RSS

Catatan Perjalanan: Gunung Sumbing

20 Apr

                Sebuah Pengantar

Perjalanan ini, dimulai dari obrolan ringan antara kami, siswa diklat STAPALA 2011 divisi GH, dengan sang kadiv di sebuah bangunan mungil yang terletak di sebelah selatan plasma kampus STAN Jakarta. “Plok, kalian coba cari tau status terbaru gunung ciremai yo, aku denger informasi katanya Slamet masih tutup e..”  kata kadiv kami yang bertubuh kecil dan akrab dipanggil kak Codet.

Pembicaraan itu terkait agenda mabim divisi kami yang dijadwalkan dilaksanakan pada pertengahan dan akhir Januari tahun ini. Awalnya kami sempat kesulitan dalam menentukan gunung mana yang akan menjadi tujuan perjalanan kami. Gunung slamet masih belum dibuka karena status siaga, gunung ciremai juga ditutup karena badan yang berwenang setempat menutup izin pendakian sampai batas waktu yang tidak ditentukan, alasannya, karena cuaca yang sangat ekstrem dan tidak menentu pada waktu itu. Sedangkan gunung-gunung lain di Jawa barat seperti gunung Gede-Pangrango, Gunung Salak, ataupun Gunung Cikuray sudah tereliminasi sebelumnya karena gradenya dianggap kurang memenuhi standard kegiatan mabim GH.

Setelah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari informasi dan menunggu ketidakpastian perkembangan gunung-gunung tersebut, akhirnya diputuskan kami akan melakukan perjalanan ke Gunung Sumbing (3.371 Mdpl) yang terletak di daerah Wonosobo – Jawa Tengah. “Yaaaaah.. Jateng berarti transporte tambah larang cah..”  bathin kami. Memang kondisi keuangan kami waktu itu masih dalam keadaan morat-marit setelah beban pengeluaran membengkak selama mengikuti masa diklat kampus maupun diklat lapangan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk melakukan pendakian yang pertama kali dengan mengusung nama dan bendera STAPALA.

Waktu yang kami miliki sebenarnya lebih dari cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari mengumpulkan informasi, persiapan fisik dan mental, persiapan perlengkapan dan perbekalan, sampai dengan menyusun rencana dan manajemen perjalanan. Namun karena “kemalasan” dan “keleletan”  kami (disamping karena kesibukan kuliah yang kami jadikan sebagai alasan) tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan waktu yang kami miliki tinggal sedikit jelang hari keberangkatan. Bahkan hingga H-2 kami baru bisa memastikan lima dari tujuh orang siswa anggota divisi GH yang ikut ke gunung sumbing. Joneh, Sundul, Kace, Tumber, dan Teplok. Sedangkan Bean terkendala kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan dan kami masih berusaha meyakinkan Cepuk untuk tetap ikut bersama kami kendati orang tuanya tidak mengijinkan.

Singkat cerita, akhirnya berangkatlah enam orang siswa (termasuk Cepuk yang akhirnya terbujuk juga untuk berangkat tanpa sepengetahuan orangtaunya, hehe parah!!). Kami didampingi oleh tujuh orang senior STAPALA yang kesemuanya memang dari divisi Gunung Hutan. Mereka adalah Pak kadiv Codet, Kak Genkiss, Kak Ewel, Kak Gimbal, Kak Samcong, Kak Gokong dan Kak Palpi.

Hari Keberangkatan

Bintaro, 21 Januari 2011

Sesuai dengan rundown yang telah kami tetapkan dalam manajemen perjalanan, seharusnya kami sudah berkumpul di posko dalam kondisi siap berangkat pada pukul 16.00 WIB. Namun kenyataanya, jam di posko menunjukkan pukul 16.05 ketika Teplok datang, disana baru ada Joneh dan Sundul yang masih sibuk mempacking perlengkapan dan menatanya kedalam carier. Sesaat kemudian Kace datang, disusul oleh Tumber yang terengah-engah baru pulang dari kuliah, katanya. Satu jam packing dan setting final sudah selesai, namun si Cepuk belum juga menunjukkan batang hidungnya. “Meh munggah gunung make-upan dhisik yae..”  seloroh kami. Sambil menunggu kedatangan Cepuk dan salah seorang senior, Kace membeli bekal nasi bungkus yang rencananya untuk makan malam di kereta nanti. Setengah jam kemudian, nasi bungkus siap, Cepuk pun sudah datang, dan segera saja kami semua berkumpul di depan posko untuk melakukan briefing dan doa bersama.

