RSS

Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

13 Aug

MAHAMERU – Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

Jalan melipir oro-oro ombo

Nang ning nang ning… seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam benak saya. Mencoba mengingat-ingat apa ada yang kurang, atau mungkin masih memiliki tanggungan utang? Wah iya, ternyata utang catper kepada Pak Dosko belum lunas dibayar, (termasuk soft-loannya yang masih menanti cairnya rapelan uang saku yang tak kunjung diberikan oleh lembaga, hehe). Walaupun perjalanan ini sudah lewat sejak berbulan-bulan yang lalu, semoga impuls syaraf saya ini masih bisa membangkitkan kembali memori-memori tentang kisah perjalanannya, pun demikian dengan luapan emosional yang ada didalamnya.

Terakhir kali saya berkisah tentang Ranu kumbolo. sebuah telaga yang penuh dengan pesona. Penuh kedamaian dan bentangan mahakarya yang konon katanya merupakan telaga peristirahatan para dewa. Namun itu bukanlah akhir dari perjalanan kami, puncak mahameru masih berada nun jauh disana, pun masih menjulang tinggi dibalik bebukitan yang melindunginya dari pandangan kami. “Ayo reek, budhal..!!” seru Jupret sang pimpinan rombongan. Saat itu matahari sudah mulai tergelincir dari tengah khatulistiwa. Dan sesuai rencana, kami harus sampai di kali mati sebelum senja. Segera kami memberesi alat sholat dan perkakas makan siang yang masih berserakan. Lalu capcus melanjutkan perjalanan.

Tanjakan Cinta, Sebuah Mitos yang Melelahkan

Tanjakan Cinta

Semua anggota rombongan sudah mafhum bahwa setelah ini adalah “tanjakan cinta”, tanjakan yang penuh dengan mitos dan kepercayaan yang entah darimana asal muasalnya. Mitos yang parahnya dipercaya oleh sebagian besar muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Konon katanya, saat melalui tanjakan ini, jangan sekali-kali menoleh ke belakang, karena jika itu dilakukan maka hubungan cintanya akan kandas ditengah jalan. Sebaliknya, bila berhasil melalui tanjakan ini tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang, maka cinta yang diperjuangkan bisa bertahan langgeng selama-lamanya. Hmmm.. ada-ada saja. Meskipun saya sendiri tidak percaya dengan yang namanya mitos, tetapi entah kenapa seakan-akan termakan pengaruh alam bawah sadar yang mengatakan saya tidak boleh menoleh ke belakang. hahaha, ato jangan-jangan saya sudah terpengaruh mitos yang menyangkut masalah cinta ini ya? karena sebelumnya saya pernah melanggar pantangan sebuah mitos yang hampir serupa (terkait masalah cinta) dan berujung kisah cinta saya kandas juga. Hmmm.. hanya kebetulan saja sepertinya.

Ranu Kumbolo dari atas

Tanjakan ini memang sungguh gila. Meskipun baru saja selesai rest dan mengisi ulang tenaga, tetapi tanjakan mendaki bukit tinggi yang “memagari” ranu kumbolo ini cukup melelahkan juga. Dengan perlahan dan nafas terengah-engah, kami mencoba mencapai puncak bukit yang diatasnya terdapat satu pohon besar yang berdiri kokoh disana. Fyuhhh.. Mungkin yang membuat pendakian ini terasa berat adalah medan yang kami lallui sebelumnya cenderung datar dan memanjang. Paling hanya ada satu-dua tanjakan yang membutuhkan stamina ekstra. Satu-persatu dari kami akhirnya berhasil mencapai atas bukit, dan kerennya, tanpa menoleh ke belakang..!! bahkan si Balung yang slayernya terjatuh pun tak berbalik mengambilnya. Hahaha. Untung ada gokong dan sekar, pasangan sejoli yang sudah pacaran hampir tiga tahunan sepertinya. Ya, mungkin hanya gokong-sekar dan jupret-change yang nggak terlalu mempedulikan mitos tanjakan cinta.

Sesampainya diatas, kami beristirahat sejenak, melepaskan lelah dan duduk memandang ke belakang. Dan ternyata, kami akhirnya tahu kenapa kita nggak boleh menoleh selama tanjakan. Sepertinya ranu kumbolo akan melambai-lambai “nggondeli” kalian agar kembali saja kesana. Keindahannya sungguhlah mempesona. Cukup lama kami menatap danau biru itu dari puncak bukit bukit. Teduhnya pohon dan semilir angin yang berhembus dari lembah semakin menambah syahdu suasana hening di ujung tanjakan itu. Sepasang pendaki bule asal Jerman yang start dibelakang kami menyalip beberapa meter di ujung tanjakan itu. Wez pak monggo sampean lewat dhisik..!!

