RSS

Jiwa Jiwa yang Tenang

27 Feb

“WAHAI JIWA-JIWA YANG TENANG”

Lagi lagi si lampu teplok galau lagi, lagi-lagi galau lagi, lagi dan lagi…

***

Bintaro, 27 Februari 2011, 02:30AM

Hati ini terasa gundah, resah, diliputi gelisah, dan fikiran pun dipenuhi rasa bersalah.

Secangkir kopi panas nan pahit tak mampu lagi menenangkan hati. Membuka buku-buku komedi dan cerita parodi tak cukup mampu menghibur diri. Mendengarkan hentakan musik nan berisik malah semakin membuat bathin terusik. Ada apa dengan jiwa ini? Ada apa dengan diri ini?

Aku butuh teman bicara, namun siapakah yang harus ku percaya? Aku butuh sahabat untuk mengadu, tapi rasa-rasanya tak kan ada yang bisa mengerti permasalahanku.

Tiba-tiba aku teringat kepada “sahabat lama”, yang selalu ada ketika ku membutuhkannya. Namun ia tak pernah marah bila ku melupakannya ketika ku bahagia. Ya, kenapa tidak ku kontak saja dia? Hmmm.. onlen facebook dulu ah. Aku yakin dia selalu onlen 24 jam. Aku yakin dia bakal mau dengeriin keluh kesahku.

(buka mozilla – masukkan alamat www.facebook.com – ketik user name – type password – Login – masuk fitur chat).

Alhamdulillah.. ternyata benar dia lagi onlen.

Aku        : “Assalamu’alaykum..

Dia          : “Wa’alaykum salam..”

Aku        : “Tuhan, aku ingin curhat.. boleh?”

Dia          : “Tentu..”

Aku        :

“Tuhan, mungkin akhir-akhir ini aku terlalu jauh dariMu, bahkan rasa-rasanya aku malu untuk menyebut nama agung-Mu, yang hanya kusebut kala ku membutuhkan-Mu, yang ku dekat hanya ketika ku terhimpit dalam ujian-Mu. Tapi malam ini, lewat obrolan ini, aku ingin mengadu. Karena aku tahu, Engkau Maha Tahu..”

Dia          : “Oke, aku tahu.. Hatimu sedang galau kan..??”

Aku        : “Benar Tuhan.. apa yang harus aku lakukan..??”

Dia          :

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah

Irji’ii ilaa Rabbiki

Radhiyatan mardhiyyah

Fadkhulii fii ‘ibaadii

Wadkhullii jannati”

Hai jiwa-jiwa yang tenang

Kembalilah kamu kepada Tuhanmu

Dengan hati puas lagi diridhai

Maka masukklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Maka masuklah ke dalam surga-Ku

(QS Al-Fajr 27-30)

***

Dan kemudian si lampu teplok pun mendapatkan jawaban atas kegalauan hatinya, mendapatkan sedikit ketenangan jiwanya. Ternyata solusinya cukup simpel saja. Untuk mendapatkan ketenangan jiwa, ia hanya butuh kembali kepada Tuhan nya, dengan hati yang benar ikhlas ikhlas dan penuh penghambaan diri. Menyesali dosa dan kesalahan lampu, dan berjanji tuk tak mengulangi di sisa hidup ini. Kemudian meniti jalan yang dirdhoi, jalan yang diterangi cahaya iman dan taqwa. Semoga si lampu teplok tetap menyala, dan tak padam oleh hempasan masa..

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s