RSS

S e p e n g g a l   c a t a t a n – c a t a t a n   k e c i l 
tentang kita, tentang hidup, tentang petualangan, tentang kebersamaan, tentang persaudaraan, tentang alam, tentang mimpi, dan diriku sendiri 

[untuk melihat DAFTAR ISI klik disini]

 
Comments Off on

Posted by on February 5, 2011 in Uncategorized

 

Sebuah dialog imajiner, di pinggiran kota balikpapan, di sebuah malam ramadhan.

Sebuah dialog imajiner, di pinggiran kota balikpapan, di sebuah malam ramadhan.

“Jek, tarawih di mana kita? mesjid xxx?”

“wah, disana 8 tapi imamnya menye2, kemayu, baca suratane suuuuuwi. Daripada kita ibadah tapi hati menggerutu nggak ikhlas??”

“lah, yauwis kalo gitu kita ke mesjid yyyy aja yoh”

“wah, kalo disana 20 tapi ekpress, kayak orang lomba lari. Kurang tuma’ninah. Ibadah begitu mana bisa khusyu’ kita?”

“Walah kang, lha terus piye? apa kita bikin jamaah aja sendiri disini, kita daulat Gus Ilham sebagai imam”

“nhaaa cocok itu jek, yawis yo kita jamaah disini aja”

“ngomong2 gus ilham nanti tarawehnya 8 menye2 apa 20 express,gus?”

“Kita nanti 8 express aja”, kata Gus Ilham.

“%@*/-++#&@7″
*tarawih dg semangat 45 dan hati ikhlas”

***

Balikpapan, 14 Juli 2013. Ramadhan hari ke 5.

 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2013 in Catatan Harian

 

Cerita dari Balikpapan

Uang bisa dicari, tapi kebahagiaan nggak bisa dibeli. Begitu kata orang bijak. -dan saya mengutipnya agar kelihatan (sok) bijak-🙂

smileys_LaughKebanyakan orang mengukur kebahagian dengan uang.
Ah, si anu ini kerja di ini gajinya besar.
Gila si itu udah bisa beli rumah beli mobil sekarang.
Ah, disini “lahan kering”, nyesel masuk sini.
Heh, ngapain juga kamu ngerjain itu? orang kerjaan nggak ada honornya gitu.

Hehehe, meskipun tidak berlaku untuk semua orang, tetap saja nggak bisa dipungkiri kalo uang masih memegang peranan penting dalam menciptakan gambaran ideal sebuah kebahagiaan. Contoh kecilnya adalah pernyataan-penyataan diatas yang kebetulan akrab terdengar di lingkungan tempat saya berada.

Maybe yes, maybe no. Bisa saja itu benar. Toh nyatanya “jer basuki mowo beyo”. Misalnya saja, saya bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasan bathin tersendiri ketika saya mendaki gunung. Tapi nyatanya mendaki gunung juga perlu biaya. Tidak murah, Balikpapan-Surabaya, Balikpapan-Jakarta, Balikpapan-Makassar, hitung sendiri berapa harga tiketnya. Tapi bisa juga maybe no. Tidak semua kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Dan tidak jaminan orang yang banyak uang itu bahagia hidupnya. temen saya yang ngaku punya tabungan 40M aja hidupnya (selalu) nggak bahagia, terbukti dia mengidap mythomania akibat penderitaan yang dialaminya secara terus menerus dan tak kunjung sembuh. Cukup jauh berbeda dengan saya dan teman-teman seperjuangan seperantauan yang hampir setahun terakhir ini perbulan “hanya” hidup dengan 850k, toh kita fine-fine aja, kita bahagia menikmati hidup dengan cara sederhana. (hahaha, malah curcol dan membuka aib).😀

Sebenarnya ada begitu banyak kebahagian-kebahagian yang tak ternilai, bahkan begitu dekat dengan kita, disekeliling kita. Apa itu? rasa tenteram. Lagi, rasa aman. Hmhm? rasa nyaman. Yang lain? syukur. Ada lagi? kebersamaan, keakraban, persahabatan, dan banyak hal-hal sederhana yang bisa membuat kita bahagia. Pertanyaannya, apakah sesederhana itu untuk bahagia? Mungkin sebenarnya iya. tapi tidak juga se-sederhana mengetik smiley titik dua dan kurung buka. Semuanya tergantung bagaimana kita yang menjalani.

