RSS

Category Archives: Catatan Perjalanan

Ketika Hampir Mati di Puncak Kerinci – (Bukan Catper)

Azhyz Maghfur‘s notes on Wednesday, 19 October 2011 at 09:42

ketika terperangkap belerang pekat

Ini bukanlah catatan petualangan, atau review perjalanan ke gunung kerinci tempo hari. Ini hanyalah catatan iseng dikala senggang, disaat kepala ini dijejali dengan berbagai kegalauan.

Seperti biasanya, pagi yang berlalu tanpa aktivitas.
Duduk di teras depan dengan secangkir kopi, menikmati kicauan burung tetangga yang bernyanyi tiada henti.
Termenung, menerawang, mencoba mengingat ingat kembali potongan-potongan cerita pendakian di tanah Sumatera, tempo hari.

Sedikit hiperbolis nampaknya, menyebut kami hampir mati. Tapi sepertinya tidak berlebihan bila kita sendiri yang berada disana, merasakannya.
Ya, itu merupakan pngalaman pertama bagi kami mendaki gunung Sumatera. Tanpa guide, tanpa pemandu, tanpa tau seluk beluk & cerita-cerita yang pernah ada.
Orang bilang berani & nekat itu tipis bedanya, dan spertinya kami ini yang termasuk dalam kategori nekat itu. Bodoh!

Hmmm..
Saya masih jelas mengingat, bagaimana di pagi yang buta, tim mulai bergerak dari camp setelah shelter 3, merayap naik perlahan menuruti punggungan, menyusuri bebatuan dan pasir-pasir yang begitu labil, yang seakan tidak merelakan dirinya dipijak setiap kali kami melangkahkan kaki. Harus berhati-hati, sangat hati-hati.

Setelah lebih dari satu jam berjalan perlahan dalam kegelapan, melewati medan yang sama sekali tak bervegetasi, jurang tinggi menganga menyambut kedatangan kami, seolah ingin menghentikan dan mengatakan “CUKUP..!! CUKUP SAMPAI DISINI”.
Dan barulah kami menyadari bahwa kita tlah tiba di titik 3.805. Inilah titik tertinggi puncak kerinci..!!
Inilah atap sumatera, bung..!!
Sujud syukur atas izin Rabb kami untuk berada disini. Ya, tepat pukul 04.45 tim tiba di puncak. Masih gelap, masih pekat, bahkan bebatuan hampir tak terlihat.
Dibawah sana, kami dibuat takjub dg titik-titik berwarna merah membara, ya, itu adalah aktivitas magma, yang disertai asap pekat membumbung tinggi ke arah utara. Ke arah yang berlawanan dengan kami.
Kupikir kabut, tapi ternyata asap belerang denga konsentrasi kepekatan yang sangat tinggi.

Kami berempat melakukan sujud syukur, berfoto sejenak, lalu mendirikan sholat subuh berjamaah, di puncak.
Udara dingin yang mndekati suhu minus membuat kami menggigil, membuat tangan kami hampir beku, dlm “sedakep” dua rekaat subuh itu. Lalu tiba-tiba, belerang pekat berbalik arah, menyelimuti kami, mencekik, dan…

akankah brakhir sperti Soe HokGie?

Nantikan saja catpernya dalam Edisi Menyibak Belantara Kerinci..!! :)

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Edisi Summit Attack, 3.676 Mdpl

Melanjutkan sesuatu yang tertunda. Tentang kisah sekumpulan pemuda galau yang mencoba merayakan akhir masa perkuliahannya dengan mendaki gunung tertinggi di tanah Jawa  -Semeru, dengan puncaknya yang lebih dikenal dengan nama Mahameru-

