MENATAP PESONA DINDING KAWAH PAPANDAYAN
Papandayan sejak jaman Hindia Belanda telah menjadi tujuan wisata petualangan orang Eropa.
Gunung ini memang menawarkan pesona keindahan yang menakjubkan seperti kawah, padang rumput, dan berbagai pesona alam lainnya. Bahkan kawahnya dapat dilihat dari jarak dekat. Sejak tahun 1800-an Papandayan sudah didaki oleh orang Belanda. Gunung ini semakin terkenal sejak didatangi Junghuhn (alpinis sekaligus ilmuwan terkenal Hindia Belanda) sekitar Juli 1837.
Pascaletusan Nopember 2002, Papandayan semakin menunjukkan pesonanya. Beberapa kawah baru yang muncul, runtuhnya dinding Kawah Nangklak hingga terlihat dindingnya yang kuning keemasan merupakan fenomena alam yang kini dapat disaksikan.
Tanjakan yang cukup terjal serta beberapa kawasan menarik yang akan anda lalui selama pendakian adalah padang edelweis, danau temporer, air sungai, dan hutan yang cukup rimbun di kawasan puncaknya.
Pondok Salada dan Tegal Alun-Alun adalah dua tempat menarik yang ditumbuhi tanaman edelweis. Pada kedua tempat ini biasanya para pendaki berkemah. Satu tempat lagi yang juga bisa dijadikan tempat berkemah adalah Camp David – lokasi yang letaknya di belakang lapangan parkir Taman Wisata Alam (TWA) Papandayan.
Jalur Pendakian
Untuk mendaki Gunung Papandayan, ada 2 jalur, yaitu: Cisurupan Garut, dan Cileuleuy/Sedep-Pengalengan, Bandung. Jalur Cisurupan merupakan jalur paling ramai dilalui. Sedangkan Jalur Cileuleuy, mungkin agak membosankan bagi pendaki, karena lebih banyak melintasi perkebunan. Anda dapat mendakinya sekitar 2 hari dari mulai naik, bermalam hingga turun kembali. Sebelumnya, Anda dapat melapor ke penjaga di areal parkir dengan mengisi data diri, tujuan kegiatan dan foto copy KTP.
sumber: MountanMag