RSS

MAHAMERU – Chapter 4: Malang..!!

30 Jun

MAHAMERU – Chapter 4: Malang..!!

Kereta masih terus melaju ke arah timur ketika kami dikagetkan oleh kehebohan Kace yang mengatakan bahwa Malang sudah dekat. Masih enggan sekali rasanya untuk bangun dan membuka mata. Sedikit melongok ke arah jendela,terlihat pemandangan pagi yang cukup menyejukkan mata. Di kanan kiri terlihat bentangan sawah dengan padinya yang subur hijau, kontras dengan di kaki langit sana yang berwarna merah jingga. Matahari memang baru saja merangkak terbit, mengintip manja dari balik bukit. Gunung Semeru nampak begitu  gagah dilihat dari kejauhan. Semua berteriak kegirangan,

“Semeru..!! Semeru..!!”.

Tak ingin kehilangan momment itu, Jupret langsung mengeluarkan kamera dari kantungnya dan mengambil beberapa kali take foto. Saya yang masih enggan bangun pun tertarik untuk menyaksikan apa yang dilihat teman-teman. Dan ternyata benar. Matahari yang baru saja merekah terlihat begitu indah, begitu cantik. Melambungkan bayang bayang tentang gunung yang sebentar lagi akan kami daki.

Singkat cerita kami semua sudah selesai packing. Sembari menikmati pemandangan sekitar yang masih area persawahan dan pedesaan, kami baru manyadari bahwa ternyata kami baru sampai di blitar, dan Malang masih beberapa jam lamanya dari sana. Kontan saja si Kace menjadi korban jancuk2an anak-anak yang merasa ditipu oleh kawan kita Kace ini. Tapi ada untungnya juga kami bangun lebih pagi, selain badan jadi lebih segar, kami juga bisa menikmati dan mengenali daerah-daerah sekitar, seperti melewati daerah-daerah yang pernah digunakan sebagai lokasi syuting film Punk Rock Jalanan (ho’o dudu ya..? hhe, lupa pelm apa).

***

Malang, … Mei 2011

(lupa tanggalnya, ntar diedit setelah liat catatan manualnya yak).

Pukul 07.30 Kami sudah sampai di terminal Kota Baru – Malang.

Nampaknya kali ini kereta datang terlalu pagi. Normalnya, kereta baru tiba ketika hari sudah beranjak siang. Namun justru itu lebih baik, setidaknya seluruh awak rombongan bisa terlebih dulu menyelesaikan aktifitas paginya, (baca: raup, cucimuka, sikatan, beol, de el el) tanpa terburu waktu. Pun juga masih bisa untuk sekedar membeli gorengan sebagai pengganjal perut yang sudah keroncongan sepanjang malam.

Disana, sudah menunggu Gokong dan Sekar  (si Jupret menyebutnya sebagai “Dharmawanita-nya STAPALA”) yang sepertinya berangkat terlebih dulu dari Jogja. Sehingga sekarang total kami ber Sembilan. Masih ada satu rombongan lagi yang akan bergabung dengan kami, yaitu Odol, Kalut, dan Gawon. Ditambah teman-teman mahasiswa non STAPALA yang akan turut serta dalam pendakian kali ini, mereka adalah Yogha, Rizal dan Bernard. Kesemuanya sudah terlebih dulu pulang ke rumah masing-masing beberapa hari sebelumnya.

Jupret mencoba mengkontak mereka, tapi nampaknya rombongan “separatis” itu menunjukkan tanda tanda bahwa mereka sampai di Malang masih lama. Alasannya, macet di lumpur sidoarjo. Wallahu a’lam. “Wez pukuke ayo metu dhisik, golek-golek sarapan” . Akhirnya diputuskan untuk menunggu Odol dan rombongan di Pasar Tumpang.

Keluar dari pintu stasiun kami menyempatkan diri sejenak berfoto-foto di sebuah monument yang terletak persis di seberang stasiun. Berbagai gaya dilakukan dalam beberapa kali jepretan, mulai dari foto dengan pose menirukan gaya para pahlawan perjuangan yang ada di monument tersebut hingga pose narsis ala selebritis. Puas berfoto foto ria, kami berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan yang menuju kearah bundaran. Niatnya sih mencari makanan atau langsung mencari angkutan ke terminal Arjosari. Tetapi sesampainya di bundaran (nggak tau namanya) hasrat ingin berfoto foto di area tugu perjuangan akhirnya menuntun langkah kaki kami untuk berjalan kesana, memasuki area taman, dan mengambil beberapa kali jepretan. No pict hoak katanya, sebagai bukti bahwa kami pernah ke malang jadi harus ada fotonya, aihhhhh, ada ada saja.

Tidak lama berselang datanglah dua orang bapak bapak setengah baya, yang satu masih cukup muda, dengan keramahan berbasa basi kepada kami menanyakan tentang tujuan perjalanan kami. “Bromo mas? Nopo semeru?”. Rupanya kedua orang ini adalah kenek dan sopir angkot yang menawarkan kepada kami angkutan yang langsung menuju Pasar Tumpang. Harga yang ditawarkan relative cukup tinggi bila dibandingkan informasi yang kami dapatkan dari catper-catper sebelumnya. Untungnya diantara kami ada Gokong, anak gunung sekaligus anak terminal Magelang ini menunjukkan keahliannya negosiasi harga. Tawar menawarpun terjadi, Gokong tak bergeming dari penawarannya yang “Cuma” Rp. 80.000,- untuk seluruh rombongan. Nampaknya si bapak menyerah juga, maka disepakatilah harga 80k, sang makelar parkir pun terheran-heran karena mengira uang sewanya Rp 200.000,-. Haha..

Whussssss…!!

Maka meluncurlah kami ke Pasar Tumpang.

Meeting point yang kami sepakati dengan rombongan Odol, gawon cs.

***

 Bersambung dulu, mau lanjut ngrekam espete.. Kasinya datang…

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s