RSS

The Journal: STAPALA Leuser Expedition 2007

01 May

THE JOURNAL: STAPALA LEUSER EXPEDITION

Sekedar share, catatan perjalanan ini merupakan catatan pendakian yang dilakukan oleh senior-senior kami di STAPALA sekitar tahun 2007an. Sebuah ekspedisi yang butuh perencanaan dan persiapan yang matang. Penuh perhitungan, dan denger nama gunung Leuser sendiri sudah bikin bulu kuduk merinding !!

***

Hari ke-1, Sabtu, 25 Agustus 2007
( Base Camp Kutapanjang – Tobacco Hut )

Akhirnya tiba juga hari dimulainya ekspedisi pendakian Gunung Leuser. Tim atlet Stapala yang baru tiba hari Jumat lalu sudah bersiap-siap untuk menempuh perjalanan ini. Tim pendaki Stapala terdiri dari 4 orang yaitu Jatmiko, Reman, Vjay, dan Gamex serta Pak Ali, penduduk setempat yang menjadi guide kami. Sabtu pagi itu cuaca mendung, gerimis rintik-rintik, namun tentu saja tak menyurutkan semangat kami untuk segera memulai ekspedisi ini yang direncanakan akan menempuh 13 hari.

Enam belas paket logistik untuk 16 hari, tenda, peralatan memasak, dan perlengkapan pendakian, dan barang-barang pribadi kami bawa. Jadilah ransel carrier kami sungguh besar dan membumbung tinggi, masih ditambah pula daypack yang akan disandang di depan.
Pukul 08.15 kami bertolak dari rumah Bang Kotar, seorang polisi hutan yang dengan baik hati mempersilakan rumahnya sebagai tempat base camp kami. Kami diantar naik pick up oleh Bang Kotar, bersama kami juga ikut Kadal & Udik (tim basecamp SLE’07), Pak Salam dan Pak Umar penduduk setempat serta Mas Febra (stapala angkatan ’91) yang datang dari Sabang bersama Bang Izan untuk ikut melepas keberangkatan tim.

Mobil kijang pick up meluncur dengan mulus di jalanan Kutapanjang menuju desa Penosan, setelah memasuki gerbang desa Penosan, jalan aspalnya mulai rusak dan semakin naik aspal pun berganti jalan berbatu. Cuaca bertambah bagus, yang tadinya sempat gerimis sekarang sudah cerah dan mentari mulai menampakkan sinarnya. Sawah-sawah hijau membentang di kanan kiri jalan, nampak pula barisan bukit-bukit Gunung Leuser yang terlihat menawan diterpa cahaya matahari pagi. Udara begitu segar aroma pegunungan membuat kami sudah tidak sabar untuk segera mendaki gunung tertinggi di Bumi Nangroe ini.

Di tengah jalan mobil tiba-tiba berhenti, kami semua turun. Kap mobil pun dibuka untuk mengetahui apa yang terjadi. Setelah dicek ternyata bensinnya sudah tiris. Pak Salam langsung melakukan kontek-kontek dengan warga di kutapanjang. Setelah beberapa menit, datanglah mobil pick up lain dan kami semua pun berganti mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Perjalanan dilanjutkan, jalanan berbatu kini sudah berganti jalan tanah dan rumah –rumah penduduk sudah mulai jarang. Sawah-sawah berganti dengan kebun-kebun penduduk. Dan akhirnya sampailah di ujung jalan, mobil hanya bisa mengantar sampai di situ saja, kami semua turun. Di situ terdapat bungalow milik Pak Sabili, di sekelilingnya tampak pohon-pohon pinus, ada juga kebun tanaman-tanaman kecil, suasana begitu asri, tampak juga lembah dan bukit yang hijau di atas sana. Dari sinilah tim akan memulai berjalan untuk mendaki. Sebelum berangkat jalan, kami berkumpul untuk berdoa terlebih dahulu memohon keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT. Mas Febra memberikan wejangan kepada tim pendaki untuk berhati-hati dan menjaga kekompakan selalu. Bahwa pulang dengan selamat adalah yang terpenting.
Setelah berpamitan dengan yang lain, yaitu Bang Kotar, Pak Salam dan beberapa penduduk setempat, kami bersiap berangkat jalan. Tak lupa berfoto dulu sebelum berangkat. Jam menunjukkan pukul 09.05, kami memulai perjalanan pendakian. Selain empat orang tim pendaki dan guide Pak Ali, ikut juga Udik, Kadal, Mas Febra, Bang Izan, dan Pak Umar menyertai kami sampai nanti di Tobacco Hut.

Medan langsung dimulai dengan menuruni bukit menuju lembahan yang cukup curam. Jalan setapak berbatu sempit dengan jurang menganga di sebelah kanan jalur. Di sinilah insiden terjadi. Dikarenakan beban yang dibawa berat dan mungkin masih dalam proses penyesuaian, Gamex terpeleset sampai jatuh ke depan. Melihat kejadian itu, Jaed bermaksud dengan sigap menolong Gamex, namun karena kurang hati-hati dan sedikit tergesa, Jaed kehilangan keseimbangan. Ransel carriernya miring, membuat tubuhnya menjadi oleng ke kanan yang mana di situ jurang. Grasak, grasak, gubrak….!!, Jaed terjungkal ke jurang. Ia terguling-guling beberapa meter sampai akhirnya terhenti, ia berhasil berpegangan pada rumput-rumput. Jaed berteriak, “Tenang,tenang, aku rak popo” (tenang,tenang, aku gak kenapa-kenapa). Sementara itu saat mulai terjungkal tadi, Pak Umar langsung mengejar jatuhnya Jaed. Jaed dibantu bangun oleh Pak Umar dan ransel carriernya dibawakan Pak Umar naik kembali ke jalur. Sesampai di atas kondisi Jaed dicek, badannya lecet-lecet, tapi katanya tidak apa-apa, masih bisa lanjut jalan.

Pendakian dilanjutkan, masih menuruni bukit sampai akhirnya bertemu sungai yang cukup lebar. Kami meniti sebuah batang kayu untuk menyeberangi sungai tersebut. Menyeberanginya cukup aman karena terdapat juga pegangan tangan di sisi kanan, tapi tetap harus menjaga keseimbangan, apalagi dengan bawaan ransel carrier yang kira-kira beratnya 30 kg itu. Setelah melewati sungai, jalan relatif datar. Pohon-pohon besar banyak dijumpai, kita sudah mulai masuk hutan.
Berjalan lagi sebentar sampailah kita di kawasan Sinebuk Green. Di sini ada 4 buah bungalow yang memang disewakan dengan tarif Rp 50.000,00 semalam, ada juga kamar mandi dan WC. Suasana di sini sungguh asri. Di sebelah kiri mengalir sungai yang jernih, ada pula taman bunga berwarna-warni, batu-batu besar, dan rimbunnya pepohonan. Suara gemuruh air, kicauan burung, dan suara binatang-binatang hutan yang lain, menjadi irama alam yang sangat menyejukkan hati.
Setelah 15 menit beristirahat sambil menikmati indahnya suasana, perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini medan mulai menanjak, kami berjalan melipir bukit. Jalan tanah yang kami lalui saat itu cukup licin. Keadaan di sini memang lembab, dengan vegetasi hutan heterogen yang lebat.

Kembali kecelakaan terjadi. Saat itu jalan menurun, jalur sangat sempit, di sebelah kiri adalah jurang, kami berjalan dengan merambati tanaman di sebelah kanan. Tiba-tiba terdengar suara, “sroot..,grusak grusak grusak…”. “Berhenti ada yang jatuh….” Udik ternyata yang jatuh. Tanaman yang dijadikan pegangan oleh Udik tercabut, iapun terhempas ke bawah dengan posisi kepala di bawah. Ia terperosok dengan menghajar tanaman-tanaman semak berduri, sampai akhirnya terhenti karena tersangkut di pohon. Cukup dalam juga Udik terjatuh, sekitar 8 meteran di jurang curam yang ditumbuhi semak tersebut. Namun syukur Udik masih sehat, hanya lecet-lecet saja terkena duri-duri. Dengan dibantu Kadal, Udik berhasil naik kembali ke jalur pendakian. Perjalanan dilanjutkan kembali. Dua kejadian itu menjadikan semua untuk lebih hati-hati.

Melintasi hutan Sinebuk sungguh menyenangkan. Vegetasi hutan heterogen dengan pohon-pohon yang rindang, udara sejuk dan terlindung dari panasnya matahari. Terdengar juga suara-suara monyet, burung-burung, serangga hutan, dan kata Pak Ali, salah satu dari suara tersebut adalah suara orang utan. Namun saat itu yang kita jumpai hanyalah burung-burung dan sesekali terlihat monyet.

Selepas hutan Sinebuk kita masuk ke kawasan yang disebut Tobacco Hut. Vegetasinya sudah mulai terbuka, tidak ada lagi pohon-pohon rindang, hanya padang rumput, tanaman semak dan alang-alang.. Pemandangannya terbuka, dapat terlihat rumah-rumah penduduk di bawah sana, serta bukit dan lembah-lembah yang elok.
Tobacco Hut adalah gubug yang dibuat untuk beristirahat para petani tembakau. Namun sekarang kebun tembakaunya sudah tidak ada lagi. Kebun tembakau tersebut telah rusak saat terjadi konflik Aceh-GAM beberapa tahun lalu. Dahulu ada beberapa gubug, namun kini hanya tersisa dua buah saja yang masih berdiri, sementara yang lain telah habis dibakar. Gubug yang terbuat dari kayu dan bambu tersebut berbentuk seperti rumah panggung. Terdapat pula sumber air mengalir sekitar 20 meter dari situ. Di sekitar situ juga nampak kerbau-kerbau liar yang cukup banyak. Banyak pula tanaman-tanaman penduduk seperti alpokat, jeruk lemon, bahkan kita dapatkan jeruk yang seperti jeruk Bali.

