RSS

S e p e n g g a l   c a t a t a n – c a t a t a n   k e c i l 
tentang kita, tentang hidup, tentang petualangan, tentang kebersamaan, tentang persaudaraan, tentang alam, tentang mimpi, dan diriku sendiri 

c a h a y a  d a l a m  g e l a p . . .

[untuk melihat DAFTAR ISI klik disini]                    [untuk melihat ISI BLOG klik disini]

.

 
Comments Off

Posted by on February 5, 2011 in Uncategorized

 

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan Lampu Teplok

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan Lampu Teplok.

Malam ini, mari sedikit bermain-main dengan imaji, membebaskan ia yang sudah lama terkurung dalam diri seorang pemuda pengangguran macam saya ini. Membiarkannya bebas, dan berlari-lari di dunianya sendiri. Hoahm.. Tapi saya mengantuk. Saya ingin melepaskannya saja di dunia mimpi. Biar ia bisa bebas berlari lari tapi tak kan bisa lari. Hmmmss.. Dan lagipula, saya pun sedang kering inspirasi. Ada yang mau membantu? Ada yang mau kasih ide? Tidak ada? Sama bingungnya dengan saya? Hooooahm, yuk kalau begitu tidur saja kita. Menyusul si cinta yang baru saja kututup teleponnya. Yang sudah tidur terlelap setelah menyelesaikan belajarnya. Hmmmh, tapi si jari jari malah memberontak, ia masih ingin menari nari. Ah dasar nakal!! Sama seperti kamu, cinta..

Heh!! sebenernya niat mau bikin tulisan nggak sih?? Maaf, sejujurnya dan sebenarnya enggak. Trus kenapa masih nulis?? Ya karena pengen aja. Pfffft..
Saat facebook & twitter menjadi tak menarik lagi, dan mata “kethap-kethip” enggan terpejam karna kebanyakan kopi, ya kamu harus siap-siap menjadi tong sampahku, yang mau tak mau harus mau menampung segala kesah dan sumpah serapahku, ah malang sekali nasibmu, blog wordpress-ku.

Oke, oke ziz.. Ane tau ente lagi galau. Ane tau ente lagi suntuk. Nih gue kasih cerita aja yee, mudah mudahan aje bise bikin muke lu ga kusut lagi kayak gitu..

Pffftt, terserah deh!! Mau cerita soal apa lu?

Oke, dengerin yee.. kali ini tentang kisah seorang bapak-bapak yang bernama pak abdul. (Sial, pasti lu mau nyindir gue!!). Setting dan latar ceritanya adalah desa pelosok di sebuah perbatasan wilayah yang sinyal HP pun menjangkaunya susah. Akses jalan dan kendaraan kesana pun tak kalah susah. Melewati alas dan sawah-sawah. Pelosok & terpencil banget deh pokoknya!! (Tuh kan, lu beneran nyindir gue! Sial..)
Selow berow.. Gue belum selesai cerita lu udah manyun manyun gitu.. Dengerin dulu laaah. Oke??
Alkisah, di suatu sore yang beranjak gelap karena pemadaman, terjadilah obrolan ringan antara pak abdul dengan istrinya, bu anindya..

A: De’..
B: Dalem mas..
A: Kok peteng yo?
B: Nggih nggih to mas, lhawong PLN mati lampu kok.
A: Trus pripun de’?
B: Kulo tak nyumet lampu teplok mawon nggih mas..
A: De’..
B: Dalem..
A: Umpamane aku lampu teplok, aku pengen ade’ sing dadi sempronge.
B: Maksute pripun mas?
A: Ya ade’ to sing menjaga agar apiku tetap menyala sepanjang malam. Ade’ sing melindungi ben genine mboten mati senajan keno angin gedhi.
B: Nggih emoh to mas..
A: Kok emoh to de’?
B: Lha mangkih nek ade’ dadi semprong, mangkih dadi ireng koyo mas aziz..
A: “…” #gagaltotalngegombal *nangis guling guling jedotin kepala ke tembok*

Lho? Katanya kisahe pak abdul, kok dadi pak aziz? Piye toh press, wordpress? Kowe mesthi asline meh ngenyek aku yo press.. Ngaku wae pres..
Press.. Press..?? Wordpres..?!
Lhooo tibake aku malah ditinggal turu ik. Jan rachetho tenan bocah iki.

Dan akhirnya pak abdul, eh pak aziz, manyun manyun seorang diri, masih memikirkan tentang lampu teplok dan juga istrinya, bu nindya.. Lalu ia menulis sebuah gombalan yang dirasanya sedikit lebih romantis, untuk mencoba meluluhkan kembali hati sang istri. Di secarik kertas ia menulis:

“Jika aku adalah lampu teplok, maka aku ingin agar kaulah yang menjadi semprongnya. Yang selalu menjaga agar nyala apiku tak padam diterpa angin masa. Yang rela bening kacamu menjadi hitam legam karna menjaga apiku sepanjang malam. Demi berdua kita berbagi kehangatan..”

“Nek kowe ora meleleh de’, jangan sebut mas iki pria penggombal sejati..!!” kata pak abdul dalam hati.
______
*Wkwkwk, sebuah cerita imaji yang geje. Tokoh-tokoh dalam kisah ini bukanlah nama sebenarnya. Bila ada kesamaan nama, tempat dan peristiwa mungkin hanya kesengajaan semata. Pembaca disarankan untuk menggunakan google translator versi bahasa jawa. Dan sangat disarankan meninggalkan sejenak otak warasnya.. :D

Salatiga, 20 Februari 2012, menunggu pengumuman, lewat tengah malam.

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2012 in Catatan Harian, Zona Ngakak

 

Tags: , ,

For my sweetest “valentine” #uhuk

For my sweetest “valentine”.

Dear sayang..
Bagaimana kabarmu hari ini? Terimakasih masih setia membaca tulisan-tulisanku hingga saat ini. Entah ini tulisan yang keberapa untukmu. Dan kali ini, aku ingin menuliskan sesuatu, masih untukmu.

Hehe, sebenarnya aku tak ingin ikut-ikutan latah berbicara tentang “valentine”. Karena aku memang nggak begitu mengerti tentang perayaan itu. Tapi nyatanya aku latah juga dan tergelitik untuk menuliskan tentang hari kasih sayang (yang konon katanya untuk memperingati kematian sang pendeta santo valentino di zaman Romulus dulu, kasihan ya si pendeta valentino).

Sayangku..
Aku minta maaf bila hari ini tak akan ada seikat bunga untukmu, juga tak kan ada sekotak cokelat berbentuk hati yang kuhadiahkan kepadamu, atau sebuah puisi cinta ungkapan kasih sayang, seperti yang biasanyanya kutulis untukmu. Maaf, bukannya aku tak mau, tapi aku memang tak biasa merayakan itu.. :)

Sayangku..
Kamu masih ingat? Aku pernah bercerita, bahwa aku bukanlah tipe pria romantis selayaknya muda-mudi jaman sekarang. Yang selalu mengirimkan setangkai bunga lambang kasih sayang. Mungkin aku juga bukan tipe pria penyayang, yang biasa mengajakmu sekedar jalan ataupun keluar malam. Bahkan, akupun bukan pria perhatian yang biasa mengirimkan pesan singkat pagi, siang, sore & malam untuk sekedar menanyakan “udh maem sayang?”, “lagi apa sayang?”, dan segala macam soyang-sayang lainnya. Hhe.
Sekali lagi bukan karena aku tak mau, tapi memang aku tak biasa melakukan itu.. :)

Tapi sayangku..
Aku ini juga bukan sufi, bukan pula tipe pria (sok) suci seperti mereka yang dengan keras menentang perayaan ini. Dengan dalih agama, dengan dalih budaya, dan segala dalil-dalil yang dibawakannya. Maaf, aku cuma tak suka menghakimi, apalagi sampai mengkafirkan saudara sendiri hanya karena mereka tak tahu dan ikut-ikutan merayakan hari ini. Ckckck..

Aku tidak merayakan hari (yang katanya) spesial ini, karena memang aku tak biasa merayakannya. Simpel bukan? hhe. Bapak-ibukku juga tidak merayakannya kok. Jangan bilang mereka nggak gaul. Mereka jauh lebih gaul dari kalian malahan. :D Kalau boleh, aku ingin menunjukkan kasih sayang itu kepadamu, dengan caraku. Dan itu tak kan cukup sehari dua hari sayangku.. Akan butuh kerelaan dan keikhlasan di sepanjang sisa umurmu. Seperti bapak-ibukku itu.. :) Hehehe, aku ingin menyayangimu dengan sederhana. Sesederhana kasih sayang itu sendiri. Biarlah kita yang memaknai kesederhanaan itu sebagai satu kasih sayang yang mulia, sepanjang sisa usia kita.

Sayangku..
Di hari ini, dan di hari-hari seterusnya, aku ingin memohon kepada Sang Maha Mencinta, dengan segala “Rakhman-Rakhimnya” untuk kita. Semoga kita, kedua orang tua kita, orang-orang yang menyayangi kita, senantiasa terlimpah butiran kasih sayang yang tersemai dari Dzat keabadian. Semoga kasih sayang yang ada itu pula senantiasa diberikan keberkahan.. Semoga kita terhindar dari kasih sayang semu yang menyakitkan.

Ehm, sebentar, aku mau tanya, apakah kamu masih sayang aku? Hehe ;)

Ku akhiri catatan ini dengan sebuah ucapan. Selamat merayakan untuk kalian yang merayakan. Selamat tidak merayakan untuk yang memilih tidak merayakan. Sing penting ojo dho jotos-jotosan yo mas yoo.. Hehehe..

*sebuah tulisan yang sengaja ditulis hanya agar di kalender hari ini ada tulisannya, gitu aja. (Nah loh.. capek-capek baca ternyata cuman jadi korban keisengan saya kan? hahaha)
Salatiga, 14 Februari 2012.

 
4 Comments

Posted by on February 14, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna

Untuk sebuah permata dengan kilaunya yang sempurna.

Dalam tulisan kali ini, sejujurnya saya sendiri tak tau harus dari mana mengawali. Karena semuanya terjadi secara tiba-tiba. Semua tak memerlukan waktu yang lama. Cukup singkat, namun terasa dekat. Mungkin sebaiknya aku bercerita tentang sebuah kisah lama, yang mungkin kalian pun mulai bosan membacanya. Kisah yang menceritakan tentang sosok “aku”, sosok yang tergambar sebagai seorang pemuda desa yang suka berkelana, berpetualang, dan berjalan membunuh waktu, untuk sekedar mencari suatu ketenangan dan kedamaian yang slalu ia dambakan.

Pada suatu ketika, dalam pengembaraannya, ia berjalan dalam kegelapan. Ia selalu melangkah dalam keheningan. Tak jarang ia terseok, terperosok, dan berulang kali jatuh tersungkur. Pun berulangkali ia kembali bangkit dan mencoba tuk tetap berjalan, mencari sesuatu yang ingin ia dapati, menanti sesuatu yang ingin ia jumpai, sesuatu yang ingin ia temui.

Ranukumbolo

Hingga pada akhirnya pemuda itu sejenak berhenti. Matanya melihat pada satu sudut yang tersembunyi. Ia melihat sebuah batu yang bercahaya, menyembul tersembunyi dibalik rerumputan, diantara bebatuan, yang menutupi dan melindunginya dari tangan-tangan keserakahan. Sebuah batu permata yang kecil, mungil, dan dengan kilauan cahaya yang berpendar sempurna, indah. Dan dalam ketidaksempurnaannya ia nampak menjadi lebih sempurna.

Ingin sekali sang “aku” mendekat, melihat dan menatapnya lebih lekat. Tapi aku terlalu takut, aku takut menjadi salah satu dari tangan keserakahan itu, yang akan berkeinginan menyentuh dan menggenggamnya pulang. Hingga aku hanya berani mendekat, aku hanya mengagumi dari jarak yang tak terlihat. Setidaknya, tanganku ini tak cukup dekat untuk menjangkau, apalagi mengusik ketenangan batu kecil berkilau itu.

“Ahhh.. apa yang kamu fikirkan? Tersenyum dan melamun hanya menjadikanmu seorang pemimpi. Bangun! dan lanjutkan perjalananmu. Ahh.. tapi sebentar. Aku masih ingin menikmati lamunan itu. Sebentaaar saja, lima menit saja. Bagaimana? Ah, terserah kaulah!!”.

Sesaat kemudian pemuda itu kembali duduk tersandar, menikmati senyuman dan larut dalam lamunan panjang. Berkelana di dalam imaji dan melayang dalam bayang-bayang. Mencoba kembali mengagumi batu permata yang baru saja dijumpainya. Dan tiba-tiba, “Blarrrr…!!!” sebuah letupan kecil membuatnya terperanjat, jatuh dan terjengkang, melemparkan dan mengembalikannya kedalam alam sadar.