Yep!! Pukul 18.00 tepat kami berangkat dari gerbang kampus Bintaro, molor satu jam dari waktu yang sudah dijadwalkan. Ketar-ketir juga apakah nanti masih dapet kereta yang menuju stasiun Tanah Abang tepat waktu. Sopir angkot D09 kami sulap menjadi driver nascar, “ngebut bang..!! skalian minta tolong anterin sampe stasiun pondok ranji ya..”. Walhasil tidak sampai lima belas menit kami sudah tiba di stasiun, cukup bayar tarif standar Kampus-BP Rp 2.000,- per orang. Malangnya, kereta ekonomi yang hendak kami naiki terlanjur sudah mau berangkat, tapi beruntung masih ada kereta AC Ekonomi setelahnya yang bisa mengantarkan kami menuju Tanah Abang dengan nyaman ala orang kantoran, bersih, adem, dan tidak berdesak-desakan. Aihhh, tapi kami harus merogoh kocek tigakali lipat dari kereta ekonomi biasa. Untuk kenyamanan yang kami dapatkan, kami harus membayar Rp 5.500,- per kepala. Tak apalah, yang penting bisa mengejar kereta api Bengawan tujuan Solo Balapan yang akan membawa kami sampai di Kutoarjo.

Tiba di stasiun Tanah Abang kami masih sempat sholat jama’ maghrib dan isya sekaligus, berdoa kepada Tuhan agar diberi keselamatan sepanjang perjalanan sampai kami kembali pulang. Selesai sholat kami langsung menuju jalur 3 dimana kereta kami akan berangkat. Benar saja, setibanya disana kereta sudah langsir dan kamipun siap berdesak-desakan dengan calon penumpang lain yang berebut masuk ke dalam gerbong. Kami sih tidak masalah masuk belakangan, karena kami sudah memastikan mendapat tiket tempat duduk yang sehari sebelumnya sudah dipesan oleh Joneh, Rp 37.000,- sudah termasuk biaya reservasi atau pemesanan  untuk tarif KA menuju Purworejo. Tapi mengingat tas carier kami akan sangat memakan tempat, maka kami berusa menerobos untuk bisa menaruh tas kami di “planggrangan” yang terletak diatas tempat duduk sepanjang sisi gerbong. Ufhhhhh.. akhirnya kami duduk juga di kereta rakyat dengan seat yang berhadap-hadapan. Di gerbong yang berbeda, rombongan kami bertambah lagi dengan bergabungnya  dua orang senior STAPALA yang berniat ikut perjalanan kami ke gunung Sumbing. Mereka adalah Pak Dosko dan Jane.

Perjalanan menuju ke Cepit

Sepanjang Perjalanan

Jam di tangan menunjukkan pukul 19.35 ketika perlahan kereta mulai meninggalkan stasiun Tanah Abang.

Bismillahirrohmanirrohim.

bismillahi majreha wamursaha..

Naik kereta api kelas ekonomi memang selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi kami, selain harus berdesak-desakan dengan penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk, terganggu oleh lalu lalang pedagang asongan yang setiap menitnya silih berganti menawarkan dagangannya, copet dan tangan-tangan jahil berkeliaran yang setiap saat bisa saja kita menjadi korbannya, sesak, sumpek, tempat duduk yang keras dan tidak bisa di set kemiringannya, serta berbagai ragam ketidaknyamanan lainnya, namun inilah kereta rakyat, kereta yang paling bersahabat dengan para pendaki seperti kami. Simbol transportasi darat yang benar-benar merakyat. Sederhana, tapi penuh makna dan cerita. Didalamnya kami masih bisa tertawa-tawa, bercanda, menikmati suasana, mengamati tingkah polah kecerdikan dua orang penumpang tanpa tiket yang kucing-kucingan menghindari petugas pemeriksaan karcis. Kami pun merelakan berbagi tempat duduk dengan ibu-ibu dan seorang anaknya yang susahpayah kerepotan berdiri karena bodohnya sang suami. Inilah seninya kereta api, kita bisa berinteraksi dengan potret masyarakat yang sesungguhnya. Kendati demikian, sebisa mungkin kami disarankan untuk bisa memanfaatkan waktu untuk istirahat dengan sebaik-baiknya, mempersiapkan fisik, mental, dan stamina untuk menghadapi pendakian yang akan kami tempuh esok hari.

Keretapun terus melaju, stasiun demi stasiun berlalu, kami terjaga dari tidur tak nyenyak setelah adanya kontrol karcis oleh seorang petugas di daerah kebumen, dan setelah itu kami harus segera bersiap-siap karena tidak lama lagi kereta akan tiba di stasiun tujuan. Nampaknya kereta ini mengalami keterlambatan, molor sejam dari estimasi yang sudah ditentukan. Pukul 05.45 rombongan baru tiba di stasiun Kutoarjo. “Sing meh nguyuh ndang nguyuh, ngising, sikatan, subuhan. Ngko terus golek carteran”.

