RSS

Category Archives: Catatan Harian

AG 7518 UR

AG 7518 UR

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, Itulah keberanian. Atau mempersilahkan, dan itulah pengorbanan.”  [QUOTE]

Salatiga, 24 Februari 2012

Seorang gadis kecil menggelendot manja, melingkarkan tangannya di lengan kiri pemuda yang kini duduk di sampingnya, terpaut hanya beberapa mili saja dari tempat ia bersandar. Keduanya duduk bersebelahan di sebuah bangku kayu panjang  di ruang tunggu sebuah agen bus malam. Mereka mendekat, saling merapat, namun ia tak berani menatap, entah malu, atau karena  ingin berusaha menyembunyikan perasaannya, kegelisahannya. Ia hanya bisa semakin merapatkan jemari kecilnya disela-sela jari sang kekasih, menggenggam erat, seakan tak rela seseorang yang dikasihnya itu pergi. Memang, lelaki itu cepat atau lambat harus pergi, meninggalkan si gadis kecil di kota ini seorang diri. Ia akan pergi merantau, mencoba meretas masa depan, mengadu nasib dan peruntungan ke belahan kota yang berbeda. Jakarta.

Keduanya menyadari, selepas ini, mereka akan terpisah untuk waktu yang bahkan mereka sendiri tak tahu. Sebuah perpisahan yang terasa terlalu cepat, sebuah kebersamaan yang terasa begitu singkat.  Baru sekejap mereka bertemu, dan tak lama lagi mereka harus menerima kenyataan, bahwa keadaanlah yang memaksa memisahkan. Dan sekarang, yang bisa mereka lakukan hanyalah menghabiskan sedikit waktu yang tersisa ini untuk berdua. Bercerita, bercanda, bergelendot manja, dan mencuri-curi kesempatan mengungkapkan kasih sayang. Aihhh dasar anak muda..

Sudah hampir satu jam mereka berdua menunggu. Bus malam Harapan Jaya yang akan mengantarkannya ke Jakarta tak kunjung tiba. Langitpun mulai menua, rona senja membayang di sudut terminal kota. Lampu-lampu penerangan serempak mulai dinyalakan, dan satu persatu bus lain berdatangan dan diberangkatkan. Tapi mereka masih harus menunggu. Biarkan saja, batin pemuda itu, aku masih ingin berlama-lama bersama gadis kecilku, bisiknya dalam hati.

Menjelang maghrib, bus jurusan Jakarta yang akan membawanya baru tiba, ”Silahkan mas yang lebak bulus” kata mas-mas penjaga loket mempersilahkan rombongan penumpang untuk segera naik dan membawa serta barang-barang. Di kejauhan samar terdengar adzan maghrib berkumandang. Mengiringi detik-detik kepergian si pemuda. Keharuan pun membuncah, ada sepasang mata yang nampak memerah. Sepasang mata yang masih merasa belum saatnya berpisah. Entah perasaan apa yang masing-masing dari mereka rasakan. Pemuda itu berdiri sejenak, mendekati gadis kecil itu dan mengecup kening sang gadis. Tak banyak yang ia ucapkan, ia hanya berjanji ia pasti akan kembali.

Pemuda itu melihat si gadis kecil masih berdiri disana ketika kakinya melangkah pergi, sesaat kemudian, AG7518UR membawanya meninggalkan Salatiga. Lelaki itu pun pergi, namun hatinya tidak.

***

Bintaro, 18 Maret 2012

Sudah lebih dari tiga minggu aku kembali ke kota ini.Ke kota yang masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Hanya bedanya, kini tak sebagai mahasiswa lagi. Mungkin tubuhku terdampar disini, namun hatiku tertinggal di sana, dikotamu, sayangku… Masihkah kamu rindukanku, sebagaimana ku merindumu?”

Sebuah nyanyian rindu, terbisik diantara bising dan hening, terlantun dari suatu sudut kota ditempatmu kini berada, Salatiga. Aku mendengarnya, aku mendengar bisikmu yang inginkanku pulang. Aku tahu, sayang.. aku merasakan bagaimana resahmu yang membayang. Buanglah segala keraguan, dan beri aku waktu tuk membuktikan.

***

alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
ku tahu pasti kemanakan ku bermuara
semoga ada waktu, sayangku

ku percaya alam pun berbahasa
ada makna di balik semua pertanda
firasat ini rasa rindukah atau kah hanya bayang
aku tak peduli, ku terus berlari

cepat pulang
cepat kembali, jangan pergi lagi
firasatku ingin kau tuk cepat pulang
cepat kembali, jangan pergi lagi

dan lihatlah sayang
hujan terus membasahi
seolah turun air mata

Marcell – Firasat

*Tulisan iseng pertama di bulan ini. Bintaro, minggu pagi.

 
Leave a comment

Posted by on March 18, 2012 in Catatan Harian

 

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan Lampu Teplok

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan Lampu Teplok.

Malam ini, mari sedikit bermain-main dengan imaji, membebaskan ia yang sudah lama terkurung dalam diri seorang pemuda pengangguran macam saya ini. Membiarkannya bebas, dan berlari-lari di dunianya sendiri. Hoahm.. Tapi saya mengantuk. Saya ingin melepaskannya saja di dunia mimpi. Biar ia bisa bebas berlari lari tapi tak kan bisa lari. Hmmmss.. Dan lagipula, saya pun sedang kering inspirasi. Ada yang mau membantu? Ada yang mau kasih ide? Tidak ada? Sama bingungnya dengan saya? Hooooahm, yuk kalau begitu tidur saja kita. Menyusul si cinta yang baru saja kututup teleponnya. Yang sudah tidur terlelap setelah menyelesaikan belajarnya. Hmmmh, tapi si jari jari malah memberontak, ia masih ingin menari nari. Ah dasar nakal!! Sama seperti kamu, cinta..

Heh!! sebenernya niat mau bikin tulisan nggak sih?? Maaf, sejujurnya dan sebenarnya enggak. Trus kenapa masih nulis?? Ya karena pengen aja. Pfffft..
Saat facebook & twitter menjadi tak menarik lagi, dan mata “kethap-kethip” enggan terpejam karna kebanyakan kopi, ya kamu harus siap-siap menjadi tong sampahku, yang mau tak mau harus mau menampung segala kesah dan sumpah serapahku, ah malang sekali nasibmu, blog wordpress-ku.

Oke, oke ziz.. Ane tau ente lagi galau. Ane tau ente lagi suntuk. Nih gue kasih cerita aja yee, mudah mudahan aje bise bikin muke lu ga kusut lagi kayak gitu..

Pffftt, terserah deh!! Mau cerita soal apa lu?

Oke, dengerin yee.. kali ini tentang kisah seorang bapak-bapak yang bernama pak abdul. (Sial, pasti lu mau nyindir gue!!). Setting dan latar ceritanya adalah desa pelosok di sebuah perbatasan wilayah yang sinyal HP pun menjangkaunya susah. Akses jalan dan kendaraan kesana pun tak kalah susah. Melewati alas dan sawah-sawah. Pelosok & terpencil banget deh pokoknya!! (Tuh kan, lu beneran nyindir gue! Sial..)
Selow berow.. Gue belum selesai cerita lu udah manyun manyun gitu.. Dengerin dulu laaah. Oke??
Alkisah, di suatu sore yang beranjak gelap karena pemadaman, terjadilah obrolan ringan antara pak abdul dengan istrinya, bu anindya..

