RSS

MAHAMERU – Chapter 3: Perjalanan Panjang Jakarta-Malang

30 Jun

MAHAMERU – Chapter 3: Perjalanan Panjang Jakarta-Malang

Kereta Matarmaja sudah “terparkir” dengan rapi di jalur dan bantalan relnya. Kereta masih sepi, tak terlihat penuh sesak dan tempat duduk habis seperti yang diwartakan petugas loket diluar sana. Ah, paling-paling kami dibohongi, pikir kami. Di salah satu gerbong yang masih kosong melompong itu (kalau tidak salah gerbong tiga) kami “membooking” tempat duduk dan menata barang-barang bawaan. Agak ribet juga karena masing-masing membawa carriel yang cukup memakan ruang didalam kereta. Sementara si Balung menjaga barang-barang, anak-anak lainnya yang beragama muslim menyempatkan sholat dulu di musholla. Biarpun tampang anak jalanan, dandanan ala preman, tapi hati tetap beriman. Heuheu..

Nah, ketika kembali ke gerbong tadi kami bertemu dengan salah satu kawan mahasiswa yang kebetulan akan mudik di hari itu juga. Alief namanya. Atas saran darinya kami pindah ke gerbong sembilan, gerbong penumpang yang paling belakang. Sebenarnya dibelakangnya masih ada satu lagi gerbong tambahan, namun tidak diperuntukkan bagi penumpang, bukan juga gerbong barang, melainkan gerbong tambahan yang berfungsi sebagai pengaman apabila terjadi kecelakaan. Gerbong itu pula yang pada akhirnya kami tempati kerena di gerbong sembilan kami diusir oleh si empunya kursi alias pemegang nomor tiket tempat duduk. Ahhh, s**t..!!

***

Prittt…………..!!!

(suara peluit petugas lintasan kereta)

Ngoooooooooook…!!

(bising klakson kereta diiringi dengan deru mesin dan kepulan asap di lokomotifnya)

Jek jek… jek jek…. Jek jek…. (suara perputaran roda)

Tepat pukul 14 kereta melaju meninggalkan jakarta.

Haha, lebai sekali penggambaran suasananya. Tapi tak apa lah, yang jelas ketika mendengar suara itu hati saya sedikit berdebar, juga sembari berdoa. Berdebar karena menyadari bahwa kami akan memulai sebuah perjalanan panjang dengan puncak Mahameru yang dituju. Berdoa agar kami semua diberikan kemudahan dan keselamatan sepanjang perjalanan hingga pulang kembali nanti. Pun rasa syukur itu selalu terbesit atas segala limpahan kerahmatan dari Yang Kuasa. Meski kami belum bisa membayangkan bagaimana 12 jam perjalanan nanti diatas kereta.

Tapi pemirsa, ternyata bisa menempati “gerbong lesehan” itu merupakan suatu keberkahan. Gerbong tambahan yang hanya berupa gerbong kosong tanpa ada kursi-kursi, juga tanpa kaca jendela. Tanpa lampu penerangan dan tanpa toilet yang bisa difungsikan. Jadi kalo saya mengibaratkan nampaknya lebih mirip seperti sebuah lorong gelap yang panjangnya 50 meter dan lebarnya 2,5 meter (bener nggak ya perkiraannya?). Seorang penjaja koran datang menawarkan koran harga seribuan sebagai alas duduk “glesoran”, seketika itu langsung muncul ide kenapa kita tidak menggelar matras saja. Lebih nyaman, lebih bersih, dan lebih terasa aroma poskonya (bagi yang biasa tidur beralaskan matras di posko pasti bisa merasakan).

Singkat cerita tergelarlah tujuh lembar matras yang ditata berjajar memenuhi ruang paling ujung belakang gerbong tersebut. Seperti karpet ruang keluarga saja, kita semua berkumpul dan bercanda tawa disana. Mengejek si Balung yang baru pertama kali ini naik kereta, bermain truff, dan dikagetkan oleh sebongkah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa yang dengan tiba tiba meluncur disamping kepala Jupret, lalu mendarat dan mental tepat ditengah tengah area kami bermain kartu. Mungkin dilemparkan oleh kelompok supporter anti-Aremania, atau sekedar anak iseng yang bermain main dengan ketapel raksasanya, entahlah, yang jelas satu nyawa baru saja diselamatkan oleh yang namanya keberuntungan, (tentu saja keberuntungan dan pertolongan itu datang dari Tuhan).

***

12 Jam Yang Tak Terasa.

Semakin malam suasana kebersamaan smakin kental terasa. Gelapnya gerbong yang hanya sesekali diterobos cahaya remang-remang dari luar sana, ditambah angin yang dengan leluasa keluar masuk dari jendela yang tanpa kaca membuat kami tidak merasakan gerahnya kereta. Justru kedinginan yang kami rasakan. Selepas sholat isya’ berjamaah (masih dengan setting cerita ditempat yang sama), kami menghangatkan diri dengan memborong bapak penjual POP M*E. Dasar anak posko “nggragas” kabeh, semua minta kuahnya dibanyakin. Walhasil si bapak kehabisan air dan terpaksa harus mengisi ulang termosnya di gerbong restorasi. Hmmm… Slurrrrrrrrrrrrrrrp…!! Alhamdulillah.. Nikmat sekali rasanya, lumayan untuk menghangatkan dan mengganjal perut yang sedari siang tadi tidak terisi.

Sholat sudah, makan sudah, saiki garek turu.

Oiya, mungkin sebaiknya jangan tidur dulu sebelum tiba di Semarang. Karena beberapa kilo dari sana, di daerah Weleri Kendal tepatnya, kita akan disuguhi pemandangan yang sayang apabila dilewatkan. Deburan ombak Laut Jawa, persis di bawah roda kereta, mungkin hanya berjarak dua atau tiga meter saja di sebelah kiri laju kereta. Buih putihnya mengkilat memantulkan cahaya, dan gelombang-gelombangnya yang tenang datang bergatian. Menikmati pemandangan itu saya jadi teringat lagu campursarine mbokdhe Yati “Byak byuk byak, banyu tinelar, ora jemu jemu karo mesem ngguyu, ngilangake roso lungkrah lesu”. Hehe.. Tapi memang bagus kok pemandangannya, coba saja perhatikan bila berkesempatan naik kereta lewat jalur Pantura. Bahkan anak-anak pun sampai melongok dan berjajar jajar keluar jendela. Lalu berteriak kegirangan saat laut mendekat kearah kita.

Oke, jalur kereta sudah menjauh dari laut, malam pun sudah semakin larut. Kini saatnya memejamkan mata dan menyimpan tenaga. Sang Ketum mengatur posisi tidur sedemikian rupa agar aman sekaligus nyaman selama kami tidak ada yang terjaga. Tas carriel dan segala perbekalan diletakkan di ruang sempit di sebelah toilet, ruang yang sekaligus berfungsi sebagai Smooking Room dan ruang VIP-nya Gembez alias Tinton Suryahadinata. Semua tertidur, penumpang lain pun banyak yang sudah mendengkur, sampai-sampai tak terasa ketika terbangun kami sudah sampai di Jawa Timur.

Tunggu lanjutan ceritanya ya…

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s