Untuk mendaki gunung sumbing ini dapat ditempuh melaui tiga jalur, yaitu cepit, garung, dan kali angkrik. Ketiganya memiliki karakteristik dan sarana transportsi yang berbeda. Kemudahan akses transportasinya pun berbeda pula. Jalur yang kami pilih, jalur cepit, kebetulan transportasinya paling susah, selain paling jauh, rute angkutannya pun harus memutar dan itupun tidak ada yang langsung ke sana, harus ngeteng istilahnya. Kutoarjo-jogja-magelang-temanggung-parakan-cepit. Mengingat waktu yang kami milik cukup mepet dan sudah terlambat beberapa jam dari dari rundown di manper kami, maka kami memutuskan untuk menyewa atau istilahnya “nyarter” minibus / bis engkel yang mangkal di depan stasiun untuk langsung diantar sampai ke basecamp cepit. Sang supir minibus mengaku tidak tahu jalan menuju kesana, tapi menyanggupi untuk mengantar kami. Negosiasi harga berlangsung cukup alot, hingga akhirnya disepakati kami harus membayar Rp 250.000,- untuk sampai ke cepit.

Ditengah perjalanan, dua orang senior pendamping memutuskan memisah dari rombongan. Pak Dosko dan Kak Gokong berencana mampir ke magelang terlebih dahulu dan kemudian naik lewat jalur kaliangkrik. Kedua orang itu adalah senior yang pernah mendaki gunung sumbing. Itu artinya dalam rombongan kami belum ada yang pernah kesana sebelumnya. Bus berhenti sejenak di daerah Krasak, kami membeli nasi bungkus di warung pinggir jalan untuk sarapan sekaligus “mbungkus” untuk nanti siang. Alangkah terkejutnya kami ketika mendapati sebungkus nasi putih plus lauk mietelor dihargai seribu rupiah. Sambil ketawa-ketawa kami berkomentar “Enak ya kalo penempatan daerah sini, masih ada makanan seharga seribu, jakarta mah mana ada boi..” Ya tapi sayangnya perut lapar kami tidak akan kenyang makan hanya sebungkus nasi seribuan tadi, walhasih dua bungkus kami lahap untuk mengganjal perut sebagai sarapan pagi itu.

Rencananya, akan bergabung lagi dua orang senior STAPALA yang sedang magang di Semarang yaitu Kak Combro dan Kak Kopyor. Namun ternyata yang ikut serta bergabung bersama rombongan hanya Kak Combro saja. Kebetulan dia ini sebulan yang lalu habis mendaki gunung sumbing, namun terkena badai dan tidak sampai puncak sehingga masih diliputi rasa penasaran. Bus kembali berjalan melewati jalanan aspal yang menanjak dan berliku-liku menuju daerah parakan – temanggung. Setelah Rumah Sakit Ngesti Waluyo bus belok kiri menuju dusun cepit. Berdasarkan informasi yang kami dapat, transportasi menuju ke dusun itu sangat terbatas, hanya ada mobil colt atau jasa ojek, itupun relatif mahal, sekitar 15.000-25.000 rupiah untuk sampai di basecamp atau batas hutan. Untungnya kami sudah deal dengan pak sopir untuk diantar sampai ke basecamp Cepit.

Jalanan masih saja menanjak dan berbelok belok. Bedanya, yang kami lewati ini jalan dusun yang tidak terlalu lebar. Bus berhenti sejenak, menunggu Kak Combro yang menyusul kami dengan ojek. Kami pun turun untuk menghirup segarnya udara pedesaan di lereng gunung. Setelah “turis” yang ditunggu datang kami semua kembali masuk kedalam bus. Ngung-ngung-ngung… agak memaksa juga sepertinya suara bus itu. Sang kenek minta semua turun untuk mendorong bus itu, mesin macet katanya. “dji ro lu dorong..!!” tenaga kami tak sanggup menggerakkan bus itu, akhirnya bus mundur, dan ternyata mesin bisa menyala. Kamipun melanjutkan perjalanan ke dusun cepit. Setelah beberapa tanjakan sopir bus itu menepi dan berkata bahwa setelah tikungan ini akan ada tanjakan tinggi, dia tidak berani naik karena bus nggak kuat, takut melorot katanya. “ndak jauh kok mas, limaratus meter lagi sudah nyampe di cepit, habis tikungan ini ada tanjakan, bisnya nggak bakal kuat”. Akhirnya kamipun mengalah turun disini. Jengkel juga sih, karena kami sebelumnya sudah menyepakati ongkos tambahan yang diminta mereka dengan alasan ternyata jarak kutoarjo – cepit itu jauh lebih jauh dari yang diperkirakan

Dan Langkah-kaki-itu-pun Dimulai

Dusun Cepit, 23 Januari 2011.

