RSS

Terdampar di Ibukota (1)

30 Jan

Sejenak flasback ke masa lalu, ada sebuah cerita menarik yang ingin saya bagi dengan sahabat-sahabat pembaca, tentang bagaimana kisah “terdampar” di sebuah kampus yang akhir-akhir ini namanya mencuat di berbagai media setelah seorang alumninya mendadak populer berkat milyaran kekayaannya. Ya, kampus ini semakin sering disebut (baca: menuai cibiran) gara-gara seorang Gayus Tambunan dengan kasus korupsi pajaknya.

Namun kali ini saya sedang tidak ingin bercerita tentang “kakak kelas” saya yang satu itu (bahkan sejujurnya saya malu menyebutnya sebagai kakak kelas), seperti yang telah saya sampikan diatas, tulisan ini merupakan sepenggal kisah masa lalu, dimana kampus STAN belum tercemar oleh oknum-oknum seperti Gayus, atau mungkin waktu itu si Gayus sedang menuntut ilmu di bangku perguruan tinggi itu. Entahlah, saya kurang tahu pasti, yang jelas, enam tahun yang lalu, seorang remaja tanggung yang duduk di bangku kelas tiga SMP mulai merajut mimpi untuk bisa kuliah di perguruan tinggi bernama STAN itu.

Mengapa saya ingin masuk STAN?

Alasannya simpel. Waktu itu guru olahraga kami, Bapak Slamet Buchori, berkisah tentang perjalanan hidupnya, beliau mengisahkan bahwa pada masa mudanya, pernah tiga kali mencoba masuk STAN tapi selalu gagal, saya sendiri tidak tahu STAN itu seperti apa dan bagaimana, maklum saja, karena kami orang desa, jadi informasi-informasi mengenai dunia luar yang didapatkan sangatlah terbatas, tapi entah mengapa dalam hati kecil saya terbesit bahwa aku harus bisa masuk STAN. Aneh memang. Dan mulai saat itu aku mulai mencari tahu tentang apa tu STAN, bagaimana sistem pendidikannya, dan tentang prospek kedepannya.

Perjalanan untuk menggapai mimpi itu ternyata tak semudah yang ku bayangkan, bahkan, ketika baru akan melanjutkan ke jenjang SLTA pun sudah mendapatkan hambatan yang luarbiasa besar untuk ukuran anak SMP. Aku menginginkan melanjutkan ke SMA Negeri 1 Salatiga, salah satu sekolah unggulan dikota kami, namun Bapak menghendaki agar saya masuk ke MAKN/MAPK Surakarta, sekolah khusus keagamaan dengan sistem asrama yang sangat ketat. Aku menolak, memberontak, hingga akhirnya timbul pertengkaran hebat diantara kami. Tak ada yang mau mengalah, sama-sama ngotot, bahkan Bapak mengancam untuk tidak membiayai sekolahku. Namun aku juga sama-sama ngototnya, kalau tidak dibaiayai yasudah, tidak usah sekolah.

Singkat cerita akhirnya aku bisa melanjutkan ke SMA impianku, disana aku mengambil jurusan IPS. banyak yang beranggapan bahwa kalau tidak masuk IPA tidak keren, IPS adalah jurusan buangan, kasta kelas dua dalam hierarki prestise dan kebanggaan. Tapi aku berfikir lain, aku masuk IPS karena aku memang menyukai cabang-cabang ilmu sosial, dan aku berfikir pelajaran di jurusan IS akan banyak bermanfaat untuk masuk dan kuliah di STAN. Tentang bagaimana kisahku masuk STAN akan ku tulis dalam tulisan yang berbeda. Ditunggu ya…🙂

 
2 Comments

Posted by on January 30, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: ,

2 responses to “Terdampar di Ibukota (1)

  1. nobody

    January 31, 2011 at 4:29 pm

    Kekuatan FreeMason Yahudi di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang saling berusaha untuk menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utama tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada orang yang bisa menangkap, mengadili, dan menghukum Gembong tersebut, selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

     
    • azhyzmaghfur

      February 12, 2011 at 9:30 pm

      Terimakasih atas kunjungannya..
      Hmmm, bisa jadi, jika kita runut pola-pola konspirasi mereka memang mengarah kesana. Yang jelas, ada sesuatu yang tak beres disini, seperti ada invicible hand yang mungkin nyaris tak tersentuh bahkan oleh hukum sekalipun. Semoga solusi yang ditawarkan “Islam” tak hanya sekedar menjadi wacana.
      Masyarakat membutuhkan perubahan, dan mahasiswa serta ormas lainnya sebagai agen perubahan. Yang menjadi pertanyaan, mampukah??

       

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s