RSS

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (I)

04 Aug

gambar ilustrasi dari berandahati.com

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (I)

Sore itu, 29 Juli 2011, bertepatan dengan 28 Sya’ban 1432 H. Saya mendapat telepon dari bapak.

“Halo, Assalamu’alakum”.
“wa’alaikum salam, agek opo le?” (sedang apa Nak?) tanya bapak..
“Niki nembe fotokopi kung, ajeng ngempalke laporan PKL”.
“Oh yo rapopo, lak wes rampung to gaweane?”.

“Insyaallah, tinggal nunggu hasil dan mungkin beberapa revisi dari dosen penilai”.
“Yo sukur nek ngono” beliau diam sejenak, lalu melanjutkan “Awakmu wes krungu kabar seko ngomah durung?”.
“Kabar nopo kung? wau enjing ibu’ namung ngabari nek mbah guthul (tetangga sebelah rumah) meninggal”.
“Iyo.. wingi bengi, terus iki mau sore mbah kakung yo ditimbali, lagi ntes wae..”

“Innalillahi wainna ilaihi roojiun..”

***

Saya segera bergegas ke sekretariat (gedung A) untuk mengumpulkan Laporan PKL yang sudah di printout dan jilid spiral. Di parkiran saya bertemu dengan mas wahyu yang kebetulan baru mau mengumpulkan sore itu juga, sedikit lebih tenang, ada teman, batinku.

Sore itu memang deadline terakhir pengumpulan laporan untuk mahasiswa yang tidak mengajukan perpanjangan. Dengan sisa waktu 10 menit dari batas akhir yang ditentukan, akhirnya terkumpul jugalah laporan yang sempat terkatung katung selama beberapa hari itu. Dasar para deadliner, kalo belum detik-detik akhir belum muncullah kemampuan de power of kepepetnya. Hehe.

Setelah urusan beres, saya segera meluncur ke area futsal diamond, sebelah Harmony Ceger untuk mengembalikan motor mbah Joga. Niatnya sih setelah itu mau langsung pulang dan berangkat ke stasiun memburu tiket kereta yang menuju ke semarang. Tapi dasar sudah keranjingan futsal, maka gatel sekali kaki ini untuk bergabung sjenak dengan mereka. Nggak peduli masih berseragam kuliah lengkap dengan atributnya, tanpa babibu langsung ikut lari-lari mengejar dan menggiring bola. Hehe, lumayan “kempringet” lah sore itu.

Singkat cerita tanpa mandi dan hanya membawa pakaian ganti secukupnya saya langsung cabut dari kost menuju stasiun pasar senen Jakarta. Sampai disana ternyata loket sudah tutup! “Jangkrikk..!!” batinku, ini pasti ulah paca calo dan permainan petugas stasiun. Kecurigaanku beralasan, para calo itu dengan terang-terangan menawarkan tiket tempat duduk di kerumunan calon penumpang yang “kecele” karena kehabisan tiket, tentu saja tiket itu dijual dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga standar. Saya sendiri ogah membeli dari calo-calo itu, jujur aja, duit di kantong yang emang lagi mepet dan sayang rasanya jika diberikan cuma-cuma kepada mereka.

Lantas gimana? gak ada pilihan lain? ah, siapa bilang. Seribu jalan menuju roma, masih ada opsi bayar diatas kereta atau pilihan ekstrim terakhirnya adalah menjadi “penumpang gelap” saja. Hehehe..

Bermodal nekat saya pun memutuskan membeli karcis peron seharga Rp 1.500 untuk dapat masuk ke area peron kereta. Pukul 21.45 kereta ekonomi Tawang Jaya datang dari arah selatan, membaur bersama penumpang lain yang berdesakan masuk ke gerbong kereta. Saya pilih gerbong 9, karena posisinya paling ujung belakang dan biasanya banyak “penumpang gelap” yang bersarang disana. Kalo ada apa-apa biar banyak temannya, pikir saya, hehe. Selang lima menit kereta berjalan perlahan, berhenti dari jatinegara, bekasi, dan seterusnya, hingga akhirnya datanglah petugas pemeriksaan yang perutnya gendut dan mukanya bikin emosi itu, dikawal beberapa petugas keamanan berbadan kekar dengan pentungan dan bedhil yang entah asli entah mainan itu. Dan, Upsss..!! di sebelah sana nampaknya terjadi sedikit keributan, lebih tepatnya perdebatan antara sang petugas dengan seorang penumpang yang sepertinya sama dengan saya. Wouw, sepertinya petugas ini tidak terima dengan “salam tempel” dari seorang penumpang tanpa tiket dengan ongkos salaman yang sepertinya belum bisa mengajak pria gendut itu berdamai..!! “Wah wah wah, bisa bangkrut nih gue..!!” Haha.

Insiden disana memberi kesempatan saya untuk memutar otak dan memikirkan cara menghindari sang petugas. Setelah clingak clinguk memastikan kondisi aman saya pun mengeluarkan jurus pamungkas yang saya pelajari dari salah seorang teman yang sudah terbiasa naik kereta secara gratisan. Slep.. slepp.. slepp.. Aman..!! (perilaku yang ini jangan ditiru yaa, nggak baik, jadi orang harus jujur, kecuali kalo lagi kepepet aja, hehe). Salah sendiri kongkalikong dengan calo! Mau ngakalin kita? Maaf ya pak kalo gentian kita yang ngakalin..😛

Ya begitulah, menjadi penumpang gelap memang harus selalu sigap mengelabuhi beberapa petugas pemeriksa. Tentu saja harus siap dengan segala resikonya. Pukul 07.00 kereta sampai di Semarang. Dan itung-itung praktis dari Jakarta saya hanya mengeluarkan uang Rp 1.500 dan Rp 2.000 untuk beli minum saja. Hohoho.. ngirit opo pancen kere iki critane?😀

Loh ini kok ceritanya malah ngalor ngidul nggak sesuai dengan judul tulisannya? Yowezlah gakpapa.. Untuk tulisan yang sesuai dengan judulnya nanti saja di bagian selanjutnya.. ;) oke, back to daftar isi atau langsung klik saja disini >>

 
3 Comments

Posted by on August 4, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , , ,

3 responses to “Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (I)

  1. Ekaswara

    August 10, 2011 at 6:06 am

    Ha ha ha.. enggak bayar? trus gimana tuh mas caranya? bagi tipsnya y?

     
    • 940

      August 10, 2011 at 3:06 pm

      @mas eka: wkwkwkwk.. kalo saya posting disini ntar takutnya pada ikut2an, ikutan dosa dong saya. hahaha..

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s