RSS

MAHAMERU – Chapter 9: Dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo.

04 Jul

MAHAMERU – Chapter 9: Ranu Pane,  Ranu Kumbolo.

Sesaat sebelum pendakian

07.30, bergeser sedikit dari waktu yang telah direncanakan, seluruh rombongan memulai perjalanan meninggalkan Ranu Pane. Masih mengikuti jalanan beraspal yang cenderung menurun ke arah timur (semoga perkiraan arahku benar). Sekitar sepuluh menit berjalan sampailah kami di gerbang batas wilayah dengan kabupaten Lumajang. Lalu berbelok ke kanan, berpindah menyusuri jalanan setapak yang merupakan jalur resmi pendakian. Kata bang Alloy, pokoknya ikuti saja jalan yang ada pavingan. Benar saja, baru beberapa meter berjalan kami menjumpai percabangan, disitu pula terdapat patok yang sepertinya sebagai penunjuk starting point jarak pendakian. Kami mengikuti jalur yang ke arah kiri, jalan setapak menanjak yang sudah dipaving rapi, namun pavingan tidak selebar badan jalan, nampaknya sengaja dibuat demikian dan diperuntukkan sebagai penduan jalur pendakian

Rombongan berjalan beriringan dengan berbagai perasaan masing masing. Semangat dan tekad untuk mewujudkan mimpi, bercampur dengan sedikit keraguan dan kekhawatiran yang tiba-tiba menyelimuti. Menciutkan nyali? tentu saja tidak. Hanya saja perasaan berbeda yang berkecamuk dalam hati. Karena ini Semeru? Karena puncak mahameru yang kami tuju? Mungkin. Namun itu hanya ada jauh didalam hatisana. Wajah-wajah dan langkah-langkah yang mereka pertunjukkan menandakan bahwa semangatlah yang lebih menguasai. Membakar dan menjadi energi tersendiri bagi manusia-manusia rapuh yang mencoba meresapi kebesaran Tuhan.

Jalur setapak memutar dan memanjang, cenderung mendatar dan mungkin hanya ada satu dua tanjakan. Tapi berliku-liku mengikuti punggungan, mengitari satu bukit lalu berpindah ke bukit berikutnya. Bagi yang menyukai hiking mungkin jalur ini sangat cocok untuk olahraga sekaligus jalan-jalan di alam.

Kurang lebih satu jam berjalan kami tiba di pos pertama. Entah pos apa namanya. Sambil menunggu Gokong dan Sekar yang terpisah agak jauh di belakang, rombongan beristirahat sejenak di sebuah bangunan permanen yang terletak di suatu tikungan tepat di akhir tanjakan. Anak-anak melepas lelah sambil mengisi waktu dengan bermain kartu, dasar gendheng kabeh..!! Disana, suasana kebersamaan dan keceriaan nampak jelas sekali terasa, tertawa-tawa lepas dan berbincang-bincang santai sambil berjemur dibawah cahaya matahari pagi yang menerobos pepohonan di bukit tersebut.

Watu Rejeng dan Pos Ke-3

Tebing berbatu, view pos watu rejeng

Cukup lama kami beristirahat, sedangkan Gokong dan Sekar memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu, kemudian kami serombongan menyusul dibelakang. Sebenarnya kasihan dengan Sekar, dengan kepayahan harus menahan sakit akibat hari pertama kedatangan tamu bulanan. Untungnya ada Gokong, sang arjuna yang setidaknya membuat kami sedikit tenang.

Jalanan masih sama, setapak memanjang dan berkelok-kelok mengitari perbukitan. Sejenis tumbuhan kayu yang mengganggu jalan di kanan kiri, tampak habis dirapikan oleh para pendaki. Sehingga mempermudah langkah kami melewati jalan setapak yang masih dipandu oleh segaris paving di pingir-pinggir jalan itu. Tidak begitu lama kami sampai di pos berikutnya, pos Watu Rejeng. Darisanakita dapat melihat dengan jelas tebing berbatu yang tinggi menjulang. Dinding-dindingnya seperti terukir rapi oleh pahatan-pahatan alam. Anggun dan gagah.

