RSS

Catper Simbung (2): Perjalanan menuju ke Cepit

30 Jan

Sepanjang Perjalanan
Jam di tangan menunjukkan pukul 19.35 ketika perlahan kereta mulai meninggalkan stasiun Tanah Abang. Bismillahirrohmanirrohim.. bismillahi majreha wamursaha..
Naik kereta api kelas ekonomi memang selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi kami, selain harus berdesak-desakan dengan penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk, terganggu oleh lalu lalang pedagang asongan yang setiap menitnya silih berganti menawarkan dagangannya, copet dan tangan-tangan jahil berkeliaran yang setiap saat bisa saja kita menjadi korbannya, sesak, sumpek, tempat duduk yang keras dan tidak bisa di set kemiringannya, serta berbagai ragam ketidaknyamanan lainnya, namun inilah kereta rakyat, kereta yang paling bersahabat dengan para pendaki seperti kami. Simbol transportasi darat yang benar-benar merakyat. Sederhana, tapi penuh makna dan cerita. Didalamnya kami masih bisa tertawa-tawa, bercanda, menikmati suasana, mengamati tingkah polah kecerdikan dua orang penumpang tanpa tiket yang kucing-kucingan menghindari petugas pemeriksaan karcis. Kami pun merelakan berbagi tempat duduk dengan ibu-ibu dan seorang anaknya yang susahpayah kerepotan berdiri karena bodohnya sang suami. Inilah seninya kereta api, kita bisa berinteraksi dengan potret masyarakat yang sesungguhnya. Kendati demikian, sebisa mungkin kami disarankan untuk bisa memanfaatkan waktu untuk istirahat dengan sebaik-baiknya, mempersiapkan fisik, mental, dan stamina untuk menghadapi pendakian yang akan kami tempuh esok hari.
Keretapun terus melaju, stasiun demi stasiun berlalu, kami terjaga dari tidur tak nyenyak setelah adanya kontrol karcis oleh seorang petugas di daerah kebumen, dan setelah itu kami harus segera bersiap-siap karena tidak lama lagi kereta akan tiba di stasiun tujuan. Nampaknya kereta ini mengalami keterlambatan, molor sejam dari estimasi yang sudah ditentukan. Pukul 05.45 rombongan baru tiba di stasiun Kutoarjo. “Sing meh nguyuh ndang nguyuh, ngising, sikatan, subuhan. Ngko terus golek carteran”.
Untuk mendaki gunung sumbing ini dapat ditempuh melaui tiga jalur, yaitu cepit, garung, dan kali angkrik. Ketiganya memiliki karakteristik dan sarana transportsi yang berbeda. Kemudahan akses transportasinya pun berbeda pula. Jalur yang kami pilih, jalur cepit, kebetulan transportasinya paling susah, selain paling jauh, rute angkutannya pun harus memutar dan itupun tidak ada yang langsung ke sana, harus ngeteng istilahnya. Kutoarjo-jogja-magelang-temanggung-parakan-cepit. Mengingat waktu yang kami milik cukup mepet dan sudah terlambat beberapa jam dari dari rundown di manper kami, maka kami memutuskan untuk menyewa atau istilahnya “nyarter” minibus / bis engkel yang mangkal di depan stasiun untuk langsung diantar sampai ke basecamp cepit. Sang supir minibus mengaku tidak tahu jalan menuju kesana, tapi menyanggupi untuk mengantar kami. Negosiasi harga berlangsung cukup alot, hingga akhirnya disepakati kami harus membayar Rp 250.000,- untuk sampai ke cepit.
Ditengah perjalanan, dua orang senior pendamping memutuskan memisah dari rombongan. Pak Dosko dan Kak Gokong berencana mampir ke magelang terlebih dahulu dan kemudian naik lewat jalur kaliangkrik. Kedua orang itu adalah senior yang pernah mendaki gunung sumbing. Itu artinya dalam rombongan kami belum ada yang pernah kesana sebelumnya. Bus berhenti sejenak di daerah Krasak, kami membeli nasi bungkus di warung pinggir jalan untuk sarapan sekaligus “mbungkus” untuk nanti siang. Alangkah terkejutnya kami ketika mendapati sebungkus nasi putih plus lauk mietelor dihargai seribu rupiah. Sambil ketawa-ketawa kami berkomentar “Enak ya kalo penempatan daerah sini, masih ada makanan seharga seribu, jakarta mah mana ada boi..” Ya tapi sayangnya perut lapar kami tidak akan kenyang makan hanya sebungkus nasi seribuan tadi, walhasih dua bungkus kami lahap untuk mengganjal perut sebagai sarapan pagi itu.
Rencananya, akan bergabung lagi dua orang senior STAPALA yang sedang magang di Semarang yaitu Kak Combro dan Kak Kopyor. Namun ternyata yang ikut serta bergabung bersama rombongan hanya Kak Combro saja. Kebetulan dia ini sebulan yang lalu habis mendaki gunung sumbing, namun terkena badai dan tidak sampai puncak sehingga masih diliputi rasa penasaran. Bus kembali berjalan melewati jalanan aspal yang menanjak dan berliku-liku menuju daerah parakan – temanggung. Setelah Rumah Sakit Ngesti Waluyo bus belok kiri menuju dusun cepit. Berdasarkan informasi yang kami dapat, transportasi menuju ke dusun itu sangat terbatas, hanya ada mobil colt atau jasa ojek, itupun relatif mahal, sekitar 15.000-25.000 rupiah untuk sampai di basecamp atau batas hutan. Untungnya kami sudah deal dengan pak sopir untuk diantar sampai ke basecamp Cepit.
Jalanan masih saja menanjak dan berbelok belok. Bedanya, yang kami lewati ini jalan dusun yang tidak terlalu lebar. Bus berhenti sejenak, menunggu Kak Combro yang menyusul kami dengan ojek. Kami pun turun untuk menghirup segarnya udara pedesaan di lereng gunung. Setelah “turis” yang ditunggu datang kami semua kembali masuk kedalam bus. Ngung-ngung-ngung… agak memaksa juga sepertinya suara bus itu. Sang kenek minta semua turun untuk mendorong bus itu, mesin macet katanya. “dji ro lu dorong..!!” tenaga kami tak sanggup menggerakkan bus itu, akhirnya bus mundur, dan ternyata mesin bisa menyala. Kamipun melanjutkan perjalanan ke dusun cepit. Setelah beberapa tanjakan sopir bus itu menepi dan berkata bahwa setelah tikungan ini akan ada tanjakan tinggi, dia tidak berani naik karena bus nggak kuat, takut melorot katanya. “ndak jauh kok mas, limaratus meter lagi sudah nyampe di cepit, habis tikungan ini ada tanjakan, bisnya nggak bakal kuat”. Akhirnya kamipun mengalah turun disini. Jengkel juga sih, karena kami sebelumnya sudah menyepakati ongkos tambahan yang diminta mereka dengan alasan ternyata jarak kutoarjo – cepit itu jauh lebih jauh dari yang diperkirakan.

 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Monggo,, silahkan meninggalkan komentar, kritik, saran dan masukan disini, jangan sungkan-sungkan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s