Kami mendongak melihat matahari sudah tinggi, sudah jam sepuluh lewat duapuluh menit ketika kami mulai berjalan dari tempat dimana kami diturunkan oleh minibus tadi. Benar sekali kata bapak itu, habis ini ada dua tikungan, tapi setelah itu, jalanan aspal memang naik, tapi masih cenderung datar. “Lha endi iki jare dalane nanjak ki?”. Sialan, kami merasa ditipu. Iseng saja bertanya kepada ibu-ibu penjaga warung apakah jalan sampai basecamp cepit tidak bisa dilalui mobil/bus. Dan kata ibu itu bisa saja, bahkan kemaren ada yang sampe atas kok katanya. “Jambu..!! awake dhewe diapusi Lik’e caaah..!!”. Dengan perasaan dongkol kami melanjutkan perjalanan yang katanya limaratus meter itu ternyata memakan waktu hampir lima puluh menit untuk sampai basecamp.

Basecamp cepit sendiri hanyalah sebuah gardu tidak berpenjaga yang terletak di sebelah kanan jalan dekat pertigaan dusun. Di dindingnya terpampang sebuah frame besar berisikan rute jalur pendakian dilengkapi dengan foto-foto petunjuknya. Tepat diatas jalan didepan gardu itu ada semacam palang, gapura, atau gerbang sederhana yang ada tulisannya Pos 1. Disitu kami istirahat sambil mensetting ulang carier kami agar lebih nyaman untuk pendakian. Seorang bapak-bapak berusia enampuluhan menyapa kami dan memberitahu bahwa kalau mau naik sebaiknya melapor dulu ke aparat SAR setempat. Kemudian kami diantar ke sebuah rumah yang di depannya ada bak pengisian air di dekat tower BTS. Tidak jauh dari gardu basecamp tadi, mungkin hanya berjarak sekitar 150 meter. Registrasinya cukup sederhana, kami hanya diminta menulis daftar nama rombongan dalam buku bufallo dan mengisi kas dusun per orang  1.000 rupiah

 

Lets go…!!

Setelah kami mengurus perijinan sederhana, tak lupa kami melakukan pemanasan dan peregangan otot untuk menghindari cidera-cidera yang tidak perlu. Dari depan pos penjagaan ini tim dibagi menjadi dua, tim pertama beranggotakan enam orang siswa dengan Joneh sebagai pimpinannya. Sedangkan sisanya seluruhnya terdiri dari senior pendamping yang dikomandoi oleh Kadiv GH, Codet. Tim pertama berangkat terlebih dahulu menuju batas hutan, selang beberapa menit kemudian tim kedua menyusul di belakang dengan perjalanan santainya.

Jalanan menuju batas hutan berupa jalanan aspal dengan tanjakan-tanjakan panjang. Di kanan kirinya hanya terdapat ladang-ladang penduduk setempat. Disini sudah tak terlihat lagi rumah-rumah penduduk, paling hanya ada satu dua gubug peristirahatan ditengah-tengah ladang. Langit yang terlihat mendung dan udara dingin disertai dengan kabut tipis perlahan bergerak turun menerpa wajah kami. Dalam hati kami berdoa, Ya Allah, semoga tidak terjadi badai, karena badai adalah momok setiap pendaki, apalagi di gunung yang konon katanya miskin vegetasi ini.

Disepanjang perjalanan kami banyak bertemu dengan penduduk yang berjalan berlawanan arah dengan kami, mereka membawa kayu bakar kering dan bongkokan rumput hijau. Kebanyakan dari mereka sudah berusia senja, namun semangat dan perjuangannya seakan mengalahkan kami yang muda-muda. Dengan penuh keramahan mereka menyapa “Badhe minggah mas?”, “njih mbah, pangestunipun nggih?” jawab kami. Kami pun mengajari si cepuk yang mengaku memiliki keturunan darah jawa namun tak bisa berbahasa jawa ini dengan beberapa kosakata sederhana untuk sapa-menyapa. Lucu juga, orang Medan logatnya logat Solo. Dasar Cepuk.

Hampir satu jam kami berjalan, pemandangan dihadapan kami belum jauh berbeda. Jalanan aspal panjang terhampar jelas dihadapan kami. Seakan tidak ada ujung dan pangkalnya. Satu belokan disusul dengan tanjakan panjang. Satu tanjakan panjang disambung dengan tanjakan selanjutnya. Ladang-ladang pun masih setia mendampingi jalan itu. Tapi ini sebenarnya belumlah apa-apa, bahkan kami belum memulai apa-apa.

Pemandangan tersebut menjadi awal perjalanan kami  menaklukkan gunung yang terkenal gersang ini. Gunung sumbing yang kata orang tidak mudah untuk menggapai puncaknya. Dan kini kami baru menapaki kaki-kakinya. Matahari sudah tinggi, sedikit tergelincir ke arah barat sepertinya. Dan kami masih terus berjalan manapaki jalan aspal itu. Tujuan kami adalah segera sampai di batas hutan, batas akhir dari jalan aspal itu dan selanjutnya perjalananan akan dilanjutkan dengan menyusuri hutan.

