RSS

Gede-Pangrango, Berempat saja.. (BAGIAN 1)

17 Aug

Sebuah Pengantar
(09 Juni 2011)

saya yg ngefoto, jadi gak ada >.<

Mungkin ini adalah perjalanan yang paling “tanpa persiapan” diantara perjalanan-perjalanan kami ke gunung lainnya. Sebenarnya bukan sebuah rencana dadakan sih, toh rencana perjalanan ini sudah jauh-jauh hari menjadi obrolan antara saya dengan Sundul (Adi Setia Jaya), rencana akhir pekan untuk mendaki ke “kebon rumah” sendiri. Awalnya hanya saya dan sundul saja yang mau berangkat kesana. Sundul pernah ke Gede, sedangkan saya pernah ke Pangrango. Kalaupun nggak ada temannya, insyaallah kami akan berangkat berdua. Kebetulan pada waktu yang direncanakan itu, anak-anak ORAD (Olahraga Arus Deras) atau istilah kerennya arung jeram, juga mengadakan ekspedisi di Ciberang. Akhirnya, hanya lima orang yang berminat jalan ke gepang sabtu itu, yaitu Sundul, Lancip (Fawzan Ibnu Alam), Bowaz (Muhammad Ramdhani), Kucir (Melina Fajrin Utami), dan saya sendiri.

Hari kamis, saya berangkat ke kantor TNGP, booking pendakian sekaligus mengurus simaksi (Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi). Sengaja saya menyempatkan datang langsung kesana karena booking online harus dilakukan seminggu sebelumnya, belum lagi repotnya mengurus simaksi yang harus diambil pada saat jam kantor buka. Jadi biar kami bisa langsung mendaki pagi-pagi, simaksi yang nantinya diserahkan ke petugas pos penjagaan harus sudah ada ditangan. Beruntung, kami masih bisa mendapatkan jatah kuota yang tinggal tersisa untuk sepuluh orang itu. Itupun dari jalur Cibodas, jalur gunug Putri sudah habis, dan jalur Selabintana masih pikir-pikir untuk mencobanya. Singkat cerita, booking dan simaksi beres. Tinggal ngabarin anak-anak agar segera siap-siap buat pendakian besok pagi.

Jum’at Sore. Bowaz mengkonfirmasi katanya dia masih “fifty-fifty”, antara menunggu abangnya yang sakit di Palmerah atau bergabung dengan kita jalan ke gepang (Gede-Pangrango). Sedangkan yang lain meskipun menyatakan sudah fix ikut tapi kok ya belum pada persiapan (termasuk saya sendiri, hehe). Sehabis jum’atan anak-anak masih pada santai-santai nongkrong di teras posko dan baru mencari pinjaman peralatan. Pun demikian dengan logistik dan barang bawaan, baru didiskusikan sore itu juga. Termasuk job masing-masing yang tak diuraikan detil pembagiannya. Santai ajalah pokoknya..

Sebenarnya saya sendiri tipe orang yang tidak terlalu suka mempersiapkan detil-detil perjalanan. Tidak begitu mempermasalahkan soal manper, soal catper, dan soal per-per yang lainnya. Hehe.. Walaupun sebenernya juga sadar bahwa semua itu penting buat safety perjalanan. Tapi biasanya saya kalau mau jalan ya jalan aja, nikmatin aja, yang penting cukup tau apa yang musty disiapkan dan punya gambaran gimana kira-kira perjalanan nanti tanpa harus dicatat detil dan dilakukan saklek seperti yang direncanakan. Begutupula dengan si Sundul, podho wae sami mawon!. Namun kali ini terpakasa” saya harus ikut andil dalam mempersiapkan hal-hal detil semacam itu, termasuk mempersiapkan logistik dan perbekalan untuk kami berlima, hehehe.

Sehabis ashar, sundul dan lancip mengepack tenda, kompor, nesting dan peralatan yang akan dibawa, sedangkan saya menemani kucir belanja logistik dan makanan di Harmony swalayan. (ah, ini mau naik gunung kok belanjanya di swalayan sih?). Sayuran segar, bumbu-bumbu olahan siap saji, minuman seduh, roti, dan bekal-bekal lainnya untuk tiga hari perjalanan nanti. Okke, sudah jam 5 sore, belanja beres, tapi packing belum sama sekali. Padahal habis isya nanti kita sudah harus sudah berangkat ke Rambutan. Bener-bener gak ada persiapan sama sekali kita ini.