A: De’..
B: Dalem mas..
A: Kok peteng yo?
B: Nggih nggih to mas, lhawong PLN mati lampu kok.
A: Trus pripun de’?
B: Kulo tak nyumet lampu teplok mawon nggih mas..
A: De’..
B: Dalem..
A: Umpamane aku lampu teplok, aku pengen ade’ sing dadi sempronge.
B: Maksute pripun mas?
A: Ya ade’ to sing menjaga agar apiku tetap menyala sepanjang malam. Ade’ sing melindungi ben genine mboten mati senajan keno angin gedhi.
B: Nggih emoh to mas..
A: Kok emoh to de’?
B: Lha mangkih nek ade’ dadi semprong, mangkih dadi ireng koyo mas aziz..
A: “…” #gagaltotalngegombal *nangis guling guling jedotin kepala ke tembok*

Lho? Katanya kisahe pak abdul, kok dadi pak aziz? Piye toh press, wordpress? Kowe mesthi asline meh ngenyek aku yo press.. Ngaku wae pres..
Press.. Press..?? Wordpres..?!
Lhooo tibake aku malah ditinggal turu ik. Jan rachetho tenan bocah iki.

Dan akhirnya pak abdul, eh pak aziz, manyun manyun seorang diri, masih memikirkan tentang lampu teplok dan juga istrinya, bu nindya.. Lalu ia menulis sebuah gombalan yang dirasanya sedikit lebih romantis, untuk mencoba meluluhkan kembali hati sang istri. Di secarik kertas ia menulis:

“Jika aku adalah lampu teplok, maka aku ingin agar kaulah yang menjadi semprongnya. Yang selalu menjaga agar nyala apiku tak padam diterpa angin masa. Yang rela bening kacamu menjadi hitam legam karna menjaga apiku sepanjang malam. Demi berdua kita berbagi kehangatan..”

“Nek kowe ora meleleh de’, jangan sebut mas iki pria penggombal sejati..!!” kata pak abdul dalam hati.
______
*Wkwkwk, sebuah cerita imaji yang geje. Tokoh-tokoh dalam kisah ini bukanlah nama sebenarnya. Bila ada kesamaan nama, tempat dan peristiwa mungkin hanya kesengajaan semata. Pembaca disarankan untuk menggunakan google translator versi bahasa jawa. Dan sangat disarankan meninggalkan sejenak otak warasnya.. :D

Salatiga, 20 Februari 2012, menunggu pengumuman, lewat tengah malam.

 
1 Comment

Posted by on February 20, 2012 in Catatan Harian, Zona Ngakak

 

Tags: , ,

For my sweetest “valentine” #uhuk

For my sweetest “valentine”.

Dear sayang..
Bagaimana kabarmu hari ini? Terimakasih masih setia membaca tulisan-tulisanku hingga saat ini. Entah ini tulisan yang keberapa untukmu. Dan kali ini, aku ingin menuliskan sesuatu, masih untukmu.

Hehe, sebenarnya aku tak ingin ikut-ikutan latah berbicara tentang “valentine”. Karena aku memang nggak begitu mengerti tentang perayaan itu. Tapi nyatanya aku latah juga dan tergelitik untuk menuliskan tentang hari kasih sayang (yang konon katanya untuk memperingati kematian sang pendeta santo valentino di zaman Romulus dulu, kasihan ya si pendeta valentino).

Sayangku..
Aku minta maaf bila hari ini tak akan ada seikat bunga untukmu, juga tak kan ada sekotak cokelat berbentuk hati yang kuhadiahkan kepadamu, atau sebuah puisi cinta ungkapan kasih sayang, seperti yang biasanyanya kutulis untukmu. Maaf, bukannya aku tak mau, tapi aku memang tak biasa merayakan itu.. :)

Sayangku..
Kamu masih ingat? Aku pernah bercerita, bahwa aku bukanlah tipe pria romantis selayaknya muda-mudi jaman sekarang. Yang selalu mengirimkan setangkai bunga lambang kasih sayang. Mungkin aku juga bukan tipe pria penyayang, yang biasa mengajakmu sekedar jalan ataupun keluar malam. Bahkan, akupun bukan pria perhatian yang biasa mengirimkan pesan singkat pagi, siang, sore & malam untuk sekedar menanyakan “udh maem sayang?”, “lagi apa sayang?”, dan segala macam soyang-sayang lainnya. Hhe.
Sekali lagi bukan karena aku tak mau, tapi memang aku tak biasa melakukan itu.. :)

Tapi sayangku..
Aku ini juga bukan sufi, bukan pula tipe pria (sok) suci seperti mereka yang dengan keras menentang perayaan ini. Dengan dalih agama, dengan dalih budaya, dan segala dalil-dalil yang dibawakannya. Maaf, aku cuma tak suka menghakimi, apalagi sampai mengkafirkan saudara sendiri hanya karena mereka tak tahu dan ikut-ikutan merayakan hari ini. Ckckck..

Aku tidak merayakan hari (yang katanya) spesial ini, karena memang aku tak biasa merayakannya. Simpel bukan? hhe. Bapak-ibukku juga tidak merayakannya kok. Jangan bilang mereka nggak gaul. Mereka jauh lebih gaul dari kalian malahan. :D Kalau boleh, aku ingin menunjukkan kasih sayang itu kepadamu, dengan caraku. Dan itu tak kan cukup sehari dua hari sayangku.. Akan butuh kerelaan dan keikhlasan di sepanjang sisa umurmu. Seperti bapak-ibukku itu.. :) Hehehe, aku ingin menyayangimu dengan sederhana. Sesederhana kasih sayang itu sendiri. Biarlah kita yang memaknai kesederhanaan itu sebagai satu kasih sayang yang mulia, sepanjang sisa usia kita.

Sayangku..
Di hari ini, dan di hari-hari seterusnya, aku ingin memohon kepada Sang Maha Mencinta, dengan segala “Rakhman-Rakhimnya” untuk kita. Semoga kita, kedua orang tua kita, orang-orang yang menyayangi kita, senantiasa terlimpah butiran kasih sayang yang tersemai dari Dzat keabadian. Semoga kasih sayang yang ada itu pula senantiasa diberikan keberkahan.. Semoga kita terhindar dari kasih sayang semu yang menyakitkan.

Ehm, sebentar, aku mau tanya, apakah kamu masih sayang aku? Hehe ;)

Ku akhiri catatan ini dengan sebuah ucapan. Selamat merayakan untuk kalian yang merayakan. Selamat tidak merayakan untuk yang memilih tidak merayakan. Sing penting ojo dho jotos-jotosan yo mas yoo.. Hehehe..

*sebuah tulisan yang sengaja ditulis hanya agar di kalender hari ini ada tulisannya, gitu aja. (Nah loh.. capek-capek baca ternyata cuman jadi korban keisengan saya kan? hahaha)
Salatiga, 14 Februari 2012.

 
5 Comments

Posted by on February 14, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna

Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna.

Dalam tulisan kali ini, sejujurnya saya sendiri tak tau harus dari mana mengawali. Karena semuanya terjadi secara tiba-tiba. Semua tak memerlukan waktu yang lama. Cukup singkat, namun terasa dekat. Mungkin sebaiknya aku bercerita tentang sebuah kisah lama, yang mungkin kalian pun mulai bosan membacanya. Kisah yang menceritakan tentang sosok “aku”, sosok yang tergambar sebagai seorang pemuda desa yang suka berkelana, berpetualang, dan berjalan membunuh waktu, untuk sekedar mencari suatu ketenangan dan kedamaian yang slalu ia dambakan.

Pada suatu ketika, dalam pengembaraannya, ia berjalan dalam kegelapan. Ia selalu melangkah dalam keheningan. Tak jarang ia terseok, terperosok, dan berulang kali jatuh tersungkur. Pun berulangkali ia kembali bangkit dan mencoba tuk tetap berjalan, mencari sesuatu yang ingin ia dapati, menanti sesuatu yang ingin ia jumpai, sesuatu yang ingin ia temui.

Ranukumbolo

Hingga pada akhirnya pemuda itu sejenak berhenti. Matanya melihat pada satu sudut yang tersembunyi. Ia melihat sebuah batu yang bercahaya, menyembul tersembunyi dibalik rerumputan, diantara bebatuan, yang menutupi dan melindunginya dari tangan-tangan keserakahan. Sebuah batu permata yang kecil, mungil, dan dengan kilauan cahaya yang berpendar sempurna, indah. Dan dalam ketidaksempurnaannya ia nampak menjadi lebih sempurna.