Di gubug tersebut kami beristirahat selama sekitar satu setengah jam, kita makan siang, sholat. Dan di sinilah rombongan berpisah. Tim pengantar hanya sampai sini, lalu akan kembali lagi ke basecamp. Pukul 14.10 tim pendaki pun melanjutkan perjalanan. Baru berjalan beberapa meter hujan turun namun kami tetap lanjut jalan. Tim berjalan melambat menembus hujan, jalur juga menanjak sampai kami menemui gubug lagi, masih di kawasan Tobacco Hut juga. Kami beristirahat dan berteduh. Pak Ali menyarankan tim untuk ngecamp di sini saja karena diperkirakan akan terlalu malam untuk bisa sampai ke Simpang Angkasan dengan kondisi seperti ini. Selain itu juga tidak ada tempat camp lagi diantara gubug ini sampai Simpang Angkasan. Akhirnya diputuskan untuk ngecamp di sini walaupun dijadwalkan pada hari pertama ini kita akan ngecamp di Simpang Angkasan. Gubug ini hampir sama dengan gubug yang di bawah tempat kita istirahat makan siang tadi, hanya saja lebih kecil dan sumber airnya hanyalah air yang menggenang. Kondisinya juga tidak sebagus gubug yang di bawah dimana ruangan yang berada di atas, lantai dan dindingnya sudah pada bolong, sangat riskan untuk dijadikan tempat kami berlima tidur. Kamipun mendirikan satu buah tenda saja kemudian langsung membuat api untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk memasak nasi. Jarak gubug ini dengan gubug yang di bawah tadi tidaklah terlalu jauh, kira-kira 20 menit. Gubug ini memang sering digunakan Pak Ali untuk beristirahat saat menggembalakan lembunya di sini. Pak Ali mengambil periuknya yang ditinggalkan di sini untuk memasak nasi.

Hari ke-2, Minggu, 26 Agustus 2007

( Tobacco Hut – Bipak 1 / Jambur 1 )
Setelah semalam tidur nyenyak dan beristirahat cukup panjang, pagi ini kami bangun dengan kondisi fresh. Langsung saja Gamex sebagai juru masak tim membuat sarapan untuk semuanya. Setelah selesai makan dan sudah beres packing semuanya, kami mulai pendakian hari ini dengan target sampai di Bipak 1/ Jambur 1. Pak Ali berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan, yang lain mengikuti di belakang. Perjalanan dimulai dengan menyusuri padang yang ditumbuhi alang-alang selama sekitar 10 menit, kemudian barulah menemui pintu hutan.
Jalur setelah masuk hutan tersebut sangat terjal dengan kemiringan kira-kira sampai 700. Kami berjalan kepayahan dengan beban seberat itu. Berjalan perlahan dan mencoba terus mendaki. Namun treknya memang sungguh berat, rata-rata kami beristirahat setiap 15 menit jalan, itu juga istirahat di kondisi medan yang miring. Kata Pak Ali memang jalur paling berat adalah dari Tobacco Hut sampai ke Pucuk Angkasan. Selain trek yang terjal, beban yang dibawa juga masih banyak. Di tiga hari pertama ini sungguh tubuh akan diuji.
Vegetasi hutan heterogen yang cukup lebat. Tanaman-tanaman seperti paku-pakuan, pandan hutan, pakis raja, dan pohon-pohon besar banyak dijumpai. Sedangkan satwa yang kami temui hanyalah burung-burung kicau kecil. Namun kita masih mendengar suara-suara monyet di kejauhan. Setelah empat setengah jam mendaki, sampailah kemudian di Simpang Angkasan. Ada persimpangan jalur, yang ke kiri adalah jalur naik sedangkan yang sebelah kanan adalah jalur turun yang menuju Kampung Bui. Di sini bisa digunakan untuk tempat ngecamp, terdapat sumber air genangan di sebelah kiri. Kami beristirahat melepas lelah yang sangat setelah dihajar tanjakan-tanjakan yang super menguras tenaga tadi. Kami membuka bekal makan siang snack berupa biscuit dan coklat.
Sehabis satu jam beristirahat, pendakian lanjut lagi. Kita langsung kembali disambut tanjakan terjal dan panjang. Jalur berupa tanah yang banyak ditutupi daun-daun yang berguguran, banyak juga kayu-kayu melintang, sehingga harus hati-hati agar tidak tersandung. Memasuki ketinggian 2500an meter, vegetasi mulai berganti. Sekarang suasana sedikit terbuka, dengan hanya pohon-pohon beranting kecil, kitapun bisa melihat pemandangan bebas ke bawah sana. Nampak pohon dengan daun-daun kecil yang berwarna-warni, merah,orange,hijau. Dan yang aneh yaitu tumbuhnya lumut-lumut di pohon dan juga di tanah, dengan warna yang beragam. Ada yang hijau tua, hijau muda, dan coklat kemerahan. Banyak juga terlihat burung-burung kecil yang indah beraneka warnanya. Sebentar kemudian tibalah kita di Bipak 1 / Jambur 1. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.15, kami segera mendirikan tenda karena langit sudah mendung. Benar saja tak lama hujan mulai turun. Kamipun bergegas memasukkan barang-barang ke dalam tenda. Dua tenda kami dirikan ditambah flysheet yang dipasang diantaranya untuk menjadi teras sebagai untuk tempat memasak.
Gamexpun langsung menata peralatan memasak sementara yang lain merapikan barang-barang di dalam tenda. Minuman hangat selau menjadi pembuka, teh manis dan susu coklat panas sungguh nikmat. Sorepun berganti malam, kegiatan kami juga hanya di dalam tenda. Pendakian memang dibatasi sampai sore hari saja. Selain agar jalurnya terlihat jelas, juga untuk menghemat tenaga. Makan malam sudah pasti, racikan mas Gamex dengan citarasa istimewa. Faktor citarasa sangat berpengaruh, karena kalau tidak enak malah justru membuat malas makan. Tak lupa Jaed sebagai ketua tim melakukan kontek-kontek pakai HT dengan tim basecamp. Setiap jam 8 malam mengabarkan kondisi dan posisi tim pendaki. Komunikasi berlangsung lancar, ‘dapat dicopy di monitor’. Evaluasi pendakian juga jadi agenda rutin serta membahas rencana pendakian esok hari. Reman sebagai navigator melakukan ploting peta, memindahkan koordinat dan jalur yang terekam di GPS ke peta untuk mengetahui posisi dan jalur yang sudah ditempuh. Apakah cocok dengan rencana jalur dan posisi camp yang sudah diploting sebelumnya.

Hari ke-3, Senin, 27 Agustus 2007

( Bipak / Jambur 1 – Kulitmanis / Kayumanis 1 )

Kita baru start pukul 09.25, cukup siang juga. Semuanya dalam kondisi fit, kecuali sepatu Vjay yang udah mulai mangap solnya, padahal itu sepatu baru dibeli sebelum berangkat ke Leuser. Berjalan sebentar, vegetasi berganti menjadi hutan lumut, namun kondisinya tidak begitu basah dan jalurnya relatif landai. Halang rintang di vegetasi seperti ini adalah dahan-dahan pohon yang tunbuh melintang seenaknya sehingga memaksa kami berjongkok dan merangkak untuk melewatinya. Meski jalur relatif datar namun karena sering berjongkok dan merunduk ria, cukup terasa juga di badan ini.
Di perjalanan banyak dijumpai kantong semar, ada juga anggrek berwarna ungu dan bunga-bunga berwarna putih. Burung-burung kecil juga masih sering terlihat hinggap di ranting-ranting. Kami mendaki di punggungan, sesekali vegetasi sedikit terbuka sehingga kita dapat melihat di kanan kiri, kemudian kembali masuk hutan lumut lagi. Sampailah lalu di Bipak 2. Bipak 2 terletak di tengah-tengah jalur masih di dalam hutan lumut, tempat mendirikan tenda cukup sempit. Istirahat sebentar disini, kami langsung lanjut lagi untuk menuju Pucuk Angkasan.
Setelah terkungkung terus di hutan lumut akhirnya vegetasi kembali terbuka. Sekarang jalur dikelilingi pohon-pohon kecil dan tanaman-tanaman semak. Pemandangan di kanan kiri dapat terlihat yaitu jurang dan lembah. Mataharipun terasa teriknya di tengah hari ini. Sayang seribu sayang pohon-pohon di daerah ini sudah kering dan nampak gosong. Kata Pak Ali, memang dahulu di sini terjadi kebakaran yang sengaja dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab pada sekitar tahun 2000. Jalur ini terus menanjak sampai akhirnya sampai di puncak bukit, dan untuk mencapai Pucuk Angkasan ternyata masih harus naik turun dua bukit lagi. Kami terus melaju bersemangat meski saat itu kabut sudah mulai tebal. Jam tiga sore kami berhasil mencapai Pucuk Angkasan, langsung kami melakukan kontek-kontek dengan tim basecamp. Kabar telah sampai di Pucuk Angkasan dapat diterima dengan jelas oleh tim basecamp. Sembari istirahat, kami mengisi kembali botol minum dari sumber air menggenang di sekitar puncak. Kami juga menimbun paket logistik no.15 di sini. Selain untuk persediaan pulang nanti juga sangatlah berpengaruh mengurangi beban bawaan. Di puncak terdapat sebuah tugu dari semen dengan tulisan T 3353 sebagai tanda Pucuk Angkasan. Dari sini juga sebenarnya dapat terlihat pemandangan yang bagus, puncak Loser mestinya dapat terlihat, namun saat itu kabut menutupi semuanya.
Setelah cukup beristirahat perjalanan kembali dilanjutkan. Jalur mulai menurun dengan vegetasi tanaman semak dan pohon-pohon kering. Suasana sudah mulai gelap karena langit mendung. Jalur terus menurun yang kemudian masuk lagi kami ke hutan lumut. Hujan mulai turun, cukup deras. Kamipun langsung mengenakan raincoat. Trek menjadi licin terkena air hujan, kami bersusah payah karena jalur mulai nanjak lagi. Pijakan dan pegangan tangan harus tepat jika tidak ingin terpeleset. Kami terus berjuang sampai akhirnya sampai ke puncak bukit. Jalan sebentar barulah akhirnya sampai di Kayumanis 1. Dalam kondisi hujan kami bergegas mendirikan tenda. Badan menggigil, pakaian basah, jari-jaripun menjadi susah digerakkan. Tenda harus cepat berdiri.
Segera kami memperbaiki kondisi masing-masing, berganti dengan pakaian kering. Hari itu sungguh melelahkan. Hujan masih terus turun sepanjang malam. Kami mencoba menghubungi tim basecamp, namun komunikasi hanya terjadi satu arah. Kami hanya bisa mendengar tim basecamp sementara kita tidak termonitor oleh mereka.