Kebahagian bisa datang ketika orang lain menghargai kerja kita, usaha kita. Kebahagiaan bisa datang hanya dengan duduk-duduk bersama kawan dan saling mengolok dan melempar ejekan (dengan tampa maksud merendahkan) satu sama lain. Kebahagiaan bisa datang hanya dari kita membiasakan mengucap “minta tolong” dan “terima kasih”. Kebahagiaan bisa datang dari kita bergaul dan bersosialisasi dengan mereka mereka cleaning service, satpam, dan orang-orang yang dipandang “sebelah mata”. Kebahagiaan bisa datang ketika melihat seorang rekan kerja nampak cukup stress dengan pekerjaannya, dan kita sebenarnya bisa menikmati pekerjaan itu dengan enjoy aja. (Hahaha, bukannya mbantuin malah ngolokin).

Key.. Sepotong gambar moment ini akan bercerita tentang sedikit kebahagiaan yang kami temukan di tempat perantauan. Di pinggiran timur Kalimantan.🙂

bakar-bakar

Bakar-bakar ikan bersama temen-temen security

*Ditulis di Balikpapan, 28 Mei 2013.
Tulisan ini hanya sekedar opini dan sharing cerita dari penulis semata, tanpa ada tendensi dan maksud apa-apa. Bila ada kesamaan tokoh, wajah, watak, dan karakter, itu hanya unsur kesengajaan dan bukan kebetulan semata. Keep calm. Daripada jotos-jotosan, lebih baik kita tersenyum bahagia🙂
*titik dua kurung buka*

 
5 Comments

Posted by on May 28, 2013 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Kumbolo…

Kumbolo..

Dulu, naik pesawat adalah sesuatu yang wah. Sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu. At least golongan kelas menengah. Dulu, naik haji juga merupakan sebuah pencapaian yang tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Seorang peziarah haji harus menempuh perjalanan panjang dengan menumpang kapal selama berbulan-bulan. Dengan bekal serta ongkos yang hanya memungkinkan dilakukan oleh para bangsawan dan orang-orang yang cukup mapan. Maka itulah asalmuasalnya di Indonesia seseorang yang pulang dari tanah suci mendapatkan “gelar” HAJI, gelar kehormatan yang hanya ada di negara kita Indonesia ini.

Sebuah prestise, sebuah kehormatan, atas sebuah pencapaian, menjadi sesuatu yang istimewa bilamana tak banyak orang bisa melakukannya, atau memilikinya. Seperti halnya naik pesawat, sekarang menjadi hal yang cukup lumrah bahkan bagi kelas merakyat. Naik haji, kini bahkan sekarang harus mengantri hingga bertahun-tahun (konon sekarang antrian hingga belasan tahun) untuk mendapatkan satu slot label “Pak Haji”. Yang artinya, sekarang itu semua bukan menjadi sebuah hal yang eksklusif lagi.

Hmmm.. kebanggaan atas suatu pencapaian.

Dahulu, ketika masih sedikit orang (orang-orang dari kalangan tertentu saja) yang berkeinginan dan mampu mencumbui, Semeru adalah sebuah simbol kebanggan. Kebanggaan memiliki sebuah “surga” tersembunyi di tanah tumpahnya darah ibu pertiwi yang melahirkan generasi demi generasi. Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa ini dulunya adalah kebanggan bagi para pendaki. Udara yang bersih, hutan yang asri, jalur setapak yang masih dihiasi rimbun semak-semak di kanan kiri.

Namun itu cerita lalu. Ranu kumbolo kini tak lagi sunyi. Kalimati tak lagi hening dan sepi. Pasir-pasir halusnya terkoyak oleh ribuan kaki-kaki pendaki yang tiap minggunya dengan congkak ingin berdiri di atas titik tertinggi. Miris, ketika menyaksikan sendiri bagaimana tumpah ruahnya ribuan orang dengan ratusan tenda memadati pelataran danau yang dulunya begitung tenang, begitu lengang, dan tempat yang begitu nyaman untuk merenungi. Sekarang, keributan malam dengan embel-embel “keakraban” benar-benar menjadikan ranu kumbolo tak ubahnya pasar malam.