Ingin sekali sang “aku” mendekat, melihat dan menatapnya lebih lekat. Tapi aku terlalu takut, aku takut menjadi salah satu dari tangan keserakahan itu, yang akan berkeinginan menyentuh dan menggenggamnya pulang. Hingga aku hanya berani mendekat, aku hanya mengagumi dari jarak yang tak terlihat. Setidaknya, tanganku ini tak cukup dekat untuk menjangkau, apalagi mengusik ketenangan batu kecil berkilau itu.

“Ahhh.. apa yang kamu fikirkan? Tersenyum dan melamun hanya menjadikanmu seorang pemimpi. Bangun! dan lanjutkan perjalananmu. Ahh.. tapi sebentar. Aku masih ingin menikmati lamunan itu. Sebentaaar saja, lima menit saja. Bagaimana? Ah, terserah kaulah!!”.

Sesaat kemudian pemuda itu kembali duduk tersandar, menikmati senyuman dan larut dalam lamunan panjang. Berkelana di dalam imaji dan melayang dalam bayang-bayang. Mencoba kembali mengagumi batu permata yang baru saja dijumpainya. Dan tiba-tiba, “Blarrrr…!!!” sebuah letupan kecil membuatnya terperanjat, jatuh dan terjengkang, melemparkan dan mengembalikannya kedalam alam sadar.

Angin berhembus perlahan. Menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Membawa serta ranting-ranting patah yang berceceran disepanjang jalan. Angin itu menggulung, berputar, membentuk satu pusaran dan perlahan bergerak mendekati pemuda itu. Bukan, bukan, pusaran itu ternyata mendekati batu kecil itu. Sang batu pun ikut melayang, mengawang, dan bersinar lebih terang. Cahaya apa itu? begitu teduh, begitu menenteramkan. Persis seperti yang selama ini ia dambakan.

Belum reda dari keterkejutannya, lagi-lagi dan secara tiba-tiba, “simsalabim!!”, dengan ajaib batu permata itu berubah menjadi sesosok gadis kecil. Seorang gadis kecil mungil bertanduk kancil. Lucu, manis, menggemaskan.

“Hei, kamu siapa? Tenanglah, tenang,, aku tidak ingin mengganggumu. Benarkah kamu batu permata itu? Emm.. aku hanya mengagumimu, aku tau aku tak boleh membawamu, tapi sekali lagi aku hanya ingin mengagumimu, bolehkah?” pemuda itu mencoba ramah dan tersenyum.

“Apakah kamu manusia?” gadis kecil itu membalas manis tersenyum. “Aku hanya sebuah batu permata kecil yang sejak lama bersembunyi dibalik batu itu” sambil menunjuk sebuah besar yang melindunginya selama ini. “Jangan takut, aku tak akan mengganggumu, aku tak ingin menyakitimu, aku hanya seorang pengelana yang tersesat, dan dalam gelapku aku melihat cahayamu. Maukah kau menemaniku bicara dan bertukar cerita?” kata pemuda desa itu.

***

menyisir oro-oro ombo

“Jadi, kamu suka mendaki? Suka berpetualang dan berkelana ke tempat-tempat indah yang tersembunyi? Kalau begitu ajak aku berkelana bersamamu, aku ingin melihat dunia di belahan sana yang katanya begitu indah mempesona. Hei, pokoknya ajak aku kesana! Selama ini aku hanya bisa mendengarnya dari tutur kisah sang angin yang menceritakannya.”

“Kamu ingin ikut aku berkelana? Tapi berjalan jauh itu tak mudah, permata.. berkelana itu capek.. Atau kau ingin masuk kedalam ranselku? Berejejalan bersama alat-alat dan perbekalanku lainnya?”

“Nggak, nggak mau! aku mau masuk di kantongmu saja, hihihihi”

“Ah, dasar kamu permata kecil yang nakal..!!” :)
“Yasudah, tapi kamu jangan gerak-gerak ya..!! ampun polah-polah..! tetep diem dan anteng didalam kantongku.”
“Ingat, tetap diam dalam kontongku. Aku harus menjagamu sepanjang perjalanan dan memastikanmu baik-baik saja. Aku tidak ingin kamu terjatuh apalagi hilang ditengah jalan. Nanti, disana, akan kutunjukkan kepadamu sebuah tempat yang seperti surga, nanti akan kuperlihatkan padamu sebuah telaga yang berwarna biru, dengan kemilau airnya memantulkan pendaran cahaya, sama sepertimu. Kamu bisa membasuh mukamu dengan airnya yang jernih dan menyegarkan, dan aku yakin, kilauan permatamu akan semakin sempurna”.

“Bener yaaa.. pokoknya ajak aku kesana! Ajak aku juga ke hamparan savana dan padang rumput luas yang katanya dikelilingi dengan bukit-bukit indahnya itu.”

***

Tanjakan Cinta – Gn.Semeru

Hahaha, tahukah kamu, permata kecil? Kadang aku masih sering tertawa mengingat obrolan-obrolan konyol kita itu. Tak jarang pula penggalan-penggalan adegan itu hadir dalam imaji liarku. Aku membuatkanmu segelas susu cokelat panas dan kamu bilang nggak mau joinan susu itu dengan si “semeru”, kamu bilang kasihan dia sedang sakit dan terbatuk-batuk, cepet sembuh ya semeru.. hhe. :) Kamu tau? kadang aku juga membayangkan bagaimana jika nanti kamu beneran ngambek, nangis, dan nggak mau berjalan menaiki tanjakan. Sebenarnya aku tidak ingin membayangkan aku menggendongmu, tapi, tetap saja hal-hal konyol seperti itu melintas dalam imajiku. Hahaha.. Ranukumbolo, tanjakan cinta, oro-oro ombo. Dan pada akhirnya aku akan tersenyum puas ketika kamu berhasil sampai di oro-oro ombo, dan kemudian tubuh mungilmu tenggelam diantara rerumputan tinggi yang ada di tengah padang savana itu. :p

Hmmmm… mudah-mudahan yang Diatas memeluk mimpi-mimpi kita itu yaa. Semoga waktu dan kesempatan memepertemukan kita. Seperti halnya garis-garis yang ada di telapak tangan kita, tentang nasib, tentang jodoh, tentang hidup, tentang masadepan, setidaknya kita sendiri telah menggenggam erat garis-garis itu, meskipun selalu ada bagian garis yang berada diluar genggaman, tapi biarkan itu menjadi bagian Tuhan. (meminjam sebuah ungkapan).

Nah kan, aku jadi bingung juga bagaimana mengakhiri tulisan ini. Ahhh.. biarkan saja tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang tak pernah usai. Mari kita isi dan kita lanjutkan dengan cerita-cerita konyol yang terjadi dikemudian hari. Hhe, buat de’ anind, terimakasih telah menjadi inspirasi, dan terimakasih juga untuk puisinya ;)

Salatiga, 9 Februari 2012.
Diselesaikan pada pukul 02.17 AM

 ___________

*seperti yang kubilang, tulisan ini tak pernah usai, dan diakhir cerita ini yok nyanyi lagunya om Duta biar lebih semangat..!!
Jreng jreng jreng… (cek sound, hhe) “Datanglah sayang, dan biarkanku berbaring, dipelukanmu walaupun tuk sejenak. Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua. Bila ku lelah tetaplah disini, jangan tinggalkan aku sendiri. Bila ku marah biarkanku bersandar, jangan kau pergi untuk menghindar..
Rasakan resahku dan buat aku tersenyum, dengan canda tawamu, walaupun tuk sekejap. Karena engkaulah yang sanggup redakan aku. Karena engkaulah satu-satunya untukku, dan pastikan kita slalu bersama. Karena dirimulah yang sanggup mengerti aku, dalam susah ataupun senang..
Dapatkah engkau selalu menjagaku, dan mampukah engkau mempertahankanku..”

“Lanjut??”
“Gausah dilanjut, ayo bilang “aminnn”. Hha :) )

Menanti Matahari Terbit – Ranukumbolo
 
4 Comments

Posted by on February 9, 2012 in Catatan Harian, Spirit & Motivation

 

Hey, Aku menyukai nama itu..!!

