AG 7518 UR
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan, Itulah keberanian. Atau mempersilahkan, dan itulah pengorbanan.” [QUOTE]
Salatiga, 24 Februari 2012
Seorang gadis kecil menggelendot manja, melingkarkan tangannya di lengan kiri pemuda yang kini duduk di sampingnya, terpaut hanya beberapa mili saja dari tempat ia bersandar. Keduanya duduk bersebelahan di sebuah bangku kayu panjang di ruang tunggu sebuah agen bus malam. Mereka mendekat, saling merapat, namun ia tak berani menatap, entah malu, atau karena ingin berusaha menyembunyikan perasaannya, kegelisahannya. Ia hanya bisa semakin merapatkan jemari kecilnya disela-sela jari sang kekasih, menggenggam erat, seakan tak rela seseorang yang dikasihnya itu pergi. Memang, lelaki itu cepat atau lambat harus pergi, meninggalkan si gadis kecil di kota ini seorang diri. Ia akan pergi merantau, mencoba meretas masa depan, mengadu nasib dan peruntungan ke belahan kota yang berbeda. Jakarta.
Keduanya menyadari, selepas ini, mereka akan terpisah untuk waktu yang bahkan mereka sendiri tak tahu. Sebuah perpisahan yang terasa terlalu cepat, sebuah kebersamaan yang terasa begitu singkat. Baru sekejap mereka bertemu, dan tak lama lagi mereka harus menerima kenyataan, bahwa keadaanlah yang memaksa memisahkan. Dan sekarang, yang bisa mereka lakukan hanyalah menghabiskan sedikit waktu yang tersisa ini untuk berdua. Bercerita, bercanda, bergelendot manja, dan mencuri-curi kesempatan mengungkapkan kasih sayang. Aihhh dasar anak muda..
Sudah hampir satu jam mereka berdua menunggu. Bus malam Harapan Jaya yang akan mengantarkannya ke Jakarta tak kunjung tiba. Langitpun mulai menua, rona senja membayang di sudut terminal kota. Lampu-lampu penerangan serempak mulai dinyalakan, dan satu persatu bus lain berdatangan dan diberangkatkan. Tapi mereka masih harus menunggu. Biarkan saja, batin pemuda itu, aku masih ingin berlama-lama bersama gadis kecilku, bisiknya dalam hati.
Menjelang maghrib, bus jurusan Jakarta yang akan membawanya baru tiba, ”Silahkan mas yang lebak bulus” kata mas-mas penjaga loket mempersilahkan rombongan penumpang untuk segera naik dan membawa serta barang-barang. Di kejauhan samar terdengar adzan maghrib berkumandang. Mengiringi detik-detik kepergian si pemuda. Keharuan pun membuncah, ada sepasang mata yang nampak memerah. Sepasang mata yang masih merasa belum saatnya berpisah. Entah perasaan apa yang masing-masing dari mereka rasakan. Pemuda itu berdiri sejenak, mendekati gadis kecil itu dan mengecup kening sang gadis. Tak banyak yang ia ucapkan, ia hanya berjanji ia pasti akan kembali.
Pemuda itu melihat si gadis kecil masih berdiri disana ketika kakinya melangkah pergi, sesaat kemudian, AG7518UR membawanya meninggalkan Salatiga. Lelaki itu pun pergi, namun hatinya tidak.
***
Bintaro, 18 Maret 2012
“Sudah lebih dari tiga minggu aku kembali ke kota ini.Ke kota yang masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Hanya bedanya, kini tak sebagai mahasiswa lagi. Mungkin tubuhku terdampar disini, namun hatiku tertinggal di sana, dikotamu, sayangku… Masihkah kamu rindukanku, sebagaimana ku merindumu?”
Sebuah nyanyian rindu, terbisik diantara bising dan hening, terlantun dari suatu sudut kota ditempatmu kini berada, Salatiga. Aku mendengarnya, aku mendengar bisikmu yang inginkanku pulang. Aku tahu, sayang.. aku merasakan bagaimana resahmu yang membayang. Buanglah segala keraguan, dan beri aku waktu tuk membuktikan.
***
alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
ku tahu pasti kemanakan ku bermuara
semoga ada waktu, sayangku
ku percaya alam pun berbahasa
ada makna di balik semua pertanda
firasat ini rasa rindukah atau kah hanya bayang
aku tak peduli, ku terus berlari
cepat pulang
cepat kembali, jangan pergi lagi
firasatku ingin kau tuk cepat pulang
cepat kembali, jangan pergi lagi
dan lihatlah sayang
hujan terus membasahi
seolah turun air mata
Marcell – Firasat
*Tulisan iseng pertama di bulan ini. Bintaro, minggu pagi.











Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (II)

Saktemene aku ora patio ngerti, opo sing dak rasakke ati iki, sakjan-jane biasa wae, ananging sansoyo suwe sansoyo ngewuhake. Masalah ati iku pancen ribet, pancene agawe pikir mumet. Ananging meh kepriye maneh, kabeh mau ono lan dumadakan teko tanpo kito biso selak, tanpo kuwoso “menghindar” seko kasunyatan. Yo opo anane kudu di trimo, opo anane kudu di tompo, amargo kabeh mau paringane Kang Moho Kuwoso. Awake dhewe dadi manungso amung biso narimo, tur ora kendhat andedonga, mugo-mugo kabeh mau biso andade’ake dhewe pribadi kang luwih dewasa, luwih kuat ngadepi pancobaning urip lan cecobaning ati.