Hari ke-4, Selasa, 28 Agustus 2007
( Kayumanis 1 – Lintasan Badak)

Pagi itu matahari bersinar cerah, langsung saja semua pakaian basah, kaos kaki, dan sepatu mencari tempat masing-masing untuk dijemur. Selain itu juga diletakkan di dekat api agar cepat kering. Pak Ali memang rutin membuat perapian dari ranting-ranting kering. Dengan begitu kami jadi bisa lebih mengirit bahan bakar dengan memasak nasi di perapian ini. Alhamdulillah kondisi tim masih sehat wal afiat, hanya saja kami mengalami masalah pada peralatan. Sepatu Vjay bertambah lebar saja mangapnya. Sementara ransel carrierku, konektor di bagian backsystemnya pecah, menyebabkan carrier menjadi melorot. Akan tetapi masih bisa diakalin dengan membuat simpul sebagai penahannya. Frame tenda kami juga mulai ada yang retak-retak, langsung saja kami plester dengan lakban.

Jam 10.00 kami mulai berangkat. Jalur langsung menurun, dan kembali masuk ke hutan lumut. Setelah turun lumayan dalam, kemudian kembali naik lagi ke puncak bukit dengan vegetasi yang terbuka lagi. Hanya tanaman semak dan pohon-pohon kering. Setelah naik turun 2 bukit, tibalah di Kayumanis 2 yang juga merupakan puncak bukit. Nampak pemandangan lembah-lembah dan bukit-bukit membentang luas, hijau rapat. Menuju Kayumanis 3 jalur hampir sama dengan saat ke Kayumanis 2, naik turun bukit. Setiap turun akan ketemu dengan rimbunnya hutan lumut dan kembali naik sampai puncak bukit. Pukul 13.18 tiba di kayumanis 3 kami beristirahat, makan coklat, kracker, serta gula jawa.

Lanjut jalan lagi menuju ke Lintasan Badak. Jalur semakin sulit kali ini. Turunan yang begitu curam, hutan lumut yang lebat dan lembab dan treknyapun licin. Harus ekstra hati-hati di sini. Banyak pohon-pohon yang melintang, tak jarang kami harus merunduk, berjongkok, dan prosotan. Yang susah adalah menjaga keseimbangan dengan beban berat carrier besar di punggung ditambah daypack di depan. Banyak yang terjatuh di sini, entah itu tersandung ranting ataupun terpeleset sampai terpelanting terbawa carrier. Pakaian menjadi basah karena gesekan dengan lumut-lumut di pohon, begitupun celana juga yang berprosotan di tanah yang basah pula.
Tiga setengah jam kami berjibaku menuruni jalur ini sebelum akhirnya sampai juga di Lintasan Badak. Syukur, semua ternyata masih baik-baik saja, hanya tubuh yang lelah dan sedikit memar terkena kayu. Langsung saja tenda kami dirikan dan segera beristirahat.

Malam itu kami makan nasi uduk, sarden, ikan asin, masih ditambah oatmeal sebagai makanan pembuka. Jatah beras hari itu juga ditambah dengan yang dibawa Pak Ali. Kami memang sangat lapar. Selesai makan kami tak lupa melakukan evaluasi, ploting jalur, dan berkomunikasi dengan tim basecamp. Namun komunikasi sudah tidak dapat kami lakukan lagi karena sulitnya sinyal. Sinyal komunikasi lancar hanya sampai di Pucuk Angkasan, otomatis sejak saat itu kami terputus hubungan dengan tim basecamp. Padahal kami juga sudah menggunakan repeater dari RAPI, namun kami hanya bisa mendengar tanpa bisa dimonitor oleh yang lain.

Hari ke-5, Rabu, 29 Agustus 2007
( Lintasan Badak – Blangbeke )

Semua langsung sudah sibuk menata jemuran masing-masing. Kami memang membawa sedikit baju ganti untuk meringankan beban. Pakaian jalan, pakaian tidur dan pakaian cadangan satu stel sudah cukup. Pukul 09.30 kami mulai jalan, tujuan hari ini adalah sampai di Blangbeke. Jalur masih menyusuri hutan lumut yang lebat dan lembab serta tanah yang licin. Treknya juga curam, tapi kali ini naik turun. Hati-hati pula terhadap sulur rotan yang melintang di tanah. Meskipun kecil tapi sungguh kuat. Kalau tersandung ini bisa-bisa terjungkal. Terkadang juga kita harus melintas di atas pohon-pohon tumbang. Memangul beban berat sungguh butuh kekuatan keseimbangan, jangan lengah jika tak ingin terperosok. Memilih pijakan yang tepat, yang benar kokoh dan stabil. Pohon-pohon yang melintang lebih bervariasi, di kondisi jalur naik bahkan kita harus sambil merangkak dan bahkan sedikit merayap.

Akhirnya kami tiba di Pepanji setelah 3,5 jam jalan. Pepanji bisa untuk tempat ngecamp, namun konturnya miring dan tempatnya sempit, lembab pula. Di sini kami istirahat makan biskuit dan coklat. Paket logistik no.14 kita timbun di sini.
Setengah jam istirahat, langsung lanjut jalan lagi. Jalur masih di dalam hutan lumut yang lebat, dan tetap naik turun, tidak jauh beda dari yang menuju Pepanji tadi. Setelah lama terkungkung dalam rimbunnya hutan lumut, akhirnya ada daerah dimana bisa mendapat pemandangan yang indah, yang disebut Singamata. Di Singamata ini kita bisa melihat lembah-lembah yang indah. Nampak juga air terjun di kejauhan. Setelah Singamata, jalur kembali hutan lumut, dan masih juga naik turun.

Lama-lama jarak antar anggota tim kian merenggang. Pak Ali jauh di depan, disusul Gamex. kemudian Vjay dan Jaed, sedangkan aku tertinggal jauh di belakang. Kami biasanya saling menggunakan kode dengan berteriak “kuuk” untuk mengetahui seberapa jauh jarak yang di depan dan yang di belakang. Namun saat itu jaraknya sangat jauh sehingga tak saling terdengar lagi. Aku yang tertinggal sendirian di belakang sempat merasa frustasi dan kehilangan semangat dalam mendaki. Sepi, di tengah hutan lumut lebat seperti ini, kondisi fisikpun sudah sangat menurun. Jalurnya yang licin membuatku sering terjatuh. Untuk bangun lagi dan melanjutkan berjalan terkadang sangat berat sekali. Memang harus sedikit dipaksa untuk terus berjalan.
Dari Pepanji tadi memang ditargetkan untuk jalan lebih cepat agar bisa mencapai Blangbeke tidak sampai malam hari. Ternyata memang benar kami kemalaman. Pak Ali tiba dahulu di Blangbeke sekitar jam enam sore, disusul Gamex, kemudian Vjay dan Jaed setengah jam kemudian. Sedangkan Aku baru tiba jam tujuh malam. Hari itu merupakan pendakian terlama dari hari-hari sebelumnya.

Malamnya diadakan evaluasi mengenai kejadian tadi. Kita tidak sepatutnya saling meninggalkan yang lain dalam jarak yang tidak terpantau. Kondisi seperti itu jelas kurang baik karena jika terjadi apa-apa mungkin yang lain malah tidak tahu. Memang tempo dan cara mendaki berbeda-beda. Ada yang jalannya cepat dan ada pula yang pelan-pelan namun jarang istirahat lama-lama. Kita harus bisa saling memahami satu sama lain.

Hari ke-6, Kamis, 30 Austus 2007
( Blang Beke – Kolam Badak )

Blangbeke merupakan padang rumput berbatu yang luas. Blang adalah bahasa Gayo yang artinya padang rumput, sedangkan beke adalah nama sejenis tumbuhan, namun kata Pak Ali tumbuhan itu kini sudah tidak ada. Tempat ngecampnya berada di tengah jalur dan bisa untuk beberapa tenda. Sumber air berada di sebelah kiri sekitar 10 m dari jalur. Air genangan di sini sangatlah bersih. Berbeda sekali dengan air di sumber-sumber air sebelumnya yang warnanya agak kecoklatan.

Pagi itu cuaca di luar tenda sudah berkabut. Setelah sarapan dengan nasi kuning, korned,abon, ditambah susu dan teh hangat, kami segera packing dan bersiap berangkat. Pukul 09.20 kami mulai pendakian hari ini. Kami begitu bersemangat melintasi padang rumput itu, pemandangan terbuka ke segala arah. Jalur pertama datar dulu baru kemudian mulai turun ke lembah dan menyeberangi sungai kecil. Kami naik turun bukit dan total menyeberangi 2 sungai kecil, satu sungai sedang yang lebarnya 4m sebelum bertemu dengan Sungai Alas. Penyeberangan basahpun dilakukan. Menyeberangi Sungai Alas yang lebarnya sekitar 10 m. Saat itu tinggi air mencapai lutut, kamipun berjalan pelan-pelan agar tidak tergelincir batu. Setelah menyeberang dan kemudian naik lagi, ada tempat camp yang cukup luas di sebelah kiri jalur. Di sini kami istirahat sambil mengeringkan sepatu dan kaos kaki yang basah kuyup.

Perjalanan dilanjutkan dengan masih meyusuri padang rumput. Jalan relatif terus menanjak hingga kemudian vegetasi berganti menjadi tanaman semak perdu dan pohon-pohon kecil. Kita harus menerjang ranting-ranting di kanan kiri jalur yang begitu rapatnya. Berjalanpun dengan posisi tangan melindungi muka agar tak terkena ranting.

Di tengah perjalanan menuju Kolam Badak, kami bertemu dengan rekan-rekan Palaba-Jakarta. Kamipun berhenti dan mengobrol banyak, terutama tentang Leuser. Hari itu adalah hari ke-10 mereka. Hari ke-8 mereka berhasil mencapai Puncak Loser namun mereka langsung turun, tidak lanjut ke Puncak Leuser. Mereka memang merencanakan 12 hari pendakian. Kira-kira sejam kami mengobrol, akhirnya kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dan hujan pun turun, kami langsung mengenakan raincoat dan terus melanjutkan jalan. Perlahan tapi pasti, tibalah kami di Kolam Badak dan dengan segera mendirikan tenda. Kondisi kontur di sini agak miring, kamipun membuat selokan agar air tidak mengalir menggenangi tenda. Sumber airnya berupa kolam besar yang banyak ditumbuhi lumut. Konon di sini dulu adalah tempat berendamnya badak.

Hari ke-7, Jumat, 31 Agustus 2007
( Kolam Badak – Camp “Ujan” )

Rencana pendakian hari ini adalah menuju ke Bipak Kaleng. Cuaca cerah tak terhalang kabut, kami bisa menikmati pemandangan indah terbuka dari tempat camp. Pukul 09.17 kami mulai start jalan lagi. Melewati semak perdu yang rapat kemudian masuk lagi hutan lumut. Banyak sekali halang rintangnya, pohon-pohon melintang rendah, mengharuskan.kami berjalan merangkak dan sesekali agak merayap. Keluar hutan lumut langsung tanjakan terjal. Susahnya lagi adalah tanahnya licin, sulit untuk jadi tumpuan. Mencoba terus naik dengan mencari pegangan pada tumbuhan-tumbuhan semak. Pelan-pelan dan hati-hati agar tidak terpeleset dan merosot jauh ke bawah.