Sekedar melepas lelah dan menatap pemandangan, rombongan lalu melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri liku-liku jalur yang melipir melintasi bukit. Dari sini jalanan sudah mulai bervariasi, paving panduan sudah mulai menghilang, jalur turunan-turunan kecil dan tanjakan yang tak terlalu panjang mulai menghiasi perjalanan kami. Meski lelah, rombongan memutuskan untuk terus berjalan. Palpi berseru dan menunjuk sebuah bangunan kecil di lereng bukit yang ada di depan. Itu pos tiga..!! Ya, dari sana terlihat jelas sebuah atap bangunan seperti yang ada di pos pertama tadi. Dengan semangat kami berjalan agar segera sampai disana. Namun lebih dari setengah jam berjalan kami tak sampai-sampai juga di tempat itu, masih jauh sekali ternyata.

Sekedar informasi, sejak ranu pane hingga disini signal selular susah didapat. Mungkin hanya di bererapa titik saja yang ada signalnya, salah satunya yaitu di jembatan kayu sebelum pos ke-3.

Dengan nafas terengah-engah kami menaiki tanjakan yang di ujungnya terdapat bangunan yang sedari kejauhan tadi kami sudah melihatnya. “Janc*k, adoh juga reek ternyata..!!”, komentar salah seorang diantara kami. Lalu duduk dan menyandarkan tasnya pada salah satu sisi bangunan ini. Diteguknya air murni isi ulang dari ranu pane tadi, puas sekali nampaknya si kawan ini. Ku keluarkan beberapa potong kecil gula Jawa untuk menambah energi. Tenang, tenang.. gulone akeh kok, aku nggowo gulo aren sak glundhung gedhi seko posko, mbuh nggone sopo, hehe.

Sebentar Lagi, Ranu Kumbolo.

Tanjakan selepas pos 3, menguras tenaga

Beranjak dari pos 3 kami langsung disambut oleh sebuah tanjakan, agak panjang dan cukup terjal. Baru nyampe di tengah-tengah nafas kami pun sudah terengah-engah. “Gakpapa gan, buat pemanasan menaiki tanjakan cinta nanti..!!” celetuk salah seorang diantara kami. Tanjakan cinta memang cukup melegenda di kalangan para pendaki semeru, selain memang menyuguhkan track yang curam, tanjakan cinta semakin dikenal karena mitosnya. Ah, itu ceritanya nanti saja, sekarang yuk kita lanjutkan perjalanan.

Oke, kita baru beberapa meter saja lepas dari pos tiga, setelah beristirahat sejenak di akhir tanjakan, seluruh rombongan pun kembali berjalan. Selanjutnya jalanan cenderung datar dan melebar, jadi memungkinkan bagi kita berjalan bergerombol-gerombol bersama, dengan kecepatan yang berbeda-beda, menimbulkan jarak antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Mungkin beberapa diantaranya masih kelelahan setelah melewati tanjakan tadi, atau mungkin sebagian yang lainnya ingin segera sampai dan membasahi kerongkongan dengan sejuknya air ranu kombolo yang katanya sudah tidak jauh lagi jaraknya.

Benar saja, setelah beberapa kali tikungan, terdapat papan yang terpaku pada sebuah pohon bertuliskan: “RANU KUMBOLO 500M”, menandakan break point sudah ada di depan mata. Sontak saja anak-anak pada kegirangan. “Alhamdulillah, wes meh tekan reek..!!”. (Semenjak tiba di Kota Malang anak-anak ini memang sering menambahkan kata “reek” diakhir perkataannya, dadine dho rak-rek-rak-rek ngono sepanjang perjalanan).

Gembes, odol, dan gawon dengan pedenya minta difoto di papan jalur itu. Ah, kampretos tenan bocah-bocah iki.


 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s