Perjalanan Menembus Hutan

Tepat pukul 13.00 akhirnya kami sampai juga di batas hutan. Mata kami tertuju pada sebuah gardu permanen yang tidak ada atapnya. Ya, tidak salah lagi, kami sudah sampai di batas hutan. Sesuai dengan manper yang kami buat sebelumnya, di pos ini rencananya kami istirahat sejenak untuk sholat dan makan. Waktu yang kami miliki tidak lama, disamping karena keterlambatan start dari yang semula dijadwalkan, terlihat kabut dan hujan pun sudah mulai turun. Kami harus segera berkemas dan mengenakan raincoat untuk melanjutkan perjalanan.

Terlihat dibelakang tim kedua sudah mulai menyusul. Ada yang mengenakan raincoat, ponco, bahkan ada yang hanya berpayung ria. Ada-ada saja mereka ini, “nggak safety”, hehe. Selanjutnya kami memasuki hutan secara beriringan. Jalanan yang basah dan licin membuat langkah kami harus lebih berhati-hati. Selang beberapa menit kami berjalan menyusuri hutan, di sebelah kiri terlihat ada sebuah gardu cukup terawat dan nyaman untuk berteduh, namun kami lebih memilih melanjutkan perjalanan dengan mengambil arah ke kanan dan kembali menyusuri jalan setapak.

Hutan di area gunung sumbing ini berbeda dengan hutan-hutan di daerah Jawa Barat. Vegetasi tidak terlalu lebat dan tidak tidak banyak varietas pepohonannya. Disana sini hanya terlihat beberapa jenis pohon acasia dan bebera pa jenis pohon lainnya. Tanah yang menjadi pijakan banyak bebatuan dan jalur trek yang semakin keatas semakin menanjak. Banyak pepohonan tumbang akibat hujan deras dan angin kencang yang tak jarang menghalangi jalur yang kami lalui.

Setibanya di pos 2, hujan kembali turun, bahkan lebih deras dari hujan sebelumnya. Kami berteduh di sebuah gardu dengan tiang-tiang kayu. Di salah satu pohon disekitarnya terdapat papan bertuliskan “POS II”.

Agak membingungkan juga sepertinya, karena kebanyakan orang menyebut pos ini sebagai pos ketiga. Katanya tak jauh dari sini terdapat sumber mata air. Namun karena air perbekalan kami masih cukup melimpah dan hujan turun dengan begitu derasnya, kami mengurungkan niat untuk mengunjungi mata air tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 15.00, petir dan guruh datang beriringan, hujan yang semakin deras dan hawa dingin membuat kami meringkuk dibawah gubuk terbuka itu. Semakin kami meringkuk, semakin dingin pula rasanya. Bahkan ketika sholat ashar, untuk menggerakkan anggota badan saja terasa begitu sulit, begitu kaku. Altimeter pada GPS kami menunjukkan ketinggian 2110 Mdpl, pantas saja hawa dingin sudah kental terasa. Alhamdulillah setengah jam kemudian hujan mulai mereda. Kami harus segera bangkin dan melanjutkan perjalanan kami.  Dengan ponco dan raincoat masih melekat, kami berjalan perlahan meninggalkan pos tersebut. Jalur masih sama seperti tadi, pepohonan dan bebatuan yang terpadu dalan area tanjakan hutan lamtoro. Baru kemudian beberapa saat samar-samar dari bawah sana terdengar suara adzan berkumandang. Wajar saja, karena kebanyakan orang pedesaan menggunakan adzan ashar sebagai patokan pulang dari ladang, sehingga adzan dikumandangkan ketika matahari sudah beranjak turun mendekati senja.

Tiga puluh menit perjalanan jalur yang kami lalui tak lagi hutan dan pepohonan tinggi, melainkan tumbuhan perdu dan ilalang yang tumbuh setinggi orang dewasa. Kita bisa melihat cerahnya langit setelah awan mendung turun mengguyur kami barusan. Disebelah kanan terlihat gunung sindoro yang berdiri dengan cantiknya. Subhanallah.. Maha Besar Engkau yang telah menciptakan keindahan seperti ini. Langkah kami kian bersemangat dan ketika kami jumpai sebuah shelter, kami beristirahat sejenak dan tak lupa mengabadikan keelokan pemandangan sore itu. Jeprat jepret bernarsis ria, makan choki-choki dan snack untuk tambahan energi. Cukup, lalu perjalanan pun berlanjut.

Kami terus berjalan menembus jalan setapak yang kanan kiri dihiasi ilalang dan tumbuhan perdu. Hingga perlahan vegetasi pun berganti, kami harus berhati-hati karena jalanan licin dan berbatu, tumbuhan smakin rendah, berganti rumput-rumput dan pepohonan yang sudah mulai jarang terlihat.