Dalam kesempatan sebelumnya, cerita terhenti sampai di malam yang sepi di kalimati. Hening, dingin, sunyi… sampai ketika satu persatu dering alarm berbunyi, bersahut-sahutan dari satu tenda dengan tenda yang lainnya. Memecah keheningan malam itu. Namun bius kaki mahameru nampaknya membuat belasan orang itu enggan beranjak dari selimut tebal dalam hangatnya tenda. ”Astaghfirullah..!! wes jam siji cahhh…!!”. Buru-buru kami membangunkan semua yang meringkuk di dalam tenda. Padahal kan rencananya kita bangun tepat tengah malam, dan jam satu harusnya semua  sudah siap untuk melakukan summit atack menuju puncak. Yah, tapi semuanya (termasuk saya) malah bangun “kesiangan”. Saya sendiri bisa memaklumi, semua pasti kelelahan setelah sehari penuh melakoni perjalanan panjang sampai di camp kalimati ini. Semua pasti enggan menukar hangat dan kenyamanan dengan udara diluar yang begitu menusuk persendian. Tapi sekali lagi ini untuk sebuah mimpi, untuk menggapai puncak tertinggi yang tinggal sejengkal lagi, yang kata Donny Dirgantara tinggal 5cm lagi, kami bersiap, mengenakan pakaian yang paling hangat, bahkan beberapa diantara memakai jaket berlapis tak cukup satu dua, sarung tangan, dan balaclava (kupluk kepala).

Oke ready.
Sang ketum memimpin briefing singkat untuk memompa kembali semangat dan doa bersama mengawali perjalanan pagi buta ini, diakhiri dengan toss, untuk menyatukan tekad dan visi, lalu perlahan meninggalkan kalimati dan mulai memasuki gelap hutan yang sunyi. Kami berjalan perlahan, berjalan beriringan agar tak saling berpisah dari rombongan. Baru beberapa saat memasuki hutan kami sudah disambut dengan tanjakan tanjakan yang memaksa kami memompa nafas lebih cepat. Ngos-ngosan.

Nyaris in memoriam, “Balung Gorila”. mau tahu kisahnya? klik disini..

 
Leave a comment

Posted by on October 2, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Gede-Pangrango, Berempat saja.. (BAGIAN 1)

Sebuah Pengantar
(09 Juni 2011)

saya yg ngefoto, jadi gak ada >.<

Mungkin ini adalah perjalanan yang paling “tanpa persiapan” diantara perjalanan-perjalanan kami ke gunung lainnya. Sebenarnya bukan sebuah rencana dadakan sih, toh rencana perjalanan ini sudah jauh-jauh hari menjadi obrolan antara saya dengan Sundul (Adi Setia Jaya), rencana akhir pekan untuk mendaki ke “kebon rumah” sendiri. Awalnya hanya saya dan sundul saja yang mau berangkat kesana. Sundul pernah ke Gede, sedangkan saya pernah ke Pangrango. Kalaupun nggak ada temannya, insyaallah kami akan berangkat berdua. Kebetulan pada waktu yang direncanakan itu, anak-anak ORAD (Olahraga Arus Deras) atau istilah kerennya arung jeram, juga mengadakan ekspedisi di Ciberang. Akhirnya, hanya lima orang yang berminat jalan ke gepang sabtu itu, yaitu Sundul, Lancip (Fawzan Ibnu Alam), Bowaz (Muhammad Ramdhani), Kucir (Melina Fajrin Utami), dan saya sendiri. Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on August 17, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

MAHAMERU – Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

Jalan melipir oro-oro ombo

Nang ning nang ning… seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam benak saya. Mencoba mengingat-ingat apa ada yang kurang, atau mungkin masih memiliki tanggungan utang? Wah iya, ternyata utang catper kepada Pak Dosko belum lunas dibayar, (termasuk soft-loannya yang masih menanti cairnya rapelan uang saku yang tak kunjung diberikan oleh lembaga, hehe). Walaupun perjalanan ini sudah lewat sejak berbulan-bulan yang lalu, semoga impuls syaraf saya ini masih bisa membangkitkan kembali memori-memori tentang kisah perjalanannya, pun demikian dengan luapan emosional yang ada didalamnya.