Angin berhembus perlahan. Menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Membawa serta ranting-ranting patah yang berceceran disepanjang jalan. Angin itu menggulung, berputar, membentuk satu pusaran dan perlahan bergerak mendekati pemuda itu. Bukan, bukan, pusaran itu ternyata mendekati batu kecil itu. Sang batu pun ikut melayang, mengawang, dan bersinar lebih terang. Cahaya apa itu? begitu teduh, begitu menenteramkan. Persis seperti yang selama ini ia dambakan.

Belum reda dari keterkejutannya, lagi-lagi dan secara tiba-tiba, “simsalabim!!”, dengan ajaib batu permata itu berubah menjadi sesosok gadis kecil. Seorang gadis kecil mungil bertanduk kancil. Lucu, manis, menggemaskan.

“Hei, kamu siapa? Tenanglah, tenang,, aku tidak ingin mengganggumu. Benarkah kamu batu permata itu? Emm.. aku hanya mengagumimu, aku tau aku tak boleh membawamu, tapi sekali lagi aku hanya ingin mengagumimu, bolehkah?” pemuda itu mencoba ramah dan tersenyum.

“Apakah kamu manusia?” gadis kecil itu membalas manis tersenyum. “Aku hanya sebuah batu permata kecil yang sejak lama bersembunyi dibalik batu itu” sambil menunjuk sebuah besar yang melindunginya selama ini. “Jangan takut, aku tak akan mengganggumu, aku tak ingin menyakitimu, aku hanya seorang pengelana yang tersesat, dan dalam gelapku aku melihat cahayamu. Maukah kau menemaniku bicara dan bertukar cerita?” kata pemuda desa itu.

***

menyisir oro-oro ombo

“Jadi, kamu suka mendaki? Suka berpetualang dan berkelana ke tempat-tempat indah yang tersembunyi? Kalau begitu ajak aku berkelana bersamamu, aku ingin melihat dunia di belahan sana yang katanya begitu indah mempesona. Hei, pokoknya ajak aku kesana! Selama ini aku hanya bisa mendengarnya dari tutur kisah sang angin yang menceritakannya.”

“Kamu ingin ikut aku berkelana? Tapi berjalan jauh itu tak mudah, permata.. berkelana itu capek.. Atau kau ingin masuk kedalam ranselku? Berejejalan bersama alat-alat dan perbekalanku lainnya?”

“Nggak, nggak mau! aku mau masuk di kantongmu saja, hihihihi”

“Ah, dasar kamu permata kecil yang nakal..!!” :)
“Yasudah, tapi kamu jangan gerak-gerak ya..!! ampun polah-polah..! tetep diem dan anteng didalam kantongku.”
“Ingat, tetap diam dalam kontongku. Aku harus menjagamu sepanjang perjalanan dan memastikanmu baik-baik saja. Aku tidak ingin kamu terjatuh apalagi hilang ditengah jalan. Nanti, disana, akan kutunjukkan kepadamu sebuah tempat yang seperti surga, nanti akan kuperlihatkan padamu sebuah telaga yang berwarna biru, dengan kemilau airnya memantulkan pendaran cahaya, sama sepertimu. Kamu bisa membasuh mukamu dengan airnya yang jernih dan menyegarkan, dan aku yakin, kilauan permatamu akan semakin sempurna”.

“Bener yaaa.. pokoknya ajak aku kesana! Ajak aku juga ke hamparan savana dan padang rumput luas yang katanya dikelilingi dengan bukit-bukit indahnya itu.”

***

Tanjakan Cinta – Gn.Semeru

Hahaha, tahukah kamu, permata kecil? Kadang aku masih sering tertawa mengingat obrolan-obrolan konyol kita itu. Tak jarang pula penggalan-penggalan adegan itu hadir dalam imaji liarku. Aku membuatkanmu segelas susu cokelat panas dan kamu bilang nggak mau joinan susu itu dengan si “semeru”, kamu bilang kasihan dia sedang sakit dan terbatuk-batuk, cepet sembuh ya semeru.. hhe. :) Kamu tau? kadang aku juga membayangkan bagaimana jika nanti kamu beneran ngambek, nangis, dan nggak mau berjalan menaiki tanjakan. Sebenarnya aku tidak ingin membayangkan aku menggendongmu, tapi, tetap saja hal-hal konyol seperti itu melintas dalam imajiku. Hahaha.. Ranukumbolo, tanjakan cinta, oro-oro ombo. Dan pada akhirnya aku akan tersenyum puas ketika kamu berhasil sampai di oro-oro ombo, dan kemudian tubuh mungilmu tenggelam diantara rerumputan tinggi yang ada di tengah padang savana itu. :p

Hmmmm… mudah-mudahan yang Diatas memeluk mimpi-mimpi kita itu yaa. Semoga waktu dan kesempatan memepertemukan kita. Seperti halnya garis-garis yang ada di telapak tangan kita, tentang nasib, tentang jodoh, tentang hidup, tentang masadepan, setidaknya kita sendiri telah menggenggam erat garis-garis itu, meskipun selalu ada bagian garis yang berada diluar genggaman, tapi biarkan itu menjadi bagian Tuhan. (meminjam sebuah ungkapan).

Nah kan, aku jadi bingung juga bagaimana mengakhiri tulisan ini. Ahhh.. biarkan saja tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang tak pernah usai. Mari kita isi dan kita lanjutkan dengan cerita-cerita konyol yang terjadi dikemudian hari. Hhe, buat de’ anind, terimakasih telah menjadi inspirasi, dan terimakasih juga untuk puisinya ;)

Salatiga, 9 Februari 2012.
Diselesaikan pada pukul 02.17 AM

 ___________

*seperti yang kubilang, tulisan ini tak pernah usai, dan diakhir cerita ini yok nyanyi lagunya om Duta biar lebih semangat..!!
Jreng jreng jreng… (cek sound, hhe) “Datanglah sayang, dan biarkanku berbaring, dipelukanmu walaupun tuk sejenak. Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua. Bila ku lelah tetaplah disini, jangan tinggalkan aku sendiri. Bila ku marah biarkanku bersandar, jangan kau pergi untuk menghindar..
Rasakan resahku dan buat aku tersenyum, dengan canda tawamu, walaupun tuk sekejap. Karena engkaulah yang sanggup redakan aku. Karena engkaulah satu-satunya untukku, dan pastikan kita slalu bersama. Karena dirimulah yang sanggup mengerti aku, dalam susah ataupun senang..
Dapatkah engkau selalu menjagaku, dan mampukah engkau mempertahankanku..”

“Lanjut??”
“Gausah dilanjut, ayo bilang “aminnn”. Hha :) )

Menanti Matahari Terbit – Ranukumbolo
 
 

Hey, Aku menyukai nama itu..!!

Hey, Aku menyukai nama itu..!!

04/02/2012 – Aku percaya, bahwa setiap nama tentunya menyimpan suatu makna. Bisa jadi ia berupa tautan doa, menyimpulkan suatu rangkaian pengharapan, kekaguman, dan rasa syukur dari si pemberi nama. Atau mungkin ia hanya sebagai sebuah penanda, sebuah “tetenger”, yang melambangkan suatu kisah dan suatu masa. Tapi aku yakin, dibalik setiap nama itu, masing-masing akan memiliki suatu arti tersendiri. Aku tak tau mengapa aku berbicara tentang nama, aku tak tahu juga kenapa harus menuliskannya. Tiba tiba saja aku mengagumi sebuah nama. (nampaknya ini akan berakhir menjadi sebuah tulisan geje, hhe)

Sssttt.. aku kasih tau, aku mengagumi “nama” itu, nama seorang gadis kecil bertanduk kancil. Jangan bilang siapa siapa, dan jangan tanya mengapa, karena aku tak menyiapkan alasannya. Dan aku pun tidak ingin “karena” :)

Aku juga mengagumi nama yg dihadiahkan ayahku, untukku. Meski mengandung kata “abdul” yang terkesan jadul, haha, tapi aku suka namaku. Aku juga suka nama “Teplok” yang disematkan secara paksa oleh keluarga Stapala. Nama yang sederhana (dan mencerminkan kesederhanaan), lampu minyak usang yg telah banyak ditinggalkan. Tapi ia akan selalu siap berbagi cahayanya meski hanya ketika kau membutuhkan.

Aku juga mengagumi nama-nama dewi yang bersemayam di puncak-puncak gunung yang tinggi, seperti Rengganis, seperti Anjani.. Atau nama taman-taman surga tersembunyi, seperti lembah mandalawangi, ranukumbolo, orooro ombo, dan jonggringsaloka.
Aku juga menyukai nama-nama hebat seperti yg terserat dalam kitab suci. Daud, Jalut, dan Thalut, dan juga Qobil serta Habil, dan termasuk kisah epic yang menamai ibrani dan babiloni. Nama nama yang membuatku kagum. Sekali lagi, jangan tanya kenapa.

Entahlah, tiba tiba aku menyukai sebuah “nama”. Dan jika boleh ku ulang sekali lagi, maaf aku suka nama kamu.. :)

________
*sebuah catatan konyol maronyol. Selepas isya’, dibawah rintik gerimis yang manis. Terimakasih untuk nama dan kata yang telah kupinjam. Nanti, pasti kukembalikan. :)

 
4 Comments

Posted by on February 4, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

“Dalam” ini, untuk siapapun kamu..

“Dalam” ini, untuk siapapun kamu..

Dalam diam, dalam hening, dalam dingin, dalam beku, dalam syahdu, dalam pekat, dalam hangat, dalam temaram, dalam kelam, dalam petang berbalut bintang, dalam semburat jingga langit senja, dalam kedalaman jiwaku, dalam senyummu, dalam untaian katamu, dalam semangatmu, dalam semangatku, dalam puisimu, dalam senyumku, dalam kisahku, dalam mimpimu, dalam lagu, dalam embun, dalam rintik, dalam gerimis, dalam penantian, dalam perkenalan, dalam perbedaan, dalam persamaan, dalam imaji, dalam sepi, dalam diri, dalam kantong-kantong itu, dalam hamparan padang-padang itu, dalam ketidak sempurnaan itu, dalam hembusan doa-doa itu, dalam apa yang aku dan kamu pun tak tahu. Cukup aku, kamu, dan Tuhan kita yang Maha Tau.
Menyongsong pagi, berharap bukan lagi mimpi.
Dalam kumandang “Assholaatu khoirumminannauum..”, kuakhiri catatan ini.

*sebuah catatan tak bermakna, cukup dibaca, dan salah seorang dari kamu akan tersenyum dan berkata, “apakah itu aku?” :)

Sabtu, 04 Februari 2012, sesaat menjelang adzan subuh.

 
10 Comments

Posted by on February 4, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , , ,

Kesombongan masa muda yang indah (?)

Kesombongan Masa Muda yang Indah.

Satu nomor tembang milik sheila on 7 mengalun perlahan dalam playlist pagi ini, bersama segelas kopi yang menjadi teman menggalau kali ini. Menghabiskan sisa-sisa jum’at malam yang terasa begitu membosankan, sedikit kecewa dengan kabar pengumuman penempatan yang konon katanya bakal dirilis hari ini, namun nyatanya hingga dini hari tak juga jelas alang juntrung kebenarannya. Shhh*t..!! hoax thok ternyata. Ahhh bukankah itu di kampus ini sudah biasa.. :D

Selepas nyanyian ratapan “sarjana muda” dari iwan fals, irama dan bait bait sederhana dari om Duta ini serasa menjadi pengobat luka. Alunan nada-nada dan syairnya seperti romansa, yang mampu memutar kembali kenangan dan menyegarkan ingatan betapa kita masih teramat muda.

“kita slalu berpendapat kita ini yang terhebat, kesombongan masa muda yang indah..”

Hahaha, ya, satu kesombongan yang indah, satu kesombongan yang senantiasa membuat kita bebas tertawa lepas, satu kesombongan yang membuat kita menepuk dada dan bangga terhadap diri kita. Bangga terhadap kebersamaan kita, bangga terhadap pencapaian-pencapaian kecil kita.

Huh, tiba-tiba saja saya merindukan masa masa itu. Tiba tiba kangen kosan, tiba tiba kangen suasana perkuliahan, tiba tiba kangen nongkrong dan ngobrol di warung kopi, kangen main kartu dan ngobrol sampai pagi, kangen jalan keliling-keliling gak jelas muterin kota jakarta.
Hehe, jadi ingin mengulang masa-masa itu kembali. Hidup yang tak sebatas jalan bareng gebetan, numpang baca buku di gramedia, sekedar makan di warung pinggir jalan, menggalau di pelataran DP yang kita anggap sakral, atau bahkan seperti orang tak waras nangkring diatas rangka besi setinggi belasan meter itu, bertengkar atau berdebat oleh hal hal yang sedemikian amat sangat sepele, hehe.
Atau, ketika kita dengan jumawa mencoba menaklukkan satu persatu gunung-gunung yang ada di bumi Indonesia kita tercinta, melawan derasnya arus dan menikmati setiap liukan & jeram jeram sungai yang kini tak jernih lagi airnya, atau kau yang memilih menikmati keindahan dalam kegelapan labirin perut bumi, menyeruak menyusuri goa demi goa yang bahkan aku sendiri tak pernah mencobanya. Atau mereka yang dengan kuat merayap memanjat tebing-tebing tinggi dengan lengan lengannya yang perkasa. Ah, terlepas dari kesombongan-kesombongan kita itu, satu hal yang ku rindukan dari kalian, dari masa muda kita, adalah kebersamaan dan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam menerima satu sama lainnya, kesederhanaan dalam memaknai kehidupan dan melukis kebahagiaan.