Setibanya di puncak bukit, perasaanpun lega, langsung saja kami mencari tempat untuk beristirahat. Dari sini kita bisa melihat betapa rapatnya vegetasi di bawah sana. Lanjut jalan lagi menyusuri punggungan dengan vegetasi semak perdu yang rapat. Tubuh selalu bergesekan dengan tumbuhan-tumbuhan di kanan kiri jalur. Pungungannya juga berkontur naik turun, namun tidak terlalu curam. Semakin lama punggungannya semakin tipis, kanan kiri adalah jurang. Di sini kabut mulai turun menutupi pemandangan yang sebetulnya terbuka ke segala penjuru, sayang sekali.

Di tengah jalan kami sempat melihat kotoran binatang, tapi entah tak tau kotoran apa. Warnanya abu-abu, bentuknya panjang seperti kotoran kucing. Kata Pak Ali di daerah sini banyak landak, mungkin yang tadi adalah kotoran landak. Kami juga menemukan jejak seperti kaki sejenis kambing yang kami tengarai sebagai jejak kambing hutan.

Hujan turun cukup lebat, kami berhenti sebentar untuk mengenakan raincoat dan langsung jalan lagi, masih menyusuri punggungan tipis. Akhirnya pukul 12.57 sampailah di Bipak 3. Keadaan di Bipak 3 sangat terbuka, dengan vegetasi padang rumput. Tidak berlama-lama di situ karena lebatnya hujan, kami hanya mengeluarkan logistik no.13 untuk ditinggal, mendobel plastiknya dan menutupinya dengan seng-seng yang ada di sana. Setelah itu kami langsung lanjut jalan.

Kami menyusuri padang rumput dalam hujan. Langkahpun kami percepat karena medannya relatif datar. Logistik yang sudah banyak berkurang sangatlah berpengaruh, ransel carrier sudah tidak setinggi kemarin-kemarin, namun daypack masih kami bawa di depan. Meski cukup menggangu dalam jalan, apalagi saat medan naik turun, daypack bermanfaat untuk menyimpan barang-barang kecil dan barang lain yang sering kita butuhkan selama perjalanan.

Jalur kembali memasuki hutan lumut. Walaupun tidak terlalu lama hutan, namun kondisi jalur tetap sulit, pohon-pohon masih melintang sembarangan, merunduk jongok, merangkak masih tetap kami alami. Keluar hutan lumut, bergantilah menjadi semak perdu lagi. Dan lalu kembali padang rumput.
Pak Ali berjalan paling depan, kami sering ketinggalan jauh malah. Namun apabila ada persimpangan jalan, Pak Ali selalu memberikan tanda medan. Aku yang tertinggal di belakang, melihat di kejauhan sana tampak Gamex melambai-lambai. Tampaknya aku disuruh agar lebih cepat. Kupercepat langkahku dan segera kutanyakan ada apa. Ternyata Pak Ali sudah kedinginan dan meminta untuk ngecamp di sini saja. Saat itu hujan masih mengguyur kami. Ponco yang dikenakan Pak Ali memang agak bocor. Dengan segera kami membangun tenda.

Tempat camp kami terletak di puncak bukit, terbuka, tempatnya cukup datar. Sumber airnyapun ada berupa air yang tertampung di lubang-lubang di tanah. Dari situ kira-kira 2,5 jam lagi baru sampai di Bipak Kaleng. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.15. Kita harus memperhatikan kesehatan dan kondisi fisik daripada terus memaksakan target. Pak Ali memang tampak lemah saat itu. Kopi panas, energen langsung segera dibuat untuk menghangatkan tubuh. Saat itu suhu udara mencapai 100 celcius. Pakaian-pakaian basah dilepas, ganti dengan pakaian hangat. Nasi, sosis dan ikan asin sangat menenteramkan perut dan hati ini.

Hari ke-8, Sabtu, 1 September 2007
( Camp “Ujan” – Bipak Batu )

Jam 6 pagi kami sudah bangun, melongok ke luar tenda, pemandangannya indah sekali. Namun sayang tak bertahan lama, kabut mulai datang dan menutupinya menjadi serba putih. Kebiasaan kami di pagi hari yaitu buang air besar. Bergantian kami mencari tempat yang nyaman untuk melakukan ritual penting tersebut. Mandipun praktis tidak kami lakukan, paling hanya mengelap badan saja. Sedangkan gosok gigi pastilah, namun tidak menggunakan pasta gigi. Kebersihan badan harus dijaga agar tubuh tidak gatal-gatal yang nantinya malah bisa menghambat perjalanan.

Kami mengatur packing kembali, barang-barang yang sekiranya tidak dibutuhkan lagi kami tinggal di sini. Pakaian-pakaian basah kami tinggal, kami memutuskan saat jalan langsung pakai raincoat saja. Tabung-tabung gas kosong, batu baterai bekas, pasak tenda yang terlalu banyak, dan barang-barang rusak dimasukkan polybag untuk kemudian ditinggal di sini. Lumayan untuk meringankan beban.

Kondisi Pak Ali sudah kembali sehat, anggota tim yang lain juga sehat. Pukul 09.40 kami memulai pendakian hari ke-8. Kami berjalan dengan semangat melewati padang rumput yang relatif menurun terus. Kalau jalurnya begini kita pasti lebih cepat jalannya. Kemudian padang rumput berganti dengan semak perdu. Jalurnya naik turun bukit, entah berapa bukit yang sudah kami daki, kami sampai malas menghitungnya. Setelah melintasi semak perdu, kembali masuk hutan lumut. Lumutnya yang tebal akan membuat pakaian basah, oleh karena itu memakai raincoat adalah pilihan yang tepat.

Selepas hutan lumut, jalur kini melewati semak perdu lagi. Tumbuhan-tumbuhan semak yang tingginya sekitar sebadan itu ranting-rantingnya menjorok ke jalur. Badanpun harus disiapkan untuk menerjangnya. Yang berjalan di belakangnya juga harus hati-hati menjaga jarak jangan terlalu dekat jika tidak ingin tersabet ranting.

Pukul 11.49 kami beristirahat, si Jaed sudah tak tahan lagi untuk buang hajat. Tadi pagi sepertinya ia memang belum sempat untuk setor. Di jalan tadi, kami menemukan kotoran binatang yang mirip dengan yang kami jumpai sebelumnya. Jejak kambing hutan juga kami temui kembali. Saat itu kami berada di puncak bukit dengan vegetasi padang rumput. Keadaannya hampir sama dengan tempat penemuan sebelumnya, berarti memang di daerah sinilah habitat mereka. Selain itu kami juga melihat bunga-bunga berwarna-warni. Ada yang merah, putih dan kuning. Kami tidak tahu jenis apa itu. Kata Pak Ali bunga tersebut namanya adalah bunga ‘geseng’.

Setelah Jaed selesai, kamipun melanjutkan perjalanan lagi. Jalur masih naik turun bukit dengan vegetasi padang rumput yang kemudian berganti semak perdu lagi. Hari itu cuaca cerah, namun kabutnya cukup tebal. Jam setengah satu kami tiba di Bipak Kaleng, setelah terakhir tadi menuruni turunan panjang dimana sebelah kanan adalah jurang. Kami tak bisa melihat ke bawah jurang tersebut karena kabut sudah menutupinya. Sedangkan di sebelah kiri jalur adalah lereng-lereng landai yang ditumbuhi padang rumput.

Di Bipak Kaleng kami beristirahat, makan biscuit dan coklat. Untuk makan siang memang kami siapkan snack saja agar tidak terlalu lama. Dua puluh menit beristirahat lalu kami lanjut jalan lagi. Treknya naik sebentar kemudian masuk hutan lumut lagi. Di balik treknya yang susah, hutan lumut memiliki nuansa tersendiri yang menyejukkan. Suasananya yang basah, lembab, serba hijau, bisa membuat kita merenungi betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Hutan lumut lebat seperti ini mungkin yang menjadi ciri Gunung Leuser, sulit menemukannya di gunung-gunung lain.

Trek di hutan lumut juga naik turun, cukup curam juga. Setiap naik tinggi sampai puncak bukit, terbukalah vegetasinya. Saat turun kembali masuk lumut lagi. Sempat juga terlihat burung berwarna hitam meloncat dari dahan ke dahan di hutan itu. Selepas keluar hutan lumut, kini menyusuri padang rumput. Gerimis rintik-rintik menyertai kami, kabutpun bertambah tebal, membuat jarak pandang menyempit. Jalur lumayan landai dan vegetasi terbuka, kemudian turun sebentar baru sampailah di Bipak Batu. Pukul 16.20 kami sampai di Bipak Batu, hujan sudah mereda. Pak Ali telah nampak sibuk mencari kayu-kayu untuk membuat api. Kulit kayunya yang basah dikelupas terlebih dahulu. Pak Ali juga membawa kayu tusam, sedikit saja dari cacahan kayu tusam sebagai bahan bakar untuk menyulut api.

Meski hujan telah reda, anginnya sungguh kencang. Flysheet kami dibuat terbang-terbang, tendapun juga bergoyang-goyang. Di sini daerahnya memang terbuka, tidak ada pelindung dari terpaan angin. Suara angin terdengar menderu-deru, kabut putih menutupi semua. Kami hanya di dalam tenda, ngobrol-ngorol, makan, dan berharap kondisi esok hari akan lebih baik.

Hari ke-9, Minggu, 2 September 2007
( Bipak Batu – Simpang Tanpa Nama )

Hujan. Tidak biasanya pagi-pagi begini hujan. Hari-hari sebelumnya hujan biasanya turun sore hari dan kadang-kadang siang hari juga. Alam memang susah untuk ditebak. Kondisi begini, hawanya yang dingin membuat kami agak malas keluar tenda. Kami ingin menunggu hujan reda untuk berangkat jalan lagi. Dan hujan masih terus turun, biasa kami mulai jalan jam setengah sepuluh, jam sembilan ini kami saja belum packing apa-apa. Kami terus menyusun jadwal pendakian, target awal 13 hari sudah susah untuk direalisasikan, kami merubahnya menjadi 15 hari mengingat hari pertama yang cuma sampai Tobacco Hut dan hari ke-9 ini posisi kami masih di sini, tertahan hujan dan angin kencang di Bipak Batu.

