RSS

MAHAMERU – Chapter 7: Semalam Bersama Iwan Sunter

01 Jul

MAHAMERU – Chapter 7: Semalam bersama Iwan Sunter

Bersama Bang Iwan, di sebuah warung kopi

Iwan dan Perjalanan.

Obrolan di warung kopi itu mengalir dengan begitu hangat. Cerita demi cerita meluncur dari bibir ramahnya. Santai, tapi penuh pelajaran dan sarat makna. Sesekali apa yang disampaikan nampak begitu serius, namun setiap fragmennya diakhiri dengan gelak tawa semua yang duduk disana. Misalnya saja ketika ia bercerita tentang filosofi berjalan kaki. Mengapa ia jalan kaki? Karena dengan begitu kita akan tahu betapa sering kita lupa berterimakasih kepada apa yang kita miliki. Kita lupa senantiasa bersyukur kepada Yang Kuasa atas sekecil apapun nikmat yang diberikan-Nya. (Bahkan nikmat besar dikaruniai kaki yang sehat dan sempurnapun kita hanya menganggapnya sebagai sebuah “pemberian” kecil?).

Menurutnya, ia juga manuasia biasa, bukan orang linuwih yang sakti mandra guna sehingga sok-sokan jalan kaki keliling pulau Jawa. Dengan aksi ini beliau jadi tahu seberapa batas kekuatan yang dimiliki oleh seorang manusia. Telapak kakinya pun melepuh, hampir pecah, dan mungkin bernanah. “Mungkin secara fisik udah nggak layak dipake jalan, tapi selama kita punya satu niat, tekad dan keyakinan bahwa kita bisa mencapai suatu tujuan, ya buktinya elu liat gu baru aja turun dari Semeru kan?” (Sungguh nggak kebayang bagaimana bentuk dan rupa telapak bang Iwan, kami yang sewaktu diklat menjalani Longmarch Parung-Bintaro yang hanya 20an kilo saja melepuhnya gak sembuh seminggu, gimana yang longmarch 2x30hari nonstop ya??).

Iwan Sunter

Kembali ke masalah kaki, ketika ditanya gimana cara mengatasinya, dengan santai bang Iwan menjawab “Ya pake pembalut”, Ya, beliau pake (maaf) pembalut wanita sebagai alas di kakinya. Lalu apa nggak malu bang belinya?. Beliau malah melanjutkan cerita, “Ya pernah kan gue kehabisan, trus beli di Indomar*t, kasirnya (cewe) nanya: Beli ini pak? (dengan ekspresi keheranan). Gue jawab: iya, orang gue butuh..!! gak tau dah apa yang ada di otak tuh kasir”. Haha, koplak..!!

Ya, Koplak. Identik dengan orang yang tidak menggunakan otak, menjurus pada satu sifat dan keadaan yang cenderung seperti orang gila. Ya, Kata beliau memang kita perlu belajar juga dari orang gila. Contohnya seperti ketika beliau ditanya apa nggak takut bang jalan sendirian? Kalo lewat hutan-hutan? dengan santai beliau menjawab, “Ya itu tadi, gue belajar dari orang gila. Orang gila kan nggak takut apa-apa. Apa coba yg mau ditakutkan? Rampok? Setan? Kalau rampok mah apa yg mau dirampok, lu liat tampang gue kayak gembel gini, lebih mirip orang gila malahan, rampok pasti juga mikir-mikir laaaah kalo mau ngerampok..” diam sejenak, lalu melanjutkan “Lha kalo setan? Setan juga pasti mikir, buat apa gue nakut-nakutin orang gila? Kalo gue nakut-nakutin ni orang berarti gue setan goblok donk..!! haha, jadi skali lagi apa yg harus ditakutkan? Takut mah sama Tuhan.” Hmmm, pancen koplak tenan ni orang tua, dalam hati saya.

Memang benar, dari secara fisik saja kita sudah bisa menilai, bagaimana kesederhanaan beliau sehari hari. Ia memakai sendal jepit seharga lima ribu rupiah yang merupakan sendal ke empat sejak perjalanannya dari Jakarta, sedangkan pakaian yang dikenakan hanya berupa celana kolor dan kaos oblong lusuh yang menemani pengembaraannya, mungkin hampir sebulan tak pernah ia cuci, keringat yang membasahi kering dengan sendirinya terjemur terik matahari. Kepalanya berbalut handuk kecil untuk menutupi telinganya dari dinginnya udara, serta topi rimba pelindung panas yang sudah tidak lagi berbentuk topi nampaknya. Sangat jauh dari kesan mapala, yang kebanyakan hanya bangga dengan atribut dan lambang-lambang yang menempel di bajunya.

***

Kakak Beradik.