Aku raja kau pun raja, aku hitam kau pun lebih hitam..!! haha.

“Demi bermain bersama, kita duakan sgalanya. Merdeka kita, kita merdeka..!!
Tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini, tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini..”

Sebuah bait penutup yang seketika menepis pemikiran bahwa mungkin sebentar lagi masa akan mengantarkan pada cerita yang berbeda, masa yang akan membawa kami ke dunia yang mungkin meluluh lantakkan kesombongan kita, kesombongan masa muda yang indah.
Tapi coba lihatlah, dari kejauhan aku melihat, disana ada kehidupan, ada nyanyian, dan ada keberanian.

*tulisan ini, untuk saya sendiri, & untuk mereka yang menghargai sebuah masa muda.
Salatiga, selepas subuh, 28 Januari 2011

 
Leave a comment

Posted by on January 28, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Simbahku, jan nguanyeli..

Simbahku, jan nguanyeli..

Simbah, (satu satunya simbah/nenek kami yang masih hidup, wanita yang melahirkan dan membesarkan ayah kami), beliau sudah hampir dua bulan ini tinggal dirumah bersama kami sekeluarga, setelah sebelumnya selalu berpindah pindah dan selalu tidak betah tinggal lama bersama anak anaknya yang lain.

Beliau sudah sangat sepuh, semenjak jompo, beliau mulai pikun dan berkelakuan seperti anak kecil lagi. Wajar sih, kata bapakku usianya sekarang sudah melewati angka 100, walaupun tak yakin pasti yang ke seratus berapa.
Beliau nampak sudah tak ingat lagi dengan siapa dan apa yang ada disekitarnya, termasuk anak-anaknya sendiri.
Ia hanya hidup dengan sifat, watak, dan kebiasaannya sewaktu muda dulu.
Sedikit tamak, banyak “dahar”, dan aluamah. Hehe, kedengaran negatif memang, tapi memang begitu kenyataanya. Kata ibuku itu semua mencerminkan seluruh sifatnya sewaktu “hidup” dulu. Sekarang otak yang memerintahkan apa yang dilakukan simbah bukanlah otak sadar, melainkan otak bawah sadar yang tertanam oleh kebiasaan seseorang yang dilakukannya sedari kecil. Kurang lebih begitu penjelasan ilmiahnya. (padahal ngarang!)

Simbah memang sudah tidak bisa melakukan apa apa. Sudah bobrok! Hanya terbaring meringkuk di dipan kayu beralaskan perlak cokelat dan memakai popok dewasa. Paling banter hanya bisa duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk ketika belium minum atau dahar. Tapi herannya, kalo “dahar” itu seperti orang sehat saja. Lahap, dan dengan porsi luar biasa. Lebih dari porsi makan saya mungkin. Hehe..
Setelah itu beliau “sare”, atau kadang berbicara sendiri selayaknya orang yang sedang bercakap-cakap, entah dengan siapa.
Kadang saya takut sendiri, ini simbah ada temen ngobrol beneran atau gimana yaa.. hehe.

Kadang simbah ini juga rewel, minta ini itu, berteriak-teriak dan berbicara sendiri sepanjang malam, yang membuat kami tidak bisa tidur dengan tenang semalaman.
Ya seperti malam ini contohnya, beliau berteriak teriak memanggil mbah kakung yg telah lebih dulu pergi, bahkan jauh sebelum saya lahir.
“Pa’e.. pa’e.. aku rainjoh tangi..”.
“Njuk ngombe wedang legi..”.
“Kowe kumu wes matengan?”
Ah, jika simbah sudah mulai bicara aneh2 seperti ini, maka saya yg tidur dikamar sebelahnya terpaksa mengungsi tidur di depan TV. Hehe.

Dari lantai di ruang depan itulah saya menulis tulisan iseng ini. Mencoba mengambil sedikit ibroh dari sepenggal cerita gakpenting yang saya tuturkan diatas tadi.

Saya kepikiran bahwa suatu saat nanti kita pun pasti akan menua, seperti simbah sekarang ini, yang tinggal menunggu kapan izrail datang menghampiri.
Bahkan kita yang sekarang masih muda pun, belum tentu mengalami masa tua, jika ternyata memang sudah tiba gilirannya. Tak ada yang tahu pasti, Tuhan dengan rahasiaNya yang lebih tau.

Dan jika kita diberikan umur panjang, ternyata kebiasaan kebiasaan (perbuatan) kita sewaktu muda akan terbawa ketika kita sudah tak ingat lagi apa apa. Entah kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk. Seperti simbah ini.
Toh, jika maut menjemput, yang boleh kita bawa juga amalan amalan kita saja bukan?
Maka itu artinya sedari saya harus membiasakan diri melakukan hal hal yang baik. Sedikit demi sedikit mengurangi atau bahkan meninggalkan kebiasaan yang tak baik. Catatan: Itu, jika saya ingin menjadi orang baik. :)

Ibroh yang ketiga adalah bagaimana ibu & bapak saya dengan penuh bakti bersabar menghadapi kelakuan simbah yang aneh-aneh ini. Merawat dan menjaga dengan penuh kasih sayang, persis seperti merawat seorang bayi. Memandikan, menyuapi makan, mengganti kain jarit dan popok yang penuh dengan kotoran.. Ya, maka tak salah jika kanjeng Nabi mengajarkan kita agar berbuat baik dan mendoakan kedua orang tua kita, menyayangi mereka, sebagaimana mereka merawat & menyayangi kita sewaktu kecil dulu. Terutama kepada ibu, yang tiga kali disebut berulang oleh kanjeng Nabi sebagai orang pertama yang harus dimuliakan dalam hidup.

Ke empat, ibrohnya belakangan ini saya jadi sering terbangun di tengah malam ketika simbah tiba-tiba teriak teriak bicara sendiri. >> kalo nggak males, kan, bisa sholat malam. Kalo males? bisa nonton bola..!! haha.

Ibroh yang kelima? ya akhirnya kan tulisan gakjelas ini bisa nambah nambahi postingan di blog yang setelah beberapa lama tak sempat terjamah. Huehue..

Saya akhiri tulisan ini dengan doa, mari mengaminkan untuk kedua orangtua kita semuanya..
“Robbi ighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani soghiira”.
(tiba tiba barusan mendengar suara gagak yang tak biasa dari arah sana, sumpah, hii merinding saya. *buruburu tarikselimut)

*Sabtu, 21 Januari 2012. Ditulis di Susukan, sebuah kecamatan perbatasan antara Kab.Boyolali dengan Kab.Semarang.

==========
Keterangan:
(dahar=makan, bahasa jawa) ; (sare=tidur) ; (ibroh=hikmah,pelajaran,teladan)

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2012 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Kerinci 3.805 Mdpl [bagian 1]

Kerinci 3.805 Mdpl

Tulisan ini untuk mengenang satu perjalanan kami di tanah sumatera, sepuluh hari menjelang wisuda Oktober silam. Saya dedikasikan untuk kawan, sahabat, dan saudara kami, Muhammad Ramdhani, Erwin Tarzani, dan Tinton Suryahadinata, serta untuk STAPALA.

CH. I – Prolog

Berawal dari mimpi, begitulah kami menyebut perjalanan ini. Sebuah perjalanan setengah nekat menyeberang laut sunda dan menapakkan kaki di tanah Sumatera. Mengawali goresan mimpi yang tercetus sebagai sebuah ekspedisi. Perisai nusantara, begitulah kami menyebutnya. Sumatera, sunda, jawa, bali, lombok, dan kepulauan sunda kecil yang meliputi nusa tenggara dan berujung di Tambora. Satu kurva melengkung yang menyerupai busur panah, atau kami memaknainya sebagai satu bentuk perisai, tameng kokoh yang melindungi nusantara dari amukan gelombang samudera hindia. Ya, melakukan perjalanan dari pulau ke pulau itulah awal dari mimpi kami. Menyambangi puncak-puncak tertinggi yang berdiri di setiap pulaunya. Kerinci, krakatau, semeru, agung, rinjani, hingga tambora. Sekali lagi, itu adalah “mimpi”. Mungkin banyak yang menertawai, hehe, saya pun sebenarnya juga menertawai diri sendiri. Satu mimpi yang terlihat sedemikian muluk-muluk untuk diwujudkan oleh sekumpulan pemuda kere seperti kami. “Bagai munyuk merindukan belaian, bagai punguk merindukan rembulan”. Tapi toh apa salahnya bermimpi, kalaupun tak terwujud mimpi akan tetap menjadi bunga tidur, dan selamanya tidak akan pernah terwujud bila kita nggak pernah mau mencoba berbuat sesuatu untuk menjadikannya kenyataan.

Berawal dari mimpi itulah, kami berempat, dengan segala keterbatasan dana dan waktu yang dimiliki, mencoba meretas asa mewujudkannya. Oktober 2011, tepat 10 hari sebelum kami diwisuda, kami bertekad berangkat ke sumatera. Berbekal uang sisa rapelan PKL sebesar Rp 300.000,- ditangan, saya memastikan ikut dalam rombongan. Secara matematis tak cukup memang, kata Gokong, dengan uang segitu cuma bisa sampai di Jambi saja, dan belum bisa balik ke Jakarta, jadi mending saya jadi tim darat saja. Haha.. Tapi kawan-kawan saya meyakinkan untuk tetap berangkat, bismillah modal nekat, apalagi racun si Ramdhani yang selalu bilang bahwa “Momment itu nggak terbeli”. Ya, nggak terbeli. Mungkin kita nggak bakal bisa mendapatkan momment yang sama pada kesempatan yang berbeda. Maka, pada hari Rabu, 2 Oktober 2011, kami berempat bertolak dari Posko. Seremonial pelepasan sederhana berupa doa bersama penuh khidmat dibawah pohon bintaro dengan disaksikan oleh Pak Dosko, Ketum Jupret, Balung, dan saudara saudara kami lainnya. Siang itu, anggota dengan nomor 882, 923, 940 dan 946 dengan bangga menggenggam bendera STAPALA untuk dikibarkan di puncak tertinggi sumatera. Kerinci 3.805 Mdpl.

***

CH. 2 – SEKILAS TENTANG KERINCI
Dari Wikipedia

Gunung Kerinci

Gunung Kerinci (1987)
Ketinggian 3,805 m (12.484 ft)
Ketinggian topografi 3,805 m (12.484 ft) Urutan ke-33
Daftar Ultra
Ribu
Lokasi
Pegunungan Bukit Barisan
Koordinat 1°41′48″S 101°15′56″EKoordinat1°41′48″S 101°15′56″E
Geologi
Jenis Stratovolcano
Busur/sabuk vulkanik Cincin Api Pasifik
Letusan terakhir 2009
Pendakian
Pertama didaki 1877 oleh von Hasselt and Veth
Rute termudah Kersik Tuo

Gunung Kerinci (juga dieja “Kerintji”, dan dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra.

Kerinci masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009.

***

CH.3 – MELEPAS JAKARTA, MELINTAS SUMETERA

Setengah jam menjelang keberangkatan masing-masing dari kami masih disibukkan dengan packing perlengkapan dan mencari alat-alat yang dibutuhkan. Segala sesuatunya memang dadakan, segala sesuatunya memang tak dipersiapkan dengan waktu yang luang. Bahkan semalaman pun kami masih sempat futsal hingga larut malam dan begadang hingga subuh menjelang. Jan niat neng sumatera tenanan ora sih arek-arek iki. Rencana berangkat jam 09.00 pun sepertinya Cuma omong kosong. saya sendiri jam sembilan baru bangun, sengaja malam itu tidur di posko memang, dan tiga puluh menit berikutnya tak satupun dari tiga orang rekan saya itu menunjukkan batang hidungnya. Hmm.. jadi berangkat hari ini nggak sih?

Akhirnya ba’da dzuhur kami baru benar-benar berangkat. Perlahan kami berjalan ke arah gerbang ceger, melintasi plasma. Ada satu hal yang tak wajar, dan teman kami tak menyadarinya. Dan anak-anak pun tertawa puas dari posko sana. “Coba tan lihat carriermu”, saya tersenyum ringan berbicara pada si mantan (erwin). Dengan penasaran dia menurunkan tas ranselnya, lalu dibongkar dengan tergesa-gesa. Hahaha.. dia menemukan tiga kilo gram besi pemberat barbel yang diam-diam dimasukkan kedalam tasnya. Kerjaan si codet ini pasti..!! Salah sendiri carrier si mantan ini paling ringan. Hehe.. Salah satu kejadian konyol mengawali keberangkatan kami. Setidaknya, kami mengawali perjalanan dengan sebuah tawa, semoga pendakian ini berakhir dengan senyum dan tawa pula. Aminnnn..

