RSS

MAHAMERU – Chapter 2: Jelang Keberangkatan (Sebuah Sisipan).

30 Jun

MAHAMERU – Chapter 2: Jelang Keberangkatan ( Sebuah Sisipan).

Matahari sudah beranjak tinggi, katika rombongan yang berangkat dari jakarta siap bertolak menuju stasiun Senen untuk memulai perjalanan dengan kereta. Seremonial pelepasan dan doa bersama ala Stapala dipimpin oleh Bonju tanpa menunggu kehadiranku. Blip..blip..blip..blip, one messege received. “Ndang neng posko Plok ki wes meh do mangkat neng stasiun”, pesan singkat dari kace. Terpakasa ku urungkan niat untuk mandi meski sudah dua hari terakhir badan kurusku ini tak tersentuh air. Eleueleuuu.. meh ra adus pirang ndino iki reeeek..!!

Dengan secepet kilat ku gowes sepeda Change menuju posko Stapala. Dan benar saja, Jupret, Change, Gembes, Kace, Balung dan Palpi sudah bertolak ke arah jalan Ceger. “Jaaaaambu, ditinggal tenan aku”, umpatku. Setengah berlari kususul mereka, lumayan capek juga. Ternyata merekapun kesal menungguku yang tak kunjung tiba, haha, maap Sod… Untungnya kawan-kawan ini masih bersabar menunggu sambil mencari angkot yang menuju arah Cipadu.

Dengan ongkos Rp 2.500,- per orang kami sampai di pertigaan Kreo, dilanjutkan dengan menyetop bus patas AC “P44” Jurusan Ciledug-Senen (dari kreo ke senen tarif standar Rp 6.000,- per orang). Sengaja kami berangkat lebih awal untuk menghindari macet Jakarta, sehingga sampai di terminal senen kurang lebih satu jam saja.

Whuuuussss…!!

Sesampainya di loket pintu utara, wajah Jupret mendadak kecewa, “Nopo pak?”, “Tiket tempat duduke entek dab..!!” jawabnya singkat. Yowez piye meneh?. Satu satunya kereta ekonomi yang langsung menuju malang adalah kereta “Matarmaja” (kereta yang identik dengan Aremania). Entah kebetulan atau hanya karena ulah para calo yang kongkalikong dengan petugas loket yang memborong tiket semau mereka, tiket di hari Rabu yang biasanya relatif lebih sepi itu baru jam 12 siang sudah kehabisan tempat duduk katanya.

Sebenarnya ada alternatif lain yaitu kereta yang menuju Surabaya, dari surabaya baru kita naik bus ke Malang. Tapi opsi itu batal dipilih karena dirasa cukup merepotkan juga bila harus nyambung-nyambung kendaraan, dan juga sang bendahara perjalanan sudah terlanjur membeli “tiket berdiri” untuk kami ber tujuh. Harganya tetap sama dengan tiket biasa, sekitar lima puluhan ribu per kepala. (angka tepatnya saya agak lupa). Ahhhh, kereta rakyat, sarana transportasi yang selalu menjadi pilihan utama masyarakat kelas menengah kebawah dan juga mahasiswa seperti kita. Tapi kenapa ya orang susah selalu dibuat lebih susah.

Pelajaran nomor #dua: “Jika anda memilih menggunakan jasa kereta api sebagai pilihan sarana transportasi, apalagi untuk perjalanan panjang dan juga berombongan, kalo nggak mau kehabisan tempat duduk dan berhadapan dengan calo-calo yang dengan bebas dan tenangnya berkeliaran di area stasiun, sebaiknya tidak membeli tiket di hari H. Sekarang tiket kereta ekonomi juga bisa dipesan (reservasi) sejak seminggu sebelumnya kok”. CMIIW.

#eh, pelajaran yang nomor satunya apa ya..??


 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s