RSS

Edisi Summit Attack, 3.676 Mdpl

02 Oct

Melanjutkan sesuatu yang tertunda. Tentang kisah sekumpulan pemuda galau yang mencoba merayakan akhir masa perkuliahannya dengan mendaki gunung tertinggi di tanah Jawa  -Semeru, dengan puncaknya yang lebih dikenal dengan nama Mahameru-

Dalam kesempatan sebelumnya, cerita terhenti sampai di malam yang sepi di kalimati. Hening, dingin, sunyi… sampai ketika satu persatu dering alarm berbunyi, bersahut-sahutan dari satu tenda dengan tenda yang lainnya. Memecah keheningan malam itu. Namun bius kaki mahameru nampaknya membuat belasan orang itu enggan beranjak dari selimut tebal dalam hangatnya tenda. ”Astaghfirullah..!! wes jam siji cahhh…!!”. Buru-buru kami membangunkan semua yang meringkuk di dalam tenda. Padahal kan rencananya kita bangun tepat tengah malam, dan jam satu harusnya semua  sudah siap untuk melakukan summit atack menuju puncak. Yah, tapi semuanya (termasuk saya) malah bangun “kesiangan”. Saya sendiri bisa memaklumi, semua pasti kelelahan setelah sehari penuh melakoni perjalanan panjang sampai di camp kalimati ini. Semua pasti enggan menukar hangat dan kenyamanan dengan udara diluar yang begitu menusuk persendian. Tapi sekali lagi ini untuk sebuah mimpi, untuk menggapai puncak tertinggi yang tinggal sejengkal lagi, yang kata Donny Dirgantara tinggal 5cm lagi, kami bersiap, mengenakan pakaian yang paling hangat, bahkan beberapa diantara memakai jaket berlapis tak cukup satu dua, sarung tangan, dan balaclava (kupluk kepala).

Oke ready.
Sang ketum memimpin briefing singkat untuk memompa kembali semangat dan doa bersama mengawali perjalanan pagi buta ini, diakhiri dengan toss, untuk menyatukan tekad dan visi, lalu perlahan meninggalkan kalimati dan mulai memasuki gelap hutan yang sunyi. Kami berjalan perlahan, berjalan beriringan agar tak saling berpisah dari rombongan. Baru beberapa saat memasuki hutan kami sudah disambut dengan tanjakan tanjakan yang memaksa kami memompa nafas lebih cepat. Ngos-ngosan.

Nyaris in memoriam, “Balung Gorila”.

Yak, saya sebut inilah pendakian yang sesungguhnya baru saja dimulai. (Emangnya seharian kita berjalan tadi bukan pendakian Plok? –Teplok, panggilan akrab saya dalam lingkungan komunitas pencinta alam– , hehehe, seharian tadi kita baru hiking, baru pemanasan bossss.. ). Dan dari sinilah pendakian vertikal puncak Mahameru dimulai. Sepanjang jalur kalimati – arcopodo kita akan melewati hutan, tanjakan, dan beberapa jurang. Setiap langkah harus berhati hati, salah-salah bisa nyemplung ke jurang seperti yang kawan kita alami. Tiga puluh menit berjalan kami sudah tersalip oleh sepasang bule Jerman yang berangkat belakangan. Monggo mister, duluan.. (percoyo pak nek dengkulmu dengkul dewo, hahaha).  Kami memang lebih sering beristirahat, habis tanjakan rest, nunggu yang dibelakang rest, kehausan rest, hehehe..

Dari sini perjalanan memang terasa lebih berat, selain harus menjaga irama agar kecepatan langkahnya sama, juga kita harus selalu waspada dan tetap menjaga fokus kita. Tanjakan akan menguras tenaga, dan kegelapan akan menciutkan nyali kita. Nah, disaat fisik dan mental yang diserang, seringkali seorang pendaki kehilangan kendali fokusnya.