Maghrib, pulang, packing, mandi. Sejenak kemudian si Bowaz sms “Boi.. rencana berangkat jam berapa kalian.. saya masih di palmerah ini”. Saya jawab “Jadinya gimana bro? bisa ikut? Habis isya’ kita rencana berangkat”. Agak lama si bowaz membalasnya “Bentar boi, nanti saya kabarin lagi, tunggu sampai jam delapan ya”.
Okelah, jam delapan, berarti masih cukup waktu untuk packing dan persiapan. Agak terburu-buru memang, dan beberapa peralatan standard ternyata belum ada ditangan, misalnya saja senter yang selepas dari semeru kemaren entah dimana rimbanya sekarang. Hmmm.. kadang naroh barang-barang di posko memang kurang aman!! Kalo mau dipake baru deh kelabakan.

Jam 20.00 si bowaz memberi kabar bahawa ia akhirnya nggak bisa ikut ke gepang, agak kecewa juga sih kita sebenarnya, karna bowaz ini paling berpengalaman diantara kami, juga orangnya asik dan bisa dijadikan senter alami, cukup senyum aja semua yang gelap akan tersinari. Wkwkwkwk.. pisss masbro…!! Yah tapi mau bagaimana lagi, akhirnya kamipun harus tetap berangkat meskipun cuma berempat.

Kampus – Kampung Rambutan – Cibodas.

21.50 WIB. Doa bersama yang dipimpin oleh Patkai (Jalu Atmojo) dan toss ala STAPALA mengiringi keberangkatan kami. Terlalu malam memang, idealnya kami berangkat pukul 7-8. Setelah beberapa lama menunggu akhinya ada juga angkot yang lewat depan gerbang kampus Bintaro. Si Bean (Dodi Mardiansyah yang anak MBM ini) mengantar kami hingga angkot berangkat, dan sewaktu mau cabut anehnya anak ini mau bersalaman juga dg si Melina (yang istilah MBM bukan mukhrimnya). Wkwkwk, entah khilaf atau memang rasa persaudaraan diantara kami diatas segalanya, entahlah, si kucir pun hanya ketawa-ketawa saja, hahaha.

Angkot ini ternyata hanya sampai di perempatan Bintaro Plaza. Kemudain kami nyambung dengan angkot S08 jurusan  Lebak Bulus. Dari lebak bulus kami naik kopaja menuju kampung rambutan. Ah, ribet sekali. Mau ke Rambutan saja harus oper berkali-kali. Yah inilah resikonya kalo berangkat kemaleman. Sampai di Terminal Kampung Rambutan pun sudah hampir jam 12 malam. Untungnya masih banyak bus yang menuju cibodas via jalur puncak, sehingga kami tak perlu terlalu khawatir untuk transportasi menuju kesana.

Dari Rambutan kami naik bus “DOA IBU”, kata mbak Depex bus ini yang recomended. Tarifnya per orang duabelas ribu. Karena masih banyak yang kosong, kami berempat memilih tempat duduk yang agak ke belakang. bus pun berjalan, dan kamipun tertidur, menikmati perjalanan yang mungkin akan menjadi tidur ternyaman kami selama dua hari kedepan. (hahaha, lebai, teringat kata-kata jelang diklat lapangan). Pukul 3 dinihari kami sampai di pintu Cibodas. Sebuah angkot yang terparkir di jalan masuk dan menanjak sudah menanti kedatangan kami.

Bisa anter sampai atas bang?”
Bisa, Limapuluh ya..” kata sopir angkot itu.
“Wuaduh, 50? kalo siang aja per orang 3rebu bang, 20 deh kalo mau” tawar saya.
“Wah ya jangan segitu lah bos, ini kan pagi kayak gini”
“Udah deh bang, 20 aja.. kami juga cuman berempat ini”
“yaudah deh, naik!”

Angkotpun meluncur perlahan menuju halaman parkir kantor TNGP. Tidak terlalu jauh sih sebenarnya, yah sekitar lima belas menit perjalanan, tapi kalo jalan kaki ya lumayan gempor juga kakinya, hehe. Sesampainya disana kami menuju basecamp  pondok edelweiss. Kami biasa numpang disana, selain ada tempat untuk istirahat, juga tersedia indomie dan berbagai minuman hangat. Di sebelah pondok itu ada warung bakso, nah kami memilih untuk istirahat disitu saja, melepaskan carrier, bongkar perlengkapan, dan menggelar matras disana. Anak-anak yang sudah terlihat  begitu ngantuk dan lelah, langsung tepar dan “melungker” begitu saja. Ah, biarkan saja lah, yang penting besok semua pada fit untuk pendakian. Sayapun memantik api, menyalakan kompor, mendidihkan air, memasak nasi dan menu untuk sarapan pagi.

(Bersambung…)

 
Leave a comment

Posted by on August 17, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s