RSS

Antara aku, teplok, dan sebuah nama

01 Feb

Ada kata bijak mengatakan bahwa nama adalah sebuah doa, ada pula yang mengatakan nama itu hanyalah sebagai penanda, ada pula yang memaknai nama sebagai sebuah pengingat, baik itu pengingat tentang pribadi orang itu, atau pengingat tentang suatu peristiwa. Yang jelas, setiap bayi yang dilahirkan di dunia ini, yang tumbuh besar di bumi ini pasti mempunyai nama. Berani bertaruh, apabila ada yang tidak punya nama (baik itu pemberian orang tua kandungnya, pemberian orang lain, atau dirinya menamai dirinya sendiri) maka silahkan jitak kepala saya seratus kali. Hehehe..

Saya juga punya nama, hadiah dari kedua orang tua saya tercinta. Dua puluh satu tahun yang lalu, bayi mungil yang ganteng nan rupawan itu dinamai Abdul Aziz Maghfur karena orang tua saya berharap agar kelak saya menjadi hamba Tuhan yang selalu mendapatkan ampunan. (mungkin kedua orangtua saya tau kalo besar saya bakal nakal, jadi dimintakan maaf sama Allah, hehe). Trus seklaigus menjadi pengingat karena saya lahir di bulan yang penuh dengan ampunan, bulan maghfiroh. Tahukan bulan apa?? Yuph, saya lahir di bulan ramadhan, bulan yang penuh maghfiroh. Makanya nama Maghfur itu sebagai pengingat kalo saya lahir bulan ramadhan. Kelamaan muter-muternya ya? hehe.. biarin aja, suka-suka saya..

Waktu kecil akrab dipanggil “pupunk”, bahkan sampe gedhe dikampung saya terkenal dengan panggilan “mas pupunk”. Nah, semenjak SMP nih saya mulai dipanggil Aziz. Biar agak keren nulisnya pake gaya alay gitu (dulu belum ngetrend yang namanya alay, jadi masih kelihatan keren, “Azhyz”. Trus waktu SMA ada yang manggil “Azhyz” tapi ada pula beberapa yang lebih suka memanggil “Maghfur”, katanya lebih unik, maklum lidah jawa agak-agak sulit malafakan kata yang mengandung 3 huruf konsonan berurutan. Jadi kesannya unik dan rada-rada aneh gitu..

Kenapa lampu teplok?

trus kenapa disini saya pake nama teplok?? teplok adalah nama rimba yang disematkan kepada saya ketika mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) STAPALA, Kelompok pecinta alam yang ada di kampus STAN. Awalnya sih “cuma” sebagai panggilan saja, namun setelah saya resapi mendalam, teplok itu mengandung sebuah makna yang sangat mendalam pula. Penuh filosofi, penuh arti, penuh makna.

Lampu teplok adalah sebuah penerang dikala gelap, dulu, jauh sebelum listrik masuk ke rumah-rumah, orang mnggunakan sebuah lampu yang memakai minyak dan ada kacanya (semprong,red) nah itu yang dinamakan lampu teplok. Lampu teplok ini melambangkan kesederhanaan, namun sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Lampu teplok selalu kotor oleh asap yang menempel setelah digunakan, namun ia akan bersih kembali setelah dilap dan akan digunakan kembali. Silahkan dimaknai sendiri apa yang terkandung dalam filosofi yang saya paparkan tadi..

salam hangat, dan salam persahabatan..

Salam rimba..!!

 
Leave a comment

Posted by on February 1, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s