Padang Oro Oro Ombo

Change SPA 879 di ororoombo

Berikutnya, pemandangan yang ada tak kalah menakjubkan. Bentangan padang rumput ilalang terhampar dihadapan. Bukit-bukit yang seperti bukit teletubbies menggunung-gunung, tak hanya satu, disana sini menghiasi sejauh mata memandang. Inilah oro-oro ombo. Istilah bahasa jawanya yang dalam bahasa Indonesia berarti “padang rumput yang luas“. Ada dua jalur untuk sampai ke ujung sana, ke batas hutan pinus yang dikenal dengan cemoro kandang (bukan cemoro kandang yang ada di gunung lawu lho yaa). Jalur yang pertama adalah menerabas rerumputan ilalang yang tingginya sekitar dada orang dewasa, sedangkan jalur yang ke dua melipir ke kiri mengikuti jalur setapak yang berada di lereng salah satu bukit teletubbies itu. Kami memilih jalur yang kedua, karena jalurnya memang lebih jelas, dan kita juga dapat melihat-lihat keindahan bentangan oro-oro ombo di bawah sana. Sedangkan si odol, gawon dan yogha yang iseng-iseng memilih jalur menerabas ditengah harus kembali memutar dan mengikuti jalur kami karena katanya ilalangnya terlalu tinggi. Kapuokmu kapan..!! Hahaha..

batas hutan dengan oro-oro

Selepas melipir lereng bukit itu, kami kemudian menyeberang oro-oro, menyibak sedikit perdu ilalang, kemudian bersambung lagi ke jalur di tengah oro-oro yang setapak memanjang dipenuhi endapan pasir-pasir halus yang sepertinya hanyut bersama aliran air. Menginjak pasir-pasir itu aroma puncak seakan kental terasa (padahal masih jauh disana). Sesaat berikutnya kami sudah sampai di tepian hutan pinus. Kembali track yang kami lalui mulai bervariasi, mengikuti jalur yang sudah ada, jalanan cenderung mulai naik, sehingga memaksa kami harus beristirahat beberapa kali. Kali ini saya, gawon dan odol berada di rombongan paling belakang, terpaut cukup jauh dari depan yang sudah terlebih dahulu memulai start kembali. Kami bertiga masih bersantai-santai menunggu mereka jalan jauh dulu, baru kita kejar, rencananya. Tapi karena istirahat terlalu lama inilah yang membuat kami malah jadi cepat lelah. Pemandangan kanan kiri area ini lebih di dominasi oleh pepohonan cemara, maka tak heran jika orang-orang menyebut daerah ini cemoro kandang.

Memasuki Cemoro-Kandang

Selanjutnya adalah bukit ayeg-ayeg, masih kelanjutan dari hutan-hutan pinus tadi, namun setelah dari sini jalanan cenderung turun dan mendatar. Pepohonan pinus pun perlahan sudah mulai menghilang dan berganti lahan-lahan yang menyerupai lapangan dan diselingi pepohonan perdu. Pasir-pasir sudah mulai menghiasi sepanjang perjalanan kami. Dan kuncup mahameru (yang menyerupai batok itu) mulai terlihat mengintip dari balik pepohonan. Menjulang gagah, dengan guratan-guratan pasir yang terlihat begitu jelas dari bawah. Kami yakin bahwa sebentar lagi kami akan sampai di kali mati. Break point yang ditentukan sebagai titik finish perjalanan hari itu.

Bukit Ayeg-Ayeg

Benar saja, mangikuti jalur yang dipenuhi pasir itu akhirnya kami sampai di sebuah tanah lapang. Diujung sana terlihat kaki mahameru yang tertutup hijau vegetasi, berbanding terbalik dengan beberapa puluh meter diatasnya yang sudah berupa pasir murni. Subhanallah.. gagah sekali puncak gunung ini.
Tulisan di sebuah pohon meyakinkan kami, bahwa kami telah sampai di kalimati. Tak sabar satu persatu dari kami brerlari-lari kecil membelah “lapangan” itu, pengen cepet-cepet sampai, pengen cepet-cepet istirahat..!! hehe.