Terakhir kali saya berkisah tentang Ranu kumbolo. sebuah telaga yang penuh dengan pesona. Penuh kedamaian dan bentangan mahakarya yang konon katanya merupakan telaga peristirahatan para dewa. Namun itu bukanlah akhir dari perjalanan kami, puncak mahameru masih berada nun jauh disana, pun masih menjulang tinggi dibalik bebukitan yang melindunginya dari pandangan kami. “Ayo reek, budhal..!!” seru Jupret sang pimpinan rombongan. Saat itu matahari sudah mulai tergelincir dari tengah khatulistiwa. Dan sesuai rencana, kami harus sampai di kali mati sebelum senja. Segera kami memberesi alat sholat dan perkakas makan siang yang masih berserakan. Lalu capcus melanjutkan perjalanan.

Tanjakan Cinta, Sebuah Mitos yang Melelahkan

Tanjakan Cinta

Semua anggota rombongan sudah mafhum bahwa setelah ini adalah “tanjakan cinta”, tanjakan yang penuh dengan mitos dan kepercayaan yang entah darimana asal muasalnya. Mitos yang parahnya dipercaya oleh sebagian besar muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Konon katanya, saat melalui tanjakan ini, jangan sekali-kali menoleh ke belakang, karena jika itu dilakukan maka hubungan cintanya akan kandas ditengah jalan. Sebaliknya, bila berhasil melalui tanjakan ini tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang, maka cinta yang diperjuangkan bisa bertahan langgeng selama-lamanya. Hmmm.. ada-ada saja. Meskipun saya sendiri tidak percaya dengan yang namanya mitos, tetapi entah kenapa seakan-akan termakan pengaruh alam bawah sadar yang mengatakan saya tidak boleh menoleh ke belakang. hahaha, ato jangan-jangan saya sudah terpengaruh mitos yang menyangkut masalah cinta ini ya? karena sebelumnya saya pernah melanggar pantangan sebuah mitos yang hampir serupa (terkait masalah cinta) dan berujung kisah cinta saya kandas juga. Hmmm.. hanya kebetulan saja sepertinya.

Ranu Kumbolo dari atas

Tanjakan ini memang sungguh gila. Meskipun baru saja selesai rest dan mengisi ulang tenaga, tetapi tanjakan mendaki bukit tinggi yang “memagari” ranu kumbolo ini cukup melelahkan juga. Dengan perlahan dan nafas terengah-engah, kami mencoba mencapai puncak bukit yang diatasnya terdapat satu pohon besar yang berdiri kokoh disana. Fyuhhh.. Mungkin yang membuat pendakian ini terasa berat adalah medan yang kami lallui sebelumnya cenderung datar dan memanjang. Paling hanya ada satu-dua tanjakan yang membutuhkan stamina ekstra. Satu-persatu dari kami akhirnya berhasil mencapai atas bukit, dan kerennya, tanpa menoleh ke belakang..!! bahkan si Balung yang slayernya terjatuh pun tak berbalik mengambilnya. Hahaha. Untung ada gokong dan sekar, pasangan sejoli yang sudah pacaran hampir tiga tahunan sepertinya. Ya, mungkin hanya gokong-sekar dan jupret-change yang nggak terlalu mempedulikan mitos tanjakan cinta.

Sesampainya diatas, kami beristirahat sejenak, melepaskan lelah dan duduk memandang ke belakang. Dan ternyata, kami akhirnya tahu kenapa kita nggak boleh menoleh selama tanjakan. Sepertinya ranu kumbolo akan melambai-lambai “nggondeli” kalian agar kembali saja kesana. Keindahannya sungguhlah mempesona. Cukup lama kami menatap danau biru itu dari puncak bukit bukit. Teduhnya pohon dan semilir angin yang berhembus dari lembah semakin menambah syahdu suasana hening di ujung tanjakan itu. Sepasang pendaki bule asal Jerman yang start dibelakang kami menyalip beberapa meter di ujung tanjakan itu. Wez pak monggo sampean lewat dhisik..!!