Pak Ali menghibur kami dengan bernyanyi lagu daerah Gayo, sambil menepuk-nepuk dadanya menimbulkan irama ritmis yang harmonis. Pak Ali yang orang asli Gayo ini termasuk pendiam. Bahasa Indonesia beliau juga masih patah-patah, namun kami cukup memahaminya. Moment itu kami gunakan untuk wawancara dengan Pak Ali. Di usianya yang sudah tua, beliau bilang 47 tahun, namun menurut kami sudah sekitar 60 tahunan, Pak Ali masih kuat dan gesit mendaki gunung, hebat sekali.

Siang itu kami putuskan untuk menerjang saja hujan ini, daripada semalam lagi hanya ngecamp sampai disini. Kamipun packing dalam kondisi hujan. Pukul 13.30 kami mulai jalan lagi. Target hari ini yang tadinya direncanakan sampai Camp Paya, mungkin hanya akan sampai dan ngecamp di Simpang Tanpa Nama saja, kira-kira empat jam dari sini.

Menembus hujan, kami menyusuri jalur naik turun bukit yang ditumbuhi semak. Naik turun dua bukit lalu turun curam dalam hutan lumut, ketemulah sungai. Sungai ini bernama Krueng Kluet 1. Krueng yang dalam bahasa Gayo berarti kali / sungai kecil. Kami menyeberangi sungai dengan lebar 4 meter ini, tinggi air saat itu setinggi betis. Setelah menyeberang, jalur langsung ngetrek lagi. Kemudian kembali naik turun bukit. Turun ke lembahan dan sampailah di Krueng Kluet 2. Ada tempat camp sebelum melintasi sungai ini. Namun tempatnya sempit, kondisinya miring, dan lembab pula. Krueng Kluet 2 kondisinya hampir sama dengan Krueng Klueng 1, hanya tidak selebar Krueng Kluet 1, kira-kira 3 meteran. Sepatu dan kaos kaki pastinya basah setelah nyebur tadi, tapi kami langsung lanjut jalan saja.

Selepas sungai, jalur menanjak lagi, hutan lumut yang sangat lebat. Kurang lebih tiga jam kami berada dalam hutan lumut. Treknya cenderung terus menanjak, dan hanya sesekali turun untuk kemudian naik lagi. Di tengah hutan lumut kami beristirahat, membuka cracker dan coklat batangan. Aku merasakan nuansa yang sejuk dan segar dalam hutan lumut tersebut. Suasana basahnya membuat badan ini segar meski berhari-hari tidak mandi. Lumutnya yang tebal berwarna hijau muda, tumbuh di dahan-dahan pohon dan di tanah. Empuk kalau kita memegang atau menginjaknya. Dapat terlihat pula aliran air hujan di cekungan-cekungan tanah diantara akar-akar pohon.
Keluar dari hutan lumut vegetasinya jadi terbuka, medannya pun relatif landai menyusuri semak sampai akhirnya sampai di Simpang Tanpa Nama.

Pukul 18,20 kami sampai di Simpang Tanpa Nama, hujanpun sudah reda, kami langsung mendirikan camp sebelum hari gelap. Memang ada persimpangan jalur, ke kiri menuju Puncak Tanpa Nama (3455 mdpl) dan yang lurus menuju ke Puncak Loser. Puncak yang dulunya Tanpa Nama itu sekarang sudah punya nama yaitu Puncak Syamsudin Mahmud, nama Gubernur Aceh. Di puncaknya juga terdapat tugu dari semen. Kata Pak Ali, untuk menuju kesana kira-kira perlu waktu 3 jam dengan kondisi jalur yang sulit. Puncak ini memang jarang didaki daripada Puncak Loser ataupun Puncak Leuser.

Meski malam itu tidak hujan, namun suhu udara mencapai 9 derajat celcius, dingin juga. Setiap malam kami terus mencoba melakukan komunikasi dengan tim basecamp, namun hasilnya nihil. Kami hanya bisa mendengar percakapan orang dengan Bahasa Aceh yang tidak kami ketahui maksudnya. Pak Alipun juga tidak paham Bahasa Aceh, memang Bahasa Gayo dan Bahasa Aceh sangatlah berbeda. Kami tidak bisa dimonitor oleh mereka. Sudah seminggu ini kami terputus hubungan dengan dunia luar.

Pak Ali Merindukan Cucunya

Hari ke-10, Senin, 3 September 2007
( Simpang Tanpa Nama – Puncak Loser)

Jika saja hari kemarin kami bisa sampai di Camp Paya, maka kami akan dapat menuju ke 2 puncak sekaligus yakni Puncak Loser dan Puncak Leuser. Namun kami hanya bisa sampai Simpang tanpa Nama ini, maka hari ini target kami adalah Puncak Loser lalu ngecamp, baru keesokan harinya menuju Puncak Leuser. Cuaca hari ini tampaknya bagus, semoga kami mendapatkan panorama puncak yang indah seperti yang diceritakan Pak Ali.

Sol sepatu Vjay semakin parah, hampir seluruh permukaannya lepas dari sepatu, lem-lemannya tidak kuat. Selain ditahan menggunakan gaiter, Vjay juga menggunakan rafia untuk mengikatnya. Akan sangat repot jika harus memakai sandal, sepatupun terus dipertahankan. Sepatu Gamex juga sudah terbuka jahitan solnya namun belum parah. Punya Jaed juga bermasalah, ring tempat memasukkan talinya beberapa telah lepas. Sementara sepatuku masih baik-baik saja. Pak Ali merupakan pengecualian. Beliau hanya megenakan sandal jepit namun sampai sekarangpun masih utuh dan tidak mengalami masalah.

Jam 10.00 kami mulai berangkat. Menyusuri semak perdu yang rapat, jalur juga naik turun namun tidak terlalu curam. Kami melewati suatu tempat dimana dulu di sini pernah ditemukan dua sosok mayat. Kata Pak Ali, dua orang yang meninggal tersebut adalah narapidana yang kabur dari penjara. Mereka berniat melintasi Gunung Leuser untuk sampai di Aceh Selatan, namun usaha mereka berakhir di sini karena kurangnya perbekalan dan perlengkapan. Cukup nekat sekali mereka.

Di kejauhan sana sudah tampak tebing-tebing batu Gunung Leuser, di bagian bawah juga nampak padang rumput. Pemandangan di sebelah kanan jalur juga elok, kita bisa melihat punggungan-punggungan berlapis yang hijau. Saat itu cuaca cerah sehingga semua nampak begitu indah. Jalur menurun terus sampai kami tiba di Camp Paya. Sebelum sampai di Camp Paya, kita akan melalui padang rumput. Padang rumput di sini berbeda, tanahnya berair. Tanahnya ambles jika dipijak, harus hati-hati memilih pijakan dan berjalanlah pelan-pelan jangan melompat-lompat atau berlari. Akupun pernah kejeblos, kaki kananku ambles sampai hampir selutut. Pukul 11.50 Kami tiba di Camp Paya, istirahat sebentar sambil menikmati cracker.

Kabut mulai naik, kami segera melanjutkan perjalanan. Jalurnya naik turun menyusuri padang terbuka. Hujan turun, tanahpun menjadi becek. Kemudian masuklah ke kawasan berbatu. Tapak tebing batu tinggi menjulang. Jalurnya namun tidaklah memanjat seterjal itu. Kami lewat di sisinya. Indah sekali batu-batu besar itu, sayang kabutnya menutupi. Banyak batu-batu besar berserakan seperti meteor-meteor yang jatuh dari angkasa. Batuannya runcing-runcing.Hujan bertambah deras, anginnya juga kencang sekali, terasa sekali menerpa tubuh kami. Kami berjalan sampai terhuyung-huyung. Jalur terus menanjak namun cukup landai, puncak belum terlihat, kami terus berjalan menembus hujan deras ini. Badanpun merasakan dinginnya, jari-jari tangan terasa beku, berusaha kami sembunyikan di balik raincoat.

Padang berbatu yang luas terhampar, jalur menuju puncak ditandai dengan batu-batu kecil yang ditumpuk. Setiap jarak beberapa meter ada batu bertumpuk di kanan atau di kiri jalur untuk memandu pendaki tetap pada jalur. Hal tersebut sangat bermanfaat apalagi saat kondisi hujan deras dan kabut tebal yang mempersempit jarak pandang seperti ini. Di depan terlihat sebuah tugu. Ya itulah tanda Puncak Loser (3404 mdpl). Akupun sedikit memacu langkahku untuk segera sampai puncak. Pak Ali dan Gamex sudah tiba duluan. Aku bertanya pada Pak Ali untuk memastikan kembali apa benar ini puncaknya. Syukur segera terucap bahwa kami telah sampai di Puncak Loser setelah 10 hari pendakian ini. Kami bersalaman dan berpelukan saling mengucapkan selamat.

Hujan dan angin masih sungguh deras, kondisi kamipun juga sudah ngedrop. Kami segera mendirikan tenda. Ada cekungan di balik tugu bertuliskan S 227 tersebut yang pas untuk dua buah tenda kapasitas 4 orang yang kami bawa. Jari-jari ini seperti beku, ukurannya tampak lebih besar dari biasanya, susah sekali untuk digerakkan. Membuat simpul untuk mengikat tali-tali tenda menjadi susah dan cukup lama malah. Setelah berjuang melawan dingin, akhirnya tenda bisa berdiri, segera kami semua masuk ke tenda dan memperbaiki kondisi.Tenda kamipun bergoyang-goyang saking kerasnya angin yang bertiup. Suhu udara saat itu mencpai 7 celcius.

Malam itu kami menyantap nasi goreng, mi goreng dan ikan asin yang oke punya buatan Gamex. Nasinya cukup banyak, cocok setelah perjalanan tadi. Aku melakukan ploting koordinat dari GPS ke peta. Sejauh ini tempat-tempatnya tepat. Dengan melihat peta inilah kami menentukan rencana perjalanan, ditambah membaca referensi laporan pendakian kelompok pecinta alam lain dan juga bertanya pada Pak Ali tentunya.Terdengar bunyi-bunyi aneh di luar tenda. Kamipun mengecek, ternyata ada tikus juga di sini, namun tikusnya aneh, tubuhnya bewarna abu-abu sedangkan buntutnya berwarna putih. Cukup mengganggu juga tikus-tikus ini, ia mencari-cari makanan di teras tempat kami memasak itu.