Waktu sudah semakin beranjak sore. Jam ditangan menunjukkan pukul 17.30. dihadapan kami terdapat sebuah bukit savana yang menjulang. Tepat dibawah kaki bukit itu terdapat shelter kecil ditengah jalur pendakian, kami beristirahat sejenak, membicarakan jalur selanjutnya dan memcocokkan dengan manper kami. Rupanya kami sudah dekat dengan watu kasur. Tempat yang memungkinkan untuk ngecamp. Namun kami tetap memutuskan untuk bermalam di segoro wedi sesuai dengan rencana semula. Itu artinya kami harus berjalan cepat dimalam hari. Agar jam sembilan atau sepuluh sudah bisa mendirikan tenda disana. Karena berdasarkan catatan para pendaki lainnya dari sini hingga segoro wedi membutuhkkan waktu sekitar tiga jam. Baiklah, kami harus segera bergegas. Setelah packing dan melihat tanda medan, jalur selanjutkan ke arah kanan dari bukit tadi. Mulai dari sini punggungan terlihat sangat jelas. Nyaris tak ada vegetasi lagi kecuali rumput-rumput perdu yang menutupi gunung itu. Kami berjalan berdekat-dekatan, saling tarik dan berpegangan. Ngeri juga kalo sampai tergelincir.

Jalur setelah ini cenderung terbuka berupa savana. Selanjutnya kami menyeberangi sungai kecil berair yang cukup curam dengan batu-batu besar di sekitarya. Mungkin ini yang dimaksud sungai oleh pak dosko. persis seperti yang digambarkan. Lempengan lempengan batu besar dan licin membuat kami harus berjalan merangkak, “mbrangkang” kalo istilah jawanya. Batu-batu dan rerumputan itu selanjutnya menjadi teman akrab sepanjang perjalanan kami. Kami terus ke arah kanan menaiki punggungan yang kanan dan kirinya berupa jurang. Punggungan itu seperti tak ada habisnya, terus naik dan terus menanjak, terus berbatu dan terus disuguhi pemandangan savana yang membuat ciaut nyali orang yang memandang.

Senja beranjak malam, disebelah kanan kami melihat matahari perlahan bersembunyi dari balik awan, menyusup punggung sindoro yang cantik. Cahayanya berpendar jingga, merona indah di angkasa. Bahkan kami masih sempat menikmati saat-saat terakhir kali cahaya itu terlihat. Panorama ini menjadi hiburan tersendiri atas perjalanan kami di punggungan bukit berbatu itu.

SALAH JALUR

Tiga jam berlalu, namun tak ada tanda-tanda kami menjumpai lokasi yang kami tuju, segoro wedhi. Terdapat sedikit keraguan dibenak kami, jangan-jangan kami salah jalur. Kami Sejenak salah seorang senior kami mengingat ingat kembali route perjalanan yang sebulan yang lalu pernah dilewati. Tapi ia juga tak yakin. Seingatnya beberapa saat setelah melewati punggungan, perjalanan sedikit melipir ke kiri lalu nanti akan menjumpai sebuah shelter. Tapi nyatanya, sepanjang track yang kami lalui adalah jalur berupa punggungan panjang dan tak ada shelter yang kami temui. Jangankan shelter, tempat yang datar saja sepertinya tak ada. Kami berusaha mengusir kepanikan dengan tetap melanjutkan perjalanan. Berharap jalur ini membawa kami segara sampai ke sebuah tempat yang aman untuk sekedar beristirahat.

Sudah hampir jam 10 malam, dan kami belum menemukan tempat datar untuk mendirikan tenda. Punggungan semakin kedepan malah semakin terjal. Kami beristirahat sejenak dan membicarakan apa yang harus dilakukan. Kami baru menyadari bahwa kami telah menyimpang jauh dari jalur yang seharusnya. Untuk berbalik arah dan mencari jalan melipir ke kawah sepertinya bukan pilihan yang tepat, secara kami sudah cukup jauh menaiki punggungan ini. Juga melihat kondisi fisik dan mental para siswa yang tentu saja akan down jika kami harus turun dan berbalik lagi. Ditambah malam semakin larut, dan secepatnya kami harus mencari tempat datar unuk bermalam. Sedikit perdebatan terjadi diantara senior kami. Sang ketua rombongan menghendaki kami tetap berjalan dan ia yakin bahwa jalur itu pernah dilewati jika melihat tanda-tanda sampah yang ditemui di beberapa titik, artinya jalur ini aman untuk didaki. Namun senior wanita kami beranggapan bahwa sebaiknya tidak melanjutkan keatas karena terlalu berbahaya, sampah bisa saja sampah pendaki yang langsung menuju ke puncak, bukan segoro wedhi tempat tujuan kami.

Dalam hati kecil kami, sebagai para pendaki pemula, sedikit rasa takut itu tentu saja ada. Namun kami berusaha tenang dan percaya pada kakak-kakak senior. Justru dari pengalaman seperti ini kami malah bisa banyak belajar tentang bagaimana mangatasi situasi-situasi sulit. Tentang pentingnya saling percaya, tentang menghadapi dan menaklukkan rasa takut, dan  tentang aplikasi pesan diklat untuk selalu “fokus, rasional, dan jangan panik”.