Padang Oro Oro Ombo

Change SPA 879 di ororoombo

Berikutnya, pemandangan yang ada tak kalah menakjubkan. Bentangan padang rumput ilalang terhampar dihadapan. Bukit-bukit yang seperti bukit teletubbies menggunung-gunung, tak hanya satu, disana sini menghiasi sejauh mata memandang. Inilah oro-oro ombo. Istilah bahasa jawanya yang dalam bahasa Indonesia berarti “padang rumput yang luas“. Ada dua jalur untuk sampai ke ujung sana, ke batas hutan pinus yang dikenal dengan cemoro kandang (bukan cemoro kandang yang ada di gunung lawu lho yaa). Jalur yang pertama adalah menerabas rerumputan ilalang yang tingginya sekitar dada orang dewasa, sedangkan jalur yang ke dua melipir ke kiri mengikuti jalur setapak yang berada di lereng salah satu bukit teletubbies itu. Kami memilih jalur yang kedua, karena jalurnya memang lebih jelas, dan kita juga dapat melihat-lihat keindahan bentangan oro-oro ombo di bawah sana. Sedangkan si odol, gawon dan yogha yang iseng-iseng memilih jalur menerabas ditengah harus kembali memutar dan mengikuti jalur kami karena katanya ilalangnya terlalu tinggi. Kapuokmu kapan..!! Hahaha..

batas hutan dengan oro-oro

Selepas melipir lereng bukit itu, kami kemudian menyeberang oro-oro, menyibak sedikit perdu ilalang, kemudian bersambung lagi ke jalur di tengah oro-oro yang setapak memanjang dipenuhi endapan pasir-pasir halus yang sepertinya hanyut bersama aliran air. Menginjak pasir-pasir itu aroma puncak seakan kental terasa (padahal masih jauh disana). Sesaat berikutnya kami sudah sampai di tepian hutan pinus. Kembali track yang kami lalui mulai bervariasi, mengikuti jalur yang sudah ada, jalanan cenderung mulai naik, sehingga memaksa kami harus beristirahat beberapa kali. Kali ini saya, gawon dan odol berada di rombongan paling belakang, terpaut cukup jauh dari depan yang sudah terlebih dahulu memulai start kembali. Kami bertiga masih bersantai-santai menunggu mereka jalan jauh dulu, baru kita kejar, rencananya. Tapi karena istirahat terlalu lama inilah yang membuat kami malah jadi cepat lelah. Pemandangan kanan kiri area ini lebih di dominasi oleh pepohonan cemara, maka tak heran jika orang-orang menyebut daerah ini cemoro kandang.

Memasuki Cemoro-Kandang

Selanjutnya adalah bukit ayeg-ayeg, masih kelanjutan dari hutan-hutan pinus tadi, namun setelah dari sini jalanan cenderung turun dan mendatar. Pepohonan pinus pun perlahan sudah mulai menghilang dan berganti lahan-lahan yang menyerupai lapangan dan diselingi pepohonan perdu. Pasir-pasir sudah mulai menghiasi sepanjang perjalanan kami. Dan kuncup mahameru (yang menyerupai batok itu) mulai terlihat mengintip dari balik pepohonan. Menjulang gagah, dengan guratan-guratan pasir yang terlihat begitu jelas dari bawah. Kami yakin bahwa sebentar lagi kami akan sampai di kali mati. Break point yang ditentukan sebagai titik finish perjalanan hari itu.

Bukit Ayeg-Ayeg

Benar saja, mangikuti jalur yang dipenuhi pasir itu akhirnya kami sampai di sebuah tanah lapang. Diujung sana terlihat kaki mahameru yang tertutup hijau vegetasi, berbanding terbalik dengan beberapa puluh meter diatasnya yang sudah berupa pasir murni. Subhanallah.. gagah sekali puncak gunung ini.
Tulisan di sebuah pohon meyakinkan kami, bahwa kami telah sampai di kalimati. Tak sabar satu persatu dari kami brerlari-lari kecil membelah “lapangan” itu, pengen cepet-cepet sampai, pengen cepet-cepet istirahat..!! hehe.