Dalam suatu kesempatan beliau menuturkan betapa kontrasnya kehidupan ia dan abangnya. Ia tidak malu sehari-hari hanya bekerja sebagai kuli panggul di pasar, dengan penghasilan lima ribu enam ribu seharian. Yang terpenting adalah kita senantiasa mensyukuri apa yang kita miliki. Tutur beliau. Akan menjadi menyenangkan bila kita menjalani dan menikmati kehidupan kita, bila kita tetap menjadi diri kita sendiri, seperti apa adanya diri kita. Meski demikian bang Iwan selalu menegaskan, bahwa abangnya adalah orang yang paling sayang dengan beliau. “Si Kuwat itu takutnya cuma sama gue, tapi gue juga takut sana dia, hahaha. Dari kecil kemana mana selalu bareng, bahkan mandi pun sekamar mandi kami itu. Kalo gue mandi dia nongkrong (baca: jongkok, buang air), kalo dia mandi gantian gue yang nongkrong”. Hehe, sepertinya kedua kakak beradik ini memang begitu dekat. Yang namanya saudara, seperti apapun tetaplah saudara. Setelah mengecek baterai hp yang di charge beliau melanjutkan. “Ini, gue dikasih juga sama si Kuwat”, sambil menunjukkan Blackberry yang baru saja di charge tadi. “Pernah ada orang yang melihat dengan heran dan bilang, gile bang..!! lu gembel kayak gitu pegangannya BB..!!, Gue ini dikasih.. Dikasih..!!”, ceritanya dengan antusias.

Dari bang Iwan kami banyak belajar tentang seni menikmati kehidupan. Dan inti dari “menikmati” kehidupan itu sendiri adalah “rasa syukur”. Syukur bukan berarti “pasrah”, syukur adalah tentang perbuatan. Dan yang menggerakkan perbuatan adalah hati kita. Hati perlu disirami agar tak mati, agaar ia senantiasa menjadi peka.

Beliau juga meminta maaf khususnya kepada anak-anak STAPALA atas “ulah” abangnya yang telah menggusur Posko G112. Satu ruangan di salah satu sudut bangunan gedung G yang sekarang di sterilkan dan hanya difungsikan sebagai gedung pertemuan. Nggak papa kok bang, kita juga berterimakasih kepada Pak Kuwat yang sudah kasih ijin kita bangun Posko. Hehe.. (#eh, ini nggak papa kan mencatut nama seenaknya? Nggak kena UU ITE kan? Atau perlu disamarkan? Atau ekstrimnya pake inisial saja? Bijimane gan..??)

***

Menghabiskan malam di Ranu Pane.

Obrolan ringan di warung kopi terus berlanjut ketika malam tiba. Namun sekarang telah beralih di teras Posko SAR dimana kami dan dua kawan pendaki dari Argajaladri bermalam. Dengan duduk melingkar di depan tenda, sambil menikmati kopi hangat dan kembali bercerita. Saya, yogha, gembez dan kalut menemani beliau hingga larut. Banyak cerita yang mungkin tak akan ada habisnya bila semuanya tertulis disini. Mulai dari cerita perjalanannya, tentang petualangan petualangan yang pernah dilaluinya, cerita tentang keluarganya, cerita tentang pendaki-pendaki hebat yang pernah ada, cerita tentang kehidupan nyata, dan segalama macam obrolan “ngalor-ngidul” yang kesemuanya tetap berisi dan penuh makna. Salah satu hal yang membuat kami betah dan terkesan adalah sama sekali beliau tidak menggurui, kami bisa menarik setiap kesimpulan dari apa yang dibicarakan. Gaya penuturannya yang santai, kalem, dan selalu saja ada hal lucu dan menarik yang terjadi dalam perjalanan hidupnya.

Dalam salah satu ceritanya beliau menuturkan, bahwa ia baru saja ditabrak mobil (mobil ato motor saya lupa). Nah, dari sang penabrak itu beliau dikasih uang berobat katakanlah. “Sebelum sempet gue marah dienya udah minta maaf, jadi gue gak jadi marah. Akhirnya gue dikasih 50 tuh sama tuh orang, lumayan buat tambah-tambah makan. Tapi duit itu gue bagi juga sama orang yang sama-sama susahnya kayak gue. Kalo tau gini (ketabrak dapet duit) mending ketabrak aja terus tiap hari kali ya..!!?.” Hehe, boleh juga tuh idenya Bang, apalagi buat mahasiswa yang sering bokek di tanggal tua, silahkan saja dicoba.

