RSS

Tuhan Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir

23 Apr

Suatu sore saya menemukan sebuah majalah kampus terbitan Media Center STAN tergeletak begitu saja di ruang depan rumah kontrakan kami yang berantakan. Maklumlah, semua penghuni adalah mahasiswa cowok yang joroknya minta ampun.  Awalnya sih nggak terlalu tertarik untuk membacanya, karena bentuk dan penampakannya yang sudah kumal dan lecek, toh paling edisi lama, pikirku. Hampir saja majalah itu kubuang ke tempat sampah, tapi, ah, lebih baik dirapikan sajalah, dengan segera saya berubah fikiran. Tiba-tiba retina mata saya tertuju pada sebuah judul artikel yang sepertinya “sedikit” menggelitik syaraf minat baca. “Kelulusan: Perayaan, Euforia, Biasa Saja!” begitu bunyinya. Kenapa menjadi tertarik? karena saya adalah mahasiswa tingkat tiga (baca: mahasiswa semester akhir program diploma). Ya, berbicara tentang kelulusan, penempatan, dan bagaimana-bagaimana  tentang lain sebagainya tentu menjadi topik informasi pilihan mahasiswa-mahasiswa yang haus akan kepastian seperti kami ini.

Surat Pembaca Tabloid Civitas Edisi no 14/Tahun VII/Minggu III November/2010

Oleh: Dian Suci Lestari, Alumnus STAN 2010, kini magang di Direktorat Jenderal Pajak

Berikut kutipannya:

Saat kesaksian ini dipenakan, saya tengah dalam sudut kamar rumah, di kampung halaman. Menunggu “ketidakpastian”, seperti setahu saya, satu-satunya yang pasti di almamater tercinta kampus ini adalah ketidak pastian itu sendiri. Saya bukan merutuki, melainkan sedang mensyukuri nasib. Setahun lalu ketikan berhsil memsuki tingkat akhir kampus plat merah ini puun adalah salah satu nasib yang amat pantas di syukuri. (setuju mbak…)

Kemudian detik demi detik melesat cepat. Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau Tugas Akhir menyapa. Aktivitas akademis menjadi sangat terpangkas, seolah kuliah cukup satu hari dalam sepekan dengan sembilan SKS. Disinilah, mulai terasa bahwa tiap kepala mahasiswa STAN akan bernasib berbeda-beda. Kita bersiap menjemput takdir masing-masing. memilih tempat PKL, tema karya tulis, hingga akhirnya disudahi dengan Ujian Comprehensive. Ketika ujian selesai, sadarkah? Ternyata masa tiga tahun itu telah habis dan tamat, Kawan!

Sejak itu, tak ada lagi urusan kita dengan STAN, almamater yang telah membesarkan jiwa raga ini. Tanda identitas yang tersemat di dadapun telah kadaluarsa, tak berlaku lagi, tak layak lagi kita disebut mahasiswa. Yudisium dan wisuda pun semata dimaknai sebagai perayaan. Bersama rekan rekan satu angkatan, kita tenggelam dalam euforia dan syukur yang mendalam. Sekali lagi, ini sekedar panggung euforia dan perayaan.

Lalu, kita pasti akan menunggu dalam ketidakpastian. Seperti saudara kandung, walaupun terlahir dari satu rahim dan dibesarkan madrsah yang sama, namun jung nasib kita pasti selalu berbeda. Semua perayaan kelulusan yang pernah membuncah, seolah hanyut pada suratan di depan pelupuk mata masing-masing. Kita akan sibuk dengan pergulatan bahwa sesama kita akan berbeda. dia ada di atap sana, mereka ada di gerbong sana, sementara kita ada disini. Sejenak dia bahagia disana, sekejap wajah mereka meriah karena ada disana, tetapi kita tercenung mengapa kita disini. Saya yakinkan, ini biasa saja. Perbedaan yang saya tekankan diatas hanya sikap berlebihan yang akan berujung rasa hambar.