Camp Kali Mati

Mengintip Puncak Mahameru

Sebenarnya izin pendakian kami hanyalah sampai di kali mati ini, karena memang pada saat itu aktivitas gunung Semeru masih dalam status waspada. Beberapa kali terlihat letupan dan kepulan asap membumbung tinggi dari kawah yang menadakan aktivitasnya masih bisa dibilang berbahaya. Tapi apa lacur kami sudah jauh-jauh kesini, dengan bismillah kami berniat mendaki puncaknya dini hari nanti.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 saat seluruh rombongan tiba di kalimati. sepasang bule yang menyalip kami tadi sudah mendirikan tenda tepat di kaki gunung itu, sedikit keatas, di antara pepohonan yang mungkin dianggapnya melindungi mereka dari dinginnya angin lembah yang menghampiri di malam hari. Padahal sepertinya percuma, jika angin datang pasti langsunglah menghantam tenda itu, haha, biarkan sajalah mereka berdua menyendiri disana. Sedangkan kami, memilih lokasi mendirikan tenda di sekitar bangunan permanen yang ada di sana. Selain lebih aman dari terpaan angin, sepertinya lebih nyaman dan hangat pula disana. Kami berbagi tempat dengan guide dan porter si bule tadi. Dua tenda didirikan di dua bilik utama, dan yang dua lagi, tenda yang kami tempati bertiga bersama gembez dan kalut berada di teras luar berhadapan dengan tenda jupret, change, gokong dan sekar. Setalah masak asupan gizi dan makan malam bersama, secara berombong-rombongan kami sholat maghrib dan sholat isya berjama’ah di luar beralaskan tikar.

Pukul 20.00. Dingin mulai merayap menembus jaket lalu menusuk pori-pori kami. Suasana terasa begitu sepi. Tiga penghuni tenda luar yaitu saya, kalut dan gembes sepertinya menjadi orang yang tidur paling belakangan. Anak-anak yang lain sudah masuk dan menghangatkan diri di tenda masing-masing, sedangkan kami bertiga mencoba menghangatkan diri dengan cara kami. Yang mencoba melawan dinginnya malam itu dengan duduk ditengah hamparan tanah lapang, memandang langit hitam kalimati yang penuh bintang, menatap puncak mahameru yang samar-samar membayang. Menyulut sebatang djarum cokelat sambil mendengarkan curcolan-curcolan si kawan yang hatinya galau dan bimbang. Hahaha.. dasar sekumpulan pemuda galau yang menikmati kegalauan mereka dengan cara mereka..!! tepat pukul 22, kami (baru) sholat isya di dalam tenda, merebus mie dan segelas minuman hangat, lalu membenamkan diri dalam kesunyian kalimati.

Ah, kepanjangan nih kayaknya ceritanya, dan saya yakin yang ngebaca bakal males dibuatnya, scrol-scol-scrol sampe bawah monoton banget diliatnya. Hehe, biarin dah..!! Mumpung lagi mood nulis aja.
Okke, sementara sampai disni dulu ceritanya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, Edisi Summit Attack 3.676 Mdpl.

 
7 Comments

Posted by on August 13, 2011 in Catatan Perjalanan

 

7 responses to “Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

  1. Cah Matsu

    August 14, 2011 at 4:11 am

    Mantabh massss ceritanya…!! Jadi pengen ke gunung semeru.

     
    • 940

      August 14, 2011 at 8:41 pm

      Semeru selalu terbuka bagi siapa saja, asal bertanggung jawab terhadap lingkungannya…🙂
      trimakasih mas atas kunjungannya..

       
  2. giewahyudi

    August 14, 2011 at 11:42 am

    Oro-oro Ombo memang selalu menarik perhatian..

     
    • 940

      August 14, 2011 at 8:38 pm

      🙂 mas wahyu pernah kesana juga? selain menarik perhatian, juga “ngangeni” mas tempatnya.. hehe..
      trimakasih atas kunjungannya..
      kalo tdk keberatan, sekalian tukeran link ya.. masih newbie ini saya..

       
  3. rahmatmuntaha

    November 23, 2011 at 1:12 pm

    hmm kayanya indah bgt tu. jd pengen ksna,
    btw, mksh ya ceritanya.
    http://kafebuku.com/mahameru-sebuah-novel/

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      December 2, 2011 at 5:48 pm

      Boleh mas.. monggo dicoba suatu saat kesana..
      dijamin bakal ngangeni..🙂
      oya, terimakasih atas kunjungannya..🙂

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s