Akhirnya semua sepakat untuk tetap melanjutkan perjalanan, karena dengan kami lama berhenti tanpa kondisi yang nyaman justru akan memicu terjadinya hipotermia. Kami juga percaya pada pimpinan rombongan kami, kak codet, yang berdasarkan insting dan naluri gunungnya melihat tanda-tanda puncak sudah dekat dan terlihat. Intinya kami harus bergerak, menyusuri punggungan itu, melalui tanjakan-tanakan yang semakin tajam. Dengan sisa sisa tenaga dan semangat yang ada. Kami tak lagi mempedulikan segoro wedhi, biarlah kami kalah taruhan dan pak dosko dan kak gokong sampai disana duluan, menikmati bandeng segar dan minuman kemenangan, begitu pikir kami. Kami hanya terus berjalan dan berharap menemukan tempat datar setidaknya untuk satu tenda saja, atau segera sampai di puncak dari punggungan itu, agar kami dapat melihat tempat yang aman untuk bermalam.

Codet, joneh, dan kak jane yang sebelumnya orientasi medan dan mengecek jalur mengatakan bahwa ada sebuah tempat yang aman. Tapi ternyata tempat yang dimaksud adalah sebuah tempat yang ditumbuhi ilalang dengan kemiringan yang “sedikit” lebih landai dibanding yang lainnya. Hehehe.. tapi lumayan lah, disana kami bisa beristirahat untuk meringkukkan badan. Disaat yang lain beristirahat, kembali codet, ewel, dan genkiss mencari tanda-tanda medan. Hampir sejam mereka baru kembali, itu artinya hampir sejam pula kami beristirahat. Beberapa daiantara kami bahkan ada yang sampai tertidur. Beberapa yang lain sibuk dengan membongkar carier untuk membuat minuman hangat, dan saya sendiri lebih memilih untuk menikmati pemandangan indah dibawah sana. Kerlap kerlip lampu kota yang terhhampar luas seperti bintang-bintang dilangit. Lampu sorot dari alun-alun kota yang terlihat jelas puluhan kilo jauhnya. Jelas terlihat karena tak ada pepohonan yang menghalangi pandangan kami. Karena dibawah kami adalahh jurang savana yang terhampar luasnya. Yah cukup lumayan untuk merecovery semangat dan tenaga. Angin gunung malam hari kian menerpa, ketika Codet dengan bersemangat datang dan mengatakan bahwa tak jauh dari sini ia melihat kawah, kita harus segera bergegas naik dan mendirikan tenda disana. Jalurnya pun jelas katanya. Alhamdulillah…

Dan kamipun berjalan,

Hampir tengah malam kami tiba di sebuah area yang cukup terbuka, sebuah tempat datar yang cukup untuk mendirikan tiga buah tenda. Ditengah tengahnya ada sebuah gundukan rumput yang menyerupai nisan sebuah makam. Tapi kami tak begitu yakin kalau itu adalah makam. Yang jelas daerah terbuka itu adalah puncak dari punggungan itu. Disana kami mendirikan tenda dan masak bersama. Indomie rebus dan susu jahe cukup menghangatkan tubuh kami. Untuk menutup malam itu, kami tak lupa memanjat rasa syukur kepada Sang pemberi Kehidupan. Sholat pun tak terlupakan. Sembari berdoa, agar tak ada badai dan hujan dimalam itu.

Kami harus segera bergegas tidur, karena esok pagi-pagi sekali kami harus bangun dan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di tenda lafuma kuning kami berdesak desakan berlima. Saya, joneh, sundul, kace, dan seorang “penyusup”, gimbal. Gimbal adalah panitia yang mengungsi di tenda kami. Dengan sarung bag (pengganti sleepingbag) dan kaoskaki panjang kami melewati malam hingga pagi menjelang.

HARI KETIGA

Pukul 05.00 jam alarem berbunyi. Membangunkan kami untuk segera menyalakan api, memasak untuk sarapan pagi, dan menikmati sunrise pagi hari. Joneh dan kace sudah bangun, sedangkan saya (teplok) dan sundul masih enggan berpisah dengan sarung bag dan meringkuk dalam tenda. Brrrrr.. dingin sekali pagi ini. Baru setelah minuman hangat tercium dari dalam tenda kami baru beranjak keluar, masih dengan jacket, sarung, dan balaclava yang membalut kepala. Hehe cule sekali orang ini..