Di dalam tenda kami ngobrol-ngobrol, ditemani minuman-minuman hangat seperti kopi, susu dan teh panas. Tak lupa pula rokok, Vjay membawa 1 ons tembakau, kertas papir dan alat pelintingnya juga. Pak Ali juga membawa tembakau sendiri, namun papirnya tidaklah dari kertas seperti yang kami bawa, orang Gayo sini biasa memakai nipah untuk membungkus tembakaunya. Selain itu Pak Ali juga membawa kopi Gayo yang rasanya khas, kental, dan mantap. Kamipun saling bertukar. Kami merasakan hangatnya persaudaraan ini, saling berbagi bercerita dan bercanda. Pak Ali mengungkapkan bahwa malam itu ia rindu dengan cucunya di rumah.

Hari ke-11, Selasa, 4 September 2007
(Puncak Loser – Puncak Leuser palsu – Puncak Loser )

Pemandangan dari Puncak Loser sungguh memukau. Pagi yang cerah, langitnyapun bersih, nampak barisan bukit-bukit di sebelah timur, tampak pula Puncak Tanpa Nama, juga puncak Leuser dan pesisir pantai di sebelah barat daya, indah sekali. Tujuan kami hari ini adalah Puncak Leuser. Barang-barang kami tinggal di sini dengan tenda yang masih berdiri. Kami hanya membawa daypack saja.Pukul 08.45 kami mulai berjalan. Jalurnya menurun tajam dengan vegetasi tumbuhan semak. Perjalanan terasa lebih ringan dari sebelumnya karena memang cuma bawa daypack. Tracknya turun tajam sekitar 400 meter baru kemudian relative datar. Kami berjalan di tepi jurang yang menganga di sebelah kanan jalur. Haruslah hati-hati di sini, jangan lengah, jangan ngalamun. Ada juga beberapa bagian jalur yang longsor, oleh karena itu Pak Ali sedikit membuka jalur agak ke tengah yang lebih aman.

Di sepanjang perjalanan, kami banyak menemukan jejak binatang. Yang kami tahu jelas adalah jejak kambing hutan. Ada jejak lain pula yang berbeda, namun kami tak tahu pasti jejak apa itu.Setelah keluar dari vegetasi semak, barulah masuk ke padang rumput berbatu. Banyak juga tumbuhan kantong semar di sini. Ukuran dan warnanyapun beragam. Hari itu udara sangat panas sekali. Temperatur menunjukkan suhu sampai 350 C, berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya yang malah membuat kami menggigil.

Trek lalu menanjak, ya, kita akan menggapai puncak. Ahirnya setelah 11 hari pendakian ini sampailah di Puncak Leuser. Semua beban-beban di hati seakan luruh, terganti oleh rasa senang, syukur dan haru. Jaed langsung mengumandangkan adzan. Sungguh betapa kecilnya manusia di alam raya ini, tak pantas kita berlaku sombong dan takabur. Di sini kita kan merasakan kebesaran Sang Pencipta dengan segala ciptaan dan semua karuniaNya.Kamipun berfoto-foto, memang indah sekali pemandangan dari sini. Nampak pesisir pantai barat Sumatra, punggungan yang berlapis-lapis, lembah dan jurang, serta Puncak Loser. Kami membuka makanan dan juga menikmati sebatang rokok.

Namun ada sedikit keraguan di hati kami apakah ini benar Punck Leuser. Altimeter kami menunjukkan angka 3056 m, padahal menurut data dipeta, tinggi Pucak Leuser sekitar 3100an mdpl. Di sebelah barat daya sana kami juga melihat ada bukit lagi yang lebih tinggi. Tampak juga jalan setapak menuju puncak bukit itu, namun kami tidak melihat jalur untuk menuju ke bukit itu dari sini, ada lembah yang memisahkan. Kamipun bertanya pada Pak Ali. Kata Pak Ali ya disinilah Puncak Leuser. Setiap kali mengantar para pendaki ya hanya sampai di sini. Aku plot tempat itu pakai GPS, kesalahan kami waktu itu adalah lupa bawa peta sehingga kami tidak bisa mencocokkan koordinat puncaknya. Sempat terjadi perdebatan diantara kami, apakah lanjut menuju ke bukit tersebut padahal Pak Ali belum pernah sekalipun ke sana. Akhirnya diputuskan untuk kembali saja ke camp di Puncak Loser.

Pukul 12.45 kami berjalan kembali menuju ke Puncak Loser. Saat menuruni puncak, kami melihat ada binatang di bawah sana. Kata Pak Ali itu adalah kambing hutan. Semakin kami bertambah turun, si kambing tampaknya mengetahui keberadaan kami meski jaraknya terhitung jauh. Iapun berlari bersembunyi. Seluruh badannya berwarna hitam pekat, ukurannya tidak seperti kambing biasa, nampaknya bulunya tebal, terlihat seperti beruang malah. Saat sampai di padang rumput tempat kami melihat kambing hutan tadi, kamipun mencari jejaknya dan ternyata memang benar jejaknya ada dan sama dengan jejak-jejak yang kami temukan sebelumnya.

Kembali kami menyusuri pinggir jurang yang ternyata itu adalah tebing vertikal. Memang melewati tepi jurang ini lebih terbuka daripada lewat tengah yang harus nyasak-nyasak tumbuhan semak. Tapi tentulah harus lebih berhati-hati.Jalur pulang terasa lebih menguras tenaga, dari yang tadi pas berangkat turun terus, sekarang harus terus mendaki dari ketinggian 3000 m sampai 3400 m. Pukul 14.45 kami berhasil sampai kembali ke Puncak Loser, tenda dan barang-barang kami masih aman. Akupun langsung membuka peta dan mencari koordinat hasil plotan di puncak tadi. Ternyata berbeda! Puncak tadi bukanlah Puncak Leuser! Akupun mengecek kembali barangkali aku salah mencari koordinatnya, namun memang benar itu bukanlah Puncak yang kita tuju. Puncak Leuser terletak di arah barat daya dari titik itu di peta. Berarti benar bukit yang kita lihat kemarin adalah Puncak Leuser. Kami sepakat untuk kembali ke sana, esok hari tentunya.

Kami menghitung-hitung hari lagi, cukupkah jumlah logistic kami. Puncak Leuser yang dalam rencana kami tempuh 9 hari, kini menjadi 12 hari. Kami hanya bawa logistic untuk 16 hari ditambah logistic yang dibawa Pak Ali sendiri berupa beras dan ikan asin. Kami perkirakan itu semua akan cukup. Untuk kembali ke basecamp kami perkirakan akan kami tempuh dalam 4 hari.Malam itu begitu cerah, beda sekali dengan malam sebelumnya dimana hujan dan angin menghajar tenda kami. Bintang bertaburan di langit, banyak sekali dan tampak begitu dekat. Terlihat juga kerlip-kerlip lampu di kejauhan sana. Itu adalah lampu dari kapal-kapal nelayan yang sedang melaut di malam hari.

Kebahagiaan kami bertambah, kami dapat sinyal hp. Gamex yang membawa hp langsung sms. Posko Stapala di Jakarta menelpon kami. Betapa senangnya kami mendengar suara saudara-saudara kami lagi, setelah selama seminggu kami lost contact. Kamipun menceritakan kondisi kami. Kami juga menanyakan kabar-kabar di kampus, bagaimana dengan pengumuman IP dan kelulusan. Ada kabar buruk, beberapa teman kami ternyata tidak lulus dan harus Drop Out dari kampus dan salah satunya adalah rekan pendakian kami, Vjay. Kami berusaha agar Vjay tidak sampai down karena pendakian masih harus tetap berjalan, namun untunglah Vjay menerima berita ini dengan lapang dada.

Puncak Leuser Yang Sebenarnya

Hari ke-12, Rabu, 5 September 2007
( Puncak Loser – Puncak Leuser – Camp Paya )

Hari ini kami akan kembali untuk menuju ke Puncak Leuser yang sebenarnya. Peta tak lupa kami bawa tentunya. Kami hanya membawa daypack sementara Pak Ali cukup membawa parang saja. Pukul 08.45 perjalanan kami mulai. Jalur yang sama kami lalui seperti kemarin, tapi sempat aku sedikit kesasar. Aku tertinggal dan berjalan sendirian. Aku berjalan melipir di sebelah kanan terus, namun lama kelamaan kok aku berjalan di lereng dan terus turun. Aku berhenti sebentar untuk mengamati kondisi sekitar. Kuputuskan untuk ambil ke kiri, sedikit naik dan barulah akhirnya ketemu dengan Pak Ali dan Gamex yang sedang beristirahat di padang rumput. Tak lama kemudian ternyata Vjay juga muncul tidak dari jalur normal, ia tersesat juga tampaknya. Namun syukur semua berkumpul kembali.

Untuk mencapai puncak palsu kemarin haruslah naik bukit ambil jalur ke kanan, kami tidak melewatinya namun berjalan mengitari bukit tersebut di sebelah kiri. Kemudian jalan menurun, di seberang sana sudah nampak Puncak Leuser. Kami dapat melihat ada jalur di bukit puncak Leuser tersebut akan tetapi dari sini ke sananya tidak nampak ada bekas jalur. Jalur yang terlihat di atas bukit sana mengarah ke sebelah timur sedangkan kami dari arah utara. Kami terus maju namun yang kami temui adalah tebing. Tidak mungkin menuruni tebing terjal ini, kamipun terus berjalan ke kanan mencari lembahan yang agak landai. Pak Ali yang di depan membawa parang membuka jalur. Treknya turun curam namun tidak begitu panjang barulah kami sampai di kaki bukit Puncak Leuser. Kami menemukan jalur menuju ke puncak.

Jalur menuju puncak cukup terjal ditambah cuaca yang panas hari itu, perlahan-lahan kami terus mendaki. Pukul 11.35 sampai juga akhirnya di puncak bukit. Langsung saja diplot dan dipindah ke peta. Dan ternyata koordinatnya tepat menunjukkan Puncak Leuser. Ketinggian yang tercatat di GPS kami yaitu 3146 mdpl, sementara tinggi Puncak Leuser di peta tercantum 3119 mdpl. Hal ini memang lumrah terjadi karena keakuratan dari GPS sendiri tidak 100 %. Saat di Puncak Loser GPS kami pernah menunjukkan angka 3428 m, namun pernah juga menujukkan 3404 m. Kami yakin memang benar ini Puncak Leuser. Seketika kami langsung bersyukur. Jaed mengumandangkan adzan, kami semua hening.