Dari gerbang ceger kami menumpang sebuah angkot yang menuju cipulir, turun di persimpangan rel kereta, kemudian menyambung kopaja jurusan Blok M. Dari Blok M kami naik bus mayasaribakti jurusan Rawa Mangun. Menurut informasi yang kami dapatkan, dari sanalah banyak pilihan bus lintas sumatera diberangkatkan. Sekitar satu setengah jam berselang akhirnya kami tiba di rawa mangun, perlu sedikit berjalan untuk menuju terminal, karena bus yang kami tumpangi tak masuk kedalam rupanya. Calo dan agen makelar langsung berebutan menyambut kami. Bak artis yang dikerumuni fans-fansnya, dibawakan barang bawaannya, baru ditanya mau kemana, dan menawarkan jasa armada dengan pelayanan terbaiknya. Bus Eksekutip, full AC, cepat dan nyaman. Haha, mboten paaak.. kulo ajeng ndherek bis ekonomi kok… kantong mahasiswa!!

Mahasiswa dengan kocek pas-pasan seperti kami ini, sudah pasti nyarinya yang murah dan meriah, soal kenyamanan itu urusan belakangan, nomer sekian. Yang penting bisa nyampe di tempat tujuan. Target awal kami adalah mencari bus ekonomi non AC yang perkiraan kami bisa kami dapatkan dengan tarif dibawah duaratusan. Karena rata-rata bus AC lintas sumatera itu mahal sekali pasang tarifnya, berkisar pada angka tigaratusan. Tapi ternyata oh ternyata, setelah muter-muter dan cari tau sana sini, di terminal ini ternyata nggak ada bus ekonomi yang ke sumatera. Alternatif lain dengan ngeteng-ngeteng ke pelabuhan merak, lalu menyeberang kapal, dan mencari bis dari lampung atau palembang juga dirasa bukan pilihan terbaik. Ada juga alternatif lain yaitu ikut semacam mobil avanza, mobil ini katanya mobil keluaran dari showroom dan akan dikirim ke Jambi. Oleh sopirnya biasanya mereka mencari tambahan uang rokok dengan membawa penumpang yang akan ke sumatera melalui agen tidak resmi. Cukup menggiurkan, apalagi mereka kemungkinan bisa dinego dengan tarif 150an per kepala. Tapi sekali lagi kita nggak tau pasti ini gimana, apa benar-benar sampai jambi atau bakal diturunkan ditengah jalan.

Banyak hal yang bisa kami petik dari kejadian-kejadian di terminal. Mereka mengajarkan pada kami betapa kerasnya kehidupan. Betapa kerasnya orang mati-matian mendapatkan penumpang yang artinya persenan recehan bagi mereka, dan dapur mengepul bagi keluarga mereka. Karakter batak, jawa, sunda, padang, dan berbagai daerah lainnya dengan mudah kita temui disana. Dan kami beruntung memiliki seorang berdarah bugis dalam tim kami. Darah nenek moyang pelaut yang tak gentar (lebih tepatnya tak punya malu, hehe) menghadapi sopir dan kondektur yang berbicara seolah olah terminal ini punya dia. Ya, setelah nego sana nego sini, disemprot sana dimaki-maki disini, akhirnya kami dapat juga tiket menuju Jambi. Seratus tujuh puluh lima ribu per orang. Deal..!!

Selepas sholat maghrib, bus Permata Bunda yang kami tumpangi perlahan mulai meninggalkan Jakarta. Beberapa jam selanjutnya ia menyeberang selat sunda. Mesin bus dimatikan, dan seluruh penumpang diturunkan. Sementara bus terparkir di lantai dasar kapal penyeberangan, para penumpang masing-masing berhamburan mencari tempat peristirahatan. Kami memilih dek di lantai tiga. Dek kelas ekonomi, dek terbuka dengan atap penutup bagian atasnya saja. Angin dingin berhembus tanpa pembatas, bercampur debur ombak yang terpecah oleh laju kapal itu. Gugusan kepulauan di seberang nampak megah dalam kegelapan. Lampu-lampu kemerlip di ujung sana membuat suasana malam itu sungguh sangat syahdu. Tak heran jika kawan kami si mantan dengan mudahnya terinspirasi membuat sebuah puisi. Mengenang saat-saat melintasi selat ini bersama seseorang yang terkasih. Hoho, so sweet sekali bung..!! Bagi saya, inilah pertama kalinya naik kapal, pertama kalinya menyeberangi lautan.

***

CH. 4 – SUMATERA..!! SUMATERA..!!

Setelah tiga jam kami terombang ambing di laut sunda, akhirnya kapal bisa kembali merapat ke darat. Selamat datang di Pelabuhan Bakauheni – Lampung, begitu kata seseorang lewat pengeras suara. Dan tibalah kami di tanah sumatera, untuk pertama kalinya. Kami semua bergegas kembali ke lantai bawah, menaiki bus masing-masing. Dan kemudian kembali melaju melewati kota demi kota di sepanjang jalur lintas timur sumatera. Lampung, palembang, jambi, dan kota kota kecil lainnya. Selebihnya, daerah pinggiran pedesaan dan hutan-hutan.

Selama perjalanan bus berhenti beristirahat dua kali, yang pertama saat masih pagi. Kami sarapan di sebuah rumah makan rekanan PO bus tersebut. Beruntung kami membawa popmie dari Jakarta, tinggal beli air panasnya saja dan diseduh sendiri. Nggak kebayang kalo harus beli, satu bungkus POPMIE dihargai Rp 15.000,- Ngajak kere ngene iki carane…
Yang kedua, bus berhenti siang hari, sebelum atau sesudah palembang saya lupa. Kali ini di sebuah rumah makan bergaya khas padang. Perut yang lapar dan cuaca yang panas membuat kami tak kuasa menahan diri untuk tidak membeli nasi dan es teh. Disini, untuk makan dan minum kami harus merogoh kocek tak kurang dari Rp 20.000,-. Wez rapopo, cukup sekali ini saja, kapok!! Hahaha.

Next..
Perjalanan siang hari adalah perjalanan yang melelahkan sekaligus membosankan. Memang benar kita bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan melalui kaca jendela. Tapi AC yang bercampur bau solar dan bau keringat puluhan manusia membuat udara didalam “gerbong” sempit itu tak karuan. Perut saya sudah mual sedari tadi, mencoba untuk tidak muntah karena mabok kendaraan bagi saya adalah mencoreng harga diri. (wkwkwk, gara-gara sering ngejekin temen yang mabok kendaraan ini). Pantat sudah terasa penat dan punggung sudah begitu pegal duduk menyandar pada jok kursi yang sempit. Kaki saya harus menekuk, cukup susah dan harus mengatur posisi sedemikian rupa agar bisa sekedar selonjoran. Di samping saya, gembez, nampak selalu molor menyandarkan jidatnya pada bangku didepannya. Atau bersandar tengadah dengan mulut yang terbuka. Ngowoh..!! Hoek..!! Tak ada pilihan lain bagi saya kecuali ikut memaksa memejamkan mata. Tidur.

Next…
Hari sudah sore, kami baru saja melewati palembang. Di perbatasan kota, seorang kawan kami nampak antusias menjelaskan daerah demi daerah yang baru saja kami lalui. Hafal betul dia seluk beluk kota ini. Yaiyalah, lhawong dia asli palembang. Hehe. Tak ada yang menarik bagi saya di kota sriwijaya ini, mungkin karena telinga saya sudah terlalu bengap dengan suara bising mesin kendaraan itu. Perut yang mual sedari tadi membuat kepala saya menjadi berkunang-kunang tak karuan. Teman kami yang satu ini masih menjelaskan daerah demi daerah di sudut kota itu. “Ntar yangplok, habis belokan itu ada semacam pertigaan, nanti ada jalan masuk kesana, nah disitu rumahnya..”. Ihirrrr..!! tak perlu lah saya menceritakan detilnya. Ndak enak sama si kawan ini nanti, hhe. Hanya sebagai pelengkap deskripsi cerita saja. (no offense, Tan..)

Next…
Selepas maghrib. Saya mencoba bertanya pada penumpang di sebelah yang sepertinya sudah paham betul perjalanan lintas sumatera. “Kalo sampe Jambi dari sini masih berapa jam lagi bu’?”. Membayangkan sejenak, lalu ibu itu menjawab “Yaa kalo dari sini masih sekitar enam jam tujuh jam lagi dek..”. Krik.. krik.. krik… masih setengah malam sendiri. Padahal terhitung dari jakarta, saat ini kami sudah melalui 24jam perjalanan darat yang melelahkan. MaasyaaAllah..  Sejujurnya kami sudah lelah meringkuk dalam kendaraan ini. Mata kami sudah lelah terpejam. Bahan obrolan pun sudah  malas dilontarkan. Yasudah, nikmati saja perjalanan ini. Nanti toh juga akhirnya sampai sendiri. Oke, kita tidur saja lagi.

Sementara itu, bowaz dan gembez nampak sibuk dengan ponsel mereka masing masing. Keduanya nampak menghubungi sanak saudara mereka yang ada di jambi. Si Bowaz ada kakaknya yang polisi, dan gembez ada pamannya yang kebetulan sedang naik haji. Tentu saja selain silaturrahmi, tujuan utama kami adalah mencari tempat tebengan menginap malam nanti. Hehe..

Pukul 01.15, sudah memasuki hari ketiga semenjak keberangkatan kami dari Jakarta.
Sang kondektur berteeriak “Jambi… Jambi.. Jambi..”. Ah sampai juga rupanya. Kami turun di terminal simpang rambo, di depan sebuah agen penjualan tiket bus permata bunda dan beberapa agen lintas sumatera lainnya. Beberapa saat berselang, di seberang jalan sana berhenti sebuah mobil hitam keluaran tahun 90an. Sang paman melambaikan tangan lalu turun menghampiri kami. Beliau datang bersama putra sulungnya, si Rama. Carrierpun dipindahkan ke bagian belakang mobil. Kemudian perlahan mobil itu melaju meninggalkan simpang rambo. “Kita makan dulu” kata si paman sambil membelokkan mobilnya ke tepi sebuah jalanan. Warung ayam goreng dengan nasinya berupa nasi uduk. Perut lapar kami tak segan menghajar apapun yang ada dihadapan kami.

Menemani makan “sahur” kami si paman banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman masa mudanya, banyak hal demi hal yang lucu terlontar dari penuturannya. Banyak pula pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kami petik darinya. Si Sulung, yang ternyata anak sispala juga pernah mendaki kerinci, maka klop sudah pembicaraan kami.

Siang harinya kami belanja logistik dan segala keperluan selama pendakian di pasar depan komplek perumahan itu. Tak jauh dari rumah paman, hanya cukup berjalan menyeberang pekarangan orang. Seragam biru STAPALA yang kami pakai membuat beberapa pasang mata mengawasi curiga. Dikiranya petugas apa kali ya..

***  

CH. 5 – MENUJU KAKI KERINCI

Kami kembali diantar ke simpang rambo, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke kersik tuo, basecamp pendakian di kaki gunung kerinci. Jangan berfikir bahwa jambi -  kersik tuo itu dekat bung. Dari jambi ke sungai penuh saja (kota terakhir sebelum kersik tuo) sama dengan perjalanan jakarta – jogja. Sepuluh jam..!!. Dari sini hanya ada dua alternatif transportasi. Yang pertama travel yang membawa kita langsung ke sungai penuh. Tarifnya berkisar antara Rp 100.000 s/d 120.000, hanya saja adanya Cuma pagi jam delapan dan sore atau malam. Alternatif yang kedua dari jambi kita naik bus ke terminal bangko, dengan waktu tempuh sekitar lima jam perjalanan. Dari bangko nanti baru kita menuju sungai penuh. Akhirnya pilihan yang kedualah yang kita pilih, alasannya selain sedikit lebih murah, juga kita bisa langsung berangkat.

Jangan kaget melihat bus-bus antar kota di sumetera. Muatan barangnya akan lebih banyak ketimbang penumpangnya. Bahkan di kap atas, nampak barang barang dan kardus besar tersusun setinggi dua kali bus itu sendiri. Lebih menyerupai bus tingkat di daerah solo pikir saya.

Lima jam berikutnya kami sampai di terminal Bangko. Setelah membayar Rp 30.000 kami turun dan langsung disambut agen travel yang menawarkan armada menuju sungai penuh. “Limapuluh ribuan aja langsung saya antar ke penuh sekarang”. Tanpa fikir panjang kamipun langsung mengiyakan. Dan mobil L300 itu langsung berangkat meski Cuma terisi empat orang. Wuzzzz pak sopir ngebut dan  tahu-tahu lima jam berselang kami sudah tiba di sungai penuh. “Baru jam setengah tiga”, kata si mantan.