Hey, Aku menyukai nama itu..!!

04/02/2012 – Aku percaya, bahwa setiap nama tentunya menyimpan suatu makna. Bisa jadi ia berupa tautan doa, menyimpulkan suatu rangkaian pengharapan, kekaguman, dan rasa syukur dari si pemberi nama. Atau mungkin ia hanya sebagai sebuah penanda, sebuah “tetenger”, yang melambangkan suatu kisah dan suatu masa. Tapi aku yakin, dibalik setiap nama itu, masing-masing akan memiliki suatu arti tersendiri. Aku tak tau mengapa aku berbicara tentang nama, aku tak tahu juga kenapa harus menuliskannya. Tiba tiba saja aku mengagumi sebuah nama. (nampaknya ini akan berakhir menjadi sebuah tulisan geje, hhe)

Sssttt.. aku kasih tau, aku mengagumi “nama” itu, nama seorang gadis kecil bertanduk kancil. Jangan bilang siapa siapa, dan jangan tanya mengapa, karena aku tak menyiapkan alasannya. Dan aku pun tidak ingin “karena” :)

Aku juga mengagumi nama yg dihadiahkan ayahku, untukku. Meski mengandung kata “abdul” yang terkesan jadul, haha, tapi aku suka namaku. Aku juga suka nama “Teplok” yang disematkan secara paksa oleh keluarga Stapala. Nama yang sederhana (dan mencerminkan kesederhanaan), lampu minyak usang yg telah banyak ditinggalkan. Tapi ia akan selalu siap berbagi cahayanya meski hanya ketika kau membutuhkan.

Aku juga mengagumi nama-nama dewi yang bersemayam di puncak-puncak gunung yang tinggi, seperti Rengganis, seperti Anjani.. Atau nama taman-taman surga tersembunyi, seperti lembah mandalawangi, ranukumbolo, orooro ombo, dan jonggringsaloka.
Aku juga menyukai nama-nama hebat seperti yg terserat dalam kitab suci. Daud, Jalut, dan Thalut, dan juga Qobil serta Habil, dan termasuk kisah epic yang menamai ibrani dan babiloni. Nama nama yang membuatku kagum. Sekali lagi, jangan tanya kenapa.

Entahlah, tiba tiba aku menyukai sebuah “nama”. Dan jika boleh ku ulang sekali lagi, maaf aku suka nama kamu.. :)

________
*sebuah catatan konyol maronyol. Selepas isya’, dibawah rintik gerimis yang manis. Terimakasih untuk nama dan kata yang telah kupinjam. Nanti, pasti kukembalikan. :)

 
4 Comments

Posted by on February 4, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

“Dalam” ini, untuk siapapun kamu..

“Dalam” ini, untuk siapapun kamu..

Dalam diam, dalam hening, dalam dingin, dalam beku, dalam syahdu, dalam pekat, dalam hangat, dalam temaram, dalam kelam, dalam petang berbalut bintang, dalam semburat jingga langit senja, dalam kedalaman jiwaku, dalam senyummu, dalam untaian katamu, dalam semangatmu, dalam semangatku, dalam puisimu, dalam senyumku, dalam kisahku, dalam mimpimu, dalam lagu, dalam embun, dalam rintik, dalam gerimis, dalam penantian, dalam perkenalan, dalam perbedaan, dalam persamaan, dalam imaji, dalam sepi, dalam diri, dalam kantong-kantong itu, dalam hamparan padang-padang itu, dalam ketidak sempurnaan itu, dalam hembusan doa-doa itu, dalam apa yang aku dan kamu pun tak tahu. Cukup aku, kamu, dan Tuhan kita yang Maha Tau.
Menyongsong pagi, berharap bukan lagi mimpi.
Dalam kumandang “Assholaatu khoirumminannauum..”, kuakhiri catatan ini.

*sebuah catatan tak bermakna, cukup dibaca, dan salah seorang dari kamu akan tersenyum dan berkata, “apakah itu aku?” :)

Sabtu, 04 Februari 2012, sesaat menjelang adzan subuh.

 
10 Comments

Posted by on February 4, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , , ,

Kesombongan masa muda yang indah (?)

Kesombongan Masa Muda yang Indah.

Satu nomor tembang milik sheila on 7 mengalun perlahan dalam playlist pagi ini, bersama segelas kopi yang menjadi teman menggalau kali ini. Menghabiskan sisa-sisa jum’at malam yang terasa begitu membosankan, sedikit kecewa dengan kabar pengumuman penempatan yang konon katanya bakal dirilis hari ini, namun nyatanya hingga dini hari tak juga jelas alang juntrung kebenarannya. Shhh*t..!! hoax thok ternyata. Ahhh bukankah itu di kampus ini sudah biasa.. :D

Selepas nyanyian ratapan “sarjana muda” dari iwan fals, irama dan bait bait sederhana dari om Duta ini serasa menjadi pengobat luka. Alunan nada-nada dan syairnya seperti romansa, yang mampu memutar kembali kenangan dan menyegarkan ingatan betapa kita masih teramat muda.

“kita slalu berpendapat kita ini yang terhebat, kesombongan masa muda yang indah..”

Hahaha, ya, satu kesombongan yang indah, satu kesombongan yang senantiasa membuat kita bebas tertawa lepas, satu kesombongan yang membuat kita menepuk dada dan bangga terhadap diri kita. Bangga terhadap kebersamaan kita, bangga terhadap pencapaian-pencapaian kecil kita.

Huh, tiba-tiba saja saya merindukan masa masa itu. Tiba tiba kangen kosan, tiba tiba kangen suasana perkuliahan, tiba tiba kangen nongkrong dan ngobrol di warung kopi, kangen main kartu dan ngobrol sampai pagi, kangen jalan keliling-keliling gak jelas muterin kota jakarta.
Hehe, jadi ingin mengulang masa-masa itu kembali. Hidup yang tak sebatas jalan bareng gebetan, numpang baca buku di gramedia, sekedar makan di warung pinggir jalan, menggalau di pelataran DP yang kita anggap sakral, atau bahkan seperti orang tak waras nangkring diatas rangka besi setinggi belasan meter itu, bertengkar atau berdebat oleh hal hal yang sedemikian amat sangat sepele, hehe.
Atau, ketika kita dengan jumawa mencoba menaklukkan satu persatu gunung-gunung yang ada di bumi Indonesia kita tercinta, melawan derasnya arus dan menikmati setiap liukan & jeram jeram sungai yang kini tak jernih lagi airnya, atau kau yang memilih menikmati keindahan dalam kegelapan labirin perut bumi, menyeruak menyusuri goa demi goa yang bahkan aku sendiri tak pernah mencobanya. Atau mereka yang dengan kuat merayap memanjat tebing-tebing tinggi dengan lengan lengannya yang perkasa. Ah, terlepas dari kesombongan-kesombongan kita itu, satu hal yang ku rindukan dari kalian, dari masa muda kita, adalah kebersamaan dan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam menerima satu sama lainnya, kesederhanaan dalam memaknai kehidupan dan melukis kebahagiaan.

Aku raja kau pun raja, aku hitam kau pun lebih hitam..!! haha.

“Demi bermain bersama, kita duakan sgalanya. Merdeka kita, kita merdeka..!!
Tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini, tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini..”

Sebuah bait penutup yang seketika menepis pemikiran bahwa mungkin sebentar lagi masa akan mengantarkan pada cerita yang berbeda, masa yang akan membawa kami ke dunia yang mungkin meluluh lantakkan kesombongan kita, kesombongan masa muda yang indah.
Tapi coba lihatlah, dari kejauhan aku melihat, disana ada kehidupan, ada nyanyian, dan ada keberanian.

*tulisan ini, untuk saya sendiri, & untuk mereka yang menghargai sebuah masa muda.
Salatiga, selepas subuh, 28 Januari 2011

 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Simbahku, jan nguanyeli..

Simbahku, jan nguanyeli..