Camp Kali Mati

Mengintip Puncak Mahameru

Sebenarnya izin pendakian kami hanyalah sampai di kali mati ini, karena memang pada saat itu aktivitas gunung Semeru masih dalam status waspada. Beberapa kali terlihat letupan dan kepulan asap membumbung tinggi dari kawah yang menadakan aktivitasnya masih bisa dibilang berbahaya. Tapi apa lacur kami sudah jauh-jauh kesini, dengan bismillah kami berniat mendaki puncaknya dini hari nanti.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 saat seluruh rombongan tiba di kalimati. sepasang bule yang menyalip kami tadi sudah mendirikan tenda tepat di kaki gunung itu, sedikit keatas, di antara pepohonan yang mungkin dianggapnya melindungi mereka dari dinginnya angin lembah yang menghampiri di malam hari. Padahal sepertinya percuma, jika angin datang pasti langsunglah menghantam tenda itu, haha, biarkan sajalah mereka berdua menyendiri disana. Sedangkan kami, memilih lokasi mendirikan tenda di sekitar bangunan permanen yang ada di sana. Selain lebih aman dari terpaan angin, sepertinya lebih nyaman dan hangat pula disana. Kami berbagi tempat dengan guide dan porter si bule tadi. Dua tenda didirikan di dua bilik utama, dan yang dua lagi, tenda yang kami tempati bertiga bersama gembez dan kalut berada di teras luar berhadapan dengan tenda jupret, change, gokong dan sekar. Setalah masak asupan gizi dan makan malam bersama, secara berombong-rombongan kami sholat maghrib dan sholat isya berjama’ah di luar beralaskan tikar.

Pukul 20.00. Dingin mulai merayap menembus jaket lalu menusuk pori-pori kami. Suasana terasa begitu sepi. Tiga penghuni tenda luar yaitu saya, kalut dan gembes sepertinya menjadi orang yang tidur paling belakangan. Anak-anak yang lain sudah masuk dan menghangatkan diri di tenda masing-masing, sedangkan kami bertiga mencoba menghangatkan diri dengan cara kami. Yang mencoba melawan dinginnya malam itu dengan duduk ditengah hamparan tanah lapang, memandang langit hitam kalimati yang penuh bintang, menatap puncak mahameru yang samar-samar membayang. Menyulut sebatang djarum cokelat sambil mendengarkan curcolan-curcolan si kawan yang hatinya galau dan bimbang. Hahaha.. dasar sekumpulan pemuda galau yang menikmati kegalauan mereka dengan cara mereka..!! tepat pukul 22, kami (baru) sholat isya di dalam tenda, merebus mie dan segelas minuman hangat, lalu membenamkan diri dalam kesunyian kalimati.

Ah, kepanjangan nih kayaknya ceritanya, dan saya yakin yang ngebaca bakal males dibuatnya, scrol-scol-scrol sampe bawah monoton banget diliatnya. Hehe, biarin dah..!! Mumpung lagi mood nulis aja.
Okke, sementara sampai disni dulu ceritanya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, Edisi Summit Attack 3.676 Mdpl.

 
7 Comments

Posted by on August 13, 2011 in Catatan Perjalanan

 

MAHAMERU – Chapter 10: Menatap Damai Ranu Kumbolo

MAHAMERU – Chapter 10: Ranu Kumbolo, Menatap Damai

Ranu Kumbolo, tampak dari kejauhan

Bagaimana? Indah bukan?

Itu adalah view Ranu Kumbolo dilihat dari kejauhan.

Sayang tentunya apabila kami tak menyempatkan diri berfoto-foto sejenak disana. Dari tempat kami berdiri. menatap lepas, sebuah mahakarya begitu mempesona. Danau dengan airnya yang jernih berwarna biru, memantulkan warna langit yang berpendar ke seluruh permukaan, tenang, menandakan ia dalam. Bukit-bukit di sekitar gagah berdiri, seakan akan ingin melindungi kehormatan dan kesucian sang telaga. Pepohonan hijau yang mengelilingi berpadu serasi dengan padang rumput dan ilalang Baca selengkapnya..

 
3 Comments

Posted by on July 4, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , ,

MAHAMERU – Chapter 9: Dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo.

MAHAMERU – Chapter 9: Ranu Pane,  Ranu Kumbolo.

Sesaat sebelum pendakian

07.30, bergeser sedikit dari waktu yang telah direncanakan, seluruh rombongan memulai perjalanan meninggalkan Ranu Pane. Masih mengikuti jalanan beraspal yang cenderung menurun ke arah timur (semoga perkiraan arahku benar). Sekitar sepuluh menit berjalan sampailah kami di gerbang batas wilayah dengan kabupaten Lumajang. Lalu berbelok ke kanan, berpindah menyusuri jalanan setapak yang merupakan jalur resmi pendakian. Kata bang Alloy, Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

MAHAMERU – Chapter 8: Dalam Beku

MAHAMERU – Chapter 8: Dalam Beku

Dini Hari, di Camp Ranu Pane.

