RSS

Gunung itu, ibarat candu..!!

22 Aug

 di Puncak Mahameru (Gembez 882)

Terinspirasi tulisan Mbak Gerrie 813, salah satu senior GH yang memposting sebuah tulisan di blognya tentang catatan perjalan-perjalanan mendaki gunung yang pernah dilaluinya. Dalam prolog ia menyebutkan bahwa Naik gunung itu candu”. Hahaha, ya, kata-kata itu yang “memprovokasi” saya untuk mengamini pernyataan itu lewat sebuah tulisan iseng ini.

Seperti halnya ketika seorang pengguna narkoba mulai mencoba menghisap ganja, heroin, ataupun kokain, efeknya akan terasa begitu luar biasa bagi yang pertama kali menghisapnya. Mungkin pusing, “ngeliyeng”, muntah, atau bahkan pingsan mungkin. Tetapi ketika ia telah merasakan nikmat sensasinya yang melayang, lau ia akan ketagihan, kemudian bermetamorfosis menjadi seorang pecandu. Dan jika tidak dipenuhi kebutuhan itu, ia akan merasa sangat tersiksa, sakauw..!! (hehehe, kayak udah pernah nyoba aja Zhyz).

Mungkin sedikit berlebihan, namun jalan-jalan dan berpetualang ke dataran-dataran yang tinggi di muka bumi ini akan menjadi sebuah “candu” tersendiri. Setidaknya hal itu yang saya pribadi alami. Pertama kali mengenal gunung (mendaki gunung) justru ketika sudah di jenjang perguruan tinggi. Sahabat saya Jhon Taqun mengajak saya mendaki Gunung Ciremai (Jawa Barat) bersama dengan tiga orang kawan STAPALA (waktu itu saya bahkan belum menjadi anggota). Mereka adalah Bang Wapress, Odol, dan Mbak Di’i. Ya, ini adalah perjalanan sekaligus pendakian pertama sepanjang hidup saya.

Sejak saat itu, saya mulai jatuh cinta pada gunung. Keinginan untuk mengunjungi puncak demi puncak, menikmati setiap peluh dan tetesan keringat ketika menapaki jalan terjal mendaki, dan menikmati pemandangan yang selalu berbeda sesuai dengan masing-masing karakternya. Dan yang paling membuat saya terkesan adalah pengalaman spiritual yang akan kita dapatkan. mendaki gunung tak sekedar mendaki, mendaki gunung bisa menjadi salah satu sarana mendekatkan diri pada Ilahi. Kita akan menyadari, betapa kerdilnya kita dibandingkan alam raya, apalagi dibandingkan Penciptanya. Satu hal yang luar biasa adalah ketika kita berkesempatan mendirikan sholat di atas sana. Keheningan, desir angin yang menerpa, matahari yang begitu dekat dengan kepala, semakin menambah kekhusyukan setiap gerakan ibadah kita. Hmmm.. rasanya saya tidak cukup memiliki perbendaharaan kata untuk menggambarkan kepuasan bathin yang kita rasakan.

Mendaki juga memiliki arti tersendiri. Ungkapan populer yang mengatakan bahwa “mendaki itu bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi menaklukkan diri sendiri”. Ya, benar sekali, kita tak akan pernah bisa menaklukkan gunung, selama kesombongan dan ego itu belum bisa kita tundukkan. Dari mendaki gunung kita juga dapat mengenali bagaimana sebenarnya karakter seseorang. Tidak percaya?🙂 Silahkan dibuktikan…

Orang bilang buat apa bercapek-capek naik gunung? tapi  saya bilang, gunung ini obat hati sekaligus penenang fikiran. Dan saya yang masih tergolong pemula ini, tengah merasakan efek sakauw yang diakibatkannya. Huahhh..!!  Tidak sabar ingin mengecup satu persatu kuncup SIndoro, Sumbing, Slamet, Merapi, Merbabu, Lawu, Argopuro, Arjuno, Welirang, Raung, Kerinci, Rinjani.  Apakah semuanya bisa terealisasi? Imposibble? Wallahu a’lam. Yang jelas saya nagih, nagih, dan nagih pengen naik gunung.
Sekali lagi, gunung itu ibarat candu. .!!

 
8 Comments

Posted by on August 22, 2011 in Catatan Harian

 

8 responses to “Gunung itu, ibarat candu..!!

  1. gerie813

    August 22, 2011 at 3:17 pm

    weww,,dr 4 kata jadi banyak kata…
    keren sekali tulisanmu…;)
    aku gak bisa ngungkapin,,yg aku tau,,tiap turun gunung,,yg di dlm pikiran cm naek gunung mana dan kapan lagi ya… ~candu~

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      August 23, 2011 at 5:59 am

      Hwhehe.. pokoknya nagih, nagih, dan nagih…
      okober jadi ke kerinci mbak Gerr?

       
  2. honeylizious

    September 15, 2011 at 2:51 pm

    salam kenal dari Pontianak🙂

    di sini nggak ada gunung

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      September 20, 2011 at 1:44 pm

      Salam kenal juga mbak Rohani..
      wah, jauh2 dari kalimantan ya..
      mski ga ada gunung tp sepertinya banyak tempat yg seru untuk berpetualang ya mbak

       
  3. Mila

    October 11, 2011 at 1:12 am

    Kapan ya saya bisa naik gunung juga🙂

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      November 2, 2011 at 11:27 am

      🙂 tak kan lari gunung dikejar kok mbak…
      insyaallah bila kemauan dan kesempatan itu bertemu, nanti bakal kesampaian juga.. hhe

       
  4. Tototapalnise

    October 26, 2011 at 9:14 pm

    kalau saya sudah pensiun mas naik gunung..wes tuek n lemu perutnya..wakakakka.

    btw, benarkah suami ideal adalah pendaki gunung????

    http://totosociety.com/katanyasuami-ideal-adalah-pendaki-gunung/

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      November 2, 2011 at 11:16 am

      Wah, veteran gunung ya mas..?
      hehehe, biarpun perut membuncit yang penting jiwanya masih muda😀
      Okke, mengenai “suami ideal adalah pendaki gunung” nanti coba kita diskusikan di artikel mas toto (waduh, maaf nggih manggil seenak udelnya saja ini anak muda, hehehe)

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s