Simbah, (satu satunya simbah/nenek kami yang masih hidup, wanita yang melahirkan dan membesarkan ayah kami), beliau sudah hampir dua bulan ini tinggal dirumah bersama kami sekeluarga, setelah sebelumnya selalu berpindah pindah dan selalu tidak betah tinggal lama bersama anak anaknya yang lain.

Beliau sudah sangat sepuh, semenjak jompo, beliau mulai pikun dan berkelakuan seperti anak kecil lagi. Wajar sih, kata bapakku usianya sekarang sudah melewati angka 100, walaupun tak yakin pasti yang ke seratus berapa.
Beliau nampak sudah tak ingat lagi dengan siapa dan apa yang ada disekitarnya, termasuk anak-anaknya sendiri.
Ia hanya hidup dengan sifat, watak, dan kebiasaannya sewaktu muda dulu.
Sedikit tamak, banyak “dahar”, dan aluamah. Hehe, kedengaran negatif memang, tapi memang begitu kenyataanya. Kata ibuku itu semua mencerminkan seluruh sifatnya sewaktu “hidup” dulu. Sekarang otak yang memerintahkan apa yang dilakukan simbah bukanlah otak sadar, melainkan otak bawah sadar yang tertanam oleh kebiasaan seseorang yang dilakukannya sedari kecil. Kurang lebih begitu penjelasan ilmiahnya. (padahal ngarang!)

Simbah memang sudah tidak bisa melakukan apa apa. Sudah bobrok! Hanya terbaring meringkuk di dipan kayu beralaskan perlak cokelat dan memakai popok dewasa. Paling banter hanya bisa duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk ketika belium minum atau dahar. Tapi herannya, kalo “dahar” itu seperti orang sehat saja. Lahap, dan dengan porsi luar biasa. Lebih dari porsi makan saya mungkin. Hehe..
Setelah itu beliau “sare”, atau kadang berbicara sendiri selayaknya orang yang sedang bercakap-cakap, entah dengan siapa.
Kadang saya takut sendiri, ini simbah ada temen ngobrol beneran atau gimana yaa.. hehe.

Kadang simbah ini juga rewel, minta ini itu, berteriak-teriak dan berbicara sendiri sepanjang malam, yang membuat kami tidak bisa tidur dengan tenang semalaman.
Ya seperti malam ini contohnya, beliau berteriak teriak memanggil mbah kakung yg telah lebih dulu pergi, bahkan jauh sebelum saya lahir.
“Pa’e.. pa’e.. aku rainjoh tangi..”.
“Njuk ngombe wedang legi..”.
“Kowe kumu wes matengan?”
Ah, jika simbah sudah mulai bicara aneh2 seperti ini, maka saya yg tidur dikamar sebelahnya terpaksa mengungsi tidur di depan TV. Hehe.

Dari lantai di ruang depan itulah saya menulis tulisan iseng ini. Mencoba mengambil sedikit ibroh dari sepenggal cerita gakpenting yang saya tuturkan diatas tadi.

Saya kepikiran bahwa suatu saat nanti kita pun pasti akan menua, seperti simbah sekarang ini, yang tinggal menunggu kapan izrail datang menghampiri.
Bahkan kita yang sekarang masih muda pun, belum tentu mengalami masa tua, jika ternyata memang sudah tiba gilirannya. Tak ada yang tahu pasti, Tuhan dengan rahasiaNya yang lebih tau.

Dan jika kita diberikan umur panjang, ternyata kebiasaan kebiasaan (perbuatan) kita sewaktu muda akan terbawa ketika kita sudah tak ingat lagi apa apa. Entah kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Seperti simbah ini.
Toh, jika maut menjemput, yang boleh kita bawa juga amalan amalan kita saja bukan?
Maka itu artinya sedari saya harus membiasakan diri melakukan hal hal yang baik. Sedikit demi sedikit mengurangi atau bahkan meninggalkan kebiasaan yang tak baik. Catatan: Itu, jika saya ingin menjadi orang baik. :)

Ibroh yang ketiga adalah bagaimana ibu & bapak saya dengan penuh bakti bersabar menghadapi kelakuan simbah yang aneh-aneh ini. Merawat dan menjaga dengan penuh kasih sayang, persis seperti merawat seorang bayi. Memandikan, menyuapi makan, mengganti kain jarit dan popok yang penuh dengan kotoran.. Ya, maka tak salah jika kanjeng Nabi mengajarkan kita agar berbuat baik dan mendoakan kedua orang tua kita, menyayangi mereka, sebagaimana mereka merawat & menyayangi kita sewaktu kecil dulu. Terutama kepada ibu, yang tiga kali disebut berulang oleh kanjeng Nabi sebagai orang pertama yang harus dimuliakan dalam hidup.

Ke empat, ibrohnya belakangan ini saya jadi sering terbangun di tengah malam ketika simbah tiba-tiba teriak teriak bicara sendiri. >> kalo nggak males, kan, bisa sholat malam. Kalo males? bisa nonton bola..!! haha.

Ibroh yang kelima? ya akhirnya kan tulisan gakjelas ini bisa nambah nambahi postingan di blog yang setelah beberapa lama tak sempat terjamah. Huehue..

Saya akhiri tulisan ini dengan doa, mari mengaminkan untuk kedua orangtua kita semuanya..
“Robbi ighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiira”.
(tiba tiba barusan mendengar suara gagak yang tak biasa dari arah sana, sumpah, hii merinding saya. *buruburu tarikselimut)

*Sabtu, 21 Januari 2012. Ditulis di Susukan, sebuah kecamatan perbatasan antara Kab.Boyolali dengan Kab.Semarang.

==========
Keterangan:
(dahar=makan, bahasa jawa) ; (sare=tidur) ; (ibroh=hikmah,pelajaran,teladan)

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Saat bapak & anak “bacok-bacokan”

“Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati”
        
-gita gutawa ft. adaband-

Mendengar sebait lagu diatas secara tak sengaja mengantarkan lamunan saya pada kenangan masa kecil dulu. Hehe, saya jadi teringat bagaimana dulu pernah menentang kerasnya keinginan bapak yang berkeinginan menyekolahkan saya di madrasah aliyah. Saya juga seketika itu terbayang bagaimana dulu derai air mata ibu saya membela mimpi dan keinginan anak bungsunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, meretas mimpi kuliah di salah satu universitas ternama di negeri ini, bukan pendidikan selengkapnya klik disini

 
1 Comment

Posted by on December 2, 2011 in Catatan Harian

 

Shanti Fatma Hafidzah, Bunga mawar itu kini tlah tiada.

“Seorang gadis yang kuat, seorang gadis yang punya segudang mimpi, seorang gadis yang tak pernah putus asa, seorang gadis yang berjuang melawan scoliosis yang dideritanya. Seorang gadis yang tiga bulan lalu mengirimkan pesan: “Kaifa khaluk kakak…”.
Baru saya tau, dua bulan yang lalu ia tlah pergi. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha..”

                                                      ****

Entah bagaimana aku bisa merasa begitu kehilangan selepas kepergiannya. Sedangkan sekalipun kita belum pernah bertemu. Bahkan, sekedar bertukar suara pun, tak pernah bukan? J

Kamu, gadis yang teramat baik, adikku..
disaat remaja seusiamu sibuk berhura hura menghabiskan masa muda bersama teman-temannya, kamu memilih membenamkan diri daalam rutinitas harianmu yang sudah tersusun rapih. Sekolah, mengajar privat, mengajar adik-adik TPA, membantu mama membereskan pekerjaan rumah, dan disela sela kesibukanmu yang luar biasa itu, masih kau sisihkan waktu tuk belajar, atau sekedar membaca, bahkan tak ketinggalan kamu ikuti pula kajian-kajian ilmu agama.

Seringkali kamu tak peduli tentang kesehatanmu sendiri.
Kau ingat dulu? Tak jarang kakakmu harus mengingatkanmu untuk sekedar makan ketika menjelang tengah malam. Dan beberapa jam kemudian pesanmu membangunkan tuk sholat malam.
Ah, kasihan kamu de’..!! seorang gadis kuat yang terperangkap dalam fisik yang teramat lemah.

