjalan jauh dari rumah, hidup di tanah orang dengan segala keterbasan. Aku, aku melihat air matamu merembes di sudut matamu tatkala menyaksikan anakmu di wisuda beberapa hari yang lalu. Aku, aku melihatmu meski kalian duduk jauh di atas tribun sana, ibu…

Untuk bapak-ibuku tercinta, terimakasih telah mendidik dan membesarkan kami, serta menjadikan kami seperti sekarang ini. Doakan kami agar senantiasa dalam lindungan dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Salam takdzim dari kami,
Putra-putrimu.

Salatiga, 2 Desember 2011

*Tulisan ini saya persembahkan untuk bapak dan ibu, keluarga, serta adikku Endah Tri Nuraeni. Terimakasih atas dukungan dan dorongannya selama ini, tanpa kalian semua saya bukanlah apa-apa.

 
2 Comments

Posted by on December 2, 2011 in Catatan Harian

 

2 responses to “Saat bapak & anak “bacok-bacokan”

  1. Nicole Drekanpus

    December 24, 2011 at 10:52 am

    Sobat, ketika saya lulus SMU dan akan mengambil kuliah, bapak saya menyarankan untuk masuk farmasi agar jadi seorang apoteker atau ahli farmasi.

     
  2. endah edelweis

    May 8, 2013 at 1:11 pm

    kenapa tidak disebutkan kalau kekasihmu “dulu” GAGAL masuk STAN. wkwkwkw

    coment yg “Mungkin, jalan yang kita tempuh berbeda, tapi percayalah, mungkin di suatu persimpangan nanti kita akan bertemu kembali”. >>> di persimpangan jalan itu, kita terpisah kembali😛

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s