Ranu Pane

Aku terbangun, kurasakan ujung-ujung kakiku seperti membeku, teramat dingin, seperti basah, terkena air kah? Ahhh, ternyata karena sleepingbag yang kupakai memang tak mampu menghangatkan sebab suhu diluar sana yang cukup ekstrim sepertinya. Kulihat si Kalut pun meringkuk, menahan dingin yang menusuk pori-pori, sehingga seluruh persendian jadi terasa nyeri. Sejenak kuperhatikan anak-anak yang lain sepertinya hangat-hangat saja didalamsana. Sempat berniat ingin beranjak Baca selengkapnya..

 
1 Comment

Posted by on July 4, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

MAHAMERU – Chapter 7: Semalam Bersama Iwan Sunter

MAHAMERU – Chapter 7: Semalam bersama Iwan Sunter

Bersama Bang Iwan, di sebuah warung kopi

Iwan dan Perjalanan.

Obrolan di warung kopi itu mengalir dengan begitu hangat. Cerita demi cerita meluncur dari bibir ramahnya. Santai, tapi penuh pelajaran dan sarat makna. Sesekali apa yang disampaikan nampak begitu serius, namun setiap fragmennya diakhiri dengan gelak tawa semua yang duduk disana. Misalnya saja ketika ia bercerita tentang filosofi berjalan kaki. Mengapa ia jalan kaki? Karena dengan begitu kita akan tahu betapa sering kita lupa berterimakasih kepada apa yang kita miliki. Kita Baca selengkapnya..

 
5 Comments

Posted by on July 1, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , , ,

MAHAMERU – Chapter 5: Mengintip Keindahan Gunung Bromo

Mahameru Chapter 5:  Mengintip Keindahan Gunung Bromo

bromo dari semeru

Jeep melaju dari arah tumpang menuju base camp ranu pane. Pelan namun pasti mobil mungil yang dijejali dengan 18 penumpang plus delapan belas tas carier itu menaiki tanjakan tanjakan berliku desa gubug klakah, lalu dengan gesit menikung tajam dan mengepulkan debu dan asap yang berhamburan sepanjang jalanan. Lima belas orang berdiri dibagian belakangnya yang terbuka, tiga orang lagi duduk di kap depannya, sedangkan tiga orang sisanya, saya (teplox 940), pak ketum Jupret 858, dan Gembez 882 duduk di penutup bak terbuka tepat Baca selengkapnya..

 
4 Comments

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

MAHAMERU – Chapter 4: Malang..!!

MAHAMERU – Chapter 4: Malang..!!

Kereta masih terus melaju ke arah timur ketika kami dikagetkan oleh kehebohan Kace yang mengatakan bahwa Malang sudah dekat. Masih enggan sekali rasanya untuk bangun dan membuka mata. Sedikit melongok ke arah jendela,terlihat pemandangan pagi yang cukup menyejukkan mata. Di kanan kiri terlihat bentangan sawah dengan padinya yang subur hijau, kontras dengan di kaki langit sana yang berwarna merah jingga. Matahari memang baru saja merangkak terbit, mengintip manja dari balik bukit. Gunung Semeru nampak begitu  gagah dilihat dari kejauhan. Semua berteriak kegirangan,

“Semeru..!! Semeru..!!”.

Tak ingin kehilangan momment itu, Jupret langsung Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

MAHAMERU – Chapter 3: Perjalanan Panjang Jakarta-Malang

MAHAMERU – Chapter 3: Perjalanan Panjang Jakarta-Malang

Kereta Matarmaja sudah “terparkir” dengan rapi di jalur dan bantalan relnya. Kereta masih sepi, tak terlihat penuh sesak dan tempat duduk habis seperti yang diwartakan petugas loket diluar sana. Ah, paling-paling kami dibohongi, pikir kami. Di salah satu gerbong yang masih kosong melompong itu (kalau tidak salah gerbong tiga) kami “membooking” tempat duduk dan menata barang-barang bawaan. Agak ribet juga karena masing-masing membawa Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , , ,

MAHAMERU – Chapter 2: Jelang Keberangkatan (Sebuah Sisipan).