Oya, ada lagi satu tips yang mungkin berguna nih buat kita-kita (mahasiswa), saya tarik kesimpulan dari cerita beliau yang berkisah tentang bagaimana beliau makan sepanjang perjalanan. Katanya, dari daerah ke daerah yang disinggahi selalu ada cerita tersendiri, terutama cerita tentang makanan. Pernah ia menjumpai daerah dengan biaya makan yang sangat murah. Nasi, sayur, gorengan, esteh, pokoknya sekali makan Cuma 2.000 rupiah. Seakan tak percaya masih ada seporsi makanan dengan harga segitu, beliau sampai mengulang pertanyaan hingga tiga kali kepada sang penjualnya, “Pinten bu’?, kaleh ewu pak. Pinten bu’?, Kaleh ewu Pak.. Pinten?, Kaleh ewu. Yowes tak bayar rongewu..!”. Pernah juga “dikentel” dengan harga yang cukup mahal (untuk standar dia lho ya) sekitar tujuh ribuan. Tapi intinya, kalau mau makan lihat-lihat dulu, “Pokoknya kalo ada warung makan, kok disitu rame tukang-tukang becak, ojek-ojek yang pada makan disitu, biasane kui murah..!!” tuturnya dengan bahasa campur campur, kadang elu gue, kadang bisa juga ngomong jawa. Memang seperti inilah orang yang pandai bergaul, bisa menempatkan diri dan hidup dimana saja. Semakin banyak teman maka hidup kita semakin aman..!

Ah, pokoknya nggak bakal ada habisnya deh kalo diceritakan semua disini. Singkat cerita, Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Tinggal kami berempat saja yang masih terjaga. Bang iwan, saya, gembes dan kalut. Yogha menyusul yang lainnya yang sudah pada tidur sedari jam delapan malam tadi. Kasihan juga bang Iwan-nya, biar istirahat, besok harus melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta (tetap jalan kaki). Hahaha, padahal cuma alibi kita aja, sebenarnya kamilah yang sudah dilanda kantuk dan menggigil kedinginan sedari tadi berada di luar. Atas saran beliau, sebaiknya jangan tidur di dalam (ruangan) semua, paling nggak ada satu dua yang ngejaga barang-barang (yang kami letakkan diluar). Walaupun yakin pasti aman, tapi waspada itu selalu perlu. Akhirnya saya dan shah kalut tidur diluar, beralaskan matras dan masuk kedalam kantung tidur masing-masing. Sedangkan Gembez tidur di lorong yang nampaknya jauh lebih hangat dari posisi tidur kami berdua. Dinginnya ranu pane membuat kami menggigil sepanjang malam, sedangkan di ujung sana, sepertinya pori-pori Iwan Sunter ini sudah mati sehingga nampaknya tidak lagi merasakan dingin meski ia tidur tanpa sleeping bag, tanpa selimut, dan hanya beralaskan spanduk dari bahan terpal yang selama ini menemani perjalanannya.

==========

Kisah tentang kronologis pertemuan kami dengan seorang Iwan Sunter di kaki Gunung Semeru sebenarnya sudah pernah saya tuliskan sebelumnya, tapi sayang beribu sayang naskahnya masih ada di laptop si Balung, belum sempat tercopy disini. Maka, ceritanya langsung njujug saja pada Chapter selanjutnya ya.. Nanti kalo sudah kembali ke Jakarta tinggal menggabung gabungkan saja, hehehe. Oke, kalo agan-agan pengen mengenal lebih dekat tentang sosok Iwan Sunter, langsung saja mengunjungi blognya. Cek TKP gan..!! http://iwansunter.blogspot.com/2011/05/day-34-bub-jakarta-puncak-semeru.html#links atau kalau mau lihat koleksi foto-foto petualangannya bisa klik di http://iwansunter.multiply.com/

 
8 Comments

Posted by on July 1, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , , ,

8 responses to “MAHAMERU – Chapter 7: Semalam Bersama Iwan Sunter

  1. Crystall Tektonic

    July 30, 2011 at 6:58 pm

    mantab abis bang…..
    geber terus slama langkah masih bisa berpijak.

     
    • 940

      August 6, 2011 at 11:05 pm

      Siapppp bang…🙂
      Salam kenal nggih…

       
  2. indrajabrix

    October 24, 2011 at 8:15 pm

    Tulisan bagus..ringan dan inspiratif…

     
    • 940 (azhyzmaghfur)

      November 2, 2011 at 11:17 am

      Terimakasih bang…
      bang Iwan yang setengah gila inilah yang banyak memberikan inspirasi.. hehehe..

       
  3. KS

    April 19, 2012 at 11:28 pm

    Protes……..kenapa saya dibawa-bawa tanpa izin??? wkwkwkwkwk………. (anyway trims dech dah bikin komen atawa tulisan tentang si keras kepala Iwan Sunter hehehehe)

     
    • azhyz

      June 26, 2012 at 11:29 am

      #upssss
      maafkan saya bapak.. nggak sengaja.. #ngeles hehehe.
      “cuma” sebagai tokoh “figuran” untuk cerita bang Iwan (salah bang iwan yang cerita ini pasti)😀
      Dan saya kena karma —> ngikutin pak Kuwat ke purnawarman. Wkwkwkwk.

       
  4. Anonymous

    July 18, 2012 at 4:46 pm

    Adventure never dies , bwt bang iwan sunter .

     
    • azhyz

      August 14, 2012 at 3:06 pm

      Petualang sejati beliau oomm..
      Cuma ya itu, rada gila.. hahaha. Kegilaannya yg mengantarkannya pada petualangan2 gila.

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s