Kami semua sungguh senang dan lega tujuan kami akhirnya tercapai. Ya inilah Puncak Leuser yang sebenarnya, puncaknya tidak terlalu luas, bentuknya memanjang, tidak ada tugu triangulasi, ada beberapa bendera kelompok pecinta alam lain di sini. Sayang sekali saat itu kabut sungguh tebal, sekeliling kami yang terlihat hanyalah putih. Setelah istirahat, makan, ngerokok, kami lanjut untuk jalan pulang ke Puncak Loser. Di perjalanan pulang kami mampir ke danau yang terletak di sekitar padang rumput, di sebelah kiri jalur tempatnya. Danaunya tidak begitu luas, airnya jernih dan sungguh segar sekali. Di sinilah biasanya para binatang mengambil minum. Kami berfoto juga di sini. Tiba di Puncak Loser pada pukul 15.47, kami langsung bongkar tenda dan packing untuk kemudian langsung lanjut turun ke Camp Paya. Saat itu cuaca sudah mendung dengan kabut yang tebal pula. Baru berjalan beberapa meter dari puncak, Gamex mengalami sesak napas. Langsung saja oxycan dikeluarkan dan segera dihirup Gamex. Istirahat sebentar, kondisi Gamex sudah kembali normal, kamipun melanjutkan perjalanan turun. Dalam perjalanan sempat turun hujan, namun hanya gerimis saja. Pukul 18.45 sampai di Camp Paya, kami segera mendirikan tenda.

Pendaki – Pendaki Bersandal Jepit 

Hari ke-13, Kamis, 6 September 2007( Camp Paya – Bipak Kaleng )Setelah berjuang berhari-hari dengan ikatan sana-sini, sepatu Vjay akhirnya pensiun, ia berganti memakai sandal mulai hari ini. Gamexpun juga berganti sandal, sepatunya juga jebol jahitan sampingnya. Sementara punyaku dan Jaed masih sehat sedangkan Pak Ali masih tetap dengan sandal jepitnya.Pukul 09.15 kami mulai berangkat dari Camp Paya. Di Camp Paya ini, kata Pak Ali terkadang bisa dijumpai kijang di pagi atau sore hari. Pak Alipun menunjukkan jalur kijang biasa melintas. Namun sayang kala itu kami tidak berjumpa satupun.

Setiba di Simpang Tanpa Nama, kami beristirahat sejenak sambil makan biscuit. Tak Lupa kami mengabil paket logistik no.12 dan sampah-sampah yang kami tinggal di sini tempo hari. Di sini ternyata sumber airnya kering, Sewaktu ngecamp di sini dulu padahal ada air. Memang sumber airnya cuma berupa tanah yang digali untuk menampung air hujan. Melewati kembali hutan lumut yang lebat, kali ini relative menurun meski ada naiknya juga. Di sini Vjay merasa kesusahan, sandal yang ia pakai menyebabkan ia sering terpeleset, Gamexpun juga mengalami demikian. Akhirnya Gamex memakai sepatu lagi, sedangkan Vjay tetap berjuang dengan sandal karena sepatunya sudah tidak bisa dipakai lagi. Kemudian sampailah di Krueng Kluet 2. Tinggi air di sungai Krueng Kluet 2 ini turun daripada sewaktu kami lewat dulu. Tinggi airnya hanya setinggi mata kaki, cuaca saat itu memang sedang cerah.

Naik turun bukit lagi baru kemudian ketemu Krueng Kluet 1, sama halnya dengan Krueng Kluet 2, tinggi air di sini juga menyurut. Gerimis mulai menyertai perjalanan kami. Langsung kami terus melaju menuju ke Bipak Batu. Sampai di Bipak Batu pukul 14.30, kami istirahat. Jaed mengambil celananya yang ditinggal di sini, tak lupa sampah juga kami bawa kembali.Tujuan selanjutya adalah Bipak Kaleng. Menyusuri punggungan terbuka lalu masuk hutan lumut lagi. Di dalam hutan ini banyak kayu-kayu melintang. Jika tidak konsentrasi bisa tersandung, seperti yang dialami Vjay, ia tersandung sampai-sampai salto ke depan. Untung ia tak apa-apa. Kami istirahat di puncak bukit, saling menunggu yang lain. Gamex dan Jaed yang tiba duluan menungguku dan Vjay. Sementara Pak Ali terus melaju di depan sana. Di kejauhan kami melihat ada kepulan asap. Kami menduga bahwa Pak Ali pasti sudah sampai di Bipak Kaleng dan saat itu sudah membuat api. Kamipun langsung bersemangat untuk segera sampai sana karena hari sudah beranjak senja.

Benar saja Pak Ali sudah menumpangkan periuk nasi di perapian. Kami langsung melepas carier dan mendirikan tenda. Saat itu sudah jam 17.30. Sebenarnya target kami hari ini adalah sampai di tempat camp yang kita kehujanan dulu, kira-kira 2 jam lagi dari sini, namun apa mau dikata kami sudah lemas dan hari mulai gelap. Air yang terdapat di lubang di tanah ternyata hanya setengahnya saja. Pak Ali membuat galian baru lagi menggunakan parangnya. Setelah beberapa menit ternyata lubang yang baru tadi sudah terdapat air, air ini mungkin berasal dari resapan tanah dan tanaman di sekitarnya.

Hari ke-14, Jumat, 7 September 2007
(Bipak Kaleng — Kemm ).

Perjalanan pulang kami rencanakan ditempuh dalam 4 hari. Kami memang agak sedikit mengejar agar sampai bawah 3 hari lagi, karena logistic kami yang hanya untuk 17 hari saja. Selain itu Jaed juga akan melakukan wisuda pada tanggal 12 September 2007. Target kami hari ini adalah sampai di Sungai Alas.Pukul 09.15 kami mulai jalan. Tujuan pertama adalah sampai di “Camp Ujan”, ya begitulah kami menyebutnya, tempat kami ngecamp di hari-7 lalu karena kehujanan. Dua jam jalan sampailah kami di sana. Kami mengambil barang-barang dan sampah yang kami tinggal di situ, setelah itu langsung lanjut jalan lagi.

Di perjalanan menuju Bipak 3, kami menemukan banyak jejak binatang, dan sepertinya itu jejak kambing hutan, terlihat jelas sekali bekasnya di tanah apalagi tanahnya memang becek karena hujan. Kami juga dikejutkan oleh satu binatang aneh. Gamex yang pertama melihatnya. Di tengah jalur pendakian, ada yang melintang berwarna oranye. Semula itu dikira ular, namun ternyata saat badannya disenggol dengan ranting, ukurannya menyusut. Kami tengarai binatang itu sejenis lintah. Kami belum pernah melihat lintah sebesar dan seindah itu warna tubuhnya.

Hujan gerimis mulai turun, kami terus menambah kecepatan karena medan yang dilalui relatif datar. Pukul 11.50 kami tiba di Bipak 3, waktu tempuh saat perjalanan pulang ini hanya 2 jam, dimana saat naik dulu butuh waktu 3 jam. Di sini kami mengambil paket logistic no.13 yang ditinggal di sini. Istirahat sejenak sambil makan biscuit dan minum sereal sebagai makan siang.Ada trek yang membuat kami ekstra berjuang lagi yaitu saat menuju Kolam Badak. Jalur menurun tajam, licin sekali sedangkan pegangan yang ada adalah tumbuhan-tumbuhan kecil dan pendek. Melalui jalur ini susah kalau berjalan sambil berdiri, bisa jungkir balik kita. Kamipun turun dengan mengandalkan pantat yang harus rela berprosotan ria. Setelah prosotan, kembali harus merunduk dan merangkak-rangkak lagi dalam hutan lumut.

Sampai di Kolam Badak jam 16.45, istirahat bentar makan coklat terus langsung jalan lagi. Kami mengejar untuk bisa sampai di Camp Sungai Alas. Jalur selepas Kolam Badak ini relative turun terus. Kami berjalan cepat bahkan sedikit berlari memanfaatkan trek seperti ini. Namun tetap terkadang kepleset-kepleset dan tersandung sampai jatuh, kami terus bangun dan lanjut jalan.Aku dan Vjay berjalan di belakang, hari sudah mulai gelap. Setelah keluar dari vegetasi semak perdu, kami melihat Pak Ali, Jaed, dan Gamex sudah berhenti. Kami belum sampai di Sungai Alas, namun melihat kondisi fisik dan sudah beranjak malam maka diputuskan untuk ngecamp di sini. Pukul 18.45 tenda kami dirikan. Malam itu kami makan paket logistic yang diambil di Bipak 3 tadi. Menunya adalah favorit kami, yaitu nasi, ikan asin, dendeng, dan macaroni.

Timbunan Logistik Rusak karena Tikus

Hari ke-15, Sabtu, 8 September 2007
(Kemm – Lintasan Badak)

Bangun pagi-pagi kami sudah disambut dengan hujan. Hujan pagi-pagi beginilah yang membuat kami enggan untuk segera beranjak packing. Rasanya masih ingin terus menikmati hangatnya sleeping bag dan kembali melanjutkan mimpi-mimpi indah. Ada cerita menarik tentang mimpi-mimpi yang menghiasi tidur kami. Di hari-hari awal pendakian, kira-kira di 5 hari pertama mimpi kami berempat ternyata hampir sama yaitu tentang wanita. Kamipun sempat khawatir kalau-kalau mimpi basah. Pasti akan repot jadinya untuk melakukan mandi wajib.

Beres packing jam 10.00, kami langsung start jalan menuju Sungai Alas. Empat puluh menit berjalan, tibalah kami di Sungai Alas. Tinggi air kala itu tidak setinggi saat kami berangkat dulu. Saat itu cuacanya sudah cerah. Pastinya sungguh segar sekali kalau mandi di Sungai Alas ini, namun saying kami tidak punya waktu yang tepat untuk menikmatinya.

Sampai di Blangbeke, istirahat, makan snack, lalu cleaning sampah. Kemudian jalan lagi, rencana next stop adalah di Pepanji untuk makan siang. Selesai melewati padang rumput, kembalilah masuk hutan lumut. Kecelakaan terjadi lagi, korbannya adalah Gamex. Saat semangat-semangatnya jalan dengan kecepatan tinggi, kaki Gamex tersandung sulur rotan yang melintang di tanah. Keseimbangan hilang, ia terjatuh dengan posisi dengkul yang secara langsung menghantam kayu-kayu. Lutut kanan Gamex sampai bengkak. Berhenti dulu, istirahat, cek kondisi. Syukur, Gamex masih bisa untuk melanjutkan perjalanan.