Subhanallah.. ternyata indah sekali pemandangan dari tempat itu. Di sebelah timur kami nampak berjajar gunung merapi, merbabu, dan ungaran. Disebelah utara ternbentang kota purworejo, purwokerto, dan sekitarnya. Di sebelah barat laut sindoro terlihat begitu cantik, diselimuti awan yang bergumpal di leher dan kakinya, puncaknya ranum mengintip nampak begitu menggoda. Sedangkan  di sebalah selatan kami adalah kawah segoro wedi, tempat yang semula kami rencanakan untuk bermalam. Segaris lurus dengan puncak sejati yang terlihat menjulang paling tinggi diantara puncak-puncak lainnya. Rupa-rupanya kami berada pada salah satu bibir kaldera kawah sumbing. Antara puncak kami dengan puncak-puncak lainnya terhubung oleh punggungan di sebelah barat daya. Sungguh indah dan mempesona.. Saya baru menyadari  sebuah ayat dalam surah al insyirah, bahwasanya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan.

Maha Benar dan Maha Besar Allah dengan segala keagungan-Nya.

Singkat cerita, setelah sarapan siap, dan tenda sudah terbongkar, kami segera packing perlengkapan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah foto-foto sejenak dan stretching ringan kami melanjutkan perjalanan. Sebuah punggungan landai ke arah barat daya yang menyerupai sebuah jembatan, kanan kirinya adalah jurang dan menghubungkan puncak itu dengan sebuah puncak yang terlihat agak jauh disana. Disitu, kami menemui sebuah keanehan, kami menjumpai ceceran kotoran binatang yang menyerupai kotoran kambing, namun manggumpal, dan masih hangat, sepertinya baru tadi sore binatang itu melewati tempat itu. Tapi binatang apa? Kambing? Rasa-rasaya tak ada kambing gunung disini, ataukah kotoran babi hutan? mungkin, ataukah kotoran kadiv kami yang tadi pagi kepergok “download’ ditengah jalur dan ditimpuk denganbatu? Sepertinya tidak mirip dengan kotoran manusia. Entahlah.. kami terus saja berjalan saja tanpa banyak memikirkannya. Fikiran kami tertuju pada satu puncak yang sudah tidak jauh lagi dari tempat kami berada.

PUNCAK BUNTU GUNUNG SUMBING

Benar saja. Hanya dua puluh menit dari tempat kami ngecamp kami sudah sampai di puncak buntu. Salah satu puncak gunung sumbing yang berada di ketinggian sekitar 3300an mdpl. Cuaca cerah, angin berhembus kering, langit biru, jurang kawah menjulang, hamparan awan luas membentang. Mungkin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya rasa syukur dan kagum atas ciptaan-Nya. Hanya merasa kerdil dibanding seluruh semesta. Hanya merasa malu untuk menjadi sombong setelah melihat batapa kecilnya kita. Menaklukkan gunung adalah menaklukkan diri sendiri, menaklukkan ego dan kecongkakan diri, menjadi orang yang lebih peka terhadap sekitar kita. Alam, mengajarkan kita semua..

Ingin rasanya berlama-lama merasakan segala pengalaman spiritual itu, kepuasan bathiniah yang tak ternilai. Rasa lelah dan penat sepanjang peralanan seakan terbayar lunas. Namun waktu yang kami miliki tidaklah banyak, kami harus segera turun dan mengejar kereta yang akan membawa kami kembali ke jakarta. Sedikit rasa penasaran masih tersisa karena kami belum menginjakkan kaki di puncak sejati. Namun tak mengapa, mungkin artinya sumbing mengundang kami untuk bercengkrama dilain waktu.

Kami turun via jalur garung, dengan pertimbangan transportasi yang lebih mudah dan cepat. Ternyata jalur via garung ini tak kalah indah dan menantang dibandingkan jalur cepit. Kami berulangkali harus terjatuh ketika berlari menuruni jalur setapak yang panjang dengan terburu-buru.

Sesampainya di pestan kami dihadapkan pada percabangan jalur. Jalur lama dan jalur baru. Kami lebih memilih melalui jalur lama karena lebih cepat dan persediaan air kami masih cukup banyak. Namun ternyata kami sempat salah jalan, kami melalui jalan yang mungkin jarang sekali dilalui. Jalan curam dan sempit, bahkan tak jarang kami harus merosot. Untungnya kami bisa kembali bertemu jalur yang seharusnya dan melanjutkan perjalanan menuju desa garung.

Sayangnya kami terlalu sore tiba di basecamp garung, sehingga sepertinya bakal ketinggalan kereta. Setelah mendapatkan info dari mapala lain, katanya dari purwokerto masih ada bus yang menuju ke jakarta. Di basecamp yang cukup luas dan nyaman itu kami membersihkan diri, sholat, dan memesan nasi goreng yang disediakan oleh pengelola basecamp. Hmmmm..

Pukul 18.00 kami meninggalkan basecamp, dan kembali ke jakarta.

 
1 Comment

Posted by on April 20, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: ,

One response to “Catatan Perjalanan: Gunung Sumbing

  1. Jejak Mountainer Himalaya

    February 9, 2012 at 7:33 am

    salam HIMALAYA

     

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s