                                                      ***
Ada sedikit penyesalan yang tersisa. Pesan singkatmu tiga bulan yang lalu, pun belum sempat kubalas. Yuph, mungkin pada saat itu kakakmu terlalu sibuk dengan serentetan tugas dan kesibukan menjelang kelulusan. Ujian akhir, PKL, membuat laporan/ tugas akhir, ujian kompre, dan tetek bengek kesibukan lainnya. Ya, semenjak itu tak terdengar lagi kabar darimu. Dan ternyata, dua bulan yang lalu Allah tlah memanggilmu. Innalillahi wainna ilaihi rojiun…

Engkau menyadarkan pada kami betapa kematian itu sungguh sangatlah dekat. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kemarin, lusa, dan masa lalu akan menjadi kenangan. Tinggal kenangan sebagai orang yang baik atau malah sebaliknya yang akan kita tinggalkan. Dan kau orang yang baik, teramat baik, liatlah betapa banyak orang-orang yang merasa kehilangan atas kepergianmu yang begitu cepat.. :’(

                                                        ***
“Saya masih ingat, bagaimana terakhir kali kita berebat tentang hukum melafaklkan niat sholat. Bagaimana kita berdiskusi tentang aliran liberal dan paham wahhabi. Bagaimana kita membicarakan pergerakan tarbiyah yang mulai sedikit hilang arah.
Saya masih ingat, bagaimana kamu bercerita tentang kelainan tulang belakang yang membahayakan jantungmu.
Ternyata sudah cukup lama. Dan baru saya tahu, kini kamu sudah mendahului kami, menghadap Illahi.
Bahkan, kamu masih sangat muda adikku..
Semoga Rabb-mu meninggikan derajatmu, mujahidah kecil..”

Salatiga, 27 November 2011

*tulisan ini untuk mengenang kepergian seorang adik kelahiran Ciledug, 17 September 1991 dan meninggal pada 9 September 2011 karena skoliosis yang diderita sejak kecil berdampak pada jantungnya.

 
2 Comments

Posted by on December 1, 2011 in Catatan Harian

 

Untuk sahabat dekat yang sudah di-DO

Agak berat juga rasanya memberi judul tulisan ini demikian. Tapi biar bagaimanapun memang demikianlah adanya. Untuk kali ini bukan cerita pendakian yang ingin saya tuliskan, bukan pula cerita ringan atau catatan kegalauan yang hampir mendominasi isi seluruh “diary onlen” ini. Kali ini saya ingin berbagi kisah pilu, satu fase perjalanan kehidupan yang setiap kali mengingat peristiwa itu membuat hati kami (teman-teman dan sahabatmu, Cep) larut dalam haru.

Bagaimana tidak, kita yang dulu sama-sama berjuang menghindari ancaman drop out dari sekolah tinggi kedinasan instansi yang dulu dipimpin Ibu Sri Mulyani. Kita yang sama-sama berjuang dan belajar bareng demi mengentaskan diri dari predikat mahasiswa dengan IPK dua koma. Kita yang sering berkumpul bareng, sekedar minum kopi dan bermain kartu remi. Bercanda dengan olok-olok ria di jendela belakang kelas kita di lantai tiga yang demikian panasnya, menunggu pak Basmus yang selalu telat tiba. Ya, kami masih jelas mengingat, masa masa itu, sobat..

Kowe kelingan ra, dab??

Gue juga masih menyimpan pesan lu sesat sebelum lu pergi, sengaja gue tuliskan kembali disini, karena “pesan terakhir” lu itu jugalah yang menguatkan kami, yang meyakinkan kami kalo lu tu kuat, yang ngebuat kami “nggak terlalu” mengkhawatirkan ke-DOanmu itu. Wkwkwk, parah.

Fajar ‘Cepi’ Pratama
assalamualaikum..

Buat semuanya, sori banget kemaren gak bisa pamitan langsung. Jujur gue gak berani ketemu kalian semua..
Gue minta maap kalo setaun ini gue punya salah ma kalian..
Thanks berat atas persaudaraan yang kalian beri ma gue. Itu akan jadi lembar istimewa di hidup gue.

——

lembayung sinar sore jingga temani diriku..
kepulan asap sigaret dan pahitnya kopi mencoba tuk mengusir dingin yang menusuk..
ku ambil jalan lain bukan karena letih berjuang..
bukan karena tak mampu lagi mendaki..
ku hanya mengambil jalan memutar saudaraku..
karena di persimpangan sana, kita akan brtemu lagi..

ilalang bergoyang menandakan malam tlah menjelang..
desir gesekan daun, garis bintang di atas sana,dan nyanyian hewan-hewan kecil membuatku terpejam dalam karena menikmatinya..

ku akhiri puisiku..
seorang saudaraku menawariku sigaret berkelobot jagung..

saudaraku..
tunggulah aku..

-27 agts 07-

——–

sebuah puisi yang kutulis saat gue terpisah dan tersesat di Gunung Merbabu di ketinggian 2982.05 mdpl, tepatnya di sektor timur di daerah padang ilang..
Gue akan berusaha di sini. Insya Allah taun depan mo daftar STAN lagi. Doain gue saudara-saudaraku biar gue bisa ketrima STAN lagi.. Amin.
dan buat yang terakhir, ijinin gue meremove diri saya dari foto comment ini..

bila rindu dgn saya ato mo apalah gtu bs lewat wall,status comment,e-mail,sms,ato telp jg bisa..
sumimasen.
adios amigos.
jamata…

wassalamualaikum..

Aku menuliskan kisah ini, ketika kami pada akhirnya telah di wisuda. Lulus dengan predikat IPK yang beranjak satu strip diatas angka dua. Gue, rony, yora, dede, dan yang lainnya.. candra dan rio jangan ditanya, mereka masih berupa orang orang malas dengan otak dewa, haha. Bukan seperti kita yang meski sudah belajar mati-matian tetap saja mendapat nilai C, atau mungkin karena tulisan kita jelek ya? hahaha. Si Budi yang juga terpaksa DO waktu itu sekarang sudah di UI. Si Noto yang mencoba lagi tahun berikutnya alhamdulillah keterima lagi di pajak. Si Yossa sudah mewarisi jiwa bisnis bokapnya. Detha menyeberang haluan ke Analis Efek. Nanda di pertanahan jogja. Dan kami tentu saja berharap kabar terbaik dari lu disana. Sekedar kabar sehat wal afiat dan rokok klobot di mulutmu itu selalu mengepul sudahlah cukup menentramkan bagi kita.

Oke sob, seperti yang lu bilang, kita hanya memilih jalur yang berbeda. Gue lewat selo, lu lewat kinahrejo. Sampe ketemu di pasar bubrah kawan, Insyaallah kita semua akan menapaki puncak beriringan.

Suatu sore di bawah langit bintaro.
02 November 2011

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2011 in Catatan Harian

 

Secangkir Kopi

Azhyz Maghfur‘s notes on Tuesday, 18 October 2011 at 16:41

Menikmati secangkir kopi yang baru saja kuracik sendiri ini, membuat keinginan saya untuk menulis kembali bangkit dan sedikit tergelitik.

Perpaduan rasa antara pahit, manis, dan hangat, menyatu, mnjadi satu citarasa kopi desa yg benar-benar khas, benar-benar pas, benar-benar mantap, menemani satu sore yang berlalu tanpa aktivitas.. tanpa produktivitas..

Ssssrrpp..

Dan baru saja saya menyadari, hey kau kopi..!!
Kau itu, seperti kehidupan, bukan?
Pahit dan manismu berpadu, tersuguh dalam cawan, dan berakhir dlm satu tegukan. Panas!!