Menyendiri dari bisingnya pagi (foto dok. azhyzmaghfur)

Belum lagi apa yang kami lihat ketika kami ber-camp di kelik, hanya beberapa meter menjelang batas vegetasi. Kami terbengong-bengong ketika keluar tenda pukul 3 dinihari, kami melihat keatas, ke punggung mahameru yang menjulang gagah tepat dibelakang kami, sepanjang jalur menuju puncak nampak berderet cahaya lampu senter para pendaki yang berburu pagi.  Mengantri. Padat merayap. Bahkan beberapa rombongan memutuskan turun dengan alasan “antriane nggilani mas, 15 menit baru bisa maju 5 langkah”. Persis, seperti kemacetan di simpang gadog menuju Jalan raya Puncak, dari arah jakarta ketika akhir pekan tiba. Aih..

Sebenarnya bukan itu yang kami sesali. Namun perilaku sebagian “pendaki” yang memaksa tensi darah meninggi. Mereka yang dengan tanpa rasa menjaga dan tanpa rasa memiliki. Mereka yang datang kemari hanya karena sebuah pengaruh film produksi. Mereka yang datang kemari tanpa etika dan kesadaran untuk menjaga agar tetap lestari. Lihat saja, air telaga tak lagi segar menghilangkan dahaga, air telaga telah tercemar minyak-minyak bekas penggorengan yang dicuci disana begitusaja. Air telaga telah tercemar sabun-sabun muka dari mereka yang tetap bersolek ria seperti halnya dirumahnya saja. Sampah-sampah tak terurus berserakan disekitaran tenda seolah disana ada petugas kebersihan yang mengangkutnya setiap pagi. Ah, padhakke gununge mbahmu wae.. C*k!!

Semeru, kini bukan lagi menjadi sebuah kebanggaan, sebagaimana beberapa tahun yang lalu, yang memberikan sebuah pengalaman bathin bagi siapa saja yang mengunjungi, dengan hati.. Semeru kini……

Bandingkan dengan ranu kumbolo yang seperti ini, beberapa tahun silam (dok.pribadi)

ranu kumbolo

atau yang seperti ini…

Aahh, sudahlah. Toh saya juga bukan seorang pecinta alam sejati, yang mendedikasikan hidup dan pengabdiannya untuk pelestarian bumi. Yang melakukan sesuatu yang nyata bagi harmoni umat manusia, alam beserta isinya. Kami, masih sebatas penikmat alam yang mencoba mencintai dan belajar menikmati keindahannya dengan cara yang benar. Tapi, keprihatinan kami, semoga menggugah bagi siapa saja yang masih memiliki kesadaran dan rasa tanggung jawab, serta memiliki jiwa dan hati..

Karena konon, dengan mentadabburi alam, kita melepaskan jiwa binatang kita pada habitatnya, dan menemukan diri kita sebagai manusia, sebagai makhluk, yang mendekat pada Yang mencipta.

Balikpapan, 27 Mei 2013

*Sebuah catatan keprihatinan pasca pendakian semeru, beberapa minggu yang lalu.
Semeru, ninggal janji. Sebuah keinginan untuk menemani seorang gadis kecil bertanduk kancil. Suatu saat, saya akan memasukkan ia kedalam ransel, dan membawa serta kesana. Lalu membiarkan ia berlari-larian ditepian telaga.

 
2 Comments

Posted by on May 27, 2013 in Catatan Harian

 

Tags: ,

Berangkatlah, Nak..

Oleh: Darwis Tere Liye
 

Pergilah melihat dunia, Anakku..
Dengarkan gunung-gunung bergema memanggilmu, Nak..
Atau lautan bergelora mengundangmu

Maka berangkatlah..
Biarkan alas kakimu yang paling jauh hanya pergi sekitaran rumah akhirnya menjejak ribuan mil
Biarkan debu perjalanan menempel di seluruh pakaian
Jangan cemas banyak hal
Jangan berpikir terlalu panjang hingga ragu datang
Lihatlah dunia terbentang..

Dengarkan nyanyian lembah-lembah hijau, Nak..
Atau padang stepa, padang sabana luas, hingga debu padang pasir..
Atau menyentuh lembutnya pucuk salju dingin menyenangkan..

Jangan habiskan hidup hanya antara bangunan, jalan setapak, kendaraan, itu-itu saja..

Jangan habiskan Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 23, 2013 in Uncategorized

 

Siapa suruh jadi anak sapi?

Siapa suruh jadi anak sapi?