Di kota mati ini bahkan kami tak tahu harus menuju kemana. Dua tempat yang menjadi favorit gembel seperti kami adalah masjid dan terminal. Tapi bahkan ini belum subuh, kami tak tahu suara langkah kaki kami. Menapaki jalan beraspal yang nampaknya salah satu jalur di tengah kota. Beruntung kami melewati sebuah pos ronda, sekumpulan pemuda nongkrong berbasa basi menyapa kami. Obrolan singkat pun terjadi. Dari mana, mau kemana, sama siapa?. Dan mereka setengah terkejut mengetahui kami rombongan dari Jakarta yang hendak mendaki kerinci namun tak ada satupun dari kami yang tahu seluk beluk daerah ini. “Ah sebaiknya kalau mau ndaki minta diantar saja sama si kawan ini, dia sering pergi panjat gunung, bahaya bang kalau sendiri”, kata mas-mas bertubuh pendek dan gempal sambil menunjuk salah seorang temannya.

Dia pun mengantarkan kami ke terminal. Katanya, masjid disini pasti dikunci dan hanya buka pada waktu sholat saja. Rawan pencurian. Dia pun tak berkeberatan menemani ngobrol dan berjanji mencarikan angkutan nanti pagi. Diajaknya kami ke sebuah warnet, lalu ditunjukkan foto-foto koleksi pendakiannya di kerinci, sambil menjelaskan jalur jalur yang akan kami lewati dan titik titik bahaya yang harus kami perhatikan. Ternyata si Tony ini orang yang sangat baik. Awalnya kami berfikir jangan-jangan orang ini preman desa yang ujung-ujungnya “malak” minta duit ke kita. Hehe, bukan suudzon, hanya saja perlu tetap waspada karena kita berada di negeri orang, ditempat antah berantah, di pagi hari yang buta. Dan nantinya kami akan merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan orang ini sebelumnya.

***

CH. 6 – THE BEGINING STORY

Matahari mulai merekah. Jingga di ufuk cakrawala menandai geliat kota yang beberapa saat sebelumnya menyerupai kota mati. Selepas sholat subuh, kami berlima berngingsut menuju terminal tempat pangkalan angkot-angkot menanti penumpangnya. Di sebuah warung di sudut terminal kami menyempatkan sarapan, agar sesampainya di kersik tuo kita bisa langsung melakukan pendakian. Ketupat lontong dan bubur sungsum hangat kami santap dengan cepat. Lalu memindahkan barang ke sebuah angkot putih yang standby tak jauh dari situ. Harga telah disepakati, Rp 15.000 per orang dan perjanjiannya akan diantar sampai di pintu rimba (batas hutan). Normalnya, angkot ini hanya melintas di depan tugu simpang macan. Kebanyakan pendaki turun dan menginap di “homestay Paiman”, beberapa meter sebelum simpang macan. Namun kami memilih langsung menuju pos pendakian, karena berdasarkan beberapa catatan perjalanan, jika berangkat dari pos pendakian jam 08.00 kemungkinan sampai di camp terakhir sudah menjelang larut malam. Oleh karena itu kami mencoba untuk berangkat sepagi mungkin.

Dua jam berjalan angkot tersebut mulai memasuki daerah kersik tuo. Langit pagi yang cerah membuat semangat kami membuncah. Perkebunan teh yang menghampar hijau, gundukan gundukan bukit permai membuat hati kami berseru, “Ya Allah, sebentar lagi kami akan menginjakkan kaki di kerinci. Ridhoi perjalanan kami, berkahi misi yang kami emban ini, dan lindungilah setiap langkah kami. Aminn..”.

Di sebelah kiri nampak sendirian berdiri gunung yang akan kami daki, dengan pucuk yang berselimut awan, membuat hati kecil saya sedikit bertanya. Benarkah ini gunung kerinci? Hmmm.. sepintas terlihat bukan seperti gunung yang tinggi. Tidak seperti ketika melihat gunung merbabu atau gunung sumbing yang begitu megah dan gagah. Astaghfirullah.. sedikit jumawa kita sepertinya. “Dont judge anything from the cover” kawan… Luruskan niat, bersihkan hati, persiapkan mental dan diri sebaik mungkin, pendakian ini bukan pendakian main-main, kita benar-benar buta terhadap apa yang akan kita hadapi, kita orang asing yang bertamu ke negeri antah berantah, jaga sopan santun dan etika, dan jaga mental dan kepribadianmu sebagai seorang mapala. (bicara saya dalam hati). Lamunan saya buyar ketika angkot menepi. Agak kedalam kesana terdapat sebuah bangunan kayu yang tertata rapi. Benar dugaan saya, ini adalah pondok R-10, pos jaga dan perijinan TNKS wilayah kerinci. “Tutup”. Sopir angkot bilang posnya memang jarang buka.

Rupanya kami hanya diantar sampai sini, kalau keatas lagi (batas hutan) sopirnya minta nambah limaribuan per orang. Ah kampret, perjanjiannya kan tadi bakal diantar sampai pintu rimba. Hampir saja saya memaki dan ngotot untuk diantar sesuai penjanjian, tapi ditahan oleh bowaz dan gembez. Oleh mereka saya diingatkan untuk menjaga sikap dan omongan, karena memang begitu banyak pesan dari orang-orang. Akhirnya kami mengalah untuk membayar biaya tambahan dan diantar sampai ke batas hutan.

Oke, sekarang kita sudah sampai di ujung jalan aspal dan bebatuan. Angkot menepi dan berhenti. Didepan kami ada sebuah pertigaan, dan tepat di pertigaan itu terdapat sebuah rangka besi yang masih kokoh berdiri. Nampaknya bekas baliho berukuran besar yang dulunya mungkin papan selamat datang di kawasan konservasi. Jalan selanjutnya berupa jalan tanah, jalan setapak yang sedikit lebar, cukup untuk dilewati sepeda motor. Namun  kendaraan roda empat tak bisa lagi melewati daerah itu. Ke arah kanan adalah jalan menuju ladang-ladang penduduk, dan lurus keatas kita akan mulai memasuki kawasan pintu rimba.

Sampai disini kami baru menyadari, kami lupa belum bawa persediaan air. AIR..!! MATEK KOEN..!!. Jangankan air, botol aqua saja kami hanya ada dua, sisa perjalanan di bus tempo hari. Ah gimana sih kok sampe kelupaan di kersik tuo tadi nggak beli. Di dekat situ memang ada danau belibis, tapi kata penduduk sekitar airnya tak bagus untuk dikonsumsi, ditambah lagi kami tak ada botol-botol bekas yang bisa diisi. Yasudahlah, mungkin sebaiknya salah satu turun lagi. Akhirnya si mantanlah yang turun ke bawah untuk membeli segala kebutuhan yang masih kurang, membonceng motor penduduk yang pulang dari ladang. Sedangkan yang lainnya, menunggu di pintu rimba.

Masalah tak terhenti di situ saja, di depan pintu rimba ini, kami baru “ngeh” kalo kita ini nggak lapor. Ya bagaimana mau lapor, lhawong pos jaganya saja nggak buka. Trus gimana?.

Bowaz, sang ketua perjalanan, bersikeras untuk tidak naik jika kita tidak melapor dan mendapatkan ijin. Dan dengan konyolnya ia melontarkan ide untuk pergi ke danau gunung tujuh saja lebih dahulu baru esoknya mendaki kerinci. Ah muatamu..!! kita sudah di pintu hutan kerinci dan kau bilang kita nggak jadi mendaki? Bercanda kau boi…
Memang benar itu prosedur safetinya. Tapi bukankah pos jaga memang jarang buka? Bagaimana kalau besok juga tetap tidak buka. Kepada siapa kita harus melapor? Bahkan sebenarnya kami sendiri tidak tahu apakah gunung ini sudah dibuka semenjak dinyatakan ditutup pada awal tahun lalu. Kami hanya mendapat informasi dari teman mapala di jambi katanya kerinci sudah bisa didaki. Lalu gembez pun menengahi, mungkin sebaiknya salah satu turun ke simpang macan, coba tanya ke homestay Paiman, minta saran sebaiknya bagaimana. Oke, bowaz sendiri yang turun menyusul mantan mencoba mencari tahu soal perijinan. Sepengetahuan saya, perijinan di TNKS memang tidak serumit mengurus simaksi di TNGP yang cenderung dikomersilkan. Dan kata Toni pun, kalau pos jaga tidak buka, langsung naik juga tidak apa-apa. Tapi sekali lagi, sebagai tim yang resmi membawa bendera mapala, sudah seharusnya mengikuti seluruh prosedur keselamatan yang ada. Disini, didepan pintu rimba, tinggal saya dan gembez yang tersisa. Menunggu kabar dari bowas soal perijinan dan si mantan yang mencari air dan bahan makanan.

***

CH. 7 – MENYIBAK BELANTARA SUMATERA (belum terbit) 
Bersambung…..  

 

 
2 Comments

Posted by on January 5, 2012 in Uncategorized

 

Menanti bisikan dari Pak Menteri

Cahaya lampu neon berpendar, menerobos kabut tipis yang perlahan menyelimuti jalan jalan desa itu. Hari ini, 1 januari 2011, telepon bergetar, samar terputus putus suara yang tak asing berbicara diujung sana, “Piye le kabare pengumuman internete?”, tanya suara serak bapak berusia separuh baya, mencoba menanyakan kabar dari anak bungsunya yang telah dinanti nantikannya hampir tiga bulan belakangan ini. Menantikan kejelasan pengumuman penempatan kerja di sebuah instansi pemerintahan dimana selama tiga tahun ini sang anak menimba ilmu di perguruan tinggi kedinasan dibawahnya. “belum Pak, masih harus bersabar menunggu..”. Nada kecewa nampak terpancar dari lirih bicaranya sejenak kemudian.

Entah bagaimana lagi kami harus berusaha menenteramkan dan mendamaikan hati kedua orang tua kami, padahal kami sendiri, bersama lebih dari 2000 mahasiswa yang diwisuda Oktober silam pun sama halnya dengan mereka, tak tahu, tak menentu, menanti sesuatu yang tak kunjung pasti, dengan segudang emosi. (emosi? emosi dengan siapa bung? hehe). :)

Ah.. bagaimana tidak, nasib dan ketidakjelasan lulusan 2011 yang hampir tiga bulan terkatung katung dengan sebuah alasan yang konon katanya sedang dilakukan reformasi birokrasi, malah membuat birokrasi menjadi sedemikian njelimet, sedemikian ruwet. Isu demi isu terus bergantian mewarnai perjalanan kami, mulai dari pola recruitmen CPNS yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, isu psikotes dan tebusan biaya pendidikan Rp 30 juta bila gagal memenuhi kriteria, pemberlakuan undang undang dan peraturan yang berlaku surut, hingga isu-isu lain yang bahkan kami sendiri tak bisa membedakan mana yang sekedar kabar burung pelengkap bumbu bumbu cerita dan mana yang merupakan kabar sesungguhnya. Puncaknya, pengumuman instansi yang terus mundur dan diundur-undur membuat sebagian besar dari kami tak ayal diliputi kegalauan. Meski sebagian yang lain nampaknya tenang tenang saja dan menunggu kabar demi kabar serta menjalani semua prosedur yang ada. Tapi saya yakin, tak ada satupun yang senang dengan kondisi seperti ini.

Terlepas dari semua itu, sesungguhnya orang tua lah yang merasakan kecemasan yang jauh lebih besar. Prihatin dengan kondisi anaknya, risih dengan cibiran tetangga, “Eh, katanya anaknya bu ini kuliah di S**N, lulus langsung dapet kerja, lha ini udah tiga bulan nganggur dirumah nggak ngapa-ngapa”. Dan mereka pun tak bisa berbuat apa apa, kecuali hanya bisa mengutuk janji pak menteri sewaktu kami diwisuda. Ah, ini bukan salah pak Menteri bu’.. ini hanyalah bagian dari birokrasi.. memang kita orang kecil, dan orang kecil seperti kita inilah yang kerap menjadi korban ruwetnya birokrasi di negeri yang kita cintai ini.

Kita bersabar saja, bukankah Allah menjanjikan bahwa Dia beserta orang-orang yang sabar? (mencoba mendamaikan diri sendiri).

Lampu-lampu perlahan mulai meredup, satu dua mulai padam, hanya remang-remang di sudut-sudut rumah yang nampak masih menyala temaram. Ah, sudahlah, tak usah ditunggu-tunggu pengumuman itu. Tidur sajalah, kau…
Siapa tahu, esok, atau lusa, atau mungkin pertengahan atau akhir bulan, berita gembira itu akan datang dengan sendirinya.. Kami tunggu kabar baik darimu, pak Menteri..