Saaat ini, sesungguhnya kita telah meretas takdir yang berbeda. Kita yang mulanya bahagia karena disana, maupun kita yang pertama bersedih di sini, akhirnya berujung pada kerja ikhlas yang menjawab semua. Yakinlah, khayalan yang mengantar kita bahagia, praduga yang menjerumuskan kita pada kesedihan karena merasa dibedakan, belum menjadi justifikasi absolut. Tiga atau lima hari kemudian, hati keecil nyaris berkata, “Ya Sudahlah!”

Perlahan diri akan menerima “nasib penempatan” tersebut. Buankah memang sudah seharusnya diterima dan disyukuri? Inilah yang saya pelajari dari kampus ini, sebentuk kerja hati yang menakjubkan, kepasrahan. Toh, tema kepasrahan ini sudah dipelajari sejak kita secara sadar memilih menimba ilmu di Jurangmangu. Pada akhirnya, waktu yang mendekatkan antara realita dan harapan-kenyataan.

Beginilah jalan juang yang kita pilih, ketika kelulusan bukan lagi sebuah pencapaian dan ketamatan sekolah bukan lagi sebuah prestasi. Kesimpulannya, tiga tahun  ini akan kita lalui secara biasa sesuai jadwalnya. Saat kita UTS, UAS, PKL, KTTA, Ujian comprehensive, yudisium, wisuda, dan penempatan. semua bergulir pada waktu yang tepat, tertib.

Bagaimanapun, kepasrahan adalah pekerjaan hati yang semestinya berenergi besar, berkhidmat dalam, dan berkekuatan dahsyat. Teramu dari keikhlasan dengan sebentuk kedekatan hubungan antara Tuhan dan amba-Nya. Inilah ebentuk syukur yang harus kita luapkan dan rengkuh sebagai bekal perjalanan menjadi abdi negara yang gemilang.

***

Ya, kiranya seperti itulah gambaran yang bisa saya dapatkan dari pengalaman-pengalaman kakak tingkat yang baru lulus maupun yang sudah penempatan. Tak perlu panik, tak perlu cemas, dan juga tak perlu setress karena beban tingkat akhir yang (bisa dikatakan) lebih berat. Just let it flow, just enjoy the show!! kita ikuti saja skenario yang ada, dan berusaha memainkan peran kita masing-masing sebaik mungkin. Berharap cerita ini kan terrus berlanjut dan berakhir dengan happy ending.🙂

Mumpung belum lulus, mumpung masih ada kelonggaran waktu, saya ingin menghabiskan sisa-sisa kesempatan ini untuk lebih banyak bercengkrama dengan alam, siapa tahu nanti ditempatkan di kota-kota besar, dimana tak ada gunung yang bisa didaki, dimana adanya hanya gedung-gedung yang menjulang tinggi, dan dan udara yang sesak oleh polusi. hehe.. (positive thinking). Oke,  Next destinantion: Bromo-Semeru, Raung, Argopuro, Lawu. Semoga ada sisa rezeki untuk menuntaskan hasrat terakhirku (selama menjadi mahasiswa STAN,red).

 
2 Comments

Posted by on April 23, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

2 responses to “Tuhan Bersama Mahasiswa Tingkat Akhir

  1. Ebaz

    April 24, 2011 at 3:11 pm

    Hitungan bulan lagi… just enjoy the show! Juni aku kosong banyak Plox, 3-20 Juni, kalo pas jadwalnya bagaimana kalau kita ke Raung sajahhhh?????????????????

     
    • azhyzmaghfur

      April 24, 2011 at 3:33 pm

      Tak terasa capt..
      Hmmm.. juni ya?? nanti coba aku liat kalender akademis dulu, dan juga melihat kalender finansial tentu..🙂 hehehe.. Rencana siapa saja kah yg mo me”raung”?

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s