Dalam sebuah rest di pertengahan jalur tanjakan (bahkan belum akhir tanjakan), kami menunggu gokong dan sekar yang sedikit tertinggal di belakang. Masing-masing yang kelelahan mencari posisi nyaman masing-masing untuk sekedar menyandar, mengistirahatkan punggung dan pantat yang mulai terasa penat. Saya duduk bersandar di bibir jalan, bersandar pada sebuah akar pohon yang melintang. Di dekat saya ada si kalut bila tidak salah mengingat. Sedangkan di depan saya duduklah si palpi yang mencoba mengatur kembali nafasnya. Sejenak kemudian datanglah si balung ”gorila” (kami menyebutnya gorila karena kayaknya emang mirip gorila, rambut krebonya, hahaha). Ia datang dengan wajah kelelahan dan sorot mata yang sayu, lalu dengan santainya duduk dan tak menyadari bahwa posisinya tepat di sebuah bibir jurang. Baru saja kami mau bilang “Awas lung…!!”, tiba tiba suda terdengar suara “Brukkkk..!!”. Innalillah, balung terjengkang ke belakang, tepat didepan mata saya, dan saya melihatnya, seperti gerakan slow motion saja, tapi kejadian itu terjadi begitu singkat, hanya beberapa detik saja, dan balung sudah menghilang. Sempat kami khawatir dengan keadaannya, bila terjadi sesuatu dengan balung maka dapat dipastikan kami akan segera turun. Beruntunglah, jurang itu tak terlalu dalam, “hanya” sekitar 2,5 meter. Hey, tapi ia jatuh terjengkang..!! Bagaimana bila ia mendarat dengan menggunakan kepala krebonya?? Sejenak kemudian, panik.

“Luuuuuungggg….!!!”, teriak kami. Sejenak, suasana hening.

“Yooooooow….”. alhamdulillah ada sahutan dari bawah. Balung tak papa, balung selamat. Seketika kami mengucap syukur dengan cara dan hati sesuai keyakinan masing masing. Tidak lama kemudian kepala gorila itu “thungul-thungul” kelihatan, sedang berusaha naik keatas. Syukurlah ia benar benar tak apa-apa.

“Lu nggakpapa lung?”
“Nggakpapa” jawabnya singkat sambil terus mengusap ngusap kepalanya.
“kepala lu? Beneran nggak kenapa kenapa?”
“Nggakpapa, cuman pusing dikit aja, abis dipake buat mendarat tadi..”, ocehnya santai sambil membuka tas cangklongnya, mengeluarkan sebotol mixmax, lalu meneguknya.
Jaaaaaaancuk  arek iki, dike’i slamet karo Pengeran malah mendem..!!* (maaf nggak disensor).

Setelah memastikan kondisi gorila bener-bener nggak papa, dan semua anggota tim lengkap dan dalam kondisi baik baik saja, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Menaiki tapak demi tapak tanjakan yang terasa semakin berat, yang membuat langkah langkah kami semakin melambat. Tujuan kami adalah segera sampai di arcopodo –tempat yang konon katanya terdapat sepasang patung kembar dengan segala mitosnya (arco=reco=patung, podo=sama=kembar), dan tempat yang tak lepas dari cerita kematian seorang Soe HokGie–, yang juga sudah tidak jauh lagi dari batas vegetasi.

Gokong dan Sekar yang “Menghilang”.

Semua kembali merapat, berjalan dalam jarak yang berdekatan. Sorot sinar lampu senter kami mungkin terlihat seperti barisan kunang-kunang yang merayap dalam kegelapan, perlahan. Dan dalam udara dingin itu, kami mulai merasakan kegerahan. Mungkin karena terbakarnya kalori dan terpacunya adrenalin kami, atau mungkin karena jaket berlapis yang kami kenakan terlalu tebal? Hehe. Entahlah, tau-tau kami sudah sampai di arcopodo. Itu saja yang saya ingat. Bukan karena kami melihat patung kembar itu, melainkan banyaknya shelter yang tersebar dan berujung pada suatu tempat yang lumayan datar, dan pada sebuah papan tertuliskan “ARCOPODO”. Ya, tepat pukul 03.00 kami tiba di arcopodo. (sebenarnya nggak jam tiga pas sih.. punjul setithik, tapi anggap saja pas, oke?). Oke, semua rest sebentar disini.
Sik sik sik sebentar, saya juga rest nulis dulu… arsenal vs marseille udah mulai.. sampai ketemu nanti di puncak… Okkkey?

To be continue…..

 
Leave a comment

Posted by on October 2, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s