 
Leave a comment

Posted by on January 2, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Saat bapak & anak “bacok-bacokan”

“Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati”
        
-gita gutawa ft. adaband-

Mendengar sebait lagu diatas secara tak sengaja mengantarkan lamunan saya pada kenangan masa kecil dulu. Hehe, saya jadi teringat bagaimana dulu pernah menentang kerasnya keinginan bapak yang berkeinginan menyekolahkan saya di madrasah aliyah. Saya juga seketika itu terbayang bagaimana dulu derai air mata ibu saya membela mimpi dan keinginan anak bungsunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, meretas mimpi kuliah di salah satu universitas ternama di negeri ini, bukan pendidikan selengkapnya klik disini

 
1 Comment

Posted by on December 2, 2011 in Catatan Harian

 

Shanti Fatma Hafidzah, Bunga mawar itu kini tlah tiada.

“Seorang gadis yang kuat, seorang gadis yang punya segudang mimpi, seorang gadis yang tak pernah putus asa, seorang gadis yang berjuang melawan scoliosis yang dideritanya. Seorang gadis yang tiga bulan lalu mengirimkan pesan: “Kaifa khaluk kakak…”.
Baru saya tau, dua bulan yang lalu ia tlah pergi. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fuanha..”

                                                      ****

Entah bagaimana aku bisa merasa begitu kehilangan selepas kepergiannya. Sedangkan sekalipun kita belum pernah bertemu. Bahkan, sekedar bertukar suara pun, tak pernah bukan? J

Kamu, gadis yang teramat baik, adikku..
disaat remaja seusiamu sibuk berhura hura menghabiskan masa muda bersama teman-temannya, kamu memilih membenamkan diri daalam rutinitas harianmu yang sudah tersusun rapih. Sekolah, mengajar privat, mengajar adik-adik TPA, membantu mama membereskan pekerjaan rumah, dan disela sela kesibukanmu yang luar biasa itu, masih kau sisihkan waktu tuk belajar, atau sekedar membaca, bahkan tak ketinggalan kamu ikuti pula kajian-kajian ilmu agama.

Seringkali kamu tak peduli tentang kesehatanmu sendiri.
Kau ingat dulu? Tak jarang kakakmu harus mengingatkanmu untuk sekedar makan ketika menjelang tengah malam. Dan beberapa jam kemudian pesanmu membangunkan tuk sholat malam.
Ah, kasihan kamu de’..!! seorang gadis kuat yang terperangkap dalam fisik yang teramat lemah.

                                                      ***
Ada sedikit penyesalan yang tersisa. Pesan singkatmu tiga bulan yang lalu, pun belum sempat kubalas. Yuph, mungkin pada saat itu kakakmu terlalu sibuk dengan serentetan tugas dan kesibukan menjelang kelulusan. Ujian akhir, PKL, membuat laporan/ tugas akhir, ujian kompre, dan tetek bengek kesibukan lainnya. Ya, semenjak itu tak terdengar lagi kabar darimu. Dan ternyata, dua bulan yang lalu Allah tlah memanggilmu. Innalillahi wainna ilaihi rojiun…

Engkau menyadarkan pada kami betapa kematian itu sungguh sangatlah dekat. Waktu berlalu dengan begitu cepat. Kemarin, lusa, dan masa lalu akan menjadi kenangan. Tinggal kenangan sebagai orang yang baik atau malah sebaliknya yang akan kita tinggalkan. Dan kau orang yang baik, teramat baik, liatlah betapa banyak orang-orang yang merasa kehilangan atas kepergianmu yang begitu cepat.. :’(

                                                        ***
“Saya masih ingat, bagaimana terakhir kali kita berebat tentang hukum melafaklkan niat sholat. Bagaimana kita berdiskusi tentang aliran liberal dan paham wahhabi. Bagaimana kita membicarakan pergerakan tarbiyah yang mulai sedikit hilang arah.
Saya masih ingat, bagaimana kamu bercerita tentang kelainan tulang belakang yang membahayakan jantungmu.
Ternyata sudah cukup lama. Dan baru saya tahu, kini kamu sudah mendahului kami, menghadap Illahi.
Bahkan, kamu masih sangat muda adikku..
Semoga Rabb-mu meninggikan derajatmu, mujahidah kecil..”

Salatiga, 27 November 2011

*tulisan ini untuk mengenang kepergian seorang adik kelahiran Ciledug, 17 September 1991 dan meninggal pada 9 September 2011 karena skoliosis yang diderita sejak kecil berdampak pada jantungnya.

 
2 Comments

Posted by on December 1, 2011 in Catatan Harian

 

Untuk sahabat dekat yang sudah di-DO

Agak berat juga rasanya memberi judul tulisan ini demikian. Tapi biar bagaimanapun memang demikianlah adanya. Untuk kali ini bukan cerita pendakian yang ingin saya tuliskan, bukan pula cerita ringan atau catatan kegalauan yang hampir mendominasi isi seluruh “diary onlen” ini. Kali ini saya ingin berbagi kisah pilu, satu fase perjalanan kehidupan yang setiap kali mengingat peristiwa itu membuat hati kami (teman-teman dan sahabatmu, Cep) larut dalam haru.

Bagaimana tidak, kita yang dulu sama-sama berjuang menghindari ancaman drop out dari sekolah tinggi kedinasan instansi yang dulu dipimpin Ibu Sri Mulyani. Kita yang sama-sama berjuang dan belajar bareng demi mengentaskan diri dari predikat mahasiswa dengan IPK dua koma. Kita yang sering berkumpul bareng, sekedar minum kopi dan bermain kartu remi. Bercanda dengan olok-olok ria di jendela belakang kelas kita di lantai tiga yang demikian panasnya, menunggu pak Basmus yang selalu telat tiba. Ya, kami masih jelas mengingat, masa masa itu, sobat..

Kowe kelingan ra, dab??

Gue juga masih menyimpan pesan lu sesat sebelum lu pergi, sengaja gue tuliskan kembali disini, karena “pesan terakhir” lu itu jugalah yang menguatkan kami, yang meyakinkan kami kalo lu tu kuat, yang ngebuat kami “nggak terlalu” mengkhawatirkan ke-DOanmu itu. Wkwkwk, parah.

Fajar ‘Cepi’ Pratama
assalamualaikum..

Buat semuanya, sori banget kemaren gak bisa pamitan langsung. Jujur gue gak berani ketemu kalian semua..
Gue minta maap kalo setaun ini gue punya salah ma kalian..
Thanks berat atas persaudaraan yang kalian beri ma gue. Itu akan jadi lembar istimewa di hidup gue.

——

lembayung sinar sore jingga temani diriku..
kepulan asap sigaret dan pahitnya kopi mencoba tuk mengusir dingin yang menusuk..
ku ambil jalan lain bukan karena letih berjuang..
bukan karena tak mampu lagi mendaki..
ku hanya mengambil jalan memutar saudaraku..
karena di persimpangan sana, kita akan brtemu lagi..

ilalang bergoyang menandakan malam tlah menjelang..
desir gesekan daun, garis bintang di atas sana,dan nyanyian hewan-hewan kecil membuatku terpejam dalam karena menikmatinya..

ku akhiri puisiku..
seorang saudaraku menawariku sigaret berkelobot jagung..

saudaraku..
tunggulah aku..

-27 agts 07-

——–

sebuah puisi yang kutulis saat gue terpisah dan tersesat di Gunung Merbabu di ketinggian 2982.05 mdpl, tepatnya di sektor timur di daerah padang ilang..
Gue akan berusaha di sini. Insya Allah taun depan mo daftar STAN lagi. Doain gue saudara-saudaraku biar gue bisa ketrima STAN lagi.. Amin.
dan buat yang terakhir, ijinin gue meremove diri saya dari foto comment ini..

bila rindu dgn saya ato mo apalah gtu bs lewat wall,status comment,e-mail,sms,ato telp jg bisa..
sumimasen.
adios amigos.
jamata…

wassalamualaikum..

Aku menuliskan kisah ini, ketika kami pada akhirnya telah di wisuda. Lulus dengan predikat IPK yang beranjak satu strip diatas angka dua. Gue, rony, yora, dede, dan yang lainnya.. candra dan rio jangan ditanya, mereka masih berupa orang orang malas dengan otak dewa, haha. Bukan seperti kita yang meski sudah belajar mati-matian tetap saja mendapat nilai C, atau mungkin karena tulisan kita jelek ya? hahaha. Si Budi yang juga terpaksa DO waktu itu sekarang sudah di UI. Si Noto yang mencoba lagi tahun berikutnya alhamdulillah keterima lagi di pajak. Si Yossa sudah mewarisi jiwa bisnis bokapnya. Detha menyeberang haluan ke Analis Efek. Nanda di pertanahan jogja. Dan kami tentu saja berharap kabar terbaik dari lu disana. Sekedar kabar sehat wal afiat dan rokok klobot di mulutmu itu selalu mengepul sudahlah cukup menentramkan bagi kita.

Oke sob, seperti yang lu bilang, kita hanya memilih jalur yang berbeda. Gue lewat selo, lu lewat kinahrejo. Sampe ketemu di pasar bubrah kawan, Insyaallah kita semua akan menapaki puncak beriringan.

Suatu sore di bawah langit bintaro.
02 November 2011

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2011 in Catatan Harian

 

Ketika Hampir Mati di Puncak Kerinci – (Bukan Catper)

Azhyz Maghfur‘s notes on Wednesday, 19 October 2011 at 09:42

ketika terperangkap belerang pekat

Ini bukanlah catatan petualangan, atau review perjalanan ke gunung kerinci tempo hari. Ini hanyalah catatan iseng dikala senggang, disaat kepala ini dijejali dengan berbagai kegalauan.

Seperti biasanya, pagi yang berlalu tanpa aktivitas.
Duduk di teras depan dengan secangkir kopi, menikmati kicauan burung tetangga yang bernyanyi tiada henti.
Termenung, menerawang, mencoba mengingat ingat kembali potongan-potongan cerita pendakian di tanah Sumatera, tempo hari.

Sedikit hiperbolis nampaknya, menyebut kami hampir mati. Tapi sepertinya tidak berlebihan bila kita sendiri yang berada disana, merasakannya.
Ya, itu merupakan pngalaman pertama bagi kami mendaki gunung Sumatera. Tanpa guide, tanpa pemandu, tanpa tau seluk beluk & cerita-cerita yang pernah ada.
Orang bilang berani & nekat itu tipis bedanya, dan spertinya kami ini yang termasuk dalam kategori nekat itu. Bodoh!

Hmmm..
Saya masih jelas mengingat, bagaimana di pagi yang buta, tim mulai bergerak dari camp setelah shelter 3, merayap naik perlahan menuruti punggungan, menyusuri bebatuan dan pasir-pasir yang begitu labil, yang seakan tidak merelakan dirinya dipijak setiap kali kami melangkahkan kaki. Harus berhati-hati, sangat hati-hati.

Setelah lebih dari satu jam berjalan perlahan dalam kegelapan, melewati medan yang sama sekali tak bervegetasi, jurang tinggi menganga menyambut kedatangan kami, seolah ingin menghentikan dan mengatakan “CUKUP..!! CUKUP SAMPAI DISINI”.
Dan barulah kami menyadari bahwa kita tlah tiba di titik 3.805. Inilah titik tertinggi puncak kerinci..!!
Inilah atap sumatera, bung..!!
Sujud syukur atas izin Rabb kami untuk berada disini. Ya, tepat pukul 04.45 tim tiba di puncak. Masih gelap, masih pekat, bahkan bebatuan hampir tak terlihat.
Dibawah sana, kami dibuat takjub dg titik-titik berwarna merah membara, ya, itu adalah aktivitas magma, yang disertai asap pekat membumbung tinggi ke arah utara. Ke arah yang berlawanan dengan kami.
Kupikir kabut, tapi ternyata asap belerang denga konsentrasi kepekatan yang sangat tinggi.

Kami berempat melakukan sujud syukur, berfoto sejenak, lalu mendirikan sholat subuh berjamaah, di puncak.
Udara dingin yang mndekati suhu minus membuat kami menggigil, membuat tangan kami hampir beku, dlm “sedakep” dua rekaat subuh itu. Lalu tiba-tiba, belerang pekat berbalik arah, menyelimuti kami, mencekik, dan…

akankah brakhir sperti Soe HokGie?

Nantikan saja catpernya dalam Edisi Menyibak Belantara Kerinci..!! :)

 
Leave a comment

Posted by on October 22, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Secangkir Kopi

Azhyz Maghfur‘s notes on Tuesday, 18 October 2011 at 16:41

Menikmati secangkir kopi yang baru saja kuracik sendiri ini, membuat keinginan saya untuk menulis kembali bangkit dan sedikit tergelitik.

Perpaduan rasa antara pahit, manis, dan hangat, menyatu, mnjadi satu citarasa kopi desa yg benar-benar khas, benar-benar pas, benar-benar mantap, menemani satu sore yang berlalu tanpa aktivitas.. tanpa produktivitas..

Ssssrrpp..