Berhentilah mengeluh, kata si petani.
Siapa suruh jadi anak sapi?
Kenapa kau tak punya sayap untuk terbang?
seperti burung camar, yang begitu bangga dan begitu bebasnya.

Anak sapi mudah diikat dan “dibantai”,
tanpa tau alasan mengapa,
tetapi, siapapun yang menghendaki kebebasan,
seperti burung camar, harus belajar untuk terbang.

#terjemah suka-suka lagu “Donna donna”, Joan baez.
Bogor, 25 November 2012.

Ada banyak makna dibalik sepenggal lagu donna-donna, yang entah mengapa, begitu menyentuh dengan nada-nada yang dilantunkannya, dengan aransemen yang diperdengarkannya.
Saya tak terlalu peduli, apakah ini, konon katanya, lagu yang “mengiringi” pembantaian bangsa yahudi layaknya “anak-anak sapi”. Terhadap mereka, bangsa yang Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on November 25, 2012 in Catatan Harian

 

Menebar Racun – PAPANDAYAN [chapter 1]

Menebar Racun – PAPANDAYAN
Bagian I

Benar bahwa kami menikmati setiap langkah yang penuh letih itu. Merayap, mengusap peluh dan mengatur nafas yang terputus putus. Membawa serta sahabat-sahabat kami menapaki setiap jengkal menakjubkan si cantik papandayan. Gunung yang diam bersemayam di belahan selatan swiss van java, Kabupaten Garut – Jawa Barat.

Bagi sebagian dari mereka, inilah kali pertama mendaki, menikmati kesusahan dan sejenak meninggalkan zona nyaman. Berbagi waktu dengan alam, bercumbu dengan dinginnya angin yang menyusup dari balik lembah. Berdiri di tepian tebing curam, menerabas hutan dan pepohonan. Merentangkan tangan, meresapi betapa arti persahabatan. Darimu, papandayan, kami belajar tentang kehidupan..

(Tegal Alun, 26 Oktober 2012)

                                                                            ***

Suatu Sore, Tegal Alun

Gerimis tipis yang sedari tadi tak henti, menyisakan tetes embun di daun-daun edelweis yang baru saja bermekaran. Membasahi dahan-dahan dan ilalang kering yang menguning. Bersatu padu dengan kabut putih, terbawa angin. Mengiring hawa dingin yang kian terasa. Menyusupi Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on October 29, 2012 in Catatan Perjalanan, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Balada Tenaga Harian Lepas, Antara menikah dan…..

Balada Tenaga Harian Lepas, Antara menikah dan…..

Nggak kerasa sudah hampir setahun ini kami menyandang predikat lulusan diploma. Iya, “cuma” lulusan diploma kok, bukan sarjana.😉 Tanpa menyandang embel-embel gelar yang sering dibangga-banggakan calon mertua #eh orang tua maksudnya. Hehe, belum-belum sudah ngomongin calon mertua. “Kerja” aja belum, berpenghasilan (layak) apalagi. Yah, kalo kata ibu saya sih bilangnya baru belajar “ceker-ceker” sendiri. Maksudnya, seperti anak ayam yang baru belajar mencari butiran-butiran nasi. Lagi ajar golek upo. Lagi masa transisi, belajar mandiri, belajar hidup.

Dulu orang tua sering bercerita tentang rekasaning urip. Dan waktu kita masih kecil dulu, yang kita tahu hanyalah minta duit. Mereka yang lari tunggang langgang, kita yang bersenang-senang. Mereka yang nubruk sana nubruk sini nusang njempalik, kita ongkang-ongkang kaki matur “pak-buk, nyuwun duwik”. Yahhh.. dulu, lebih tepatnya-kemarin, kita masih seperti anak-anak yang selalu disuapi, dicukupi, disubsidi. Sekarang, sebagaimana proses hidup, semuanya akan tumbuh dan berkembang. Seekor anak sapi yang menyusu, perlahan akan membesar, berhenti menyusu, dan berubah menjadi sapi dewasa yang berganti menyusui. Satu tunas pohon, kelak akan membesar, kemudian memunculkan tunas-tunas baru, yang kelak akan menggantikannya ketika usia menumbangkan batang kayu itu. Seorang “pupunk” kecil, perlahan akan membesar, dan kelak akan menjadi “Pak Pupunk”, dan menghasilkan “pupunk-pupunk junior” yang lucu-lucu😀 Read the rest of this entry »

 
16 Comments

Posted by on August 14, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , , , , , ,