RSS

Ebaz: “Sabumi, We Call It Us”

11 Feb

“Sabumi, We Call It Us”

Rangkaian masa diklat STAPALA baru saja berakhir, ada rasa syukur yang mendalam setelah proses panjang itu berhasil kami lalui, bukan semata karena slayer merah dan nomor anggota telah melekat di leher dan dada kami. Namun lebih pada rasa syukur atas perjuangan dan pengorbanan untuk melalui proses ini.  Perjalanan panjang dan penuh cerita yang semakin menguatkan kami, menyatukan dan mempererat persaudaraan kami.

Kami menamai persaudaraan itu, “SABUMI”.

Kisah tentang Sabumi itu sendiri rasa-rasanya tak kan cukup untuk diceritakan dalam sehari. Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak catatan, terlalu banyak perisiwa yang mewarnai. Dibalik semua kisah itu, slalu ada satu tempat yang mungkin tak tergantikan bagi kami. Sebuah ungkapan lama mengatakan, dibalik ikatan yang kuat pastilah terdapat leader yang hebat. Dan sosok pemimpin sejati itu kami temui dalam diri seorang Ebaz, seorang Erikson bin Asli Aziz, seorang figur kapten angkatan yang mampu mempersatukan kami sebagai satu keluarga, sebagai satu saudara. Walaupun pada akhirnya kenyataan yang “memaksanya” untuk memilih menjalani sebuah pilihan. Kami yakin tidak ada yang salah dengan pilihan, semuanya mengalir seperti apa yang telah digariskan oleh Tuhan.

Sepenggal catatan dari seorang Erikson, tentang SABUMI,

Pada masanya dulu, ada 101 orang yang memiliki pilihan yang sama, kemudian secara perlahan menjadi semakin berkurang menjadi 64, menyusut lagi menjadi 54 hingga akhirnya tercapai satu komitmen berakhir dengan jumlah 44 yang menyatakan siap meneruskan pilihan…

Pilihan yang di nyatakan dalam suatu sore tepatnya pada 6 Desember 2010, dengan taman CD Kampus STAN Jurangmangu menjadi saksi bisu yang mendengar gema lantang pengikraran komitmen yang diucapkan. 44 orang itu tadi dengan penuh semangat menjalani hari-hari penuh tempaan yang menjadikan mereka makin kian akrab satu sama lain. Dan dari situ banyak pula bermunculan cerita yang akan menjadi kenangan, walau dalam perjalanan di hari-hari yang mereka tempuh ada yang berbelok arah, bukan karena kehilangan kompas namun karena merasa ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk akhirnya saling berjumpa kembali dibawah langit yang sama diatas bumi yang satu.

Pengantar diatas merupakan satu titik dalam kehidupan ku yang bisa aku kenang. Ada banyak kenangan di kepala ini, namun yang membekas dan menyisakan hal yang tidak bisa diukur dengan rupiah sekalipun, salah satunya adalah kenangan tersebut. Karena hal tersebutlah yang membuat masa-masa dikampus ku ini menjadi lebih terasa. Bukan hanya kuliah, kuliah dan kuliah, tapi juga ada momen-momen untuk mengenal dan melihat setiap sudut kampus ini lebih dalam dari sudut pandang seorang yang baru sadar untuk selalu berusaha menjadi lebih kuat dari hari kemarin. Lagi pula ini semua sedikit banyak telah membuat aku merasa menjadi mahasiswa pada umumnya, bukan mahasiswa kantoran yang selama ini menjadi identitas yang melekat padaku. Disebut mahasiswa kantoran karena aku adalah pegawai yang disekolahkan lagi, jadi kadang banyak yang seperti ku ini sudah merasa malas atau enggan mengikuti kegiataan kemahasiswaan, entah karena sudah merasa tidak pantas atau merasa sudah tidak membutuhkan.