Dan baru saja saya menyadari, hey kau kopi..!!
Kau itu, seperti kehidupan, bukan?
Pahit dan manismu berpadu, tersuguh dalam cawan, dan berakhir dlm satu tegukan. Panas!!

 
Leave a comment

Posted by on October 18, 2011 in Catatan Harian

 

Edisi Summit Attack, 3.676 Mdpl

Melanjutkan sesuatu yang tertunda. Tentang kisah sekumpulan pemuda galau yang mencoba merayakan akhir masa perkuliahannya dengan mendaki gunung tertinggi di tanah Jawa  -Semeru, dengan puncaknya yang lebih dikenal dengan nama Mahameru-

Dalam kesempatan sebelumnya, cerita terhenti sampai di malam yang sepi di kalimati. Hening, dingin, sunyi… sampai ketika satu persatu dering alarm berbunyi, bersahut-sahutan dari satu tenda dengan tenda yang lainnya. Memecah keheningan malam itu. Namun bius kaki mahameru nampaknya membuat belasan orang itu enggan beranjak dari selimut tebal dalam hangatnya tenda. ”Astaghfirullah..!! wes jam siji cahhh…!!”. Buru-buru kami membangunkan semua yang meringkuk di dalam tenda. Padahal kan rencananya kita bangun tepat tengah malam, dan jam satu harusnya semua  sudah siap untuk melakukan summit atack menuju puncak. Yah, tapi semuanya (termasuk saya) malah bangun “kesiangan”. Saya sendiri bisa memaklumi, semua pasti kelelahan setelah sehari penuh melakoni perjalanan panjang sampai di camp kalimati ini. Semua pasti enggan menukar hangat dan kenyamanan dengan udara diluar yang begitu menusuk persendian. Tapi sekali lagi ini untuk sebuah mimpi, untuk menggapai puncak tertinggi yang tinggal sejengkal lagi, yang kata Donny Dirgantara tinggal 5cm lagi, kami bersiap, mengenakan pakaian yang paling hangat, bahkan beberapa diantara memakai jaket berlapis tak cukup satu dua, sarung tangan, dan balaclava (kupluk kepala).

Oke ready.
Sang ketum memimpin briefing singkat untuk memompa kembali semangat dan doa bersama mengawali perjalanan pagi buta ini, diakhiri dengan toss, untuk menyatukan tekad dan visi, lalu perlahan meninggalkan kalimati dan mulai memasuki gelap hutan yang sunyi. Kami berjalan perlahan, berjalan beriringan agar tak saling berpisah dari rombongan. Baru beberapa saat memasuki hutan kami sudah disambut dengan tanjakan tanjakan yang memaksa kami memompa nafas lebih cepat. Ngos-ngosan.

Nyaris in memoriam, “Balung Gorila”. mau tahu kisahnya? klik disini..

 
Leave a comment

Posted by on October 2, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Leontopodium Alpinum

Leontopodium Alpinum, Anaphalis Javanica, atau apapun namamu, kamu selalu membuatku merindu…

 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2011 in Uncategorized

 

Gunung itu, ibarat candu..!!

 di Puncak Mahameru (Gembez 882)

Terinspirasi tulisan Mbak Gerrie 813, salah satu senior GH yang memposting sebuah tulisan di blognya tentang catatan perjalan-perjalanan mendaki gunung yang pernah dilaluinya. Dalam prolog ia menyebutkan bahwa Naik gunung itu candu”. Hahaha, ya, kata-kata itu yang “memprovokasi” saya untuk mengamini pernyataan itu lewat sebuah tulisan iseng ini.

Seperti halnya ketika seorang pengguna narkoba mulai mencoba menghisap ganja, heroin, ataupun kokain, efeknya akan terasa begitu luar biasa bagi yang pertama kali menghisapnya. Mungkin pusing, “ngeliyeng”, muntah, atau bahkan pingsan mungkin. Tetapi ketika ia telah merasakan nikmat sensasinya yang melayang, lau ia akan ketagihan, kemudian bermetamorfosis menjadi seorang pecandu. Dan jika tidak dipenuhi kebutuhan itu, ia akan merasa sangat tersiksa, sakauw..!! (hehehe, kayak udah pernah nyoba aja Zhyz).

Mungkin sedikit berlebihan, namun jalan-jalan dan berpetualang ke dataran-dataran yang tinggi di muka bumi ini akan menjadi sebuah “candu” tersendiri. Setidaknya hal itu yang saya pribadi alami. Pertama kali mengenal gunung (mendaki gunung) justru ketika sudah di jenjang perguruan tinggi. Sahabat saya Jhon Taqun mengajak saya mendaki Gunung Ciremai (Jawa Barat) bersama dengan tiga orang kawan STAPALA (waktu itu saya bahkan belum menjadi anggota). Mereka adalah Bang Wapress, Odol, dan Mbak Di’i. Ya, ini adalah perjalanan sekaligus pendakian pertama sepanjang hidup saya.

Sejak saat itu, saya mulai jatuh cinta pada gunung. Keinginan untuk mengunjungi puncak demi puncak, menikmati setiap peluh dan tetesan keringat ketika menapaki jalan terjal mendaki, dan menikmati pemandangan yang selalu berbeda sesuai dengan masing-masing karakternya. Dan yang paling membuat saya terkesan adalah pengalaman spiritual yang akan kita dapatkan. mendaki gunung tak sekedar mendaki, mendaki gunung bisa menjadi salah satu sarana mendekatkan diri pada Ilahi. Kita akan menyadari, betapa kerdilnya kita dibandingkan alam raya, apalagi dibandingkan Penciptanya. Satu hal yang luar biasa adalah ketika kita berkesempatan mendirikan sholat di atas sana. Keheningan, desir angin yang menerpa, matahari yang begitu dekat dengan kepala, semakin menambah kekhusyukan setiap gerakan ibadah kita. Hmmm.. rasanya saya tidak cukup memiliki perbendaharaan kata untuk menggambarkan kepuasan bathin yang kita rasakan.

Mendaki juga memiliki arti tersendiri. Ungkapan populer yang mengatakan bahwa “mendaki itu bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi menaklukkan diri sendiri”. Ya, benar sekali, kita tak akan pernah bisa menaklukkan gunung, selama kesombongan dan ego itu belum bisa kita tundukkan. Dari mendaki gunung kita juga dapat mengenali bagaimana sebenarnya karakter seseorang. Tidak percaya? :) Silahkan dibuktikan…

Orang bilang buat apa bercapek-capek naik gunung? tapi  saya bilang, gunung ini obat hati sekaligus penenang fikiran. Dan saya yang masih tergolong pemula ini, tengah merasakan efek sakauw yang diakibatkannya. Huahhh..!!  Tidak sabar ingin mengecup satu persatu kuncup SIndoro, Sumbing, Slamet, Merapi, Merbabu, Lawu, Argopuro, Arjuno, Welirang, Raung, Kerinci, Rinjani.  Apakah semuanya bisa terealisasi? Imposibble? Wallahu a’lam. Yang jelas saya nagih, nagih, dan nagih pengen naik gunung.
Sekali lagi, gunung itu ibarat candu. .!!

 
8 Comments

Posted by on August 22, 2011 in Catatan Harian

 

Catatan Absurd

Bintaro, 19 Agustus 2011.

Dan lelaki itu, duduk, termenung, dengan bara api yang menyumpal di sela-sela mulutnya,
menatap nanar lembaran-lembaran kumal, sembari merapal beberapa baris kata, menghafal, mencoba menghafal? menghafal apa? entah menerka, mencoba menerka? menerka apa?
Dalam ketermenungan itu, pun. Ketidakpastian mengantarkannya pada satu bayangan (yang sebenarnya sama sekali tak ia inginkan), tentangmu. hey..!! Tentangmu..!! tentang bayang-bayang semu? tentang sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu.

Sejenak, lelaki itu tersadar, bersandar, malu. Bahwa bayang itu, pun tak suka bara itu!! (dihatimu??)
Buang..!! Cukup teguk saja minuman hitam itu. Pahit, bukan? Nikmatilah kepahitan itu. Atau, mungkin kau berharap ia kan menambahkan sesendok gula kedalam gelasmu?? *bermimpilah. *aihh. *sudahlah..

(sayup-sayup terdengar alunan lagu Efek rumah Kaca: “Jatuh cinta itu biasa saja..”)
Ah, iya… jatuh cinta itu biasa saja…

*sebuah catatan absurd – tanpa judul (11:55PM @PoskoStapala)

 
4 Comments

Posted by on August 18, 2011 in Catatan Harian

 

Gede-Pangrango, Berempat saja.. (BAGIAN 1)

Sebuah Pengantar
(09 Juni 2011)

saya yg ngefoto, jadi gak ada >.<

Mungkin ini adalah perjalanan yang paling “tanpa persiapan” diantara perjalanan-perjalanan kami ke gunung lainnya. Sebenarnya bukan sebuah rencana dadakan sih, toh rencana perjalanan ini sudah jauh-jauh hari menjadi obrolan antara saya dengan Sundul (Adi Setia Jaya), rencana akhir pekan untuk mendaki ke “kebon rumah” sendiri. Awalnya hanya saya dan sundul saja yang mau berangkat kesana. Sundul pernah ke Gede, sedangkan saya pernah ke Pangrango. Kalaupun nggak ada temannya, insyaallah kami akan berangkat berdua. Kebetulan pada waktu yang direncanakan itu, anak-anak ORAD (Olahraga Arus Deras) atau istilah kerennya arung jeram, juga mengadakan ekspedisi di Ciberang. Akhirnya, hanya lima orang yang berminat jalan ke gepang sabtu itu, yaitu Sundul, Lancip (Fawzan Ibnu Alam), Bowaz (Muhammad Ramdhani), Kucir (Melina Fajrin Utami), dan saya sendiri. Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on August 17, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

MAHAMERU – Chapter 11: Satu Cerita yang Tertunda, Edisi Oro oro Ombo – Kalimati

Jalan melipir oro-oro ombo

Nang ning nang ning… seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam benak saya. Mencoba mengingat-ingat apa ada yang kurang, atau mungkin masih memiliki tanggungan utang? Wah iya, ternyata utang catper kepada Pak Dosko belum lunas dibayar, (termasuk soft-loannya yang masih menanti cairnya rapelan uang saku yang tak kunjung diberikan oleh lembaga, hehe). Walaupun perjalanan ini sudah lewat sejak berbulan-bulan yang lalu, semoga impuls syaraf saya ini masih bisa membangkitkan kembali memori-memori tentang kisah perjalanannya, pun demikian dengan luapan emosional yang ada didalamnya.

Terakhir kali saya berkisah tentang Ranu kumbolo. sebuah telaga yang penuh dengan pesona. Penuh kedamaian dan bentangan mahakarya yang konon katanya merupakan telaga peristirahatan para dewa. Namun itu bukanlah akhir dari perjalanan kami, puncak mahameru masih berada nun jauh disana, pun masih menjulang tinggi dibalik bebukitan yang melindunginya dari pandangan kami. “Ayo reek, budhal..!!” seru Jupret sang pimpinan rombongan. Saat itu matahari sudah mulai tergelincir dari tengah khatulistiwa. Dan sesuai rencana, kami harus sampai di kali mati sebelum senja. Segera kami memberesi alat sholat dan perkakas makan siang yang masih berserakan. Lalu capcus melanjutkan perjalanan.

Tanjakan Cinta, Sebuah Mitos yang Melelahkan

Tanjakan Cinta

Semua anggota rombongan sudah mafhum bahwa setelah ini adalah “tanjakan cinta”, tanjakan yang penuh dengan mitos dan kepercayaan yang entah darimana asal muasalnya. Mitos yang parahnya dipercaya oleh sebagian besar muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Konon katanya, saat melalui tanjakan ini, jangan sekali-kali menoleh ke belakang, karena jika itu dilakukan maka hubungan cintanya akan kandas ditengah jalan. Sebaliknya, bila berhasil melalui tanjakan ini tanpa berhenti dan tanpa menoleh ke belakang, maka cinta yang diperjuangkan bisa bertahan langgeng selama-lamanya. Hmmm.. ada-ada saja. Meskipun saya sendiri tidak percaya dengan yang namanya mitos, tetapi entah kenapa seakan-akan termakan pengaruh alam bawah sadar yang mengatakan saya tidak boleh menoleh ke belakang. hahaha, ato jangan-jangan saya sudah terpengaruh mitos yang menyangkut masalah cinta ini ya? karena sebelumnya saya pernah melanggar pantangan sebuah mitos yang hampir serupa (terkait masalah cinta) dan berujung kisah cinta saya kandas juga. Hmmm.. hanya kebetulan saja sepertinya.