MAHAMERU – Chapter 2: Jelang Keberangkatan ( Sebuah Sisipan).

Matahari sudah beranjak tinggi, katika rombongan yang berangkat dari jakarta siap bertolak menuju stasiun Senen untuk memulai perjalanan dengan kereta. Seremonial pelepasan dan doa bersama ala Stapala dipimpin oleh Bonju tanpa menunggu kehadiranku. Blip..blip..blip..blip, one messege received. “Ndang neng posko Plok ki wes meh do mangkat neng stasiun”, pesan singkat dari kace. Terpakasa ku urungkan niat untuk mandi meski sudah dua hari terakhir badan kurusku ini tak tersentuh air. Eleueleuuu.. meh ra adus pirang ndino iki reeeek..!!

Dengan secepet kilat ku gowes sepeda Change menuju posko Stapala. Dan benar saja, Jupret, Change, Gembes, Kace, Balung dan Palpi sudah bertolak ke arah jalan Ceger. “Jaaaaambu, ditinggal tenan aku”, umpatku. Setengah berlari kususul mereka, lumayan capek juga. Ternyata merekapun kesal menungguku yang tak kunjung tiba, haha, maap Sod… Untungnya kawan-kawan ini masih bersabar menunggu sambil mencari angkot yang menuju arah Cipadu. Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , ,

MAHAMERU – Chapter 1: Prolog

Mahameru – Chapter  1:  Prolog

Tulisan ini saya dedikasikan untuk Melina (Kucir) 935, Nesty (Tumber) 928, Gimbal 909, Om Daris (Pak Dosko) 802, sahabat dan teman-teman seperjalanan, Pakbos Jupret  858, Change 879, Odol 856, Gokong 869, Gawon, Balung 910, Gembez 882, Kalut 907, Palpi 901, Kace 927, Para sempak alam: Yogha, Bernard, dan Rizal. Kawan-kawan STAPALA, serta semua pihak yang telah mensupport dan mengantarkan kami ke puncak tertinggi tanah jawa, puncak Baca selengkapnya..

 
4 Comments

Posted by on June 15, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

The Journal: STAPALA Leuser Expedition 2007

THE JOURNAL: STAPALA LEUSER EXPEDITION

Sekedar share, catatan perjalanan ini merupakan catatan pendakian yang dilakukan oleh senior-senior kami di STAPALA sekitar tahun 2007an. Sebuah ekspedisi yang butuh perencanaan dan persiapan yang matang. Penuh perhitungan, dan denger nama gunung Leuser sendiri sudah bikin bulu kuduk merinding !!

***

Hari ke-1, Sabtu, 25 Agustus 2007
( Base Camp Kutapanjang – Tobacco Hut ) Baca selengkapnya..

 
1 Comment

Posted by on May 1, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , ,

Catatan Perjalanan: Gunung Sumbing

                Sebuah Pengantar

Perjalanan ini, dimulai dari obrolan ringan antara kami, siswa diklat STAPALA 2011 divisi GH, dengan sang kadiv di sebuah bangunan mungil yang terletak di sebelah selatan plasma kampus STAN Jakarta. “Plok, kalian coba cari tau status terbaru gunung ciremai yo, aku denger informasi katanya Slamet masih tutup e..”  kata kadiv kami yang bertubuh kecil dan akrab dipanggil kak Codet.

Pembicaraan itu terkait agenda mabim divisi kami yang dijadwalkan dilaksanakan pada pertengahan dan akhir Januari tahun ini. Awalnya kami sempat kesulitan dalam menentukan gunung mana yang akan menjadi tujuan perjalanan kami. Gunung slamet masih belum dibuka karena status siaga, gunung ciremai juga ditutup karena badan yang berwenang setempat menutup izin pendakian sampai batas waktu yang tidak ditentukan, alasannya, karena cuaca yang sangat ekstrem dan tidak menentu pada waktu itu. Sedangkan gunung-gunung lain di Jawa barat seperti gunung Gede-Pangrango, Gunung Salak, ataupun Gunung Cikuray sudah tereliminasi sebelumnya karena gradenya dianggap kurang memenuhi standard kegiatan mabim GH.