Pukul 15.30 kami sampai di Pepanji, makan siang dengan sereal, hanya dikocok dengan air, ditambah coklat dan madu. Tak lupa kami mengambil simpanan logistic di sini. Alangkah terkejutnya kami menemukan paket logistic kami yang acak-acakan. Plastiknya sobek, beberapa makanan malah sudah habis. Ini kelakuan tikus. Memang paket logistic tidak kami kubur di dalam tanah, melainkan hanya disembunyikan di semak-semak. Kami hanya bisa pasrah, itung-itung amal ngasih makan tikus gunung.

Lanjut jalan lagi untuk menuju Lintasan Badak, masih dalam naungan hutan lumut dengan trek yang curam naik turun. Kali ini insiden terjadi padaku. Jalur saat itu memang mengharuskan kita untuk meniti pohon-pohon tumbang. Aku menginjak batang yang rapuh ternyata, kayunya ambrol, dan seketika tubuhku terperosok ke bawah sampai setinggi badan. Dadaku menghantam kayu kecil. Nyeri sekali. Di tengah perjalanan aku jatuh lagi, sedang berjalan cepat kakiku tersandung, tubuhku limbung dan jatuh terperosok di semak-semak. Jatuh bangun seperti itu, aku terus berjuang, semangat untuk segera sampai bawah sungguh menggelora.

Jam 6 sore aku tiba di Lintasan Badak, selisih setengah jam dengan rekan-rekan yang lain, dan malah 2 jam dari Pak Ali. Setelah menata barang-barang dalam tenda, seperti biasa kami jemur-jemur pakaian basah di atas perapian. Akupun meletakkan baju dan celana panjang basah di kayu-kayu yang kami tancapkan di atas api. Waktu makan tiba, saat sedang enak-enaknya makan, Vjay berucap, “Man, genine gedhi” (Man, apinya besar). Seketika aku menengok jemuranku. Waduh! celana dan bajuku sudah terjilat-jilat api besar itu. Langsung saja kusambar dan kuselamatkan. Namun apa mau dikata, sang api sudah berhasil membuat lubang-lubang baru di baju dan celanaku. Melihat kondisinya, ya sudah aku masukkan saja sekalian baju dan celana itu menjadi bahan bakar perapian kami. Kujadikan sebagai simbol pengorbanan dan perjuanganku di Leuser, biarkan menyatu dengan alam gunung indah ini.

Tim Pendaki bisa Berkomunikasi Lagi dengan Tim Darat

Hari ke-16, Minggu, 9 September 2007
( Lintasan Badak – Tobacco Hut )

Rencana hari inilah hari terakhir pendakian ini. Nanti malam kami estimasi sudah kembali ke peradaban. Semua anggota tim sangat bersemangat meski kondisi tubuh sudah ancur-ancuran begini. Gamex berjuang dengan dengkul bengkaknya. Jari-jari kaki Jaed terkena kutu air, menyebabkan rasa perih yang sangat. Pahaku yang menjadi merah lecet-lecet akibat gesekan-gesekan terkena raincoat juga tak kalah perih. Sedangkan Vjay dan Pak Ali sehat.

Jalur akan relatif naik terus menuju Pucuk Angkasan. Dengan cepat kami melahap tanjakan-tanjakan dalam hutan lumut. Check point pertama di Kayumanis 3, istirahat 10 menit terus jalan lagi. Sama halnya melewati Kayumanis 2 dan Kayumanis 1, kami hanya istirahat sebentar untuk minum. Di perjalanan menuju Kayumanis 1, Jaed kembali mimisan. Saat perjalanan menuju Kolam Badak dulu ia juga sempat mimisan. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor kelelahan.

Pukul 14.30 kami berhasil sampai di Pucuk Angkasan. Pak Ali yang tiba terlebih dulu telah membuat air panas. Kami makan siang dengan sereal, kali ini dengan air panas, snack-snack lain langsung menyusul, biskuit, coklat, dan madu. Paket logistik yang kami tinggal di sini ternyata mengalami nasib naas sama seperti yang di Pepanji. Tikus-tikus telah merampas makanan kami, mie instan, kracker, doyan juga itu tikus.

HT kami hidupkan, akhirnya tersambung juga dengan tim basecamp setelah sekian lama terputus. Kondisi dan posisi kami kabarkan serta rencana kami untuk sampai nanti malam di bawah. Tim basecamp berencana untuk menyambut kami nantinya.Setelah satu jam beristirahat, perjalanan turun kami lanjutkan. Kami harus sedikit lebih cepat agar tidak kemalaman. Kami turun dengan berlari-lari kecil. Pukul 17.15 kami sampai di Bipak 1. Perkiraan kami bisa sampai bawah sekitar jam 8 malam. Rasa sakit dan lelah yang menumpuk kami tahan dan terus kami paksa untuk tetap melaju. Sampai di Simpang Angkasan, hari sudah mulai gelap, kami teruskan perjalanan, senter kami keluarkan. Sungguh lelah sekali saat itu, kami sudah merasa kelaparan. Kamipun berhenti, makan mie instan mentah, coklat dan madu. Kami tak ingin berlama-lama istirahat, berdiri kembali dan lanjut turun.

Jalur dari Simpang Angkasan ke Tobacco Hut sungguh menurun curam, licin pula. Berkali-kali kami saling berjatuhan terpeleset. Jalur seperti itu ditambah gelapnya hutan serta kondisi fisik yang sudah ngedrop membuat kami agak pesimis untuk bisa sampai di basecamp hari ini juga, tapi kami tetap berusaha. Berjalan pelan dan hati-hati menuruni jalur, kami sudah tak bisa berlari-lari lagi seperti sebelumnya, kaki-kaki ini sakit semua. Hutan itu tampak begitu panjang dan lebat, kami terus berharap-harap sampai setidaknya keluar dari hutan ini dulu.Yak akhirnya keluarlah kami dari hutan, terlihat cahaya lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di bawah sana. Kami sudah dekat ke Tobacco Hut. Dalam gelap kami sempat kehilangan orientasi, kami masuk ke lumpur-lumpur bekas kubangan kerbau. Ketemu juga Tobacco Hutnya. Saat itu sudah jam 9 malam, kami putuskan untuk ngecamp dulu di sini menlihat kondisi kami yang seperti ini. Kami tidak mendirikan tenda melainkan langsung masuk ke gubug tersebut.

Terima Kasih Tuhan……

Hari ke-17, Senin, 10 September 2007(Tobacco Hut – Basecamp Rumah Bang Kotar)Pagi itu kami sarapan dengan nasi goreng dan abon, persediaan makanan terakhir kami. Kata Pak Ali dari sini hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di jalan raya. Rencananya kami akan turun ke Blangpan, tidak lewat Hutan Sinebuk.Kami bertemu dengan turis asing yang sedang tracking, turisnya 2 orang dengan porter 2 orang, guide 1 orang yaitu Mr.Jali. Mr.Jali ini adalah guide yang bersertifikat, ia mahir berbahasa Inggris. Salah satu porter yaitu Bang Udin. Kami bertemu dengan Bang Udin 11 hari yang lalu, Bang Udin ini yang mengantar rekan-rekan Palaba kemarin. Kami sempatkan untuk berfoto dulu sebelum mulai berangkat.

Jam 10.00 kami meninggalkan Tobacco Hut. Jalur turun melewati ladang-ladang penduduk, kami juga melihat kawanan kerbau yang cukup banyak. Semakin kami mendekat ke mereka, mereka malah lari menjauh.Tepat pukul 11.00 kami sudah disambut oleh tim basecamp, Kadal dan Udik. Betapa senangnya kami akhirnya setelah 17 hari di gunung, kami kembali lagi ke peradaban, bertemu dengan saudara dan teman-teman. Semua beban di tubuh ini seakan luruh. Alhamdulillah kami bisa kembali dengan selamat. Sambil menunggu mobil pickup yang akan menjemput, kami habiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol, menanyakan segala kabar-kabar kepada Udik dan Kadal. Salut buat mereka yang dengan sabar menunggu dan terus memantau keadaan kami tim pendaki. Merekalah sebagai penghubung antara kami dengan teman-teman stapala lain serta dengan dunia luar.

Mobil pick up pun datang, sekarang kami akan menuju ke rumah Pak Ali dulu untuk bersilahturahmi dengan keluarga Pak Ali. Kami larut dalam hangatnya keluarga besar Pak Ali. Jamuan the manis dan buah alpokat menambah akrab suasana. Putra Pak Ali juga mengkhawatirkan kami, tidak biasanya sampai 17 hari baru turun.Hari sudah beranjak siang, dengan berat hati kamipun berpamitan, mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Ali. Sebagai kenang-kenangan dari kami yaitu sweater Stapala dan satu set alat linting tembakau untuk Pak Ali.

Kemudian kami menuju ke basecamp kami di rumah Bang Kotar di Kutapanjang. Hari ini juga kami berencana langsung bertolak dari Kutapanjang, 4 orang (Aku, Udik, Kadal, dan Gamex) ke Banda Aceh jam 3 sore nanti, sedangkan Vjay dan Jaed menuju Medan dan akan langsung pulang Jakarta karena ada acara. Jaed harus mengikuti acara wisuda pada hari Rabu tanggal 12 September 2007, sementara Vjay juga harus segera mengurus administrasi di kampus.

Kamipun berpamitan dengan Bang Kotar, orang yang banyak berjasa, menjamu kami, mempersilakan rumahnya selama sebulan ini sebagai tempat basecamp kami. Orang sini sungguh baik hati dan ramah-ramah, meninggalkan kesan tersendiri yang takkan terlupakan.

Gunung Leuser betapa indahnya menyimpan banyak kenangan. Dan semua perjalanan itu, pelajaran dan pengalaman yang sungguh sangat berharga. Terima kasih Tuhan atas segala KaruniaMu.

#jurnal SLE dari Tim Pendaki “Reman” Reza Dias P.
-793/SPA/2006-

© www.stapala.com

 
3 Comments

Posted by on May 1, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , ,

3 responses to “The Journal: STAPALA Leuser Expedition 2007

  1. Wika Ma'rifatul Fitriyah

    April 11, 2012 at 5:41 pm

    boleh mntk nomr HP nya bang? Kami dari KPA Lampung rencananya mau naek Gunung Leuser..🙂

     
  2. wahyunesty

    August 26, 2013 at 10:56 pm

    Reblogged this on nestywahyu and commented:
    STAPALA Leuser Expedition 2007, senior senior keren ini😀

     
  3. Windy ardiansyah

    November 16, 2015 at 10:05 am

    7-8 hari itu baru naiknya doang ya bang? mohon infonya

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s