Ranu Kumbolo dari atas

Tanjakan ini memang sungguh gila. Meskipun baru saja selesai rest dan mengisi ulang tenaga, tetapi tanjakan mendaki bukit tinggi yang “memagari” ranu kumbolo ini cukup melelahkan juga. Dengan perlahan dan nafas terengah-engah, kami mencoba mencapai puncak bukit yang diatasnya terdapat satu pohon besar yang berdiri kokoh disana. Fyuhhh.. Mungkin yang membuat pendakian ini terasa berat adalah medan yang kami lallui sebelumnya cenderung datar dan memanjang. Paling hanya ada satu-dua tanjakan yang membutuhkan stamina ekstra. Satu-persatu dari kami akhirnya berhasil mencapai atas bukit, dan kerennya, tanpa menoleh ke belakang..!! bahkan si Balung yang slayernya terjatuh pun tak berbalik mengambilnya. Hahaha. Untung ada gokong dan sekar, pasangan sejoli yang sudah pacaran hampir tiga tahunan sepertinya. Ya, mungkin hanya gokong-sekar dan jupret-change yang nggak terlalu mempedulikan mitos tanjakan cinta.

Sesampainya diatas, kami beristirahat sejenak, melepaskan lelah dan duduk memandang ke belakang. Dan ternyata, kami akhirnya tahu kenapa kita nggak boleh menoleh selama tanjakan. Sepertinya ranu kumbolo akan melambai-lambai “nggondeli” kalian agar kembali saja kesana. Keindahannya sungguhlah mempesona. Cukup lama kami menatap danau biru itu dari puncak bukit bukit. Teduhnya pohon dan semilir angin yang berhembus dari lembah semakin menambah syahdu suasana hening di ujung tanjakan itu. Sepasang pendaki bule asal Jerman yang start dibelakang kami menyalip beberapa meter di ujung tanjakan itu. Wez pak monggo sampean lewat dhisik..!!

Padang Oro Oro Ombo

Change SPA 879 di ororoombo

Berikutnya, pemandangan yang ada tak kalah menakjubkan. Bentangan padang rumput ilalang terhampar dihadapan. Bukit-bukit yang seperti bukit teletubbies menggunung-gunung, tak hanya satu, disana sini menghiasi sejauh mata memandang. Inilah oro-oro ombo. Istilah bahasa jawanya yang dalam bahasa Indonesia berarti “padang rumput yang luas“. Ada dua jalur untuk sampai ke ujung sana, ke batas hutan pinus yang dikenal dengan cemoro kandang (bukan cemoro kandang yang ada di gunung lawu lho yaa). Jalur yang pertama adalah menerabas rerumputan ilalang yang tingginya sekitar dada orang dewasa, sedangkan jalur yang ke dua melipir ke kiri mengikuti jalur setapak yang berada di lereng salah satu bukit teletubbies itu. Kami memilih jalur yang kedua, karena jalurnya memang lebih jelas, dan kita juga dapat melihat-lihat keindahan bentangan oro-oro ombo di bawah sana. Sedangkan si odol, gawon dan yogha yang iseng-iseng memilih jalur menerabas ditengah harus kembali memutar dan mengikuti jalur kami karena katanya ilalangnya terlalu tinggi. Kapuokmu kapan..!! Hahaha..

batas hutan dengan oro-oro

Selepas melipir lereng bukit itu, kami kemudian menyeberang oro-oro, menyibak sedikit perdu ilalang, kemudian bersambung lagi ke jalur di tengah oro-oro yang setapak memanjang dipenuhi endapan pasir-pasir halus yang sepertinya hanyut bersama aliran air. Menginjak pasir-pasir itu aroma puncak seakan kental terasa (padahal masih jauh disana). Sesaat berikutnya kami sudah sampai di tepian hutan pinus. Kembali track yang kami lalui mulai bervariasi, mengikuti jalur yang sudah ada, jalanan cenderung mulai naik, sehingga memaksa kami harus beristirahat beberapa kali. Kali ini saya, gawon dan odol berada di rombongan paling belakang, terpaut cukup jauh dari depan yang sudah terlebih dahulu memulai start kembali. Kami bertiga masih bersantai-santai menunggu mereka jalan jauh dulu, baru kita kejar, rencananya. Tapi karena istirahat terlalu lama inilah yang membuat kami malah jadi cepat lelah. Pemandangan kanan kiri area ini lebih di dominasi oleh pepohonan cemara, maka tak heran jika orang-orang menyebut daerah ini cemoro kandang.

Memasuki Cemoro-Kandang

Selanjutnya adalah bukit ayeg-ayeg, masih kelanjutan dari hutan-hutan pinus tadi, namun setelah dari sini jalanan cenderung turun dan mendatar. Pepohonan pinus pun perlahan sudah mulai menghilang dan berganti lahan-lahan yang menyerupai lapangan dan diselingi pepohonan perdu. Pasir-pasir sudah mulai menghiasi sepanjang perjalanan kami. Dan kuncup mahameru (yang menyerupai batok itu) mulai terlihat mengintip dari balik pepohonan. Menjulang gagah, dengan guratan-guratan pasir yang terlihat begitu jelas dari bawah. Kami yakin bahwa sebentar lagi kami akan sampai di kali mati. Break point yang ditentukan sebagai titik finish perjalanan hari itu.

Bukit Ayeg-Ayeg

Benar saja, mangikuti jalur yang dipenuhi pasir itu akhirnya kami sampai di sebuah tanah lapang. Diujung sana terlihat kaki mahameru yang tertutup hijau vegetasi, berbanding terbalik dengan beberapa puluh meter diatasnya yang sudah berupa pasir murni. Subhanallah.. gagah sekali puncak gunung ini.
Tulisan di sebuah pohon meyakinkan kami, bahwa kami telah sampai di kalimati. Tak sabar satu persatu dari kami brerlari-lari kecil membelah “lapangan” itu, pengen cepet-cepet sampai, pengen cepet-cepet istirahat..!! hehe.

Camp Kali Mati

Mengintip Puncak Mahameru

Sebenarnya izin pendakian kami hanyalah sampai di kali mati ini, karena memang pada saat itu aktivitas gunung Semeru masih dalam status waspada. Beberapa kali terlihat letupan dan kepulan asap membumbung tinggi dari kawah yang menadakan aktivitasnya masih bisa dibilang berbahaya. Tapi apa lacur kami sudah jauh-jauh kesini, dengan bismillah kami berniat mendaki puncaknya dini hari nanti.

Waktu menunjukkan pukul 16.30 saat seluruh rombongan tiba di kalimati. sepasang bule yang menyalip kami tadi sudah mendirikan tenda tepat di kaki gunung itu, sedikit keatas, di antara pepohonan yang mungkin dianggapnya melindungi mereka dari dinginnya angin lembah yang menghampiri di malam hari. Padahal sepertinya percuma, jika angin datang pasti langsunglah menghantam tenda itu, haha, biarkan sajalah mereka berdua menyendiri disana. Sedangkan kami, memilih lokasi mendirikan tenda di sekitar bangunan permanen yang ada di sana. Selain lebih aman dari terpaan angin, sepertinya lebih nyaman dan hangat pula disana. Kami berbagi tempat dengan guide dan porter si bule tadi. Dua tenda didirikan di dua bilik utama, dan yang dua lagi, tenda yang kami tempati bertiga bersama gembez dan kalut berada di teras luar berhadapan dengan tenda jupret, change, gokong dan sekar. Setalah masak asupan gizi dan makan malam bersama, secara berombong-rombongan kami sholat maghrib dan sholat isya berjama’ah di luar beralaskan tikar.

Pukul 20.00. Dingin mulai merayap menembus jaket lalu menusuk pori-pori kami. Suasana terasa begitu sepi. Tiga penghuni tenda luar yaitu saya, kalut dan gembes sepertinya menjadi orang yang tidur paling belakangan. Anak-anak yang lain sudah masuk dan menghangatkan diri di tenda masing-masing, sedangkan kami bertiga mencoba menghangatkan diri dengan cara kami. Yang mencoba melawan dinginnya malam itu dengan duduk ditengah hamparan tanah lapang, memandang langit hitam kalimati yang penuh bintang, menatap puncak mahameru yang samar-samar membayang. Menyulut sebatang djarum cokelat sambil mendengarkan curcolan-curcolan si kawan yang hatinya galau dan bimbang. Hahaha.. dasar sekumpulan pemuda galau yang menikmati kegalauan mereka dengan cara mereka..!! tepat pukul 22, kami (baru) sholat isya di dalam tenda, merebus mie dan segelas minuman hangat, lalu membenamkan diri dalam kesunyian kalimati.

Ah, kepanjangan nih kayaknya ceritanya, dan saya yakin yang ngebaca bakal males dibuatnya, scrol-scol-scrol sampe bawah monoton banget diliatnya. Hehe, biarin dah..!! Mumpung lagi mood nulis aja.
Okke, sementara sampai disni dulu ceritanya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, Edisi Summit Attack 3.676 Mdpl.

 
7 Comments

Posted by on August 13, 2011 in Catatan Perjalanan

 

Perjuangan Mendapatkan 2 Pendamping


*foto diambil dari grup Wisuda 2011

Perjuangan Mendapatkan 2 Pendamping

Senin, 8 Agustus 2011 – Suasana gedung J kampus Jurangmangu pagi itu begitu berbeda dengan hari-hari biasanya. Sejak pagi buta pintu kedua telah ramai berjubel mahasiswa-mahasiswi lengkap dengan atribut dan seragam kuliahnya. Berjajar, mengular dan memanjang hingga mendekati bundaran air mancur yang berjarak lebih dari 10meter dari pintu belakang gedung itu. Persis seperti antrian masyarakat yang menunggu giliran pembagian BLT, atau mereka yang berdesak-desakan unuk mendapatkan jatah sembako. Sebenarnya, ada keributan apa disana? Baca selengkapnya..

 
3 Comments

Posted by on August 10, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

Terkait Masa Depan Kampus STAN

Terkait Masa Depan Kampus STAN

Mungkin agak terlambat rasanya saya memposting artikel ini, tulisan dari Bapak Dandossi Matram selaku Ketua Ikanas (Ikatan Alumni STAN) yang biasa disapa Bang Ossy. Tulisan tersebut terkait keprihatinan dan issu yang berkembang luas di masyarakat mengenai gonjang-ganjing dan masa depan kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.
Sebagaimana yang telah mafhum di khalayak umum, STAN tahun ini hanya membuka penerimaan mahasiswa program Diploma 1 dan untuk sementara tidak lagi menerima mahasiswa program Diploma 3 seperti saya ini. Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi termasuk penutupan kampus STAN kedepannya karena Menteri Keuangan lebih cenderung memilih lulusan sarjana ketimbang “cuma” lulusan D3 Baca selengkapnya..

 
5 Comments

Posted by on August 10, 2011 in Info

 

Tags: , , , , ,

Sejenak Tentang Masa Lalu

Bintaro, 26 Juli 2011

Rasa-rasanya sudah cukup lama aku tak merasakan lagi yang namanya jatuh cinta, sudah lama? ya, sepertinya sudah lama… semenjak kau menemukan cinta yang baru, pun tidak demikian denganku. Aku yang mencoba untuk jatuh cinta lagi, tapi toh nyatanya selalu gagal untuk mencintai.. entahlah.. #sigh

Suatu ketika kembali kau membuatku tersadar, bahwa masa telah berbeda, segalanya telah berbeda, dan akhirnya kita akan berbeda.. Pada masa di saat aku masih bisa berlari mengejarmu, pada masa di saat aku dan kamu, masih bisa menjadi warna yang saling melengkapi.. pada masa yang indah yang pernah kita lewati.. ingatan-ingatan itu.. ya, mungkin masa itu, hanya akan menjadi sebuah ingatan.. yang akhirnya akan membuat kita benar-benar berbeda..

#sejenak tentang masa lalu

 
2 Comments

Posted by on August 7, 2011 in Catatan Harian

 

Minggu pagi, mengitari kampus dengan sepeda

Minggu pagi, mengitari kampus dengan sepeda

Nggak biasanya saya nggak bisa tidur (lagi) sehabis sahur pagi tadi. Padahal biasanya habis subuh pasti bales dendam tidur sampe siang, hehe. Yaa begitulah, selama bulan puasa ini kerjaannya kalo malem bales dendam makan, kalo siang bales dendam tidur. –mengutip ucapan 915 Mirza Asep Shena-. Nggak papa kan yaa, kata pak ustadz tidurnya orang puasa itu dihitung ibadah kok, hehe. Jadi sah-sah saja kita memperbanyak ibadah di siang hari. (Haha, alesan thok). Baca selengkapnya..

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , , ,

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (II)

Pelajaran yang dapat kupetik dari meninggalnya simbah.. (II)

29 Sya’ban 1432H.

Lanjutan dari tulisan pertama. Tepat pukul 09.10 saya tiba di rumah. Didepan di jalan-jalan sudah banyak orang yang berkumpul untuk mensholatkan dan memberikan penghormatan terakhir kepada simbah, sang imam sekaligus sesepuh desa yang kemarin sore telah menghembuskan nafas terakhirnya. Baca selengkapnya..

 
7 Comments

Posted by on August 4, 2011 in Catatan Harian

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,951 other followers