Setelah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari informasi dan menunggu ketidakpastian perkembangan gunung-gunung tersebut, akhirnya diputuskan kami akan melakukan perjalanan ke Gunung Sumbing (3.371 Mdpl) yang terletak di daerah Wonosobo – Jawa Tengah. “Yaaaaah.. Jateng berarti transporte tambah larang cah..”  bathin kami. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on April 20, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: ,

Ketika cerita tak harus lewat kata.

This slideshow requires JavaScript.

 
1 Comment

Posted by on February 11, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: ,

Mereka yang membuatku bangga

Sebuah perjalanan panjang nan melelahkan tlah berhasil mereka lalui. Hingga akhirnya, menetaslah 28 orang membanggakan yang terikat dalam persaudaraan. Semoga mampu melanjutkan estavet perjuangan keluarga STAPALA, Never Ending Adventures..!!

923/SPA/2011 Muhammad Ramdhani (BOWAZ)
924/SPA/2011 Panggih Arinadi (OBLOK)
925/SPA/2011 Bagus Pujo Trilaksono (JONEH)
926/SPA/2011 Meidi Rosano (EIKE)
927/SPA/2011 Nurhuda (KACE)
928/SPA/2011 Nesti Wahyu Indriawati (TUMBER)
929/SPA/2011 Elvita Hastyriningsih (SUWI)
930/SPA/2011 Rino Dian Putra (PUCUK)
931/SPA/2011 Ari Muchsin (PACUL)
932/SPA/2011 Najihah Nabrotul Huda (EN-EN)
933/SPA/2011 Dyah Dwicahyaningrum (BOGEM)
934/SPA/2011 Satriadi Firdaus (BELING)
935/SPA/2011 Melina Fajrin Utami (KUCIR) baca daftar selengkapnya..

 
4 Comments

Posted by on February 9, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , ,

Catper Simbung (3): Dan Langkah-kaki-itu-pun Dimulai

Dan Langkah-kaki-itu-pun Dimulai
Dusun Cepit, 23 Januari 2011.
Kami mendongak melihat matahari sudah tinggi, sudah jam sepuluh lewat duapuluh menit ketika kami mulai berjalan dari tempat dimana kami diturunkan oleh minibus tadi. Benar sekali kata bapak itu, habis ini ada dua tikungan, tapi setelah itu, jalanan aspal memang naik, tapi masih cenderung datar. “Lha endi iki jare dalane nanjak ki?”. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Catper Simbung (2): Perjalanan menuju ke Cepit

Sepanjang Perjalanan
Jam di tangan menunjukkan pukul 19.35 ketika perlahan kereta mulai meninggalkan stasiun Tanah Abang. Bismillahirrohmanirrohim.. bismillahi majreha wamursaha..
Naik kereta api kelas ekonomi memang selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi kami, selain harus berdesak-desakan dengan penumpang lain yang tidak kebagian tempat duduk, terganggu oleh lalu lalang pedagang asongan yang setiap menitnya silih berganti menawarkan dagangannya, copet dan tangan-tangan Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Catper Simbung (1): Sebuah Pengantar (belum jadi)

Sebuah Pengantar,
Perjalanan ini, dimulai dari obrolan ringan antara kami, siswa diklat STAPALA 2011 divisi GH, dengan sang kadiv di sebuah bangunan mungil yang terletak di sebelah selatan plasma kampus STAN Jakarta. “Plok, kalian coba cari tau status terbaru gunung ciremai yo, aku denger informasi katanya Slamet masih tutup e..”  kata kadiv kami yang bertubuh kecil dan akrab dipanggil mas Codet.
Pembicaraan itu terkait agenda mabim divisi kami yang dijadwalkan dilaksanakan pada pertengahan dan akhir Januari tahun ini. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Tags: , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,975 other followers