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2011 in Catatan Harian

 

Gunung itu, ibarat candu..!!

 di Puncak Mahameru (Gembez 882)

Terinspirasi tulisan Mbak Gerrie 813, salah satu senior GH yang memposting sebuah tulisan di blognya tentang catatan perjalan-perjalanan mendaki gunung yang pernah dilaluinya. Dalam prolog ia menyebutkan bahwa Naik gunung itu candu”. Hahaha, ya, kata-kata itu yang “memprovokasi” saya untuk mengamini pernyataan itu lewat sebuah tulisan iseng ini.

Seperti halnya ketika seorang pengguna narkoba mulai mencoba menghisap ganja, heroin, ataupun kokain, efeknya akan terasa begitu luar biasa bagi yang pertama kali menghisapnya. Mungkin pusing, “ngeliyeng”, muntah, atau bahkan pingsan mungkin. Tetapi ketika ia telah merasakan nikmat sensasinya yang melayang, lau ia akan ketagihan, kemudian bermetamorfosis menjadi seorang pecandu. Dan jika tidak dipenuhi kebutuhan itu, ia akan merasa sangat tersiksa, sakauw..!! (hehehe, kayak udah pernah nyoba aja Zhyz).

Mungkin sedikit berlebihan, namun jalan-jalan dan berpetualang ke dataran-dataran yang tinggi di muka bumi ini akan menjadi sebuah “candu” tersendiri. Setidaknya hal itu yang saya pribadi alami. Pertama kali mengenal gunung (mendaki gunung) justru ketika sudah di jenjang perguruan tinggi. Sahabat saya Jhon Taqun mengajak saya mendaki Gunung Ciremai (Jawa Barat) bersama dengan tiga orang kawan STAPALA (waktu itu saya bahkan belum menjadi anggota). Mereka adalah Bang Wapress, Odol, dan Mbak Di’i. Ya, ini adalah perjalanan sekaligus pendakian pertama sepanjang hidup saya.

Sejak saat itu, saya mulai jatuh cinta pada gunung. Keinginan untuk mengunjungi puncak demi puncak, menikmati setiap peluh dan tetesan keringat ketika menapaki jalan terjal mendaki, dan menikmati pemandangan yang selalu berbeda sesuai dengan masing-masing karakternya. Dan yang paling membuat saya terkesan adalah pengalaman spiritual yang akan kita dapatkan. mendaki gunung tak sekedar mendaki, mendaki gunung bisa menjadi salah satu sarana mendekatkan diri pada Ilahi. Kita akan menyadari, betapa kerdilnya kita dibandingkan alam raya, apalagi dibandingkan Penciptanya. Satu hal yang luar biasa adalah ketika kita berkesempatan mendirikan sholat di atas sana. Keheningan, desir angin yang menerpa, matahari yang begitu dekat dengan kepala, semakin menambah kekhusyukan setiap gerakan ibadah kita. Hmmm.. rasanya saya tidak cukup memiliki perbendaharaan kata untuk menggambarkan kepuasan bathin yang kita rasakan.

Mendaki juga memiliki arti tersendiri. Ungkapan populer yang mengatakan bahwa “mendaki itu bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi menaklukkan diri sendiri”. Ya, benar sekali, kita tak akan pernah bisa menaklukkan gunung, selama kesombongan dan ego itu belum bisa kita tundukkan. Dari mendaki gunung kita juga dapat mengenali bagaimana sebenarnya karakter seseorang. Tidak percaya? :) Silahkan dibuktikan…

Orang bilang buat apa bercapek-capek naik gunung? tapi  saya bilang, gunung ini obat hati sekaligus penenang fikiran. Dan saya yang masih tergolong pemula ini, tengah merasakan efek sakauw yang diakibatkannya. Huahhh..!!  Tidak sabar ingin mengecup satu persatu kuncup SIndoro, Sumbing, Slamet, Merapi, Merbabu, Lawu, Argopuro, Arjuno, Welirang, Raung, Kerinci, Rinjani.  Apakah semuanya bisa terealisasi? Imposibble? Wallahu a’lam. Yang jelas saya nagih, nagih, dan nagih pengen naik gunung.
Sekali lagi, gunung itu ibarat candu. .!!

 
8 Comments

Posted by on August 22, 2011 in Catatan Harian

 

Catatan Absurd

Bintaro, 19 Agustus 2011.

Dan lelaki itu, duduk, termenung, dengan bara api yang menyumpal di sela-sela mulutnya,
menatap nanar lembaran-lembaran kumal, sembari merapal beberapa baris kata, menghafal, mencoba menghafal? menghafal apa? entah menerka, mencoba menerka? menerka apa?
Dalam ketermenungan itu, pun. Ketidakpastian mengantarkannya pada satu bayangan (yang sebenarnya sama sekali tak ia inginkan), tentangmu. hey..!! Tentangmu..!! tentang bayang-bayang semu? tentang sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu.

Sejenak, lelaki itu tersadar, bersandar, malu. Bahwa bayang itu, pun tak suka bara itu!! (dihatimu??)
Buang..!! Cukup teguk saja minuman hitam itu. Pahit, bukan? Nikmatilah kepahitan itu. Atau, mungkin kau berharap ia kan menambahkan sesendok gula kedalam gelasmu?? *bermimpilah. *aihh. *sudahlah..

(sayup-sayup terdengar alunan lagu Efek rumah Kaca: “Jatuh cinta itu biasa saja..”)
Ah, iya… jatuh cinta itu biasa saja…

*sebuah catatan absurd – tanpa judul (11:55PM @PoskoStapala)

 
4 Comments

Posted by on August 18, 2011 in Catatan Harian

 

Perjuangan Mendapatkan 2 Pendamping


*foto diambil dari grup Wisuda 2011

Perjuangan Mendapatkan 2 Pendamping

Senin, 8 Agustus 2011 – Suasana gedung J kampus Jurangmangu pagi itu begitu berbeda dengan hari-hari biasanya. Sejak pagi buta pintu kedua telah ramai berjubel mahasiswa-mahasiswi lengkap dengan atribut dan seragam kuliahnya. Berjajar, mengular dan memanjang hingga mendekati bundaran air mancur yang berjarak lebih dari 10meter dari pintu belakang gedung itu. Persis seperti antrian masyarakat yang menunggu giliran pembagian BLT, atau mereka yang berdesak-desakan unuk mendapatkan jatah sembako. Sebenarnya, ada keributan apa disana? Baca selengkapnya..

 
4 Comments

Posted by on August 10, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Sejenak Tentang Masa Lalu

Bintaro, 26 Juli 2011

Rasa-rasanya sudah cukup lama aku tak merasakan lagi yang namanya jatuh cinta, sudah lama? ya, sepertinya sudah lama… semenjak kau menemukan cinta yang baru, pun tidak demikian denganku. Aku yang mencoba untuk jatuh cinta lagi, tapi toh nyatanya selalu gagal untuk mencintai.. entahlah.. #sigh

Suatu ketika kembali kau membuatku tersadar, bahwa masa telah berbeda, segalanya telah berbeda, dan akhirnya kita akan berbeda.. Pada masa di saat aku masih bisa berlari mengejarmu, pada masa di saat aku dan kamu, masih bisa menjadi warna yang saling melengkapi.. pada masa yang indah yang pernah kita lewati.. ingatan-ingatan itu.. ya, mungkin masa itu, hanya akan menjadi sebuah ingatan.. yang akhirnya akan membuat kita benar-benar berbeda..

#sejenak tentang masa lalu

 
2 Comments

Posted by on August 7, 2011 in Catatan Harian

 

Minggu pagi, mengitari kampus dengan sepeda

Minggu pagi, mengitari kampus dengan sepeda

Nggak biasanya saya nggak bisa tidur (lagi) sehabis sahur pagi tadi. Padahal biasanya habis subuh pasti bales dendam tidur sampe siang, hehe. Yaa begitulah, selama bulan puasa ini kerjaannya kalo malem bales dendam makan, kalo siang bales dendam tidur. –mengutip ucapan 915 Mirza Asep Shena-. Nggak papa kan yaa, kata pak ustadz tidurnya orang puasa itu dihitung ibadah kok, hehe. Jadi sah-sah saja kita memperbanyak ibadah di siang hari. (Haha, alesan thok). Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (II)

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (II)

29 Sya’ban 1432H.

Lanjutan dari tulisan pertama. Tepat pukul 09.10 saya tiba di rumah. Didepan di jalan-jalan sudah banyak orang yang berkumpul untuk mensholatkan dan memberikan penghormatan terakhir kepada simbah, sang imam sekaligus sesepuh desa yang kemarin sore telah menghembuskan nafas terakhirnya. Baca selengkapnya..

