RSS

Ketika Hampir Mati di Puncak Kerinci – (Bukan Catper)

22 Oct

Azhyz Maghfur‘s notes on Wednesday, 19 October 2011 at 09:42

ketika terperangkap belerang pekat

Ini bukanlah catatan petualangan, atau review perjalanan ke gunung kerinci tempo hari. Ini hanyalah catatan iseng dikala senggang, disaat kepala ini dijejali dengan berbagai kegalauan.

Seperti biasanya, pagi yang berlalu tanpa aktivitas.
Duduk di teras depan dengan secangkir kopi, menikmati kicauan burung tetangga yang bernyanyi tiada henti.
Termenung, menerawang, mencoba mengingat ingat kembali potongan-potongan cerita pendakian di tanah Sumatera, tempo hari.

Sedikit hiperbolis nampaknya, menyebut kami hampir mati. Tapi sepertinya tidak berlebihan bila kita sendiri yang berada disana, merasakannya.
Ya, itu merupakan pngalaman pertama bagi kami mendaki gunung Sumatera. Tanpa guide, tanpa pemandu, tanpa tau seluk beluk & cerita-cerita yang pernah ada.
Orang bilang berani & nekat itu tipis bedanya, dan spertinya kami ini yang termasuk dalam kategori nekat itu. Bodoh!

Hmmm..
Saya masih jelas mengingat, bagaimana di pagi yang buta, tim mulai bergerak dari camp setelah shelter 3, merayap naik perlahan menuruti punggungan, menyusuri bebatuan dan pasir-pasir yang begitu labil, yang seakan tidak merelakan dirinya dipijak setiap kali kami melangkahkan kaki. Harus berhati-hati, sangat hati-hati.

Setelah lebih dari satu jam berjalan perlahan dalam kegelapan, melewati medan yang sama sekali tak bervegetasi, jurang tinggi menganga menyambut kedatangan kami, seolah ingin menghentikan dan mengatakan “CUKUP..!! CUKUP SAMPAI DISINI”.
Dan barulah kami menyadari bahwa kita tlah tiba di titik 3.805. Inilah titik tertinggi puncak kerinci..!!
Inilah atap sumatera, bung..!!
Sujud syukur atas izin Rabb kami untuk berada disini. Ya, tepat pukul 04.45 tim tiba di puncak. Masih gelap, masih pekat, bahkan bebatuan hampir tak terlihat.
Dibawah sana, kami dibuat takjub dg titik-titik berwarna merah membara, ya, itu adalah aktivitas magma, yang disertai asap pekat membumbung tinggi ke arah utara. Ke arah yang berlawanan dengan kami.
Kupikir kabut, tapi ternyata asap belerang denga konsentrasi kepekatan yang sangat tinggi.

Kami berempat melakukan sujud syukur, berfoto sejenak, lalu mendirikan sholat subuh berjamaah, di puncak.
Udara dingin yang mndekati suhu minus membuat kami menggigil, membuat tangan kami hampir beku, dlm “sedakep” dua rekaat subuh itu. Lalu tiba-tiba, belerang pekat berbalik arah, menyelimuti kami, mencekik, dan…

akankah brakhir sperti Soe HokGie?

Nantikan saja catpernya dalam Edisi Menyibak Belantara Kerinci..!!🙂

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s