Menjadi bagian dari kenangan itu mengantarkanku menjumpai banyak karakter yang dari mereka aku telah belajar. Mereka secara umur lebih muda dariku, namun aku tidak pernah merasa malu untuk mengakui bahwa aku dipahamkan tentang banyak hal yang mereka lebih baik dariku. Aku melihat soal ketenangan yang mampu meredakan emosi lalu membalikkan suasana menjadi lebih terarah, soal kerendahan hati dari mereka yang aku tahu memiliki kesempatan untuk menjadi jumawa, atau mengenai dukungan penuh yang mampu mengubah seorang gadis biasa menjadi gadis yang selalu ‘on fire’. Semuanya melebur menjadi satu dalam beragam bentuk dukungan dan semangat satu sama lain yang tertuju tanpa ada paksaan atau niat untuk menyamakan cara pandang, karena memang perbedaan begitu dihargai disini.

Dalam bayangan kenangan itu aku melihat bagaimana tawa, canda dan kebersamaan telah menghapus bentangan perbedaan usia, budaya dan agama, dan akhirnya semuanya sama, tidak ada yang merasa lebih tua, lebih hebat atau lebih unggul dari yang lain. ‘Aku hanya butuh tempat untuk menjadi diriku sendiri’ begitu kira-kira yang selalu aku inginkan, dan tidak banyak tempat yang menjadikan aku seperti itu, dan bersama kalian, aku bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus berperan menjadi seorang alim, seorang pintar atau seorang yang gaul. aku memerankan diriku sendiri, dengan caraku, tanpa dibuat-buat dan semuanya natural membaur bersama kalian. Bagusnya kalian telah membuat aku merasa diterima. I owe you all more than thanks.

Hidup kita masih sangat panjang, walau kita memang tidak pernah tahu kapan malaikat maut menjemput, setitik kenangan yang aku jalani bersama kalian membuat aku menyadari banyak hal, dan yang penting bagiku adalah kalian telah mengingatkan aku agar berusaha membangkitkan motivasi dan semangat setiap kita dalam ikatan persaudaraan dan membiarkan semangat itu tumbuh didalam diri kita untuk kemudian membuat setiap kita sadar untuk memilih jalan dan mengambil sikap tanpa melupakan persaudaaan itu, karena bukanlah persamaan dalam satu bendera dan afiliasi yang membuat orang-orang itu bersaudara, namun lebih jauh dari itu semua adalah apa yang telah kita perbuat bagi orang-orang yang kita sebut saudara. Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta, begitu Soe Hok Gie pernah menulis dalam catatan hariannya.

Pernah ada dan akan tetap terus ada SABUMI di dalam ingatan kita, lalu untuk 28 perwakilan SABUMI yang telah menjejak ke Gunung Kencana, ada rasa bangga, haru dan bahagia yang tidak bisa aku ucapkan melihat perjuangan kalian, kalian hebat dan kuat.

SEMANGAT SATU BUMI… SABUMI!!!

EBAZ – 033/SBM/2011

Untuk melihat posting aslinya klik saja: http://blogsierikson.blogspot.com/2011/01/sabumi-we-call-it-us.html

Itulah seorang Ebaz, yang memandang persaudaraan sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar atribut, lebih dari sekedar seragam, nomor, dan slayer. Lebih daripada itu. Terimakasih atas semua pelajaran berharga yang telah kau berikan capt, terimakasih atas segalanya. SABUMI, We call it us…!!

TEPLOX

001/SBM/2011  –  940/SPA/2011

 
2 Comments

Posted by on February 11, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

2 responses to “Ebaz: “Sabumi, We Call It Us”

  1. sano a.k.a eike

    February 24, 2011 at 5:21 am

    plox, blog ku juga dipajang dong ..
    nanti tak pajang juga blogmu di punyaku :DD

     
    • azhyzmaghfur

      February 25, 2011 at 5:50 pm

      oke ke’, udah ta pasang di link blogroll…
      makasih atas kunjungannya ya..
      ayo ngeblog….!!

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s