 
7 Comments

Posted by on August 4, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (I)

gambar ilustrasi dari berandahati.com

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (I)

Sore itu, 29 Juli 2011, bertepatan dengan 28 Sya’ban 1432 H. Saya mendapat telepon dari bapak.

“Halo, Assalamu’alakum”.
“wa’alaikum salam, agek opo le?” (sedang apa Nak?) tanya bapak..
“Niki nembe fotokopi kung, ajeng ngempalke laporan PKL”.
“Oh yo rapopo, lak wes rampung to gaweane?”. Baca selengkapnya..

 
3 Comments

Posted by on August 4, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , , ,

Geblek..!! Outline belum beres malah naik gunung.

Geblek..!! Outline belum beres malah naik gunung.

Pengarahan Outline di Gedung G

Jum’at, 10 Juni 2011. Suatu sore di posko STAPALA

Blip blip blip blip…

One messege received. “JARKOM, Malam ini kita tidak jadi ketemu dosen pembimbing karena beliau ada acara. Bimbingan diganti besok pagi (sabtu) di kampus”. Berita bagus kah? Buruk kah?

Yak, itu adalah setting waktu menjelang keberangkatan kami menuju Gede Pangrango. Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on June 14, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , , , , ,

Cathetanku dino iki…

Cathetanku dino iki..

Saktemene aku ora patio ngerti, opo sing dak rasakke ati iki, sakjan-jane biasa wae, ananging sansoyo suwe sansoyo ngewuhake. Masalah ati iku pancen ribet, pancene agawe pikir mumet. Ananging meh kepriye maneh, kabeh mau ono lan dumadakan teko tanpo kito biso selak, tanpo kuwoso “menghindar” seko kasunyatan. Yo opo anane kudu di trimo, opo anane kudu di tompo, amargo kabeh mau paringane Kang Moho Kuwoso. Awake dhewe dadi manungso amung biso narimo, tur ora kendhat andedonga, mugo-mugo kabeh mau biso andade’ake dhewe pribadi kang luwih dewasa, luwih kuat ngadepi pancobaning urip lan cecobaning ati.

Cathetan iki ditulis ing Bintaro esuk iki,
Suryo kaping pitulikur, wulan April, warso rongewu sewelas.

*mencoba menulis catatan versi jawa (versi jawa sendiri berbeda-beda ragam dialeknya), walaupun menjadi bahasa sehari hari, ternyata menuliskan tidak semudah mengucapkan dalam bahasa percakapan. Tetapi ini asyik dan menarik, lain waktu saya akan mencoba menulis lagi. Meskipun hanya saya sendiri yang memahami. Hehe..

 
1 Comment

Posted by on April 27, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

LIGA JATENG 2011: Permohonan Maaf untuk Salatiga…

LIGA JATENG 2011: Mohon maaf untuk Salatiga..

Jersey IKASA FC

Ditengah kegiatan perkuliahan mahasiswa STAN yang konon katanya sibuk berkutat dengan buku-buku (walaupun kenyataannya tak selalu begitu), pun demikiian dengan mahasiswanya yang bersuku-suku, sepakbola tetap menjadi magnet tersendiri yang mampu menyedot animo dan antusiasme mahasiswa dari berbagai penjuru daerah.

Selayaknya gaung nasionalisme yang tercipta pada gelaran Piala AFF beberapa waktu yang lalu, demikian pula dengan LIGA JATENG yang mempertemukan organda-organda (organisasi mahasiswa kedaerahaan) dari seluruh provinsi Jateng-DIY. Setiap mahasiswa nampak menunjukkan nasionalismenya (baca:kecintaan pada asal daerahnya) dengan hadir dan memberikan semangat dengan riuh rendah teriakan dan dukungan setiap kali timnya bertanding. Sepakbola adalah pemersatu, sepakbola adalah suatu wujud cinta.

SALATIGA vs PATI-A

Gelaran Liga Jateng 2011 telah memasuki fase knock-out. 16 tim dari organda yang berbeda turut serta dalam perebutan fase selanjutnya. Tak seperti biasanya, diaantaranya muncul nama kota “SALATIGA” yang turut bersaing dengan tim-tim lainnya. Ya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikut sertaan di gelaran Liga Jateng, IKASA mampu lolos dari babak penyisihan dan memastikan satu tiket di perdelapan final hasil dari dua kali kemenangan di babak penyisihan. Pada gelaran sebelum-sebelumnya, BACA SELENGKAPNYA GAN..!!

 
2 Comments

Posted by on April 24, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Monolog: Satu Cerita Tentang Diklat STAPALA

MONOLOG: SATU CERITA TENTANG DIKLAT STAPALA

Baru saja mengorek-korek salah satu grup FB, secara tidak sengaja menemukan kembali sebuah catatan lama (lebih tepatnya curhatan saya) beberapa bulan yang lalu, atau bahkan mungkin setahun yang lalu. (sepertinya masih di  kisaran desember 2010). Catatan ini sebenarnya berupa monolog dalam chatbox grup, ketika kami sedang menjalani masa-masa diklat STAPALA. Karena setiap penggalan cerita adalah berharga, maka tidak ada salahnya saya angkat kedalam postingan di blog sederhana ini..

“(ada tanda tanya dibelakangnya, muhasabah, bertanya pada diri sendiri)

disini, cuma ada ada pacull dan kucir..

Bintaro, 10 desember 2010

03.02 AM

kepada siapa lagi ku harus mengadu..

sedangkan disini tiada si Bedu..

mungkin benar, berbicara terhadap diri kita sendiri terkadang pilihan yang terbaik..

karna hanya kita sendiri yang mengerti apa yang kita maui.. BACA SELENGKAPNYA GAN..!!

 
Leave a comment

Posted by on April 24, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Quotes#1:

Setelah merasa kehilangan,
kau akan menemukan dirinya,
di dalam air matamu sendiri .”

-Quotes-

 
Leave a comment

Posted by on April 24, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Tulisan ini, terdedikasi untukmu, adhekku..

Tulisan ini, terdedikasi untukmu, adhekku..

Bintaro, 23 April 2011

Suatu ketika kau pernah bertanya, bagaimana jika pada akhirnya nanti, entah karena sesuatu yang tidak kita mengerti, kau dan aku terpaksa mengakhiri kebersamaan ini. Suatu ketika pula kau pernah bertanya, bagaimana jika lama-lama aku jadi suka. Mengingat akhir-akhir ini kita begitu dekat, saling bersua, berbagi cerita, dibawah langit malam yang terkadang tak berbintang. Dan suatu ketika, kita pernah terdiam, berjalan diantara baris-baris malam, dalam hening, dan bertanya pada hati masing-masing.

Aku hanya ingin bercerita, tentang sesuatu yang bermuara dari sudut pandangku, dan dari sudut pandangmu. Tentang sesuatu yang mungkin tlah sama-sama kita tahu. Tapi, aku tak ingin berbicara tentang hati, aku tak ingin berbicara tentang sesuatu yang sama-sama kita mengerti, (walaupun mungkin tak sepenuhnya bisa kupahami). Aku tahu bagaimana rasanya menunggu.. Aku tahu kebimbanganmu, adhekku..

*antara kita, dia, dan mereka..  antara kami, kalian, dan dirinya..  antara hatiku, hatimu, dan hatinya…

Sesungguhnya masih ada gejolak hati yang tak bisa dipungkiri.

*Catatan: Maksude opo jal?? hehew.. #isengisengnulisaja.

 
10 Comments

Posted by on April 23, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,975 other followers